Tampilkan postingan dengan label my live. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my live. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2012

Memaknai Peristiwa

Kemarin, kotaku diguyur hujan lebat. Selama hampir dua jam, ribuan jarum keperakan terus berjatuhan ke atas bumi. Menyebabkan genangan air dimana-mana. Membuat berbagai kendaraan yang melintas di jalan harus melambatkan kecepatannya dan ekstra waspada akibat pandangan yang mulai terhalang. Di beberapa titik, angin yang melintas bersama hujan juga menumbangkan pepohonan. Salah satu pohon tumbang terjadi beberapa meter dari kantorku. Menimpa sebuah mobil yang sedang berhenti di lampu merah dan sebuah becak yang tengah mangkal menunggu penumpang. Tidak ada korban jiwa tetapi akibat kejadian itu abang tukang becak harus dilarikan ke rumah sakit karena luka yang cukup serius. ”Kasihan Pak Amat!” temanku tiba-tiba nyeletuk. ”Kenapa, Mas?” tanyaku keheranan. ”Pagi hari pas ketemu aku ia sempat mengeluh karena dompetnya hilang... Sudah dicari dan ditanyakan kemana-mana belum juga ketemu. Eeehhhh... siang harinya kok malah kejatuhan pohon. Kasihan kan?” terang temanku. Aku terdiam mendengar penjelasannya. Memang kasihan Pak Amat; sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dua kemalangan harus dialaminya dalam satu hari. Memikirkan itu, tiba-tiba sebuah tanya melintas dalam kepalaku: apa maksud Tuhan dengan peristiwa ini? Setiap peristiwa di luar kemampuan manusia yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Tuhan. Ia yang merencanakan dan melakukannya. Tentunya di balik segala peristiwa ada hikmah yang yang bisa diambil, ada pelajaran yang bisa dipetik dan dimaknai untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun seringkali, manusia tidak bisa memahaminya. Ketika berbagai peristiwa yang tidak mengenakkan menimpa dirinya, manusia cenderung mengeluh, protes, dan mulai menyalahkan Tuhan. Sebaliknya saat mengalami peristiwa yang menyenangkan, manusia menjadi lupa diri dan bertindak semau gue. Manusia mulai melupakan Tuhan. Sebenarnya hanya dua hal yang diinginkan Tuhan dari manusia; selalu mengingatNya dan terus bersyukur dalam setiap peristiwa. Ingat Tuhan menjadi tanda manusia yang sadar akan hakekatnya. Sadar bahwa keberadaannya di dunia ini adalah semata-mata karena anugerah Tuhan. Tuhanlah yang berkuasa. Tuhan yang menentukan. Setiap yang dilakukanNya adalah yang terbaik untuk kehidupan manusia. Untuk itu manusia hanya perlu bersyukur, bersyukur, bersyukur, dan terus bersyukur. Semoga kita mampu melakukannya.

Jumat, 01 Juni 2012

Mereka Juga Perlu Disayang

“Hai!” Sebuah suara mengagetkanku. Aku celingukan berusaha mencari asal suara itu. Tapi, tidak ada seorangpun di dekatku. “Hai, aku ada di depanmu.” Suara itu terdengar lagi. Aku berusaha menajamkan mata. Di depanku? Bukankah hanya ada hamparan tanaman di hadapanku? Apakah? “Mengapa engkau tidak mengenali suaraku? Aku di sini di hadapanmu. Aku tanaman soka berbunga kuning yang biasa engkau pandangi dan engkau elus tiap pagi,” terang suara itu. Aku terperangah. Heran bercampur tidak percaya. Tanpa kedip aku pandangi tanaman soka berbunga kuning yang ada di hadapanku. Kucubit pipiku. Kukucak-kucak mata. Ahh… ini memang nyata. Aku tidak sedang bermimpi. “Tidak usah heran sobat, aku dan kawan-kawanku di sini memang bisa berkata-kata seperti engkau. Hanya, bahasa kami memang berbeda. Dan karena itu, tidak semua orang bisa memahami kami,” jelasnya. “Mengapa engkau mengajakku bicara. Apakah aku termasuk orang yang bisa memahamimu?” tanyaku masih dengan rasa tidak percaya. Tanaman soka berbunga kuning itu bergoyang-goyang seolah-olah sedang tertawa. “Sobat, aku terkesan denganmu. Dulu, waktu pertama kali bertemu, saat engkau memegang tubuhku, aku sudah sangat ketakutan. Jangan-jangan, engkau akan mencabuti bunga-bungaku. Engkau akan merusak tubuhku. Tapi ternyata, engkau berbeda,” papar tanaman soka berbunga kuning itu sambil melambai-lambaikan rangkaian bunganya yang begitu indah. Mendengar ucapannya, tiba-tiba berkelebat rangkaian kejadian beberapa hari lalu. Waktu itu aku usai jogging memutari taman kota yang yang terletak tidak jauh dari rumahku. Keringat yang bercucuran membuat tubuhku semakin bugar. Hembusan angin pagi pun seolah menambah kesegaran. Setelah mencuci kaki di kolam di tengah taman, aku menyandarkan tubuhku pada sebuah batu di pojok taman. Sambil beristirahat, aku memandang hamparan tanaman yang ada di hadapanku. Sejenak aku tertegun. Tanaman-tanaman itu begitu indah. Ada soka berbunga merah dan kuning, rumput-rumputan, bayam-bayaman dengan bunga warna coklat, dan masih banyak lagi. “Ah, aku pengen memetik bunga soka warna kuning itu. Bunganya sungguh indah dan menarik hati,” kataku dalam hati. Segera kuayunkan tanganku menggapai bunga itu. Saat hendak menarik bunga itu dari tangkainya, tiba-tiba terdengar sebuah suara di sudut hatiku. “Mengapa kau harus memetiknya. Bukankah lebih indah bila ia tetap ada di sana. Lagi pula setelah kaupetik, keindahan bunganya hanya dapat dinikmati sebentar saja dan setelah itu pasti akan terbuang percuma,” terang suara itu. Buru-buru kuurungkan niatku. Tangan yang sudah terulur selanjutnya aku gunakan untuk membelai bunga itu. “Sobat, aku tidak berbeda dengan yang lain. Dulu, aku memang pernah ingin memetikmu,” akuku dengan jujur. Tanaman soka berbunga kuning itu kembali bergoyang-goyang. “Tidak mengapa. Aku suka dengan kejujuranmu,” katanya perlahan. “Ketahuilah, aku dan teman-temanku juga butuh disayang. Meski kami kecil dan tidak pernah protes, rasanya sakit sekali jika melihat ada manusia yang menyia-nyiakan kami begitu saja,” tambahnya. Aku mengangguk-angguk. Ya, mereka juga ciptaan Tuhan sama seperti kita. Kalau kita butuh disayang, mereka juga perlu disayang.

Selasa, 29 Mei 2012

Wajah-Wajah Malaikat

Minggu selalu menjadi hari yang menyenangkan. Setelah sepekan tenggelam dalam kesibukan kerja, Minggu menjadi hari yang paling ditunggu untuk rehat sejenak, memulihkan kembali stamina, dan memupuk semangat untuk hari-hari berikutnya. Tak terkecuali bagiku. Mingguku adalah kegembiraan. Mingguku menjadi hari yang dipenuhi kebahagiaan karena inilah waktu untuk bertemu dengan wajah-wajah malaikat. Mungkin ada yang bertanya, siapa mereka? Mereka adalah anak-anak yang seringkali hadir dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (sekolah minggu). Memang, aku tidak terlibat langsung mendampingi mereka. Aku hanya menjadi pengamat, kadang memberi sedikit bantuan atau sesekali mencatat dan mengabadikan tingkah polah mereka melalui kamera yang aku bawa. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk merasakan kegembiraan yang terpancar dari wajah-wajah mereka. Wajah-wajah yang polos, penuh dengan keceriaan. Wajah-wajah tanpa prasangka dan rasa curiga. Wajah-wajah yang dipenuhi kasih. Kadang, mereka saling bersitegang karena menginginkan atau memperebutkan sesuatu. Kadang ada juga yang menangis karena ditinggal orangtuanya mengikuti misa. Ada yang nampak cuek, asyik dengan dirinya sendiri tanpa memperhatikan teman di sekelilingnya. Ada yang aktif bertanya dan ada pula yang hanya diam saja sambil terus memperhatikan yang lain. Mereka berbeda tapi saling menyatu dalam kebersamaan yang begitu indah. Wajah-wajah malaikat… ahh… inilah seharusnya yang terus kita miliki dan tampilkan dalam keseharian. Namun realitas yang ada, wajah-wajah kita seringkali hanyalah wajah-wajah yang suntuk, lelah, penuh beban, memancarkan kesedihan, dan tak jarang pula penuh dengan keputusasaan. Semua disebabkan karena berbagai masalah yang terus menguntit mulai dari soal ekonomi, pekerjaan, karir, masalah keluarga, pendidikan, jodoh, masa depan, dan masih banyak lagi. Bagaimanapun masalah memang akan selalu ada selama kita hidup di dunia ini. Masalah adalah batu ujian bagi kita untuk mencapai kehidupan yang lebih bernilai. Masalah menjadi tanda kasih Tuhan yang tidak berkesudahan. Tuhan tidak akan pernah memberikan masalah yang tidak dapat ditangani umat-Nya. Melalui masalah, Ia hanya ingin menyadarkan kita bahwa Ia ada di samping kita. Ia selalu mengulurkan tangan saat kita jatuh dan tenggelam dalam masalah. Ia akan merengkuh kita, menopang dan menolong, serta memberikan jalan terbaik. Sudahkan kita menyadarinya? Maka, mari kita benahi wajah kita agar kembali menjadi wajah-wajah malaikat. Bukan hanya untuk pura-pura tetapi didasari oleh kesungguhan, ketulusan, dan kemurnian hati yang dipenuhi oleh cinta-Nya. Semoga.

Selasa, 30 Agustus 2011

Lakukanlah Dengan Cinta

Kata-kata ini begitu saja muncul di dalam hatiku. Mengembara dalam relung jiwaku dan tidak mau hilang dalam ingatanku. Terus menggoda, terus bertumbuh, dan membuatku terus memikirkannya.

Barangkali, inilah yang aku butuhkan selama ini. Melakukan segala sesuatu dengan penuh cinta. Cinta yang tulus. Cinta yang memberi. Cinta yang mampu menghargai perbedaan. Cinta yang memahami. Cinta yang memberi kekuatan dalam setiap cobaan, hambatan, serta aral melintang yang menghadang. Cinta yang memberi kesadaran bahwa di atas segalanya, ada Dia sang Mahacinta yang sudah terlebih dahulu memberikan cintaNya untukku.

Lakukanlah dengan cinta. Bukan dengan keterpaksaan. Bukan karena kewajiban. Bukan karena ingin mendapatkan penghargaan atau pujian dari orang lain.

Jumat, 26 Agustus 2011

Setia

Untuk setia itu sangat tidak mudah. Akan ada banyak godaan dan rintangan saat kita hendak melakukannya. Setia kepada kebenaran. Setia untuk melakukan hal-hal yang baik. Setia kepada Tuhan.

Contohnya aku. Sejak akhir bulan lalu, aku telah menuliskan 5 hal yang ingin aku lakukan mulai bulan Agustus ini. Lima hal itu kemudian aku print dalam selembar kertas folio dan aku tempel di dinding kamar tidurku. Aku berharap, saat aku hendak tidur dan bangun tidur keesokan harinya, aku (selalu) diingatkan akan komitmen itu.

Beberapa hari aku memang mematuhinya. Tapi mulai hari kesekian, aku merasa berat. Seolah ada beban yang menghimpit pundakku dan memaksaku untuk berhenti. Kembali kepada kebiasaan lama dan tidak lagi setia pada komitmen itu.

Sungguh, aku sangat lemah. Aku begitu mudah jatuh di dalam godaan. Aku kalah oleh bujukan setan yang terus-menerus mengajakku untuk tidak setia. Namun, Ia selalu setia untukku. Ia tidak pernah memarahi aku ketika aku jatuh dan tidak setia. Malahan, kasihNya yang tanpa batas selalu tercurah kepadaku, merengkuhku, dan mengajakku kembali kepadaNya. Ia selalu memberi kesempatan, kesempatan, dan kesempatan. Ia tidak pernah lelah menungguku.

Ah... semua memang tidak akan pernah berlangsung secara instan. Selalu ada proses yang harus dijalani. Termasuk untuk setia. Dan dalam seluruh proses itu, tidak penting berapa kali kita terjatuh. Berapa kali kita kalah oleh godaan. Sebab yang lebih utama adalah saat-saat dimana kita bangkit dari hal tersebut. Saat-saat dimana kita kembali lagi kepadaNya dengan penuh kesadaran dan niat yang baru.

Untuk itu, hanya ucap syukur yang selalu aku lambungkan kepadaMu. Syukur atas segala anugerah. Syukur atas berbagai kesempatan. Syukur karena Engkau selalu setia menjagaku, manusia yang lemah ini.

Sabtu, 09 Juli 2011

Gadis Kecilku


Elisabeth Valensia Rosemary. Itulah nama gadis kecil itu. Gadis berparas manis dengan rambut dipotong pendek dan tubuh yang tergolong kurus. Saat ini ia bersekolah di sebuah SMP swasta terkenal di kotaku. Kelas 2.

Sudah 2 tahun ini aku tergila-gila pada Valen, sapaan akrabnya. Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Entah sejak kapan perasaan ini muncul dan mengapa, aku benar-benar tidak mengerti. Semuanya terjadi begitu saja. Mengalir dan terus berkembang hingga hatiku benar-benar dikuasai olehnya.

Mungkin, semua berawal dari keisengan yang aku buat untuknya. Iseng? Ya benar, iseng. Waktu itu ia masih kelas 6 SD. Lewat teman akrabnya yang kebetulan juga aku kenal, aku berhasil mendapatkan nomer hapenya. Berbekal nomer hape, aku mulai ‘mengerjai’nya dengan berpura-pura menjadi orang lain yang ingin berkenalan dengannya. Padahal kami sudah saling mengenal meski tidak akrab karena tantenya adalah temanku satu paguyuban di Pendampingan Iman Anak (PIA).

Dan sms demi sms pun mengalir. Awalnya hanya saling menyapa dan bertukar kabar. Perkembangan selanjutnya, sms berubah menjadi dukungan untuknya karena saat itu ia sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir untuk kelulusannya.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Mengirim sms untuknya seolah-olah telah menjadi kebutuhan yang harus terus aku lakukan. Jika hal itu terlewat, terasa ada yang kurang dalam hidupku. Lewat sms-sms itu, aku menjadi lebih akrab dan semakin akrab dengannya. Dan tanpa kusadari, benih-benih cinta dalam hatiku tumbuh bak jamur di musim hujan.

Namun, kedok mesti dibuka. Tidak ada gunanya terus bermain ‘rahasia’. Dan saat semuanya terbuka, tidak ada kekagetan yang teramat sangat. Tidak ada histeria yang muncul. Semua berjalan biasa saja. Rupanya Valen sudah bisa menebak, siapa sebenarnya orang yang ada dibalik sms-sms yang terkirim di hapenya. Terus terang aku sedikit kecewa karena tidak berhasil memberikan surprise tapi segera hal itu terkubur oleh kebahagiaan karena sudah tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi lagi.

Sejak saat itu, bersama istriku, aku mulai sering berkunjung ke rumahnya. Ngobrol, menemaninya melakukan aktivitas entah belajar, membaca komik, bermain game, atau saat membuat kerajinan tangan. Kadang kami (aku, istriku, Valen, adik, dan tantenya) melakukan aktivitas di luar. Makan nasi kucing di warung yang tak jauh dari rumah. Menonton pameran. Juga berdoa bersama di Gua Maria Kerep Ambarawa.

Cintaku pun semakin mendalam. Aku semakin mengasihinya. Saat ada di dekatnya aku selalu ingin memeluknya erat, mengecup keningnya, dan berlama-lama memandang bening matanya yang begitu indah.

Mencintainya berarti mau menerima kelebihan dan kekurangannya. Mencintainya adalah keterbukaan dan kerelaan hati untuk melihatnya tumbuh bebas menggapai cita-citanya. Mencintainya menjadi kesempatan bagiku untuk terus membahagiakannya lewat aneka perbuatan dan untaian doa.

Aku bersyukur bertemu dengan gadis kecilku. Ini adalah rencana Tuhan yang begitu indah dalam hidupku. Meski tidak mempunyai hubungan darah tapi saat ini ia telah menjadi anak, keponakan, dan mutiara yang sangat berharga bagiku.

Kamis, 07 Juli 2011

(Ke)sederhana(an)

Rasa-rasanya, kata yang satu ini semakin hilang dalam kehidupan kita. Orang-orang jaman sekarang lebih suka sesuatu yang ‘wah’, spektakuler, rumit, penuh tipu daya dan kelicikan, serta berbagai macam keruwetan lainnya. Mereka lebih suka hidup di atas awan yang tinggi daripada memilih mendarat di bumi.

Namun, diantara sekian banyak orang yang dilanda virus ketidaksederhanaan itu, masih ada orang-orang yang dengan tekun memperjuangkan kesederhanaan.

Pertama adalah ayahku sendiri. Saat ini usianya sudah hampir memasuki 80 tahun. Tapi ia masih kelihatan segar dan awet muda. Ayahku adalah pensiunan pegawai negeri dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Ketika masih aktif bekerja, ia menjabat sebagai bendahara. Meski setiap hari bergelimang dengan uang, ayahku adalah orang yang sangat jujur. Ia tidak pernah menyalahgunakan jabatan atau menggunakan sepeser pun uang yang menjadi tanggung jawabnya. Ia juga kebal akan sogokan.

Buktinya adalah kehidupan kami yang tergolong sederhana. Sebuah keluarga dengan ayah, ibu, dan 4 orang anak, 3 putra dan 1 putri. Menempati sebuah rumah yang tidak begitu luas dengan dinding setengah tembok dan setengah papan. Sering ibu harus memutar otak untuk mencukup-cukupkan gaji yang diterimanya dari bapak guna memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan kami. Kadang pula mereka harus berutang ketika dirasa tidak ada jalan lain. Untunglah sejak kecil, kami berempat bersekolah di sekolah negeri sehingga biaya untuk pendidikan bisa lebih terjangkau (waktu itu). Dan akibat ketiadaan biaya pula, kami hanya bisa menikmati sekolah sampai tingkat SMA. Kakak dan adikku laki-laki lulus dari STM dan setelah itu langsung bekerja. Sedangkan aku setelah lulus SMA juga langsung bekerja. Pun dengan adikku yang perempuan.

Teladan kedua aku temukan dalam diri seorang ibu berparas ayu dengan perawakan yang sedikit kurus. Ketika memandang wajahnya, merasakan keramahannya dan melihat senyum yang mengembang di bibirnya, selalu ada kedamaian yang segera menguar. Luapan kasih sayang yang seakan terus mengalir.

Aku sering memanggilnya dengan sebutan bu Ina. Sudah puluhan tahun aku mengenalnya. Dahulu kami pernah tumbuh bersama dalam komunitas Pendamping Iman Anak di Paroki (yang waktu itu sering disebut dengan sekolah minggu). Beberapa tahun sempat tidak bertemu hingga akhirnya Tuhan kembali mempertemukan kami dalam kegiatan yang sama seperti dulu.

Ketika mendengar pergulatan hidupnya yang sering dituturkannya kepada kami (aku dan teman-teman dalam komunitas Pendamping Iman Anak), aku merasa bahwa hidup keluarganya sungguh diberkati oleh Tuhan. Meski ada berbagai cobaan (salah satunya saat harus kehilangan anak semata wayang yang diperolehnya dengan penuh perjuangan akibat terjatuh dari kuda ketika berumur 9 tahun) tapi ia tidak pernah menyerah. Ia justru menghadapi segala cobaan itu dengan tabah dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan.

Meski kaya ia tetap hidup sederhana. Kesederhanaan itu begitu tampak saat melihat rumahnya yang tergolong ’apa adanya’ bila dibandingkan dengan rumah-rumah lain di kanan-kirinya. Ketika masuk ke dalam, ruang tamunya hanya berukuran kurang lebih 2 x 3 meter. Semakin ke dalam, deretan lemari kayu tampak berjejer memenuhi ruangan. Lemari-lemari itu adalah tempat menyimpan berbagai berkas dan perabotan milik keluarga.

Bu Ina adalah pribadi yang ringan tangan, rendah hati, dan tulus. Ia begitu mudah tergerak untuk mengulurkan bantuan saat teman-temannya atau orang lain mengalami kesulitan, apa pun itu. Kalau toh ia tidak bisa menolong secara langsung, ia pasti akan berusaha mencarikan jalan keluar agar kesulitan itu dapat teratasi. Satu hal yang mengagumkan, ia tidak pernah ingin namanya dikenal. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa dialah yang menyumbang. ”Biarlah Tuhan yang membalas semuanya,” tuturnya penuh iman.

Karena semua hal yang dilakukannya, aku sering menyamakannya dengan malaikat. Manusia berhati malaikat, itu tepatnya.

Ternyata, kesederhanaan memang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Kesederhanaan justru akan makin bernilai ketika ia dihidupi dengan penuh iman. Darinya kita akan mendapatkan banyak mutiara kehidupan yang begitu berharga. Hidup bersamanya, kita akan semakin menyadari bahwa kehidupan yang kita terima ini adalah karunia dari Tuhan. Kehidupan yang harus dijalani sebaik mungkin untuk melakukan dan berbagi kebaikan. Menjadi pembawa damai dan berkat untuk orang lain.

Senin, 04 Juli 2011

RencanaNya Sungguh Indah

Keyakinan ini terus saja menancap di sanubariku. Merekah di pikiran dan memampukan aku untuk mendaraskan syukur kepadaNya. Meski terasa pahit, menyedihkan, dan menguras air mata, tapi, inilah yang terbaik, yang sudah dirancangkanNya.

Tak terkecuali dengan peristiwa yang menimpa suami dari adik sahabatku. Hari Minggu lalu ia kembali ke pangkuan Tuhan setelah setahun menahan penderitaan akibat ginjalnya tak lagi berfungsi hingga harus melakukan cuci darah secara rutin. Hal yang terasa menyayat, ia pergi meninggalkan istri dan dua anak perempuannya yang cantik-cantik. Yang sulung baru masuk SMP sedangkan si bungsu kelas 1 SD.

Ingatanku pun melayang pada kejadian hampir 15 tahun yang lalu. Saat aku ikut ’ndekor’ rumah sahabatku untuk acara pernikahan adiknya. Dan beberapa tahun kemudian, aku juga ikut merasakan pengalaman saat menggendong ponakannya yang terlihat lucu dan menggemaskan. Ahh... kenangan ini akan terus terpatri di dalam benakku.

Tapi, rencana Tuhan berkata lain. Ia memanggil suami adik sahabatku pada saat anak-anaknya sedang bertumbuh. Ia memberi dukacita pada keluarga ini. Namun, dibalik segala penderitaan yang dialami, kasihNya sungguh tercurah. Ia memberi kesempatan pada keluarga ini untuk menata hati dan melepas dengan ikhlas ketika saatnya tiba. Memang ada air mata yang mengalir. Namun, kesedihan segera berganti dengan sukacita karena Tuhan sudah memberikan yang terbaik. RencanaNya sungguh indah.

Selamat jalan, Mas Heri
Tuhan sudah melepas segala penderitaanmu
Kini, saatnya engkau menikmati kebahagiaan bersamaNya

Minggu, 03 Juli 2011

Mulai (lagi)

Hari ini adalah hari ketiga aku memulai lagi kebiasaanku. Kebiasaan yang beberapa bulan ini aku tinggalkan. Aku ingin belajar lagi. Aku ingin menulis lagi. Menulis secara rutin. Setiap hari.

Tantangan yang paling berat bagiku adalah kemalasan. Malas untuk mencari ide. Malas menyisihkan waktu secara khusus untuk menulis. Dan ketika jari jemari mulai menari-nari di atas keyboard, saat kata-kata mulai teruntai, tiba-tiba timbul keraguan.. apakah aku bisa menyelesaikannya? Apakah aku punya kemauan untuk melanjutkan tulisan itu ketika berbagai kesibukan yang lain ganti menyerangku?

Ahh, lagi-lagi semuanya kembali kepada niat. Motivasi yang menjadi latar belakang aku melakukan kebiasaan ini. Sungguh, hal itu masih tertanam erat di dalam hati dan mengendap di pikiranku. Namun, sekedar tertanam dan mengendap tanpa adanya kesungguhan dalam berusaha dan keberanian untuk mengatasi segala tantangan yang muncul, tidak ada gunanya. Dan itu sudah terbukti selama ini.

Apakah aku akan terus dikalahkan kemalasan? Apakah aku harus tunduk pada ketidakdisiplinanku? Tidak! Aku harus berusaha lagi. Aku harus kalahkan segala rintangan, apa pun itu! Aku bisa! Aku pasti bisa! Dan di atas segalanya, aku ingin memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Aku percaya, rencanaNya adalah yang terbaik untuk hidupku.

Sabtu, 02 Juli 2011

Ia Mengasihiku

Peristiwa ini aku alami kemarin. Sebuah kejadian biasa, sederhana, tetapi menjadi bukti bahwa Ia mengasihiku. Ia selalu menjaga keselamatanku.

Pagi itu seperti biasanya, setelah mengantarkan istriku ke tempat kerjanya, aku menuju ke kantor tempatku bekerja. Jalanan yang mulai ramai dan bising, aku susuri memakai kendaraan roda dua dengan kecepatan sedang. Ketika hendak sampai di kantor, aku merasakan ada yang tidak beres dengan sepeda motorku. Dan, sesaat setelah tiba di kantor, aku menyempatkan diri untuk memeriksanya. Ternyata, ban belakang sepeda motorku bocor lagi. Aku harus buru-buru membawanya ke tukang tembal ban sebelum istirahat siang, begitu pikirku.

Karena berbagai kesibukan, aku baru sempat merealisasikan niatku itu bersamaan dengan waktu istirahat siang. Syukurlah, tempat tukang tambal ban, tidak begitu jauh dari kantorku sehingga aku tidak berlama-lama menuntun sepeda motorku yang sedang ’sakit’.

Setelah dicek bapak tukang tambal ban, terbukti bahwa ban dalam sepeda motorku sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Selain karena banyak tambalannya, di beberapa bagian juga sudah kelihatan aus. ”Ini harus diganti dengan yang baru mas,” kata bapak tukang tambal ban itu. Aku hanya menggangguk karena merasa keputusan ini adalah yang terbaik.

Sembari menunggu bapak tukang tambal ban itu bekerja, ada sebuah kesadaran yang hinggap di benakku. Sebuah kesadaran yang menuntunku untuk mendaraskan syukur kepada Tuhan. Ternyata, lewat peristiwa kecil ini, Tuhan ingin menyapaku. Tangan kasihNya terulur menyelamatkan aku dari peristiwa lain yang mungkin saja terjadi dan berakibat fatal bagi diriku. Terlebih esok hari, bersama istriku, aku berencana pergi ke luar kota mengendarai sepeda motor untuk ’nyumbang’ ponakan yang akan dikhitan.

Tuhan,
aku bersyukur atas pemeliharaanmu hari ini
aku bersyukur karena Engkau senantiasa menyelamatkan aku
dan menjaga hidupku dari hal-hal yang buruk
aku sungguh bersyukur karena kasihMu selalu tercurah untukku

Tuhan,
jadikan aku lebih peka pada berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupku
jadikan aku lebih sabar dan semakin rendah hati
untuk mengetahui teguranMu, memahami kehendakMu,
dan menerima segala rencanaMu dengan penuh syukur

Jumat, 01 Juli 2011

10

Dalam deretan sepuluh angka pertama, 10 adalah angka yang paling besar. Pun bagi anak-anak yang masih duduk di bangku SD, SMP, maupun SMA, 10 adalah angka yang paling sempurna karena jika meraih angka tersebut, bisa dipastikan anak yang bersangkutan termasuk kategori ‘pintar’, yang mampu menyelesaikan soal ujian tanpa kesalahan sedikit pun.

Dan hari ini, 10 juga menjadi penanda hubungan kasih di antara kami. Aku dan istriku. Berbagai peristiwa kembali berkelebat di dalam benak. Saat kami saling mengucapkan janji sehidup semati, dalam untung dan malang, dalam susah dan senang, di depan altar suci, di hadapan Tuhan. Ketika kami dengan berurai air mata ‘sungkem’ pada orangtua yang telah membesarkan kami. Saat kami dengan senyum bahagia mendapatkan ucapan selamat dari sanak-saudara, handai taulan, sahabat, serta teman-teman. Dan ketika kami mulai mengarungi kehidupan baru sebagai suami istri dengan beragam persoalan dan peristiwa. Ahhh… semuanya berlalu begitu cepat…

Apa yang sudah kami dapatkan/terima dalam rentang waktu 10 tahun itu? Dipandang dari segi materi, kami masih biasa-biasa saja. Hanya keluarga yang sederhana. Saat ini pun, kami masih tinggal bersama dengan mertua (dari istri). Kami juga belum dikaruniai ‘momongan’. Namun di balik semua itu, kami sungguh merasakan kasih Tuhan senantiasa tercurah kepada kami. Ia memberi begitu banyak berkat dalam kehidupan kami.

Dengan belum adanya momongan, Tuhan memberi kami kesempatan untuk aktif berkegiatan di gereja. Menjadi pendamping bagi anak-anak dalam kegiatan Sekolah Minggu (PIA), mengelola majalah dan perpustakaan paroki dan ikut terlibat dalam mempersiapkan liturgi khususnya teks misa. Meski belum ada tangis bayi dalam rumah tangga kami, Tuhan juga telah memberikan orang-orang yang bisa kami cintai sepenuh hati. Keponakan-keponakan entah yang berasal dari kakak dan adik kami atau mereka yang dipertemukan dengan kami dalam kegiatan di gereja, adik-adik, dan banyak sahabat yang selalu menemani perjalanan kami. Sungguh, semua itu menjadi karunia yang terus kami syukuri.

Hari ini, tepat saat usia pernikahan kami yang ke-10, kami bersyukur karena Ia yang dahulu telah mempertemukan kami, selalu memelihara hubungan kami, menyuburkan kasih di antara kami sehingga dari hari ke hari, kasih itu semakin tumbuh dan berkembang menghasilkan buah-buah kebaikan. Dan kami selalu percaya, rencanaNya adalah yang terbaik dan terindah untuk kami.


nb: foto bersama 2 keponakan tersayang yang dipertemukan oleh Tuhan

Kamis, 14 April 2011

Kok, Kena Lagi?

Ah, kalimat itu spontan keluar dari mulutku. Ya, benar... malam ini aku baru tau kalau fbku kena hack lagi. Entah bagaimana caranya... tiba-tiba aja... nama dan fotoku sudah berganti... parahnya, aku tidak bisa masuk menggunakan paswordku. Padahal selama ini aku selalu online menggunakan laptop pribadiku. Aneh bukan?

Gara-gara itu... aku jadi pusing bin bingung. Pusing karena banyak foto-foto kegiatan di sana plus sebagian tulisan yang aku copy paste dari blogku. Bingung sebab aku belum berhasil mengatasinya. Ada beberapa teman yang langsung turun tangan membantu tapi sia-sia saja. Fbku tetap enggak bisa dibuka dengan identitasku.

Akhirnya, aku hanya bisa berpikir positif. Moga-moga saja semua yang ada di fbku enggak disalahgunakan. Moga-moga saja, siapa pun dia tetap menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman mayaku.

Minggu, 27 Maret 2011

Selamat Ulang Tahun





Adek,
telah satu tahun lebih aku akrab denganmu
kadang, aku heran, darimana rasa sayang ini muncul
rasa yang makin hari makin memerangkapku
rasa yang terus tumbuh dan menggurita dalam jiwaku
aku bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kita
walau kita bukan saudara karena pertalian darah
tapi apalah artinya itu saat ini

Dan, ketika mentari pagi ini menyembul indah
rona wajahmu nampak begitu ceria
senyum manismu menghangatkan jiwaku

Selamat Ulang Tahun, Adek
panjang umurmu dan makin rajin belajarmu,
makin besar sayangmu untuk papa tercinta,
untuk adek-adek dan mbak yang selama ini menjagamu,
untuk akung, emak, dan saudaramu yang lain,
makin dekat engkau dengan Tuhan,
makin cantik dan tambah dewasa,
dan moga berkatNya
senantiasa melimpah untukmu

Adek,
Selamat Ulang Tahun

pf: 27 Maret 1998 – 27 Maret 2011

Sabtu, 26 Maret 2011

Sebuah Awal


Ya, mungkin hanya itu yang bisa aku katakan. Awal yang baik. Baik dan sungguh indah karena akhirnya pertemuan ini sungguh terjadi hari kamis kemarin (24/03). Pertemuan untuk para pendamping PIA (Pendampingan Iman Anak) yang tidak dilaksanakan di gereja tetapi beralih di rumah para pendamping secara bergilir. Tujuannya selain untuk mengenal keluarga dan tempat tinggal masing-masing juga menjadi sarana untuk lebih saling mengakrabkan diri. Semakin teguh di dalam iman dan bersatu di dalam pelayanan.

Satu komitmen kami, pertemuan ini akan diadakan sebulan sekali dan diharapkan (harus) untuk yang ketempatan tidak meng’ada-adakan’ soal konsumsi. Cukup air minum saja. Untuk acara dibuat fleksibel. Bisa sharing, doa bersama, permainan, dan masih banyak lagi. Intinya agar masing-masing pribadi semakin dikuatkan dan semakin menyayangi satu sama lain sebagai saudara.

Semoga, ini sungguh menjadi awal dan selanjutnya mengalir sesuai kehendak Tuhan. Harapannya, ketika kami tidak lagi mendampingi karena sudah digantikan oleh para penerus kami, kegiatan ini tetap berlangsung, dan akan menjadi kenangan yang paling bermakna dalam kehidupan kami. Tuhan memberkati.

Kamis, 24 Maret 2011

Mbak Ramah

Sungguh, aku terkesan dengan mbak yang ada di toko komputer itu. Aku belum tahu namanya tapi agar lebih mudah mengingatnya, aku akan menyebutnya mbak Ramah. Ya, karena ia memang benar-benar ramah. Dua kali aku ke sana, dua kali pula aku dilayani oleh orang yang sama.

“Ada yang bisa saya bantu pak?” demikian sapanya kepadaku. Dan aku pun segera menjelaskan keperluanku panjang lebar.

Pada kunjungan pertama, aku mencari sebuah alat perekam yang akan aku pergunakan untuk keperluan wawancara. Mbak Ramah dengan sigap menunjukkan beberapa pilihan kepadaku. Satu MP3 dan satunya lagi MP 4.

“Bisa dicoba mbak?” tanyaku segera.

“Bisa pak,” jawabnya. Lalu dengan cekatan ia mengutak-utik alat yang tadi ditunjukkannya. Pun dengan sabar, ia menjawab segala pertanyaanku.

Beberapa menit berlalu. Ternyata, alat-alat yang ditunjukkannya tidak ada yang memuaskan keinginanku. “Ehm… kayaknya tidak jadi mbak… alatnya nggak bisa dipake ngrekam jarak jauh dan waktunya ngrekamnya juga pendek,” ujarku kemudian.

“Tidak apa-apa pak,” sahutnya dengan senyum mengembang. Dan ia pun segera membereskan semuanya dan mengembalikan alat-alat itu ke tempat semula.

Saat berkunjung untuk kedua kalinya, aku sedang mencari charger baru untuk mengganti charger laptopku yang rusak. Mbak Ramah kembali melayaniku dengan ramah dan sabar. Ia mengambilkan barang yang kuminta dan mencobakannya pada laptopku. “Ada lagi pak?” tanyanya setelah charger baruku beres. Aku hanya menggeleng. Dan setelah membayar chargernya, aku segera meninggalkan toko komputer itu dengan hati yang diliputi kegembiraan.

Keramahan, kesabaran, dan senyum yang menghiasi wajah mbak Ramah sejenak membuatku termenung. Alangkah bahagianya bila kita dilayani dengan baik. Alangkah senangnya jika perkataan kita didengarkan dan lalu diberi tanggapan sebagaimana mestinya.

Sebaliknya, saat kita mendapatkan pelayanan yang kurang/tidak baik dan perkataan kita tidak mendapatkan respon atau hanya dianggap angin lalu, dengan serta merta kita akan marah. Dan sangat mungkin, kata-kata ‘ajaib’ akan segera berhamburan dari mulut kita.

Nah, agar hal tersebut tidak terjadi, marilah kita saling melayani dengan baik. Penuh keramahan, kesabaran, dan senyum yang tulus. Yang keluar dari hati. Tanpa kepura-puraan untuk tujuan tertentu. Semoga.

Minggu, 20 Maret 2011

Membangun Komitmen


“Kukuruyuk… kukuruyuk… kukuruyuk… “ Dering alarm hp memecah kesunyian pagi. Aku segera terbangun. Kumatikan bunyi alarm itu. Ah… sudah jam 3 pagi. Aku beringsut dari kamar tidurku. Setelah cuci muka dan berdoa untuk bersyukur atas pemeliharaanNya semalam, bersyukur atas udara segar dan karunia kehidupan yang telah kembali dianugerahkanNya, aku mulai menyalakan laptop dan segera sesudah itu, jari-jemariku menari di atas keyboard.

Membangun komitmen. Ya, itulah yang akan aku lakukan mulai hari ini. Komitmen untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Mengapa harus pagi-pagi sekali? Ah... (mungkin) karena saat itulah yang kurasa cocok bagiku. Selain belum ada aktivitas lain yang aku lakukan, aku berharap kesegaran udara pagi juga akan membantu pikiranku untuk lebih fokus. Menolong jari-jemariku untuk terus bergerak. Menuliskan kata demi kata.

Barangkali ada yang bertanya, bukankah selama ini aku sudah sering menulis? Mengapa aku harus membangun komitmen itu? Jawabannya: karena aku belum bisa konsisten. Hari ini aku memang menulis tapi hari-hari selanjutnya aku blank dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lalu, mengapa baru hari ini aku membangun komitmen itu? Jujur, sebenarnya hal ini sudah ingin aku lakukan sejak lama namun belum pernah berhasil. Aku tidak bersungguh-sungguh sehingga selalu kalah oleh berbagai godaan.

Kali ini Aku pasti bisa!” seruku dalam hati. Aku harus terus berjuang untuk mengalahkan segala rintangan yang akan muncul. Berat memang tapi itu harus aku lakukan. Demi hasratku untuk menjadi penulis yang berhasil.

Gambar dari ahsinmuslim.wordpress.com

Senin, 14 Maret 2011

Litani Syukurku

Aku bersyukur telah dianugerahi kehidupan olehNya, yang memungkinkan aku berada di dunia ini lewat rahim seorang ibu yang amat mengasihiku. Ia telah mengandungku sembilan bulan lebih dan dengan seluruh jiwa raganya berjuang agar aku bisa melihat dunia.

Aku bersyukur dilahirkan ke dunia dengan kondisi yang sehat dan tubuh yang sempurna. Mata yang melihat. Telinga yang mendengar. Hidung yang mampu membaui dan menghirup kesegaran udara. Mulut yang berbicara. Tangan dan kaki yang bebas bergerak. Pikiran dan hati yang terus bertumbuh. Dan jiwa yang selalu dilindungiNya.

Aku bersyukur mempunyai ayah dan ibu yang penuh cinta. Mereka dari hari ke hari terus merawatku, menjagaku, memikirkanku, dan mengharapkan yang terbaik untukku. Kadang memang ayahku bertindak keras bahkan tidak segan-segan memukulku. Aku yakin, ini bukanlah kebencian tetapi semata-mata ungkapan cinta agar aku bisa belajar dari kesalahan dan menjadi anak yang bersikap lebih baik dan menurut pada orangtua.

Aku bersyukur hidup dalam keluarga yang sederhana. Walau pekerjaan ayahku di tempat yang basah, tapi ia tidak pernah tergoda melakukan hal-hal yang di luar kewajaran. Hal-hal yang akan merugikan orang lain. Kadang aku protes dalam hati, mengapa aku tidak punya ini dan itu? Mengapa kehidupan kami biasa saja? Ah... ternyata, ayahku justru mewariskan harta yang jauh lebih berharga yaitu kejujuran.

Aku bersyukur dikaruniai kakak dan adik. Kakak yang mengasihiku dan adik yang aku kasihi. Bersama-sama, kami tumbuh dalam kehangatan cinta.

Aku bersyukur atas pendidikan yang aku terima selama ini. Lewat bangku sekolah maupun lewat perjumpaan dengan sesama di dalam kehidupanku. Pendidikan yang membuat aku semakin sempurna sebagai manusia. Manusia yang mampu membedakan kebaikan dan kejahatan. Mampu merasakan, memberikan pertolongan, dan menghibur, ketika orang lain dalam kesusahan. Pun ikut tertawa gembira ketika mereka mendapat kebahagiaan.

Aku bersyukur mendapatkan pasangan hidup yang pengertian. Ia sungguh mengasihiku dan aku pun juga teramat mengasihinya. Sejak semula aku mengenalnya, aku sudah berharap bahwa dialah wanita pertama dan terakhir untukku. Wanita yang akan menemani hari-hariku. Hidup bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan.

Aku bersyukur meski hampir sepuluh tahun berkeluarga belum dikaruniai momongan, kami tidak pernah menjadikannya sebagai masalah yang serius, yang akan mengganggu keharmonisan hubungan kami. Justru ini menjadi kesempatan bagi kami untuk terus memberikan pelayanan kepada orang lain di dalam kegiatan menggereja.

Aku bersyukur mempunyai keponakan, ’adek-adek’, dan banyak sahabat di sekitarku. Kehadiran mereka sungguh membuat hidupku menjadi lebih berarti.

Aku bersyukur diberi kemampuan menulis. Lewat talenta ini aku bisa mengeluarkan unek-unek, sekedar sharing, atau menuliskan cerita untuk orang lain. Memang, aku baru belajar, baru memulai. Kadang aku merasa jenuh. Sering pula aku dibekap kemalasan sehingga jari-jemariku terasa kaku dan sulit digerakkan di atas keyboard. Tapi syukurlah, Ia senantiasa membangunkanku, memampukanku untuk berusaha kembali.

Aku bersyukur atas kesehatan yang aku terima hingga hari ini. Karenanya, aku mampu melakukan banyak aktivitas.

Aku bersyukur dan terus bersyukur karena Ia begitu mencintai aku. Walau aku sering jatuh di dalam dosa, ia tidak pernah lelah memanggilku kembali. Tangannya yang penuh kasih selalu merengkuhku dan mendekapku di dalam belantara cintaNya yang tiada batas.

NB: Kata `litani' berasal dari bahasa Latin `litania', `letania'. Artinya suatu bentuk doa tanggapan yang meliputi serangkaian seruan atau permohonan, mengenai suatu subyek utama atau suatu tema suci utama. (http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id427.htm)

Rabu, 09 Maret 2011

Disiplin

Mungkin sudah ribuan kali aku mendengar kata yang satu ini. Pun sudah ratusan kali aku mencoba melakukannya. Ada yang berhasil tapi lebih banyak yang gagal. Gagal karena aku kurang konsisten. Aku terlalu mudah tergoda oleh bujuk rayu dan kesenangan yang sifatnya hanya sesaat.

Aku masih ingat, dulu, pas masa-masanya duduk di bangku sekolah, aku cukup berhasil dengan disiplin yang aku terapkan. Waktu itu aku bikin jadwal, kapan harus belajar, kapan harus maen, kapan harus bantu orang tua, dan lain sebagainya. Dan karena aku punya target tertentu biar dapet rangking dan bisa lulus ujian dengan nilai yang baik, aku selalu berusaha memenuhi jadwal-jadwal tersebut. Walau kadang memang terasa sulit.

Target yang jelas. Aneka kesulitan. Kurang konsisten dan begitu mudahnya tenggelam dalam godaan. Ah... aku harus mengatasi semua itu. Aku harus menajamkan niatku untuk sungguh mendisiplinkan diri. Disiplin dalam banyak hal. Untuk kebaikanku. Juga untuk orang lain. Semoga.

Senin, 28 Februari 2011

Indahnya Perbedaan

Itulah gambaran yang muncul saat pelaksanaan Karnaval Seni dan Budaya dan Pawai Ogoh-Ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933, Minggu, 27 Februari. Gemulainya para penari Jawa berpadu dengan tarian Dayak yang rancak. Barongsai dan Liong pun tak mau kalah unjuk gigi di antara atraksi Reog dan 3 Ogoh-Ogoh raksasa yang digotong oleh puluhan pemuda.

Gereja Katedral yang menjadi bagian dari masyarakat kota Semarang juga turut berperan serta. Lewat beberapa muda-mudi yang bernaung dalam wadah OMK (Orang Muda Katolik) Katedral, mereka ikut bergabung dengan mengusung Warak Ngendhog yang menjadi ciri khas kota Semarang. Selain itu, mereka juga menampilkan pribadi-pribadi seperti uskup, romo, bruder, dan suster, serta beberapa penari dan prajurit yang menjadi pengiring.

Karnaval ini dibuka secara resmi oleh Walikota Semarang, H. Sumarmo HS, dengan pemukulan gong, di halaman Balai Kota. Dan setelah itu, arak-arakan peserta karnaval mulai menyusuri jalan protokol di kota Semarang mulai dari Jl. Pemuda – Jl. Pandanaran – dan berakhir di lapangan Pancasila, Simpang Lima. Di sepanjang perjalanan, warga masyarakat tampak begitu antusias melihat jalannya karnaval. Banyak di antara mereka yang langsung mengabadikan momen tersebut dengan kamera yang sudah mereka persiapkan.
















Sabtu, 19 Februari 2011

Sedih


Sedih rasanya… jika ternyata teman yang selama ini ada di samping kita... ternyata malah menikam dari belakang... di depan tampak manis tapi ternyata di belakang berubah menjadi pribadi yang tidak punya hati…

Sedih rasanya… jika ternyata pelayanan yang selama ini dilakukan dengan sepenuh hati… malah dituduh yang macam-macam… dan dianggap mencari keuntungan untuk diri sendiri…

Sedih rasanya… jika di dalam satu tim kerja… tidak lagi terjalin komunikasi yang baik… yang satu hanya bisa menyalahkan dan mengganggap dirinya paling benar… sedangkan yang lain adalah pihak yang patut untuk selalu dipersalahkan…

Sedih rasanya…