Siang itu matahari terasa panas menyengat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.45, waktu untuk segera bersiap-siap makan siang. Di dalam gereja beberapa orang sedang kusyuk berdoa. Mereka tidak terganggu dengan panasnya siang karena udara di dalam gereja terasa sejuk hingga membuat badan tidak gerah dan suasana menjadi nyaman. Di depan patung Bunda Maria, di bagian pojok belakang dan di depan altar, Bu Hadi dan Bu Srifatun tampak asyik dengan pekerjaannya, mengepel lantai gereja.
Bu Hadi dan Bu Srifatun adalah dua dari beberapa karyawan Gereja Katedral yang bertugas atas kebersihan dan kenyamanan lingkungan di dalam gereja. Tugas mereka antara lain; menyapu, ngepel, mengelap bangku dan laci-laci, membersihkan bekas lilin, kamar pengakuan, dan membersihkan ‘lowo-lowo’ yang bisa dijangkau oleh mereka. Atas kesungguhan dan kerja keras mereka, setiap saat kita bisa hadir di gereja dalam lingkungan dan suasana yang bersih, yang membuat kita menjadi betah berdoa, bertemu dengan Tuhan.
Bu Hadi yang bernama lengkap Satini Maria Magdalena adalah kelahiran Purbalingga tahun 1946. Sejak kecil, Bu Hadi sudah ditinggal orang tua dan hidup sendirian tanpa sanak saudara. Sehingga ia hanya bisa menamatkan pendidikannya sampai kelas 1 SD.
Setelah menikah dan merasakan beban hidup yang semakin berat sedangkan anak-anak masih sekolah, Bu Hadi mencoba meminta tolong untuk bisa bekerja di gereja. Atas jasa Bu Reti, dewan waktu itu, sejak tahun 1971 Bu Hadi mulai bekerja hingga sekarang ini.
Beliau sangat bersyukur karena berkat pekerjaan yang dilakoninya selama ini dan terutama karena berkat Tuhan, ia dapat menyekolahkan anak-anaknya. Sampai saat ini dari ke-6 anaknya telah mentas 4 orang sedangkan 2 lagi sudah lulus SMA tetapi belum bekerja. Sedangkan suaminya telah meninggal dunia sehingga untuk memenuhi hidup sehari-hari hanya bergantung pada gaji dari gereja. Meski berat karena harus berpikir sendirian untuk mengatur hidup keluarga dan gaji yang kecil, Bu Hadi terus berusaha dengan mencari tambahan di luar pekerjaan di gereja dengan jalan menerima cucian atau setrikaan. Ia berprinsip, yang utama adalah membesarkan anak-anak dan selanjutnya hanya pasrah kepada Tuhan.
Pernah suatu kali Rm. Hantoro mengatakan, “Wis mbok dianggep koyo omahe dewe wae, ora usah petung karo gawean.” Dan memang hingga kini, Bu Hadi selalu bekerja dengan penuh semangat. Ia tekun melakukan pekerjaannya setiap hari. Baginya bekerja di gereja tidak bisa dibuat sembarangan, harus hati-hati. Banyak tempat-tempat suci yang harus dihormati. Dan sebagai umat yang sudah dibaptis ketika mulai bekerja di gereja ini, ia memulai pekerjaannya dengan membuat tanda salib dan berdoa, dengan harapan bisa bekerja dengan baik, lancar dan tidak ada halangan apapun.
Bila ada barang-barang dari umat ketinggalan di dalam gereja seperti buku, dompet, kacamata atau barang-barang berharga lainnya, Bu Hadi tidak pernah sembarangan untuk mengambil. Ia akan menyimpan barang-barang tersebut untuk selanjutnya menunggu diambil yang empunya. Saat menjelang Paskah atau Natal, jika anak-anak latihan, ia mau menyadari dengan menunggu hingga selesai latihan dan setelah itu baru mulai membersihkan walaupun jam kerja sudah habis. Pada perayaan Paskah dan Natal pun, Bu Hadi tidak pernah meminta untuk diberi bingkisan dari orang-orang yang pergi ke gereja. Bila ada yang tahu dan kemudian memberi bingkisan diterima sebagai anugerah Tuhan.
Berbeda dengan Bu Hadi, Bu Srifatun bekerja di gereja karena menggantikan pekerjaan ibunya yang sudah sepuh dan mulai sakit-sakitan. Tepatnya mulai tanggal 15 Agustus 1978. Bu Srifatun yang bernama lengkap Masrifatun lahir di Semarang tanggal 10 Oktober 1955. Dan saat ini bertempat tinggal di Tarupolo III RT 2 RW 10.
Sebagai umat berkeyakinan lain, Bu Srifatun tetap melaksanakan tugasnya dengan rajin dan tekun. Baginya bekerja di gereja adalah suatu ibadah. Niatku di sini adalah untuk bekerja, untuk mencari makan, demikian tegas Bu Srifatun.
Dalam melaksanakan tugasnya, Bu Srifatun senantiasa menaruh hormat terhadap tempat atau barang-barang yang disucikan semisal salib, altar, patung Bunda Maria, dan patung-patung yang lain. Nyuwun sewu Gusti Yesus… kula badhe nyapu, kula badhe ngepel…, nyuwun sewu Bunda Maria… kula badhe resik-resik, demikian ucap Bu Srifatun ketika hendak memulai pekerjaannya. Ia selalu meminta ‘ijin’ dengan harapan bisa melakukan setiap pekerjaan dengan baik.
Sebagai seorang ibu yang memiliki 5 anak, 3 sudah berkeluarga dan 2 lagi masih bersekolah di STM dan SMP kelas 2, suami yang bekerja wiraswasta di bidang percetakan, Bu Srifatun merasa betah bekerja di gereja. Ia merasa senang karena dengan bekerja di gereja ia memiliki banyak kenalan orang-orang penting sehingga bisa membantu mencarikan pekerjaan yang lumayan bagi anak-anaknya. Selain itu bekerja di gereja waktunya lebih longgar, masuk jam 8 pagi dan pulang jam 2 siang. Beda kalau harus ‘mbabu’ di tempat orang, dalam rumah tangga, yang harus mulai bekerja dari pagi sampai malam, sehingga tidak mempunyai waktu untuk berkumpul dengan keluarga, disamping karena pendidikan yang hanya berijazah SMP.
Bu Hadi dan Bu Srifatun telah memilih pekerjaan terbaik menjadi abdi Tuhan yang setia, yang tekun dan rajin mengerjakan karya pelayanan dengan membersihkan ruang-ruang di gereja sehingga umat yang hadir di dalamnya dapat krasan dan bertemu dengan Tuhan. Semoga kita mampu meneladan semangat mereka untuk melakukan yang terbaik, apapun pekerjaan kita.
Blog ini adalah blog pribadi untuk menuliskan informasi, keluh kesah, pemikiran, cerita, harapan dan cita-cita. Semua boleh berpartisipasi baik komentar, kritik, maupun saran yang membangun demi kebaikan kita bersama
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 November 2009
Senin, 23 November 2009
Hidup Untuk Orang Lain
Semua berawal dari sikap cuek. Itulah barangkali yang dirasakan oleh Anik Prasetyawati ketika ia dikenalkan kepada Sutardi untuk mulai menjalin hubungan yang serius. Bagi Sutardi hal ini sungguh menjadi tantangan tersendiri. Sudah berkali-kali ia menjalin hubungan, semuanya berjalan dengan mudah dan ia gampang mendapat pacar, tapi kali ini ternyata lain, ia harus berusaha dengan sungguh-sungguh. Lewat berbagai usaha yang gigih yang dilakukan Sutardi, akhirnya Anik mulai belajar untuk mencintai. Baginya mungkin inilah jalan yang harus dilaluinya setelah keinginannya masuk biara dilarang oleh orangtuanya. Terserah Tuhan kalau memang Ia memberi jalan harus berumahtangga. Jika itu yang terbaik pasti Tuhan akan memberi kemudahan, begitu keyakinannya.
Tanggal 24 Oktober 1993 mereka menikah di Paroki Ambarawa. Setelah pernikahan itu, Sutardi dan Anik tetap aktif dalam kegiatan gereja. Mereka sama-sama mengelola majalah Ragi, majalah Paroki Ambarawa. Selain itu, Sutardi juga aktif di banyak kegiatan lain. Menjadi Ketua Mudika, Ketua Lingkungan hingga Prodiakon Lingkungan. Selain itu ia juga aktif dalam kepramukaan. Bagi Sutardi, semua kegiatan itu adalah panggilan Tuhan karena ia yakin Tuhan telah mempersiapkannya sejak mudika hingga sekarang ini untuk mewartakan kabar gembira bagi orang lain.
Keluarga Sutardi bukanlah keluarga kristiani. Kedua orangtuanya adalah pemeluk kepercayaan Sapto Darmo (kejawen). Memasuki kelas 2 SMP, Sutardi mulai ikut pelajaran baptis. Setelah 3 tahun mengikuti pelajaran, 12 April 1983 ia dibaptis dengan nama permandian Fransiskus Xaverius. Sehari sebelumnya, ia terpaksa memimpin ibadat untuk orang meninggal padahal saat itu usianya baru 17 tahun. Ternyata peristiwa itu menjadi tonggak sejarah baginya karena memberi hikmah untuk menjadi berani.
Dalam hidup berkeluarga, Sutardi merasa bahwa Tuhan begitu baik. Tuhan sangat mengasihi keluarganya. Dan kasih itu sangat terasa sekali pada saat istrinya hendak melahirkan anak ketiga setelah anak keduanya keguguran saat masih dalam kandungan. Saat itu, istrinya harus dioperasi cesar setelah satu hari satu malam bayinya tidak mau keluar. Setelah operasi, ternyata terjadi pendarahan hebat hingga istrinya harus dioperasi lagi sampai lima kali. Perasaan Sutardi campur aduk, apalagi ketika dokter menyatakan bahwa nyawa istrinya tinggal 5 menit. Ia hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Pada saat-saat kritis, Kardinal yang saat itu berkunjung ke rumah sakit, dipaksanya untuk memberkati istrinya. Setelah mendapat minyak suci dan berkat dukungan doa dari para romo, umat lingkungan, paroki maupun teman-teman kerjanya, istrinya berangsur-angsur membaik dan sehat hingga saat ini.
Karena kesibukan yang begitu banyak baik di gereja, lingkungan dan tempat kerjanya, Sutardi merasa kesulitan pada saat harus membagi waktu untuk keluarganya. Ia merasa sangat berat hingga kadang ia melupakan keluarganya. Pada saat seperti itu, istrinya selalu memberi peringatan. Kadang sering terjadi konflik, tapi bagi Sutardi dan Anik konflik adalah hal biasa yang harus dihadapi dan diselesaikan. Yang penting jangan meluapkan kemarahan di depan anak.
Dalam menjalani hidup, Sutardi berpedoman bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri tetapi disiapkan untuk orang lain. Dan ia memandang kehidupan seperti air mengalir. Pasrah dan terbuka terhadap setiap rencana Tuhan. Karena baginya setiap memasrahkan segala sesuatu kepada Tuhan pasti Ia akan memberi jalan.
Bagi Anik, ia merasa sangat beruntung bersuamikan Sutardi. Ia merasa Tuhan sudah memberinya suami yang bermutu. Satu prinsip yang selalu dipegangnya bahwa hidup harus selalu berubah setiap saat untuk menuju kebaikan. Dan hal itu harus terus menerus diasah melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup. Kadang gembira, sedih, dengan berbagai masalahnya. Semua itu harus dihadapi karena setiap kita bisa menyelesaikan masalah yang ada di depan mata, kita juga bisa menyelesaikan masalah-masalah yang lain. Jika ternyata kita tidak mampu kita bisa mohon pertolongan kepada Tuhan. Anik juga selalu memperhatikan perkara-perkara kecil apalagi jika hal itu berkaitan dengan anak. Ia berkeyakinan jika bisa menyelesaikan perkara-perkara kecil pasti ia juga bisa menyelesaikan perkara-perkara besar.
Tanggal 24 Oktober 1993 mereka menikah di Paroki Ambarawa. Setelah pernikahan itu, Sutardi dan Anik tetap aktif dalam kegiatan gereja. Mereka sama-sama mengelola majalah Ragi, majalah Paroki Ambarawa. Selain itu, Sutardi juga aktif di banyak kegiatan lain. Menjadi Ketua Mudika, Ketua Lingkungan hingga Prodiakon Lingkungan. Selain itu ia juga aktif dalam kepramukaan. Bagi Sutardi, semua kegiatan itu adalah panggilan Tuhan karena ia yakin Tuhan telah mempersiapkannya sejak mudika hingga sekarang ini untuk mewartakan kabar gembira bagi orang lain.
Keluarga Sutardi bukanlah keluarga kristiani. Kedua orangtuanya adalah pemeluk kepercayaan Sapto Darmo (kejawen). Memasuki kelas 2 SMP, Sutardi mulai ikut pelajaran baptis. Setelah 3 tahun mengikuti pelajaran, 12 April 1983 ia dibaptis dengan nama permandian Fransiskus Xaverius. Sehari sebelumnya, ia terpaksa memimpin ibadat untuk orang meninggal padahal saat itu usianya baru 17 tahun. Ternyata peristiwa itu menjadi tonggak sejarah baginya karena memberi hikmah untuk menjadi berani.
Dalam hidup berkeluarga, Sutardi merasa bahwa Tuhan begitu baik. Tuhan sangat mengasihi keluarganya. Dan kasih itu sangat terasa sekali pada saat istrinya hendak melahirkan anak ketiga setelah anak keduanya keguguran saat masih dalam kandungan. Saat itu, istrinya harus dioperasi cesar setelah satu hari satu malam bayinya tidak mau keluar. Setelah operasi, ternyata terjadi pendarahan hebat hingga istrinya harus dioperasi lagi sampai lima kali. Perasaan Sutardi campur aduk, apalagi ketika dokter menyatakan bahwa nyawa istrinya tinggal 5 menit. Ia hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Pada saat-saat kritis, Kardinal yang saat itu berkunjung ke rumah sakit, dipaksanya untuk memberkati istrinya. Setelah mendapat minyak suci dan berkat dukungan doa dari para romo, umat lingkungan, paroki maupun teman-teman kerjanya, istrinya berangsur-angsur membaik dan sehat hingga saat ini.
Karena kesibukan yang begitu banyak baik di gereja, lingkungan dan tempat kerjanya, Sutardi merasa kesulitan pada saat harus membagi waktu untuk keluarganya. Ia merasa sangat berat hingga kadang ia melupakan keluarganya. Pada saat seperti itu, istrinya selalu memberi peringatan. Kadang sering terjadi konflik, tapi bagi Sutardi dan Anik konflik adalah hal biasa yang harus dihadapi dan diselesaikan. Yang penting jangan meluapkan kemarahan di depan anak.
Dalam menjalani hidup, Sutardi berpedoman bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri tetapi disiapkan untuk orang lain. Dan ia memandang kehidupan seperti air mengalir. Pasrah dan terbuka terhadap setiap rencana Tuhan. Karena baginya setiap memasrahkan segala sesuatu kepada Tuhan pasti Ia akan memberi jalan.
Bagi Anik, ia merasa sangat beruntung bersuamikan Sutardi. Ia merasa Tuhan sudah memberinya suami yang bermutu. Satu prinsip yang selalu dipegangnya bahwa hidup harus selalu berubah setiap saat untuk menuju kebaikan. Dan hal itu harus terus menerus diasah melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup. Kadang gembira, sedih, dengan berbagai masalahnya. Semua itu harus dihadapi karena setiap kita bisa menyelesaikan masalah yang ada di depan mata, kita juga bisa menyelesaikan masalah-masalah yang lain. Jika ternyata kita tidak mampu kita bisa mohon pertolongan kepada Tuhan. Anik juga selalu memperhatikan perkara-perkara kecil apalagi jika hal itu berkaitan dengan anak. Ia berkeyakinan jika bisa menyelesaikan perkara-perkara kecil pasti ia juga bisa menyelesaikan perkara-perkara besar.
Kamis, 19 November 2009
Kasih-Nya Seluas Samudera
Anak bagi keluarga adalah anugerah yang tidak ternilai harganya. Ia adalah titipan Tuhan yang harus dirawat dengan penuh kasih dan sayang. Begitu juga dengan Sugito. Ia kini merasa lega. Anak laki-laki yang begitu didambakannya telah lahir dengan selamat. Tetapi rupanya Tuhan memberikan cobaan bagi keluarganya. Anak laki-lakinya lahir prematur. Usianya baru 6 ½ bulan di dalam kandungan. Karena ekonomi yang tidak memadai, Sugito hanya bisa merawat anak itu di rumah. Meski keadaan yang serba minim ditambah lagi ketiadaan listrik, ia berusaha merawat anak itu dengan penuh perhatian. Setiap saat disiapkannya petromaks di kanan kiri di atas kepala dan di sisi yang lain tak ketinggalan botol berisi air panas untuk membuat anak itu tetap hangat. Berkat dukungan dari seluruh keluarga dan terutama karena mukjijat dari Tuhan, anak laki-lakinya kini telah tumbuh semakin besar dan sehat.
Sugito yang bernama lengkap Bernardus Sugito menikah awal tahun 1973. Meski hanya bekerja sebagai wiraswasta dengan jalan mereparasi alat-alat elektronik seperti radio, tape, TV, Sugito merasa bahagia. Ia tidak terikat dengan orang lain. Baginya bekerja secara mandiri lebih enak dan bebas waktunya. Tetapi ia tetap berusaha mendisiplinkan diri dalam bekerja. Ia selalu berusaha dengan sungguh-sungguh memenuhi segala kebutuhan keluarga. Hingga tak jarang seringkali ia memenuhi panggilan ke luar kota bersama teman.
Pernah suatu saat, Sugito merasa kalut dalam hidupnya. Ia mengalami cobaan berat. Ia merasa down. Ia mengalami krisis iman. Karena terdorong kebutuhan untuk memenuhi kehidupan keluarganya, lambat laun ia melupakan kewajiban untuk pergi ke gereja. Ia malah mencari jalan pintas. Saat sedang berdoa, ia didatangi mahkluk gaib yang ingin memberinya uang dan harta yang melimpah. Dan itu berlangsung secara terus menerus. Tetapi pada akhirnya, Sugito sadar, semuanya hanyalah semu dan sia-sia. Ia berusaha mencukupi kebutuhan keluarga tetapi tidak tercapai toh ia sudah meninggalkan Tuhan. Akhirnya ia sowan ke Romo dan diberi nasehat-nasehat. Setelah bertobat rupanya Tuhan memberi jalan kepadanya untuk mengikuti pilihan menjadi prodiakon. Sebelumnya Sugito tidak pernah mau tetapi saat itu ia merasa sanggup. Ia mantap untuk mengatakan ya walau tidak tahu apa yang akan dikerjakannya nanti.
Sebagai prodiakon, Sugito berusaha memberikan pelayanan secara penuh kepada umat. Membantu memberikan komuni atau kadang bergantian memimpin ibadat di stasi dan lingkungan. Selain itu, ia juga memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, keluarga Sugito seringkali dijadikan teladan oleh lingkungan sekitar. Meski satu RW hanya mereka yang Katolik, tetapi mereka tidak merasa minder. Tidak rendah diri. Bagi Sugito sebagai kaum minoritas harus tegar. Meski dalam masyarakat sendirian tetapi harus bisa menggarami. Dan hal itu dilakukannya dengan ikut aktif membaur dalam kegiatan di masyarakat baik RT maupun RW. Ia selalu berusaha memberikan contoh yang baik. Begitu juga di dalam keluarga, ia senantiasa menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anaknya dan menjalin komunikasi yang baik satu sama lain, sehingga mereka tidak mencari hal-hal yang keliru tetapi lebih memilih mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif.
Sugito yang lahir tanggal 20 Mei 1949 dan bertempat tinggal di Desa Mlati Norowito VIII / 231 Kudus, kini merasa bahagia. Ia dan istrinya betul-betul merasakan kasih Tuhan begitu berlimpah. Anak-anaknya yang terdiri dari enam putri dan satu putra kini telah bisa mandiri. Mereka sebagian besar sudah bekerja dan tinggal si bungsu yang masih bersekolah di SMPK. Dari putrinya yang sulung, kini ia sudah menimang dua cucu. Kadang saat hari raya Lebaran, Sugito beserta seluruh keluarga mengunjungi tetangga sekitar untuk bersilaturahmi saling memaafkan. Pun ketika Natal tiba, tetangga dekat juga datang untuk mengucapkan selamat.
Sugito yang bernama lengkap Bernardus Sugito menikah awal tahun 1973. Meski hanya bekerja sebagai wiraswasta dengan jalan mereparasi alat-alat elektronik seperti radio, tape, TV, Sugito merasa bahagia. Ia tidak terikat dengan orang lain. Baginya bekerja secara mandiri lebih enak dan bebas waktunya. Tetapi ia tetap berusaha mendisiplinkan diri dalam bekerja. Ia selalu berusaha dengan sungguh-sungguh memenuhi segala kebutuhan keluarga. Hingga tak jarang seringkali ia memenuhi panggilan ke luar kota bersama teman.
Pernah suatu saat, Sugito merasa kalut dalam hidupnya. Ia mengalami cobaan berat. Ia merasa down. Ia mengalami krisis iman. Karena terdorong kebutuhan untuk memenuhi kehidupan keluarganya, lambat laun ia melupakan kewajiban untuk pergi ke gereja. Ia malah mencari jalan pintas. Saat sedang berdoa, ia didatangi mahkluk gaib yang ingin memberinya uang dan harta yang melimpah. Dan itu berlangsung secara terus menerus. Tetapi pada akhirnya, Sugito sadar, semuanya hanyalah semu dan sia-sia. Ia berusaha mencukupi kebutuhan keluarga tetapi tidak tercapai toh ia sudah meninggalkan Tuhan. Akhirnya ia sowan ke Romo dan diberi nasehat-nasehat. Setelah bertobat rupanya Tuhan memberi jalan kepadanya untuk mengikuti pilihan menjadi prodiakon. Sebelumnya Sugito tidak pernah mau tetapi saat itu ia merasa sanggup. Ia mantap untuk mengatakan ya walau tidak tahu apa yang akan dikerjakannya nanti.
Sebagai prodiakon, Sugito berusaha memberikan pelayanan secara penuh kepada umat. Membantu memberikan komuni atau kadang bergantian memimpin ibadat di stasi dan lingkungan. Selain itu, ia juga memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, keluarga Sugito seringkali dijadikan teladan oleh lingkungan sekitar. Meski satu RW hanya mereka yang Katolik, tetapi mereka tidak merasa minder. Tidak rendah diri. Bagi Sugito sebagai kaum minoritas harus tegar. Meski dalam masyarakat sendirian tetapi harus bisa menggarami. Dan hal itu dilakukannya dengan ikut aktif membaur dalam kegiatan di masyarakat baik RT maupun RW. Ia selalu berusaha memberikan contoh yang baik. Begitu juga di dalam keluarga, ia senantiasa menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anaknya dan menjalin komunikasi yang baik satu sama lain, sehingga mereka tidak mencari hal-hal yang keliru tetapi lebih memilih mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif.
Sugito yang lahir tanggal 20 Mei 1949 dan bertempat tinggal di Desa Mlati Norowito VIII / 231 Kudus, kini merasa bahagia. Ia dan istrinya betul-betul merasakan kasih Tuhan begitu berlimpah. Anak-anaknya yang terdiri dari enam putri dan satu putra kini telah bisa mandiri. Mereka sebagian besar sudah bekerja dan tinggal si bungsu yang masih bersekolah di SMPK. Dari putrinya yang sulung, kini ia sudah menimang dua cucu. Kadang saat hari raya Lebaran, Sugito beserta seluruh keluarga mengunjungi tetangga sekitar untuk bersilaturahmi saling memaafkan. Pun ketika Natal tiba, tetangga dekat juga datang untuk mengucapkan selamat.
Rabu, 18 November 2009
Mau Berkembang
Namanya Bapak Djemono. Lengkapnya Ignatius Djemono. Beliau kelahiran Kulonprogo tanggal 3 Januari 1941. Bila melihat sosoknya, kita akan sangat terkesan dengan kesederhanaan dan ketulusan hatinya.
Karirnya dimulai pada tanggal 1 Januari 1961. Ketika itu, ia menjadi guru di SD Pangudi Luhur Boro, mengajar kelas VI. Setelah hampir dua setengah tahun mengajar di kelas VI dan setengah tahun kemudian di kelas IV, tahun 1964 ia dipindahtugaskan menjadi guru di SMP Pangudi Luhur Boro hingga tahun 1967.
Tahun 1968 Bpk. Djemono kembali dipindahtugaskan. Saat itu, bersamaan dengan kepindahannya ke Semarang dan ia ditempatkan di SMP Domenico Savio. Pengalaman menjadi guru di sekolah ini adalah pengalaman yang sangat berkesan. Di SMP Domenico Savio, ia pernah mengajar di semua kelas, baik kelas 1, kelas 2 maupun kelas 3. Dan karena karir yang terus menanjak, tahun 1996 Bpk. Djemono diangkat menjadi kepala sekolah.
SMP Domenico Savio adalah sekolah yang difavoritkan oleh banyak orang tua. Hal ini disebabkan karena selain sekolah ini sudah punya ‘nama’ juga ditunjang dengan sistem pendidikan yang sudah teratur, tingkat kedisiplinan yang baik hingga banyak sekali menghasilkan lulusan terbaik. Setiap tahunnya, sekolah ini menampung lebih kurang 400 siswa baru dari jumlah pendaftar 600-700 calon siswa. Dari total 400 siswa baru, 20-25 siswa diantaranya adalah anak dari keluarga tidak mampu.
Penerimaan siswa baru didasarkan atas kemampuan siswa yang dilihat dari nilai hasil tes masuk. Tetapi kadang memang ada orang tua yang ingin memasukkan anaknya lewat ‘jalan belakang’ walaupun dengan nilai yang tidak memenuhi standar. Bagi Bpk. Djemono, hal ini sangat dihindari sebab selain akan mengorbankan sang anak, karena tingkat kemampuan yang berbeda sehingga anak akan susah payah mengikuti pelajaran. Dan di sisi lain akan menurunkan citra sekolah karena akan berdampak pada hasil lulusannya.
Tahun 2000, Bpk. Djemono memasuki masa pensiun. Saat ini, ia tinggal di Jl. Bima II/37 A Semarang dengan seorang istri dan satu orang putri, hasil perkawinannya sejak tahun 1980. Bagi Bpk. Djemono, kesederhanaan dan kejujuran adalah dua hal yang paling utama. Hal ini dapat dilihat dari letak dan situasi rumahnya yang sederhana, yang justru tidak kelihatan karena berada di bagian paling ujung, ‘diapit’ oleh rumah-rumah yang lebih mewah.
Untuk bepergian, Bpk. Djemono lebih memilih jalan kaki atau naik angkutan umum. Bila ada orang yang menawari untuk bersama-sama naik mobil atau motor, tak jarang justru malah akan ditolak. “Lebih baik begini, bisa bebas dan tidak merepotkan orang lain,” ucapnya saat ditanyakan alasannya.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Bpk. Djemono bisa membaur dengan baik. Prinsip kejujuran dan mendukung hal-hal yang baik selalu ia pegang. Baginya semua agama adalah sama dan selalu mengajarkan kebaikan serta kerukunan. Ia sangat tidak setuju jika ada perselisihan dan pertengkaran yang dipicu karena perbedaan agama seperti kasus-kasus yang terjadi selama ini. Ia berharap semua pemuka agama dapat secara tulus hati saling terbuka, mau berdialog, hidup rukun satu sama lain dan menghindari konflik-konflik yang terjadi dengan lebih mempererat, memperbanyak dan memperdalam persamaan-persamaan yang ada serta mengurangi perbedaan yang timbul. “Perbedaan itu memang akan selalu ada tetapi cukuplah hal itu disimpan di lingkungan sendiri tanpa berusaha untuk membanding-bandingkan dengan lingkungan/kelompok lain,” tegasnya.
Ketika disinggung tentang kecenderungan orang-orang sekarang yang justru memiliki ‘pemahaman iman yang sempit’, Bpk. Djemono secara terbuka sangat tidak setuju dengan hal yang demikian. Baginya iman harus selalu berkembang. Iman dalam prakteknya harus dapat mengikuti perkembangan jaman. Dengan demikian, tiap orang dituntut untuk selalu terbuka, mau belajar dengan jalan banyak membaca dan melihat perkembangan yang terjadi. Ketika hal ini dilakukan niscaya orang akan menjadi lebih arif dan tidak asal memberikan penilaian negatif terhadap perubahan-perubahan yang dilakukan tanpa dasar yang jelas.
Karirnya dimulai pada tanggal 1 Januari 1961. Ketika itu, ia menjadi guru di SD Pangudi Luhur Boro, mengajar kelas VI. Setelah hampir dua setengah tahun mengajar di kelas VI dan setengah tahun kemudian di kelas IV, tahun 1964 ia dipindahtugaskan menjadi guru di SMP Pangudi Luhur Boro hingga tahun 1967.
Tahun 1968 Bpk. Djemono kembali dipindahtugaskan. Saat itu, bersamaan dengan kepindahannya ke Semarang dan ia ditempatkan di SMP Domenico Savio. Pengalaman menjadi guru di sekolah ini adalah pengalaman yang sangat berkesan. Di SMP Domenico Savio, ia pernah mengajar di semua kelas, baik kelas 1, kelas 2 maupun kelas 3. Dan karena karir yang terus menanjak, tahun 1996 Bpk. Djemono diangkat menjadi kepala sekolah.
SMP Domenico Savio adalah sekolah yang difavoritkan oleh banyak orang tua. Hal ini disebabkan karena selain sekolah ini sudah punya ‘nama’ juga ditunjang dengan sistem pendidikan yang sudah teratur, tingkat kedisiplinan yang baik hingga banyak sekali menghasilkan lulusan terbaik. Setiap tahunnya, sekolah ini menampung lebih kurang 400 siswa baru dari jumlah pendaftar 600-700 calon siswa. Dari total 400 siswa baru, 20-25 siswa diantaranya adalah anak dari keluarga tidak mampu.
Penerimaan siswa baru didasarkan atas kemampuan siswa yang dilihat dari nilai hasil tes masuk. Tetapi kadang memang ada orang tua yang ingin memasukkan anaknya lewat ‘jalan belakang’ walaupun dengan nilai yang tidak memenuhi standar. Bagi Bpk. Djemono, hal ini sangat dihindari sebab selain akan mengorbankan sang anak, karena tingkat kemampuan yang berbeda sehingga anak akan susah payah mengikuti pelajaran. Dan di sisi lain akan menurunkan citra sekolah karena akan berdampak pada hasil lulusannya.
Tahun 2000, Bpk. Djemono memasuki masa pensiun. Saat ini, ia tinggal di Jl. Bima II/37 A Semarang dengan seorang istri dan satu orang putri, hasil perkawinannya sejak tahun 1980. Bagi Bpk. Djemono, kesederhanaan dan kejujuran adalah dua hal yang paling utama. Hal ini dapat dilihat dari letak dan situasi rumahnya yang sederhana, yang justru tidak kelihatan karena berada di bagian paling ujung, ‘diapit’ oleh rumah-rumah yang lebih mewah.
Untuk bepergian, Bpk. Djemono lebih memilih jalan kaki atau naik angkutan umum. Bila ada orang yang menawari untuk bersama-sama naik mobil atau motor, tak jarang justru malah akan ditolak. “Lebih baik begini, bisa bebas dan tidak merepotkan orang lain,” ucapnya saat ditanyakan alasannya.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Bpk. Djemono bisa membaur dengan baik. Prinsip kejujuran dan mendukung hal-hal yang baik selalu ia pegang. Baginya semua agama adalah sama dan selalu mengajarkan kebaikan serta kerukunan. Ia sangat tidak setuju jika ada perselisihan dan pertengkaran yang dipicu karena perbedaan agama seperti kasus-kasus yang terjadi selama ini. Ia berharap semua pemuka agama dapat secara tulus hati saling terbuka, mau berdialog, hidup rukun satu sama lain dan menghindari konflik-konflik yang terjadi dengan lebih mempererat, memperbanyak dan memperdalam persamaan-persamaan yang ada serta mengurangi perbedaan yang timbul. “Perbedaan itu memang akan selalu ada tetapi cukuplah hal itu disimpan di lingkungan sendiri tanpa berusaha untuk membanding-bandingkan dengan lingkungan/kelompok lain,” tegasnya.
Ketika disinggung tentang kecenderungan orang-orang sekarang yang justru memiliki ‘pemahaman iman yang sempit’, Bpk. Djemono secara terbuka sangat tidak setuju dengan hal yang demikian. Baginya iman harus selalu berkembang. Iman dalam prakteknya harus dapat mengikuti perkembangan jaman. Dengan demikian, tiap orang dituntut untuk selalu terbuka, mau belajar dengan jalan banyak membaca dan melihat perkembangan yang terjadi. Ketika hal ini dilakukan niscaya orang akan menjadi lebih arif dan tidak asal memberikan penilaian negatif terhadap perubahan-perubahan yang dilakukan tanpa dasar yang jelas.
Senin, 16 November 2009
Pahlawan Yang Dilupakan
Pagi begitu dingin. Di sekitar, kegelapan masih terasa menutupi pandangan. Bu Muji bergegas meninggalkan rumah. Tak ketinggalan dibawanya karung untuk bekerja. Barusan ia melihat jam di dinding rumahnya menunjukkan pukul 04.30, saatnya untuk segera berangkat. Ia harus cepat karena jika tidak, ia pasti ketinggalan bis dan akibatnya, ia harus berjalan kaki ke pangkalan untuk mencari daihatsu.
Dari angkutan yang membawanya, Bu Muji kemudian turun di Mesjid Petompon dan selanjutnya masuk ke Gisiksari. Jika di tempat ini ia mendapat banyak maka akan dititipkannya dan selanjutnya menuju ke Asrama Polisi Kalisari untuk melanjutkan pekerjaannya.
Bu Muji adalah seorang pemulung. Pekerjaannya hanyalah mencari sisa-sisa barang yang masih berguna yang sudah dibuang ke tempat sampah oleh pemiliknya. Kadang sebagai pemulung, ia dianggap telah mencuri, mengambil barang-barang yang masih berguna. Tetapi Bu Muji berprinsip, ia tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain apalagi mencuri, karena Tuhan maha tahu. Ia akan selalu bertanya atau ‘nembung’ kepada pemilik rumah apakah barang ini atau barang itu memang sudah tidak berguna dan sudah dibuang. Jika memang demikian, ia akan segera meminta ijin untuk mengambil. Kadang ada juga pemilik rumah yang memang sengaja mengumpulkan barang-barang tidak terpakai yang masih laku untuk dijual dan diberikan kepada Bu Muji. Ia akan selalu bersyukur dengan pemberian ini karena akan menambah penghasilannya.
Dari hari ke hari, Bu Muji selalu menempuh rute yang sama. Baginya jika harus berpindah ke tempat yang baru, ia tidak berani karena pasti akan dicurigai karena belum dikenal. Selain itu, ia juga merasa betah di tempat lama karena di sana ia sudah banyak dikenal dan mengenal. Sehingga dengan demikian ia dapat lancar melakukan pekerjaannya. Meskipun hasilnya tidak seberapa, ia selalu berusaha bekerja dengan baik. Kadang ketika mendapat hasil yang banyak, langsung disetor ke penampung, dan bila hanya sedikit kemudian dititipkan untuk mencari lagi. Jika sudah merasa lelah, Bu Muji tidak pernah memaksakan diri, semuanya langsung disetor dan kemudian pulang. Kira-kira pukul satu siang ia tiba kembali di rumah.
Pernah suatu ketika saat hujan turun dan Bu Muji berteduh di sebuah rumah, ia membayangkan: “Wah udan-udan, nggoreng pohung, ning dhuwur kasur karo ndelok TV, Enak tenan. Aduh Gusti kono do nggoreng pohung, ndelok TV ning kasur aku kok turut sampah koyo ngene kapan aku isa koyo ngono?” Tapi ia juga menyadari dirinya tidak mempunyai keahlian apa-apa, hanya bisa bekerja sebagai pemulung. Dan pekerjaan ini sudah dilakukannya sejak tahun 1976, saat pertama kali ia mulai menikah. Dari hasil pernikahannya itu, Bu Muji dikaruniai 5 anak. Satu sudah meninggal dan kini tinggal empat, satu putra dan tiga putri. Yang sulung sudah menikah dan memberinya seorang cucu. Kini hanya tinggal si bungsu yang masih bersekolah di SMP 13 kelas III. Meski hasil dari memulung memang tidak seberapa, Bu Muji selalu bersyukur karena sering mendapat bantuan beasiswa sehingga dapat menyekolahkan anak-anaknya. Apalagi suaminya telah meninggal lima tahun yang lalu.
Dalam keseharian Bu Muji yang bernama lengkap Veronica Mujinah dan lahir pada tanggal 20 Oktober 1959 adalah seorang yang aktif. Di gereja, ia aktif dalam kegiatan Legio Maria dan Monica. Sebagai seorang Legioner, Bu Muji aktif dalam melakukan kunjungan-kunjungan baik ke rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, ke rumah-rumah bahkan sekali waktu ke rumah sakit jiwa. Baginya keinginan untuk melayani sesama adalah keinginan yang selalu diidam-idamkannya. Tapi dalam hal ini, Bu Muji menegaskan bahwa ia tidak mampu bila harus membantu dengan dana tetapi bila dengan seluruh tenaga, ia pasti siap. Oleh karena itu ia berharap agar selalu diberi kesehatan, karena dengan kesehatan, ia dapat melayani Tuhan dengan jalan melayani sesama yang membutuhkan.
Setelah hampir tiga tahun aktif di Legio Maria, ada hal positif yang dirasakan oleh Bu Muji. Ia yang dulu begitu fanatik dalam berdoa, inginnya selalu dikabulkan untuk setiap doa yang dilakukan, kini bisa lebih pasrah dalam berdoa. Ia ‘lilo legowo’ jika doanya kadang tidak terkabul. Baginya, Allah itu maha baik. Ia selalu memperhatikan umatnya. Tapi ada satu hal yang begitu dipegang oleh Bu Muji; doa saja tanpa melakukan perbuatan tidak ada gunanya. Baginya hidup adalah untuk bekerja selain berdoa. Keduanya harus selalu berjalan beriringan.
Di lingkungan tempat tinggalnya, di kampung Deliksari RT. 02 RW VI rumah no. 75, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunung Pati, Kabupaten Semarang, Bu Muji dikenal sebagai orang yang ringan tangan dan suka membantu. Rumahnya, seringkali dijadikan ‘base camp’ untuk para frater yang ingin belajar menyelami kehidupan pemulung. Mereka dengan gembira berbaur dengan seluruh keluarga Bu Muji, berkumpul bersama, makan, minum dengan hanya menggelar tikar dan membagi giliran dalam berdoa. Meski mereka tinggal di daerah yang labil, jalan yang naik turun, dan sumber air yang sulit karena harus 2 kilo bila ingin mandi atau sekedar mengambil air, mereka tidak pernah mengeluh. Justru mereka selalu bersyukur karena telah diberi tempat bernaung.
Selain itu, Bu Muji adalah orang yang dipercaya untuk memandikan jenasah. Baik laki-laki atau perempuan, tua muda, meninggal karena sakit parah atau biasa, selalu dikerjakannya dengan sepenuh hati. Baginya itu adalah bagian dari pelayanan walau kadang ia menerima omongan yang tidak-tidak dari tetangga sekitar.
Bu Muji memang hanyalah seorang pemulung. Tetapi ia adalah pejuang yang sangat gigih bagi kehidupannya. Ia adalah pahlawan yang justru sering kita lupakan. Karena pekerjaannya, lingkungan kita menjadi bersih, bebas dari sampah yang tidak berguna. Bagi keluarganya, ia adalah ibu yang penuh tanggung jawab, selalu berusaha mencukupi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya walau hanya bekerja sebagai pemulung. Bagi lingkungan sekitar, ia adalah sosok yang sangat dibutuhkan. Dan bagi gereja, ia adalah salah satu pelayan Tuhan, yang siap pergi kemanapun untuk melayani sesama. Bu Muji benar-benar seorang pahlawan kehidupan.
Dari angkutan yang membawanya, Bu Muji kemudian turun di Mesjid Petompon dan selanjutnya masuk ke Gisiksari. Jika di tempat ini ia mendapat banyak maka akan dititipkannya dan selanjutnya menuju ke Asrama Polisi Kalisari untuk melanjutkan pekerjaannya.
Bu Muji adalah seorang pemulung. Pekerjaannya hanyalah mencari sisa-sisa barang yang masih berguna yang sudah dibuang ke tempat sampah oleh pemiliknya. Kadang sebagai pemulung, ia dianggap telah mencuri, mengambil barang-barang yang masih berguna. Tetapi Bu Muji berprinsip, ia tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain apalagi mencuri, karena Tuhan maha tahu. Ia akan selalu bertanya atau ‘nembung’ kepada pemilik rumah apakah barang ini atau barang itu memang sudah tidak berguna dan sudah dibuang. Jika memang demikian, ia akan segera meminta ijin untuk mengambil. Kadang ada juga pemilik rumah yang memang sengaja mengumpulkan barang-barang tidak terpakai yang masih laku untuk dijual dan diberikan kepada Bu Muji. Ia akan selalu bersyukur dengan pemberian ini karena akan menambah penghasilannya.
Dari hari ke hari, Bu Muji selalu menempuh rute yang sama. Baginya jika harus berpindah ke tempat yang baru, ia tidak berani karena pasti akan dicurigai karena belum dikenal. Selain itu, ia juga merasa betah di tempat lama karena di sana ia sudah banyak dikenal dan mengenal. Sehingga dengan demikian ia dapat lancar melakukan pekerjaannya. Meskipun hasilnya tidak seberapa, ia selalu berusaha bekerja dengan baik. Kadang ketika mendapat hasil yang banyak, langsung disetor ke penampung, dan bila hanya sedikit kemudian dititipkan untuk mencari lagi. Jika sudah merasa lelah, Bu Muji tidak pernah memaksakan diri, semuanya langsung disetor dan kemudian pulang. Kira-kira pukul satu siang ia tiba kembali di rumah.
Pernah suatu ketika saat hujan turun dan Bu Muji berteduh di sebuah rumah, ia membayangkan: “Wah udan-udan, nggoreng pohung, ning dhuwur kasur karo ndelok TV, Enak tenan. Aduh Gusti kono do nggoreng pohung, ndelok TV ning kasur aku kok turut sampah koyo ngene kapan aku isa koyo ngono?” Tapi ia juga menyadari dirinya tidak mempunyai keahlian apa-apa, hanya bisa bekerja sebagai pemulung. Dan pekerjaan ini sudah dilakukannya sejak tahun 1976, saat pertama kali ia mulai menikah. Dari hasil pernikahannya itu, Bu Muji dikaruniai 5 anak. Satu sudah meninggal dan kini tinggal empat, satu putra dan tiga putri. Yang sulung sudah menikah dan memberinya seorang cucu. Kini hanya tinggal si bungsu yang masih bersekolah di SMP 13 kelas III. Meski hasil dari memulung memang tidak seberapa, Bu Muji selalu bersyukur karena sering mendapat bantuan beasiswa sehingga dapat menyekolahkan anak-anaknya. Apalagi suaminya telah meninggal lima tahun yang lalu.
Dalam keseharian Bu Muji yang bernama lengkap Veronica Mujinah dan lahir pada tanggal 20 Oktober 1959 adalah seorang yang aktif. Di gereja, ia aktif dalam kegiatan Legio Maria dan Monica. Sebagai seorang Legioner, Bu Muji aktif dalam melakukan kunjungan-kunjungan baik ke rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, ke rumah-rumah bahkan sekali waktu ke rumah sakit jiwa. Baginya keinginan untuk melayani sesama adalah keinginan yang selalu diidam-idamkannya. Tapi dalam hal ini, Bu Muji menegaskan bahwa ia tidak mampu bila harus membantu dengan dana tetapi bila dengan seluruh tenaga, ia pasti siap. Oleh karena itu ia berharap agar selalu diberi kesehatan, karena dengan kesehatan, ia dapat melayani Tuhan dengan jalan melayani sesama yang membutuhkan.
Setelah hampir tiga tahun aktif di Legio Maria, ada hal positif yang dirasakan oleh Bu Muji. Ia yang dulu begitu fanatik dalam berdoa, inginnya selalu dikabulkan untuk setiap doa yang dilakukan, kini bisa lebih pasrah dalam berdoa. Ia ‘lilo legowo’ jika doanya kadang tidak terkabul. Baginya, Allah itu maha baik. Ia selalu memperhatikan umatnya. Tapi ada satu hal yang begitu dipegang oleh Bu Muji; doa saja tanpa melakukan perbuatan tidak ada gunanya. Baginya hidup adalah untuk bekerja selain berdoa. Keduanya harus selalu berjalan beriringan.
Di lingkungan tempat tinggalnya, di kampung Deliksari RT. 02 RW VI rumah no. 75, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunung Pati, Kabupaten Semarang, Bu Muji dikenal sebagai orang yang ringan tangan dan suka membantu. Rumahnya, seringkali dijadikan ‘base camp’ untuk para frater yang ingin belajar menyelami kehidupan pemulung. Mereka dengan gembira berbaur dengan seluruh keluarga Bu Muji, berkumpul bersama, makan, minum dengan hanya menggelar tikar dan membagi giliran dalam berdoa. Meski mereka tinggal di daerah yang labil, jalan yang naik turun, dan sumber air yang sulit karena harus 2 kilo bila ingin mandi atau sekedar mengambil air, mereka tidak pernah mengeluh. Justru mereka selalu bersyukur karena telah diberi tempat bernaung.
Selain itu, Bu Muji adalah orang yang dipercaya untuk memandikan jenasah. Baik laki-laki atau perempuan, tua muda, meninggal karena sakit parah atau biasa, selalu dikerjakannya dengan sepenuh hati. Baginya itu adalah bagian dari pelayanan walau kadang ia menerima omongan yang tidak-tidak dari tetangga sekitar.
Bu Muji memang hanyalah seorang pemulung. Tetapi ia adalah pejuang yang sangat gigih bagi kehidupannya. Ia adalah pahlawan yang justru sering kita lupakan. Karena pekerjaannya, lingkungan kita menjadi bersih, bebas dari sampah yang tidak berguna. Bagi keluarganya, ia adalah ibu yang penuh tanggung jawab, selalu berusaha mencukupi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya walau hanya bekerja sebagai pemulung. Bagi lingkungan sekitar, ia adalah sosok yang sangat dibutuhkan. Dan bagi gereja, ia adalah salah satu pelayan Tuhan, yang siap pergi kemanapun untuk melayani sesama. Bu Muji benar-benar seorang pahlawan kehidupan.
Sabtu, 07 November 2009
Hidup Untuk Melayani Sesama
“Umur saya sudah condong ke barat, Mas. Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain pasti akan saya lakukan dengan sungguh-sungguh, walaupun tidak dengan materi tetapi hanya dengan tenaga saja,” ungkap Martinus Sulaiman. Perkataan itu diwujudkannya dalam bentuk kegiatan pelayanan yang digelutinya selama ini. Salah satunya bergabung dalam tim pangruktiloyo bersama FW. Tirahtun, istrinya.
Ada cerita tersendiri mengapa ia bisa sampai terlibat dalam pelayanan ini. Waktu itu, mbah mertua sedang menanti ajal. Pada saat demikian, mbah mertua selalu memanggil-manggil namanya dan nama istrinya. Tak berapa lama, ia bersama istri dan ketiga anaknya segera datang untuk mendoakan mbah mertua bersama-sama. Di sela-sela doa itu, secara spontan istrinya memberi saran agar mbah mertua segera dibabtis. Ia merasa bimbang karena saat itu ia sendiri baru magang menjadi katolik. Namun teringat pesan Sugihartono, guru agamanya waktu itu, bahwa pada saat-saat darurat diperbolehkan seorang yang belum babtis untuk membabtis orang lain, ia pun merasa mantap. Setelah memberi ‘kepyuran’ air dan tanda salib… atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, tak berapa lama mbah mertua meninggal. Karena pada waktu itu kekurangan orang, ia dan istrinya ikut memangku dan memandikan jenasah mbah mertua.
Awalnya memang ada rasa takut tetapi lama kelamaan menjadi hal yang biasa. Apalagi mengingat bahwa apa yang dilakukannya adalah pelayanan. “Jangan memikirkan macam-macam, yang penting tetap melayani saja,” aku bapak yang saat ini bertempat tinggal di Jl. Tumpang I no. 72 ini.
Selama 15 tahun pelayanannya mengurus jenasah, banyak suka-duka yang ia alami. “Saya tetap bisa melayani meski dari kekurangan saya,” ucapnya. “Dukanya itu ya kalau pas dipanggil malam-malam, apalagi waktu itu saya belum punya kendaraan. Tapi untunglah, ada tim yang membantu,” lanjutnya.
Tim pangruktiloyo di lingkungannya, yaitu lingkungan Karangkumpul II, terdiri dari 5 orang untuk tim inti, baik laki-laki maupun perempuan. Biasanya sudah ada pembagian tugas untuk tim ini. Jadi ketika ada orang yang meninggal, tim langsung bergerak. Hal pokok yang dilakukan adalah; memandikan jenasah, ‘ndandani’ atau merias jenasah, dan menghias peti. Kadang tim ini juga melayani lingkungan lain yang membutuhkan, yang tidak memiliki tim pangruktiloyo sendiri.
“Kondisi saat ini sudah lebih baik dibandingkan dulu. Sekarang sudah banyak lingkungan yang memiliki tim pangruktiloyo,” tuturnya. “Apalagi pelayanan ini sangat didukung oleh gereja karena di gereja Sampangan sendiri juga ada tim pangruktiloyo yaitu Cinta Kasih,” tambahnya. Setiap terjadi pengantian pengurus gereja selalu diadakan penyegaran dengan memberikan kursus-kursus soal merawat jenasah.
Ada satu prinsip yang selalu dipegangnya ketika mengurus jenasah. Ia selalu beranggapan bahwa yang dilayaninya masih dalam keadaan hidup sehingga pelayanan harus diberikan sebaik mungkin dan tetap dihormati. “Jangan mentang-mentang sudah meninggal lalu bisa diperlakukan seenaknya sendiri,” tegasnya. Prinsip ini dilandasi oleh satu keyakinan bahwa pada saatnya nanti, ia juga akan mengalami hal yang sama. Jadi bila saat ini ia merawat dengan baik harapannya pada saat meninggal, ia juga memperoleh perlakuan yang sama.
Selain aktif dalam tim pangruktiloyo, sejak tahun 1999, ia juga menjadi prodiakon lingkungan. Di lingkungan tempat tinggalnya saat ini, ia diserahi tanggung jawab sebagai ketua RT. Sedangkan istrinya aktif dalam posyandu dan pelayanan KB.
Meski ada banyak kegiatan disamping pekerjaan utamanya sebagai karyawan di PT Gelora Pacar Farma, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang farmasi, ia selalu berusaha menyisihkan waktu untuk keluarganya. “Dalam keluarga harus tetap saling mendukung. Selalu menjaga komunikasi dan memelihara keterbukaan satu sama lain,” katanya mengungkap resep yang hampir 40 tahun ini selalu dilakukannya. Berkat pendampingan itu, ketiga anaknya sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang yang tertinggi dan juga sudah mentas. Bahkan saat ini ia dari anak-anaknya, ia memperoleh tambahan 4 cucu.
“Saya merasa bahwa Tuhan sudah banyak mengaruniakan berkat untuk keluarga saya. Oleh karena itu saya selalu ingin membalas kebaikan-Nya dengan melayani sesama. Tidak dengan materi tetapi dengan ‘raga’ dan tenaga yang saya miliki,” pungkasnya.
(tulisan ini adalah hasil wawancara langsung dengan yang bersangkutan)
Langganan:
Postingan (Atom)