Jumat, 05 Februari 2010

Aku Menyayangimu

Aku menyayangimu
karena engkau manusia, sama seperti aku
aku tidak akan membiarkan ketidakadilan ini terus terjadi
aku tidak ingin kebenaran, yang dulu kita perjuangkan
kini seakan menjadi barang mati yang tak lagi berarti

Aku menyayangimu
dan karena itu, aku tidak akan membiarkanmu
terus bertindak seenaknya
menuruti nafsu angkaramu
pasti… dan itu pasti…
aku akan ada di garis depan
untuk melawanmu
sampai salah satu di antara kita
mengaku salah

Aku menyayangimu
dan tetap akan menyayangimu
jika engkau segera bertobat
dan kembali seperti dulu
saat dimana engkau dilahirkan
ke dunia fana

Kamis, 04 Februari 2010

Ketika Kerbau Berpuisi


Aku hanyalah kerbau
yang berusaha jujur pada keadaan
kemarin, Aku ikut demo para mahasiswa itu
tapi baru sesaat, Aku diusir dari kerumunan
kata MEREKA, Aku telah mengganggu ketertiban
kata MEREKA, Aku tidak pantas berada di tempat itu

Ah, apakah karena hanya seekor kerbau
Aku boleh diperlakukan seperti itu?
bukankah Aku juga mahkluk hidup
yang ingin didengar suaranya?
atau, itu memang KEBIASAANMU
yang gemar membungkam kritik
dan merasa lebih pantas
ketika memaki-maki dan berkata-kata kotor
saat sidang dengan SESAMAMU
yang katanya terhormat, di gedung megah itu

Benar…, aku memang gendut, lamban, dan bodoh
tapi lihatlah…
Aku mampu menyelesaikan tugas
yang diberikan oleh tuanku
dengan benar dan bertanggungjawab
Aku mungkin juga bodoh
namun… bukankah itu lebih baik
karena Aku mampu bersikap jujur dan apa adanya
tidak seperti ENGKAU
yang menggunakan KEPANDAIANMU
untuk menipu, mengakali, mencari-cari alasan,
dan terus-menerus merampas hak-hak SESAMAMU
demi KEUNTUNGANMU sendiri

Aku hanyalah kerbau
yang berusaha jujur pada keadaan
karena aku tidak ingin negeri ini semakin karam,
tenggelam, hilang dan dilupakan

Rabu, 03 Februari 2010

Tuhan Lupa?


Apakah Tuhan lupa, ketika bayi terlahir tanpa anus?
Bayi tidak mempunyai tempurung kepala…
Bayi yang diketahui berkelamin ganda…
Bayi yang organ tubuhnya tidak berfungsi dengan baik…
Apakah Ia lupa?

Merenungkannya… aku jadi mengerti
Tuhan tidak akan pernah lupa
Ada rencana indah dibalik semua itu
Untuk membuat kita semakin peka
Agar kita terus peduli
Pada mereka yang membutuhkan…
Pada mereka yang mengharap uluran kasih…
Pada mereka yang adalah sesama kita…


Apakah kita mau melakukannya?

Foto diambil dari...
http://news.okezone.com/view/2010/01/08/1/4367/bayi-terlahir-tanpa-anus

Selasa, 02 Februari 2010

Pak Budiman

Namanya Pak Budiman. Ia, orang paling kaya di kampung Margolayu. Rumahnya besar, dua lantai dan menempati tanah yang cukup luas. Di garasi rumahnya tersimpan beberapa mobil keluaran terbaru dari merk-merk terkenal. Di dalam rumahnya pun, dipenuhi dengan aneka perabotan yang berharga mahal.

Di rumahnya yang besar itu, Pak Budiman hanya ditemani beberapa pembantu. Maklum, hingga usia hampir 50 tahun, ia belum mempunyai pendamping hidup. Penyebabnya bukan karena tidak ada wanita yang mau mendekatinya, tetapi karena konsentrasinya yang teramat fokus pada pekerjaan dan karirnya.

Meski paling kaya, Pak Budiman dikenal sebagai orang yang dermawan. Ia kerap memberi bantuan untuk orang-orang yang membutuhkan, yang datang kepadanya. Jadi, tidaklah mengherankan bila hampir sebagian besar warga kampung Margolayu sudah pernah menerima uluran tangannya.

Kebiasaan itu ternyata membawa dampak yang tidak begitu baik. Pak Budiman lambat laun berubah menjadi orang yang sombong dan ingin menang sendiri. Ia ingin diperlakukan secara istimewa, dihormati dan dalam setiap hal selalu ingin dinomorsatukan. Ia juga ingin selalu dipuji atas kebaikan yang sudah dilakukannya.

Suatu ketika, saat seluruh warga kampung Margolayu tengah terlelap dalam tidur, terjadi kebakaran hebat yang melanda rumah Pak Budiman. Keheningan pagi sontak berubah menjadi kegemparan. Semua menjadi takut, panik, dan kemudian saling bahu membahu untuk mengatasi kebakaran itu. Namun, sang takdir rupanya berkata lain. Pak Budiman tidak dapat diselamatkan. Ia ditemukan tinggal kerangka di bawah puing-puing rumahnya yang habis dilalap api. Kerangka itu sangat mengerikan. Hitam dan gosong. Bahkan beberapa bagian sudah tidak utuh lagi.

Senin, 01 Februari 2010

Kita Diberkati, Lalu...?

Aku diberkati
Sepanjang hidupku diberkati
Mulai dari bangun pagi
Siang berganti malam
Aku diberkati
Kakek-kakek, nenek-nenek, tante-tante, om-om
Pemudanya, pemudinya
Semua diberkati Tuhan


Ini adalah sebuah lagu yang paling menyita perhatianku ketika hadir dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak di gerejaku. Lagu berirama riang yang senantiasa membangunkan kesadaran. Apalagi jika dinyanyikan dengan memakai gaya. Tangan bergerak turun-naik, ke samping kanan dan kiri, badan dibongkokkan serta kaki yang menghentak lantai. Wuihhh…. betapa gembiranya. Alangkah bahagianya karena Ia selalu memberkati kita.

Apakah tandanya bahwa kita sudah diberkati Tuhan? Nafas yang kita hirup, yang mengalir melewati hidung, memenuhi paru-paru, menggerakkan segala bagian tubuh dan memberi kita kehidupan. Itulah berkat paling nyata yang sudah kita terima setiap hari.

Lalu, apa yang sudah kita lakukan setelah menerima limpahan berkat dari-Nya? Apakah kita juga sudah menjadi berkat untuk orang lain?