Tampilkan postingan dengan label komunitasku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunitasku. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2009

Perpustakaan Kami


“Ma… ini gambar apa ya?” teriak seorang gadis kecil sambil mengangsurkan buku yang lagi dipegangnya pada sang mama yang sedang asyik membaca koran. Di pojok, beberapa anak memilih-milih buku. Mereka tertawa-tawa dan saling berbicara satu dengan yang lain. Deretan buku yang semula tertata rapi menjadi berantakan akibat ulah mereka. Sementara di sudut lain, beberapa anak dengan usia yang lebih muda, asyik bermain bongkar pasang puzzle, ditemani orangtuanya.

Itulah yang terjadi hampir setiap minggu di perpustakaan kami. Minggu? Ya, benar, karena hanya pada hari itulah perpustakaan kami dibuka untuk umum, mulai pukul 08.00 – 12.00. Perpustakaan kami sebenarnya adalah perpustakaan milik gereja yang pengelolaannya diserahkan kepada kami, Tim Kerja Komunikasi Sosial (KOMSOS) Gereja. Perpustakaan ini menempati sebuah ruangan berukuran 6 m x 4 m.

Mengingat awal berdirinya perpustakaan ini adalah mengenang perjuangan yang tiada kenal lelah, semangat pantang mundur, kerjasama yang terjalin dengan baik, dukungan dari seluruh umat dan pendampingan sepenuh hati yang dilakukan oleh Romo.

Ide awal tentang perpustakaan sebenarnya bukan buah pemikiran kami tetapi merupakan program kerja Tim Kerja Kitab Suci. Mereka yang terlebih dahulu memesan sebuah ruangan dan memberi tanda ruang tersebut dengan tulisan PERPUSTAKAAN. Beberapa waktu berlalu tetapi belum juga ada aktivitas yang dilakukan. Melihat kenyataan ini, kami berinisiatif untuk mengambil alih program tersebut.

Setelah mengantongi ijin dari Romo Kepala Paroki, kami bergerak cepat. Tim khusus kami bentuk. Beberapa langkah juga segera kami lakukan. Membuat pengumuman di gereja bahwa akan dibuka perpustakaan dan untuk itu dimohon partisipasi umat untuk menyumbangkan buku-buku yang sudah tidak terpakai. Membuat proposal kepada beberapa penerbit untuk meminta bantuan buku. Juga membeli sendiri buku-buku baru dari sedikit dana yang kami miliki.

Pekerjaan yang menguras tenaga segera terpampang di depan mata. Mulai dari mendaftar buku secara rinci, mengklasifikasikan dan memberi kode pada buku, memberi sampul plastik untuk tiap buku agar tidak mudah rusak, serta membuat kartu inventaris dan katalog untuk buku.

Akhirnya, setelah 4 bulan lebih berkutat dengan berbagai aktivitas yang cukup melelahkan, tanggal 6 Mei 2007, perpustakaan kami diresmikan. Walau hanya upacara sederhana dengan ibadat singkat, pemberian berkat oleh Romo, potong pita dan santap jajan pasar, peristiwa ini sungguh sangat berkesan bagi kami. Perjuangan yang penuh dengan suka dan duka berakhir bahagia. Namun bukan berarti perjuangan akan berhenti sampai di sini saja karena ke depan masih banyak hal yang harus kami lakukan dan kami sempurnakan.

Kini, dua setengah tahun berlalu sejak peristiwa itu. Perpustakaan kami berkembang dengan baik. Dana dari gereja untuk pembelian buku baru sudah beberapa kali kami terima dan kami belanjakan. Pun umat masih saja ada yang terketuk hatinya untuk memberikan sumbangan buku. Hingga hari ini koleksi perpustakaan sudah mencapai hampir 2300an judul, terdiri dari buku (buku rohani, buku cerita, buku komik, buku pengetahuan), majalah (rohani dan pengetahuan), vcd (rohani dan umum), dan surat kabar. Untuk anggota perpustakaan sudah mencapai 233 orang. Sementara tiap minggu rata-rata 25 orang yang melakukan pengembalian dan peminjaman buku.

Memang jumlah itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan jumlah seluruh umat yang hampir mencapai 7000 orang. Namun, kami tidak perlu berkecil hati karena harus diakui minat baca di negara ini memang tergolong rendah. Yang paling utama sekarang adalah tetap memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sambil terus berharap semakin banyak umat yang tergerak untuk menjadi anggota perpustakaan. Semoga.

Senin, 15 Juni 2009

Facing The Giants


Grant Taylor, seorang pelatih kepala Tim Futbol di sebuah sekolah Kristen, begitu sedih saat mendengar penjelasan dokter bahwa kemungkinan dirinya bisa punya anak hanya 10%. Terbayang wajah istrinya yang begitu merindukan kehadiran seorang anak dalam kehidupan keluarga mereka yang sudah berjalan 4 tahun. Ternyata, apa yang ditakutkannya selama ini terbukti, ialah yang menjadi penyebab istrinya sulit hamil. Saat dokter memberi kemungkinan untuk melakukan proses bayi tabung atau mengadopsi anak, Grant hanya bisa menggeleng lemah karena semua itu pasti membutuhkan biaya yang sangat besar padahal penghasilannya sendiri pas-pasan.

Saat Grant kembali ke sekolah, tanpa sengaja, ia mendengar pembicaraan beberapa orangtua murid di sebuah ruangan tentang dirinya. Mereka menuntut pihak sekolah agar segera memecat Grant karena sudah hampir 6 tahun melatih, Grant tidak juga memberi kemajuan yang berarti bagi Tim Futbol sekolah. Mereka berharap ada pelatih baru yang bisa memberi banyak kemenangan.

Grant semakin sedih. Ia pulang ke rumah dengan wajah yang begitu galau. Saat ditemukannya istrinya di ruang tengah, dengan terbata-bata dan berlinang air mata, Grant mengutarakan berbagai masalah yang tengah membelitnya. Akhirnya, ketika semua sudah dikatakan dengan jujur, Grant dan istrinya hanya bisa saling menggenggam tangan. Keduanya larut dalam kesedihan yang sangat.

Kesedihan dan berbagai masalah membawa Grant dan istrinya pasrah dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Grant pun semakin rajin membaca Kitab Suci. Dari Kitab Suci ini pula Grant memperoleh inspirasi untuk memberikan metode pelatihan yang baru bagi tim asuhannya. Grant mulai menanamkan perlunya selalu bersyukur dan memuliakan Tuhan baik di saat memperoleh kemenangan maupun kekalahan. Kekalahan bukanlah akhir tetapi hanya satu bagian kecil dalam kehidupan. Grant juga mengharapkan anak-anak asuhannya pantang menyerah dan selalu mengusahakan yang terbaik.

Sejak saat itu semuanya berubah. Kemenangan demi kemenangan mulai mengakrabi Tim Futbol asuhan Grant hingga akhirnya mereka berhasil maju ke kejuaraan daerah untuk menantang juara bertahan selama tiga tahun berturut-turut, The Giants. Lewat perjuangan yang begitu dramatis, Tim Futbol Grant akhirnya memperoleh kemenangan.

Bagi Grant Taylor, inilah akhir yang sungguh membahagiakan. Dan kebahagiaan ini semakin terasa lengkap ketika akhirnya ia mengetahui bahwa istrinya tengah hamil.

Itulah sekelumit cerita ‘FACING THE GIANTS’. Sebuah film yang diputar oleh Tim SIKKAT Paroki Katedral, sebuah komunitas yang konsen memutar film-film untuk keluarga, Minggu, 14 Juni, di wilayah Sampangan. Kegiatan ini memang baru pertama kalinya diadakan di wilayah karena sebelumnya, pemutaran film selalu diadakan di kompleks gereja. Dan ternyata, sambutan umat sangat menggembirakan. Mereka yang kebanyakan terdiri dari para remaja dan kaum muda tampak larut dalam jalinan cerita. Kadang tertawa ketika ada adegan yang lucu dan konyol, bersorak-sorai atau bertepuk tangan dengan riuh.

Romo Kris ketika dimintai komentarnya tentang pesan kesan dari film ini hanya menggarisbawahi dua hal; pertama, Kitab Suci dapat menjadi inspirasi untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup dan kedua, tetaplah selalu bersyukur baik disaat menang ataupun kalah, berhasil maupun ketika gagal karena yang utama adalah selalu memberikan yang terbaik demi kemuliaan Tuhan. Sebab, bagi Tuhan tiada yang mustahil!