Temen-temen, sohib-sohib, fren2 n’ Bapak Ibu sekalian di seantero bumi…
Ada kabar baek yang perlu didengerin nih…
Mulai hari ini ada MLM baru yang layak n’ sebaiknya diikuti…
Nggak perlu pake mikir ntar dapet untung berapa karena ada jaminan… siapa aja yang mo ikutan pasti dapet ganjaran berlipat-lipat. Penasaran??? Coba deh baca baek-baek keterangan di bawah ini…
Namanya MLM KEBAIKAN… dieja K-E-B-A-I-K-A-N… yupp… KEBAIKAN
Nggak perlu syarat-syarat khusus, ato harus jual produk apalagi kasih uang segala… no way…
Yang penting niat, kesungguhan dan setia melaksanakannya…
Yang harus dilaksanakan cuman 2 hal…
1. Melakukan kebaikan minimal satu kali dalam sehari
2. Mengajak orang lain (bisa bapak, ibu, adik, kakak, temen, sohib, fren, tetangga ato orang yang belum dikenal sekalipun) untuk melakukan kebaikan minimal satu kali dalam sehari
Keuntungan dihitung berdasarkan sistem poin
Setiap kebaikan yang sudah dilakukan (1) akan mendapat 4 poin sedangkan bila berhasil mengajak orang lain untuk ikut melakukan kebaikan (2) akan mendapatkan 8 poin. Untuk lebih jelasnya bisa diliat pada ilustrasi berikut:
• Perhitungan dalam 1 hari
ANDA melakukan 1 kebaikan 4 poin
ANDA berhasil mengajak orang lain melakukan 1 kebaikan 8 poin
Total poin dalam 1 hari 12 poin
• Dalam 1 minggu = 7 hari x 12 poin 84 poin
• Dalam 1 bulan (rata-rata) = 30 hari x 12 poin 360 poin
• Dalam 1 tahun = 365 hari x 12 poin 4380 poin
NB: Itungan di atas adalah itungan paling minimal, karena semakin banyak ANDA melakukan kebaikan maka poin ANDA pun akan semakin tinggi.
Hal yang pasti akan didapatkan bila berhasil melaksanakan MLM ini adalah:
1.Semakin mengenal dan menyayangi TUHAN. Karena dari Dialah sumber inspirasi MLM ini. Nah, jika ANDA menyayangi TUHAN maka ANDA pun akan mengikuti dan melaksanakan setiap hal yang dikatakanNya (difirmankanNya).
2.ANDA semakin dekat dengan pintu surga. Dengan demikian ANDA pun mendapat jaminan untuk memasukinya.
3.ANDA akan mendapatkan rasa damai, kebahagiaan batin dan tentunya relasi, sahabat dan teman seperjuangan yang semakin hari semakin bertambah banyak.
Nah, tunggu apalagi. Ayo buruan ngedaftar. Nggak perlu pake perantara ato harus ditraining segala. Pokoknya begitu selesai ngebaca penjelasan ini segera laksanakan.
Oke, selamat mengembangkan MLM KEBAIKAN ini. Semoga sukses. Berkat TUHAN melimpah.
Blog ini adalah blog pribadi untuk menuliskan informasi, keluh kesah, pemikiran, cerita, harapan dan cita-cita. Semua boleh berpartisipasi baik komentar, kritik, maupun saran yang membangun demi kebaikan kita bersama
Kamis, 05 Maret 2009
Rabu, 04 Maret 2009
Sepatu dan Topi
“Topi, aku sangat iri denganmu,” ujar Sepatu kepada Topi di saat mereka tengah beristirahat di pojokan rumah.
“Iri bagaimana maksudmu?” tanya Topi kurang mengerti.
“Iya, iri. Aku sangat iri karena selama ini engkau sangat dipuja-puja oleh Ndoro Tuan. Engkau selalu mendapat tempat terhormat dan diangkat-angkat di atas kepalanya. Apalagi kalau Ndoro Tuan mau pergi pesta, pasti ia akan betah berlama-lama di depan cermin hanya untuk mematut diri denganmu,” jelas Sepatu dengan perasaan gusar.
Topi hanya diam. Ia tidak berusaha membantah perkataan Sepatu.
“Coba bandingkan dengan diriku ini. Aku hanya bisa pasrah diinjak-injak tiap hari. Kadang aku dibawa Ndoro Tuan ke tempat-tempat kotor hingga badanku berbau tidak sedap. Belum lagi kalau ada benda-benda tajam yang tidak sengaja diinjak. Wuiih, badanku jadi terasa sakit sekali. Aku merasa hidupku sungguh-sungguh malang.” lanjut Sepatu.
Topi tersenyum. Sejenak ia memandang Sepatu dengan perasaan iba, katanya, “Sepatu, sebenarnya apa yang engkau katakan itu tidak benar. Aku ada di atas kepala Ndoro Tuan karena memang tempatku di sana. Dan karena itu seringkali aku harus menahan sengatan matahari yang begitu panas menerpa tubuhku. Belum lagi kalau turun hujan. Pasti aku kedinginan setengah mati karena tubuhku basah kuyup. Jadi tidak benar kalau engkau menganggap hidupmu sungguh malang. Bukankah kita sudah diberi kelebihan dan tugas masing-masing? Bukankah seharusnya engkau bersyukur karena berkat pengorbananmu itu kaki Ndoro Tuan selalu terlindung dari hal-hal yang membahayakan?”
Sepatu mencoba merenungkan apa yang dikatakan Topi. Dan ketika ia menyadarinya, ia pun tersenyum bahagia.
******
Seperti halnya Sepatu, kita pun sering merasa bahwa hidup kita hanya berisi kemalangan ketika ada begitu banyak cobaan dan penderitaan yang mesti kita lalui. Situasi ini kemudian mendorong kita untuk selalu mengeluh. Dan saat melihat di sekitar kita ada banyak orang yang (menurut pandangan kita) hidupnya lebih tenang, lebih bahagia, lebih sukses, lebih berkecukupan tidak jarang kemudian membuat kita menjadi iri.
Sebenarnya, pangkal dari semuanya ini adalah karena kita kurang bersyukur. Kurang bersyukur atas semua hal yang telah dianugerahkan Tuhan untuk kehidupan kita baik itu berupa keberhasilan, kegagalan, kebahagiaan, cobaan maupun penderitaan. Selayaknya rasa iri yang ada di dalam hati kita buang jauh-jauh karena sama halnya dengan kita, setiap orang juga mengalami cobaan dan penderitaannya masing-masing.
“Iri bagaimana maksudmu?” tanya Topi kurang mengerti.
“Iya, iri. Aku sangat iri karena selama ini engkau sangat dipuja-puja oleh Ndoro Tuan. Engkau selalu mendapat tempat terhormat dan diangkat-angkat di atas kepalanya. Apalagi kalau Ndoro Tuan mau pergi pesta, pasti ia akan betah berlama-lama di depan cermin hanya untuk mematut diri denganmu,” jelas Sepatu dengan perasaan gusar.
Topi hanya diam. Ia tidak berusaha membantah perkataan Sepatu.
“Coba bandingkan dengan diriku ini. Aku hanya bisa pasrah diinjak-injak tiap hari. Kadang aku dibawa Ndoro Tuan ke tempat-tempat kotor hingga badanku berbau tidak sedap. Belum lagi kalau ada benda-benda tajam yang tidak sengaja diinjak. Wuiih, badanku jadi terasa sakit sekali. Aku merasa hidupku sungguh-sungguh malang.” lanjut Sepatu.
Topi tersenyum. Sejenak ia memandang Sepatu dengan perasaan iba, katanya, “Sepatu, sebenarnya apa yang engkau katakan itu tidak benar. Aku ada di atas kepala Ndoro Tuan karena memang tempatku di sana. Dan karena itu seringkali aku harus menahan sengatan matahari yang begitu panas menerpa tubuhku. Belum lagi kalau turun hujan. Pasti aku kedinginan setengah mati karena tubuhku basah kuyup. Jadi tidak benar kalau engkau menganggap hidupmu sungguh malang. Bukankah kita sudah diberi kelebihan dan tugas masing-masing? Bukankah seharusnya engkau bersyukur karena berkat pengorbananmu itu kaki Ndoro Tuan selalu terlindung dari hal-hal yang membahayakan?”
Sepatu mencoba merenungkan apa yang dikatakan Topi. Dan ketika ia menyadarinya, ia pun tersenyum bahagia.
******
Seperti halnya Sepatu, kita pun sering merasa bahwa hidup kita hanya berisi kemalangan ketika ada begitu banyak cobaan dan penderitaan yang mesti kita lalui. Situasi ini kemudian mendorong kita untuk selalu mengeluh. Dan saat melihat di sekitar kita ada banyak orang yang (menurut pandangan kita) hidupnya lebih tenang, lebih bahagia, lebih sukses, lebih berkecukupan tidak jarang kemudian membuat kita menjadi iri.
Sebenarnya, pangkal dari semuanya ini adalah karena kita kurang bersyukur. Kurang bersyukur atas semua hal yang telah dianugerahkan Tuhan untuk kehidupan kita baik itu berupa keberhasilan, kegagalan, kebahagiaan, cobaan maupun penderitaan. Selayaknya rasa iri yang ada di dalam hati kita buang jauh-jauh karena sama halnya dengan kita, setiap orang juga mengalami cobaan dan penderitaannya masing-masing.
Selasa, 03 Maret 2009
Kisah Tiga Pengembara
Alkisah pada jaman dahulu kala, hiduplah tiga orang pengembara. Hainan, pengembara dari utara, adalah seorang yang berilmu tinggi dan berpengetahuan luas. Di tiap-tiap tempat yang disinggahinya, ia selalu menularkan ilmunya untuk kepentingan masyarakat setempat. Alkiz, pengembara dari selatan, memiliki ilmu agama yang sangat mumpuni. Hingga tak jarang, ia selalu mengajarkan agama dan mengajak orang-orang untuk mengenal dan mengakui keberadaan Tuhan di manapun ia berada. Berbeda dari keduanya, Henas, pengembara dari wilayah barat, adalah pengembara yang berilmu ‘sedang-sedang saja’ tapi soal keahlian, ia jagonya. Ia selalu membawa berbagai peralatan di dalam pengembaraannya.
Dalam perjalanan ke negeri timur yang masih perawan (karena belum pernah didatangi orang), ketiga pengembara ini bertemu. Awalnya mereka tampak cuek dan tidak saling menegur. Namun setelah berhari-hari dalam perjalanan yang sama, melewati berbagai tempat dengan berbagai macam rintangannya, mereka mulai belajar mengenal satu sama lain.
Setelah hampir dua bulan dalam perjalanan yang begitu berat, ketiga pengembara ini sampai di sebuah jurang yang dalam dan membentang luas. Di atas jurang ini terpasang jembatan terbuat dari kayu yang sudah kelihatan rapuh. Ketika ketiga pengembara ini mendekati jembatan tersebut, mereka membaca sebuah tulisan yang sudah mulai tampak kabur. Bunyinya: “Jembatan ini hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Setelah orang pertama lewat, jembatan ini akan runtuh dengan sendirinya”.
Ketiga pengembara itu kaget. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Sesaat situasi menjadi senyap. “Sebaiknya kita membuang undi saja, untuk menentukan siapa yang berhak melewati jembatan itu.” Alkiz mulai buka suara.
“Tidak, aku tidak setuju kalau kita harus membuang undi. Itu artinya sama saja kita cuma main untung-untungan!” timpal Hainan.
“Kalau begitu kita harus melakukan apa?” tanya Henas tidak sabar.
Hainan menatap Henas dan Alkiz bergantian. “Sebaiknya… aku saja yang melewati jembatan itu.” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Henas dan Alkiz terbeliak mendengar ucapan Hainan. Mereka dengan tidak sabar serentak bertanya, “Mengapa engkau berkata demikian, bukankah kami juga berhak untuk melewatinya?”
“Kawan… kalau menurut aku, kalian tidak mempunyai hak untuk melewati jembatan itu. Hanya akulah yang berhak!” jawab Hainan dengan nada sombong. “Coba kalian pikir… diantara kita bertiga… hanya akulah yang memiliki ilmu pengetahuan yang paling tinggi. Aku yakin… hanya dengan ilmu yang kumilikilah… bangsa di negeri timur sana dapat berkembang maju.” lanjutnya.
Alkiz tidak terima mendengar kesombongan Hainan, segera ia menjawab dengan ketus, “Buat apa ilmu pengetahuan yang tinggi kalau tidak mengenal Tuhan! Itu sama saja halnya dengan kesia-siaan. Ilmu pengetahuan tanpa ditopang dengan kesadaran akan adanya Tuhan hanya akan menghancurkan…”
“Wah… wah… wah… kalian semua salah besar! Yang paling penting bukanlah ilmu pengetahuan dan pengenalan akan Tuhan, tetapi hanya dengan memiliki berbagai keahlianlah, suatu negeri dapat tumbuh pesat,” ucap Henas tidak mau kalah.
Semua tidak mau mengalah. Semua tergerak untuk menyombongkan dirinya masing-masing. Awalnya hanya saling perang mulut namun lama-kelamaan perang itu berubah menjadi adu fisik. Hainan, Alkiz, dan Henas saling berkelahi untuk memperebutkan title ‘siapa yang sebenarnya paling pantas’. Tiga hari tiga malam mereka terus berduel. Akhirnya karena sudah kepayahan dan semakin sengitnya pertarungan, mereka bertiga mati secara bersamaan. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang melewati jembatan itu. Semua sia-sia akibat kebodohan mereka sendiri.
Dalam perjalanan ke negeri timur yang masih perawan (karena belum pernah didatangi orang), ketiga pengembara ini bertemu. Awalnya mereka tampak cuek dan tidak saling menegur. Namun setelah berhari-hari dalam perjalanan yang sama, melewati berbagai tempat dengan berbagai macam rintangannya, mereka mulai belajar mengenal satu sama lain.
Setelah hampir dua bulan dalam perjalanan yang begitu berat, ketiga pengembara ini sampai di sebuah jurang yang dalam dan membentang luas. Di atas jurang ini terpasang jembatan terbuat dari kayu yang sudah kelihatan rapuh. Ketika ketiga pengembara ini mendekati jembatan tersebut, mereka membaca sebuah tulisan yang sudah mulai tampak kabur. Bunyinya: “Jembatan ini hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Setelah orang pertama lewat, jembatan ini akan runtuh dengan sendirinya”.
Ketiga pengembara itu kaget. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Sesaat situasi menjadi senyap. “Sebaiknya kita membuang undi saja, untuk menentukan siapa yang berhak melewati jembatan itu.” Alkiz mulai buka suara.
“Tidak, aku tidak setuju kalau kita harus membuang undi. Itu artinya sama saja kita cuma main untung-untungan!” timpal Hainan.
“Kalau begitu kita harus melakukan apa?” tanya Henas tidak sabar.
Hainan menatap Henas dan Alkiz bergantian. “Sebaiknya… aku saja yang melewati jembatan itu.” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Henas dan Alkiz terbeliak mendengar ucapan Hainan. Mereka dengan tidak sabar serentak bertanya, “Mengapa engkau berkata demikian, bukankah kami juga berhak untuk melewatinya?”
“Kawan… kalau menurut aku, kalian tidak mempunyai hak untuk melewati jembatan itu. Hanya akulah yang berhak!” jawab Hainan dengan nada sombong. “Coba kalian pikir… diantara kita bertiga… hanya akulah yang memiliki ilmu pengetahuan yang paling tinggi. Aku yakin… hanya dengan ilmu yang kumilikilah… bangsa di negeri timur sana dapat berkembang maju.” lanjutnya.
Alkiz tidak terima mendengar kesombongan Hainan, segera ia menjawab dengan ketus, “Buat apa ilmu pengetahuan yang tinggi kalau tidak mengenal Tuhan! Itu sama saja halnya dengan kesia-siaan. Ilmu pengetahuan tanpa ditopang dengan kesadaran akan adanya Tuhan hanya akan menghancurkan…”
“Wah… wah… wah… kalian semua salah besar! Yang paling penting bukanlah ilmu pengetahuan dan pengenalan akan Tuhan, tetapi hanya dengan memiliki berbagai keahlianlah, suatu negeri dapat tumbuh pesat,” ucap Henas tidak mau kalah.
Semua tidak mau mengalah. Semua tergerak untuk menyombongkan dirinya masing-masing. Awalnya hanya saling perang mulut namun lama-kelamaan perang itu berubah menjadi adu fisik. Hainan, Alkiz, dan Henas saling berkelahi untuk memperebutkan title ‘siapa yang sebenarnya paling pantas’. Tiga hari tiga malam mereka terus berduel. Akhirnya karena sudah kepayahan dan semakin sengitnya pertarungan, mereka bertiga mati secara bersamaan. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang melewati jembatan itu. Semua sia-sia akibat kebodohan mereka sendiri.
Senin, 02 Maret 2009
Pilih yang Mana?
Sekarang ini segala sesuatu yang mengandung kekerasan selalu laku keras. Beberapa hari lalu datang roti isi kekerasan lima ratus kotak. Eh, dalam waktu tidak lebih dari satu jam saja roti isi itu sudah diborong oleh massa anarkis yang berencana mengirimkannya ke gedung DPR. Kemaren datang lagi beratus-ratus krat minuman dingin dengan label ‘kekerasan itu menyenangkan’. Cuma dalam 2 jam saja… bener, dalam 2 jam… krat-krat itu sudah berpindah tangan ke para pengepul yang antre berdesak-desakan. Kata mereka minuman dingin dalam krat-krat itu mau dijual lagi kepada para pengecer di segala tempat. Rumah-rumah penduduk baik di pelosok maupun perkotaan, di sekolah-sekolah mulai dari SMP hingga perguruan tinggi, di instansi-instansi pemerintahan bahkan dijual secara asongan kepada para wakil rakyat yang ada di DPRD dan DPR. Dan hari ini, rencananya akan dilaunching lagi permen puedes dengan aroma kekerasan. Sekali kunyah dijamin pasti langsung ketagihan dan lagi… lagi…, begitu bunyi iklan yang digembar-gemborkan lewat berbagai media massa. Tentu saja hal ini membuat penasaran warga masyarakat. Mereka rela antre sejak pagi-pagi buta bahkan banyak yang sudah indent melalui toko online. Wah… wah… wah… kok bisa sebegitunya ya?
Ketika mencoba mencari tau penyebab segala fenomena ini, aku mendapat beragam jawaban. “Wah, roti isinya memang bener-bener nikmat, Mas. Ketika memakannya tubuh ini jadi kuat hingga bisa membanting meja, memecah kaca dan mengobrak-abrik segala benda dengan perasaan bangga. Hati jadi terbebas dari rasa bersalah.””Rugi mas klo nggak beli minumannya… suegerrr lho. Hati ini bener-bener merasa plong, jadi lupa segala masalah, segala bentuk pertemanan dan hubungan keluarga. Pokoknya siapa saja yang berani nyinggung… ajak duel!” “Ayo mas… cepetan ikut pesen permen PUEKRESnya (singkatan dari puedess aroma kekerasan), nyesel lho kalo sampe enggak dapet!” Karena tergiur bujukan itu, aku mencoba membeli beberapa permen PUEKRES. Waduh, emang bener-bener susah dan harus berebut tapi untunglah bisa dapet dua. Langsung saja aku mengunyah salah satu permen itu. Terasa amat manis dengan sedikit pedas di lidah. Kemudian aku merasakan sensasi yang sungguh nikmat. Badan serasa ringan dan pikiran melayang-layang.
Tiba-tiba… makbruk… aku terjatuh karena terantuk sesuatu. Permen di dalam mulutku meloncat keluar dan aku pun sadar. Ketika kuamati ‘sesuatu’ itu, ternyata sekaleng makanan ringan dengan merk KEBENARAN. Kalengnya sudah berkarat dan berdebu. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak pernah disentuh orang. Ketika mencoba membaca tulisan yang tertera di badan kaleng itu, aku membaca: “mengandung benih-benih cinta kasih, membuat perasaan menjadi lega dan menyebabkan hati menjadi damai. Memang rasanya tidak enak dan harganya lebih mahal tetapi percayalah dengan memakannya secara teratur ANDA akan menjadi lebih dekat dan bisa mengenal pembuatnya”.
Pilih yang mana?
Ketika mencoba mencari tau penyebab segala fenomena ini, aku mendapat beragam jawaban. “Wah, roti isinya memang bener-bener nikmat, Mas. Ketika memakannya tubuh ini jadi kuat hingga bisa membanting meja, memecah kaca dan mengobrak-abrik segala benda dengan perasaan bangga. Hati jadi terbebas dari rasa bersalah.””Rugi mas klo nggak beli minumannya… suegerrr lho. Hati ini bener-bener merasa plong, jadi lupa segala masalah, segala bentuk pertemanan dan hubungan keluarga. Pokoknya siapa saja yang berani nyinggung… ajak duel!” “Ayo mas… cepetan ikut pesen permen PUEKRESnya (singkatan dari puedess aroma kekerasan), nyesel lho kalo sampe enggak dapet!” Karena tergiur bujukan itu, aku mencoba membeli beberapa permen PUEKRES. Waduh, emang bener-bener susah dan harus berebut tapi untunglah bisa dapet dua. Langsung saja aku mengunyah salah satu permen itu. Terasa amat manis dengan sedikit pedas di lidah. Kemudian aku merasakan sensasi yang sungguh nikmat. Badan serasa ringan dan pikiran melayang-layang.
Tiba-tiba… makbruk… aku terjatuh karena terantuk sesuatu. Permen di dalam mulutku meloncat keluar dan aku pun sadar. Ketika kuamati ‘sesuatu’ itu, ternyata sekaleng makanan ringan dengan merk KEBENARAN. Kalengnya sudah berkarat dan berdebu. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak pernah disentuh orang. Ketika mencoba membaca tulisan yang tertera di badan kaleng itu, aku membaca: “mengandung benih-benih cinta kasih, membuat perasaan menjadi lega dan menyebabkan hati menjadi damai. Memang rasanya tidak enak dan harganya lebih mahal tetapi percayalah dengan memakannya secara teratur ANDA akan menjadi lebih dekat dan bisa mengenal pembuatnya”.
Pilih yang mana?
Minggu, 01 Maret 2009
Memberi Kebaikan
Dalam satu hari yang sudah atau tengah kita jalani, berapa banyak kebaikan yang sudah kita berikan untuk orang lain? Satu, dua, tiga, sepuluh, seratus atau malah tidak ada sama sekali. Ketika jemuran di rumah tetangga yang sedang ditinggal pergi jatuh ke tanah, apakah kita mau mengambilnya dan meletakkannya kembali di tempat jemuran? Ketika seorang nenek ada dalam antrean yang panjang, apakah kita tergerak untuk memberikan tempat kita yang lebih baik untuk sang nenek? Ketika penjaga toko swalayan memberikan wadah untuk tempat belanjaan kita, apakah kita segera mengucapkan terima kasih? Ketika bertemu dengan seseorang yang kita kenal di perjalanan, apakah kita mau memberikan senyum dan menyapa dengan tulus? Ketika istri meminta kita untuk menemaninya belanja dan mencari kebutuhan sehari-hari di pasar, apakah kita dengan sukahati menemaninya dan menunggunya dengan sabar? Ketika melihat orang tua hendak menyeberang jalan tetapi mengalami kesulitan karena padatnya arus lalu lintas, apakah kita mau serta merta membantunya menyeberang jalan? Ketika melihat teman sekantor kita sedang mengalami kesusahan, apakah kita mau memberikan penghiburan.
Tuhan saja begitu baik kepada kita dengan secara cuma-cuma memberi nafas untuk seluruh hidup kita, memberi kesehatan hingga kita bisa beraktifitas dan memberi panca indra untuk kebahagiaan kita, mengapa kita merasa berat bila harus memberikan kebaikan untuk orang lain?
Tuhan saja begitu baik kepada kita dengan secara cuma-cuma memberi nafas untuk seluruh hidup kita, memberi kesehatan hingga kita bisa beraktifitas dan memberi panca indra untuk kebahagiaan kita, mengapa kita merasa berat bila harus memberikan kebaikan untuk orang lain?
Langganan:
Postingan (Atom)