Miris. Itulah yang terasa saat melihat rekaman video tsunami di Jepang. Tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 8,9 pada skala Richter ini begitu menakutkan. Dengan tanpa basa-basi, ia melabrak semua yang ada di hadapannya. Entah pepohonan, bangunan, mobil, hingga nyawa manusia. Dalam hitungan detik, semua menjadi tidak berguna lagi.
Meski Jepang terkenal sebagai negara maju dengan kemampuan teknologi yang mumpuni, mereka tetap tidak berkutik saat bencana itu datang. Yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisir jatuhnya korban jiwa dengan memberikan peringatan jauh hari sebelumnya.
Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Lagi-lagi, kita diingatkan untuk tidak jumawa. Untuk tidak menjadi sombong dengan apa yang sudah kita miliki. Karena kita hanyalah sebutir debu di hadapanNya. Jika Ia berkenan, apa yang ada di genggaman kita dapat lenyap dalam sekejap. Oleh karena itu, kita harus selalu tunduk dan memuliakan namaNya lebih dari apa pun juga.
Kita juga kembali disadarkan untuk lebih peduli dengan alam. Dengan bumi yang kita tinggali ini. Janganlah kita terus-menerus melakukan hal-hal yang membuat bumi ini menangis. Kekayaan alam yang dikeruk tanpa henti, penggundulan hutan tanpa diikuti penanaman kembali, penggunaan bahan-bahan kimia yang berlebihan, membuang sampah sembarangan, dan masih banyak lagi.
Hadirnya bencana juga mengajarkan kepada kita untuk memiliki empati kepada sesama. Tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi mau memberikan pertolongan ketika ada orang lain yang mengalami kesusahan.
Blog ini adalah blog pribadi untuk menuliskan informasi, keluh kesah, pemikiran, cerita, harapan dan cita-cita. Semua boleh berpartisipasi baik komentar, kritik, maupun saran yang membangun demi kebaikan kita bersama
Sabtu, 12 Maret 2011
Jumat, 11 Maret 2011
Mengapa Tidak Bersyukur?
“Huh… bener-bener menjengkelkan… bisa-bisanya dari tadi pagi sampe siang ini sial terus?” gerutu Bayu sambil membolak-balikkan badannya di kasurnya yang mulai tampak lusuh. Sudah sedari tadi ia berusaha memejamkan mata tapi belum juga berhasil. Rupanya, kipas angin yang tidak berfungsi gara-gara listrik mati, membuatnya kegerahan.
Tiba-tiba, terbayang kembali berbagai kesialannya hari ini.
Pagi ini ia telat bangun. Gara-garanya karena semalam ia ikutan ’ngobrol ngalor ngidul’ sambil maen gaple dengan teman-teman kampungnya di pos ronda. Padahal ada kuliah pagi yang harus diikutinya. Pas buru-buru mau mandi, Bayu kaget bukan kepalang... air di bak mandi rumahnya tinggal dikit banget. Sialnya, sanyo di rumahnya juga lagi rusak dan baru siang ini akan diperbaiki oleh Pak Mamat, tetangga sebelah rumahnya. Alhasil, ia hanya cuci muka dan gosok gigi.
Sesudah ganti baju plus menyemprotkan parfum andalannya ke seluruh tubuh, Bayu bergegas ke meja makan. Tapi, wajahnya yang mulai sumringah kembali cemberut. Lagi-lagi, si bibi menghidangkan sayur lodeh yang tidak disukainya. ”Aduh, bi... kok sayur ini lagi sih... aku kan udah bilang kalo enggak suka!” protesnya. Akhirnya, dengan hanya berbekal seiris roti, ia berangkat ke kampus.
Di kampus, Bayu kuliah seperti biasanya. Namun ia jengkel dengan Pak Bram. Dosen ekonomi yang tidak disukainya ini tiba-tiba saja mengadakan tes dadakan. Tentu saja ia kelabakan karena selama ini, ia memang tidak pernah belajar.
Dan saat pulang dari kampus, kesialan kembali menimpanya. Ban sepeda motornya bocor karena terkena paku. Terpaksa, ia harus menuntun sepeda motornya puluhan meter untuk mencari tambal ban.
”Krinnngggggg...,” Bunyi telepon yang lumayan keras membuyarkan lamunan Bayu. Dengan berjingkat, ia segera mengangkat gagang telepon. ”Halo, dengan Bayu di sini,” sambarnya.
”Bayu, kamu sudah di rumah? Segera jemput mama di rumah sakit X ya,” ujar suara di seberang sana yang ternyata adalah mamanya.
”Siapa yang sakit, Ma?” tanya Bayu.
”Pakdemu tadi jam 10 masuk ICU. Buruan gih ke sini...,” suara di seberang mulai tidak sabar.
”Ya, Ma,” kata Bayu. Setelah meletakkan gagang telepon ke tempatnya, ia segera mengambil kunci motor yang tergeletak di kasur. Dan beberapa detik kemudian, sepeda motornya sudah melaju kencang di jalanan.
Tiba di rumah sakit, Bayu mencari ruangan yang ditunjukkan mamanya. Enggak begitu sulit karena ia sudah amat familiar dengan rumah sakit X. Dan, ia melihat mamanya sedang duduk terpekur. Wajahnya kelihatan sedih.
”Gimana keadaan Pakde, Ma?” tanya Bayu setelah duduk di samping mamanya.
”Masih kritis,” jawab mamanya tanpa ekspresi.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari mamanya, Bayu segera mengenakan baju yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk masuk ke ruang ICU. Bau yang amat khas menguar dan segera terhirup oleh hidungnya. Di tempat tidur paling ujung, ia mendapati pakdenya tergolek tak berdaya. Beberapa jarum tampak menancap di bagian tubuhnya. Sebuah selang juga terpasang di hidung pakde. Selang itu tersambung dengan tabung oksigen besar yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur.
Bayu tercekat. Dipegangnya tangan yang ada di depannya. Tangan itu terasa dingin. Tiba-tiba, air matanya jatuh satu demi satu. ”Apa yang sudah aku lakukan Tuhan? Mengapa aku hanya bisa mengeluh saja hari ini? Mengapa aku tidak bersyukur kepadaMu? Untuk kehidupan dan kesehatan yang masih bisa aku rasakan hingga saat ini?” jerit batinnya bertubi-tubi.
Tiba-tiba, terbayang kembali berbagai kesialannya hari ini.
Pagi ini ia telat bangun. Gara-garanya karena semalam ia ikutan ’ngobrol ngalor ngidul’ sambil maen gaple dengan teman-teman kampungnya di pos ronda. Padahal ada kuliah pagi yang harus diikutinya. Pas buru-buru mau mandi, Bayu kaget bukan kepalang... air di bak mandi rumahnya tinggal dikit banget. Sialnya, sanyo di rumahnya juga lagi rusak dan baru siang ini akan diperbaiki oleh Pak Mamat, tetangga sebelah rumahnya. Alhasil, ia hanya cuci muka dan gosok gigi.
Sesudah ganti baju plus menyemprotkan parfum andalannya ke seluruh tubuh, Bayu bergegas ke meja makan. Tapi, wajahnya yang mulai sumringah kembali cemberut. Lagi-lagi, si bibi menghidangkan sayur lodeh yang tidak disukainya. ”Aduh, bi... kok sayur ini lagi sih... aku kan udah bilang kalo enggak suka!” protesnya. Akhirnya, dengan hanya berbekal seiris roti, ia berangkat ke kampus.
Di kampus, Bayu kuliah seperti biasanya. Namun ia jengkel dengan Pak Bram. Dosen ekonomi yang tidak disukainya ini tiba-tiba saja mengadakan tes dadakan. Tentu saja ia kelabakan karena selama ini, ia memang tidak pernah belajar.
Dan saat pulang dari kampus, kesialan kembali menimpanya. Ban sepeda motornya bocor karena terkena paku. Terpaksa, ia harus menuntun sepeda motornya puluhan meter untuk mencari tambal ban.
”Krinnngggggg...,” Bunyi telepon yang lumayan keras membuyarkan lamunan Bayu. Dengan berjingkat, ia segera mengangkat gagang telepon. ”Halo, dengan Bayu di sini,” sambarnya.
”Bayu, kamu sudah di rumah? Segera jemput mama di rumah sakit X ya,” ujar suara di seberang sana yang ternyata adalah mamanya.
”Siapa yang sakit, Ma?” tanya Bayu.
”Pakdemu tadi jam 10 masuk ICU. Buruan gih ke sini...,” suara di seberang mulai tidak sabar.
”Ya, Ma,” kata Bayu. Setelah meletakkan gagang telepon ke tempatnya, ia segera mengambil kunci motor yang tergeletak di kasur. Dan beberapa detik kemudian, sepeda motornya sudah melaju kencang di jalanan.
Tiba di rumah sakit, Bayu mencari ruangan yang ditunjukkan mamanya. Enggak begitu sulit karena ia sudah amat familiar dengan rumah sakit X. Dan, ia melihat mamanya sedang duduk terpekur. Wajahnya kelihatan sedih.
”Gimana keadaan Pakde, Ma?” tanya Bayu setelah duduk di samping mamanya.
”Masih kritis,” jawab mamanya tanpa ekspresi.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari mamanya, Bayu segera mengenakan baju yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk masuk ke ruang ICU. Bau yang amat khas menguar dan segera terhirup oleh hidungnya. Di tempat tidur paling ujung, ia mendapati pakdenya tergolek tak berdaya. Beberapa jarum tampak menancap di bagian tubuhnya. Sebuah selang juga terpasang di hidung pakde. Selang itu tersambung dengan tabung oksigen besar yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur.
Bayu tercekat. Dipegangnya tangan yang ada di depannya. Tangan itu terasa dingin. Tiba-tiba, air matanya jatuh satu demi satu. ”Apa yang sudah aku lakukan Tuhan? Mengapa aku hanya bisa mengeluh saja hari ini? Mengapa aku tidak bersyukur kepadaMu? Untuk kehidupan dan kesehatan yang masih bisa aku rasakan hingga saat ini?” jerit batinnya bertubi-tubi.
Kamis, 10 Maret 2011
Tak Berguna
Utomo Rekso Nugroho. Itulah nama lengkapnya. Tapi kami lebih sering memanggilnya dengan Pak Tomo. Orangnya tinggi besar, berkulit sawo matang, agak botak, dan memiliki kumis yang lumayan lebat. Ia adalah orang paling kaya di kampung Gabahan. Rumahnya besar, bertingkat tiga dengan halaman yang luas. Di garasi rumahnya, tersimpan puluhan mobil mewah keluaran terbaru.
Meski kekayaannya berlimpah, Pak Tomo terkenal dengan sifatnya yang sangat pelit. Ia sulit sekali mengeluarkan uang untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan. Baginya, uang yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri, kerja kerasnya selama ini. Jadi, ia sangat tidak rela jika digunakan untuk membantu orang lain.
Satu lagi sifat yang dimiliki oleh Pak Tomo, ia tidak pernah merasa cukup. Kekayaan yang begitu banyak, tidak pernah membuatnya merasa puas. Ia masih ingin lagi dan lagi. Ia tidak peduli jika karena hal itu, ia melakukan pekerjaan yang merugikan orang lain. ”Yang penting hartaku bertambah,” begitu pikirnya.
Namun, takdir Tuhan berkata lain. Suatu pagi, saat Pak Tomo sedang bersantai di teras rumah, tiba-tiba ia merasakan dadanya begitu sakit. Beberapa kali ia mencoba berteriak untuk meminta pertolongan tapi suaranya hilang ditelan angin. Akhirnya, karena sudah tidak kuat lagi, Pak Tomo ambruk. Mati.
Meski kekayaannya berlimpah, Pak Tomo terkenal dengan sifatnya yang sangat pelit. Ia sulit sekali mengeluarkan uang untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan. Baginya, uang yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri, kerja kerasnya selama ini. Jadi, ia sangat tidak rela jika digunakan untuk membantu orang lain.
Satu lagi sifat yang dimiliki oleh Pak Tomo, ia tidak pernah merasa cukup. Kekayaan yang begitu banyak, tidak pernah membuatnya merasa puas. Ia masih ingin lagi dan lagi. Ia tidak peduli jika karena hal itu, ia melakukan pekerjaan yang merugikan orang lain. ”Yang penting hartaku bertambah,” begitu pikirnya.
Namun, takdir Tuhan berkata lain. Suatu pagi, saat Pak Tomo sedang bersantai di teras rumah, tiba-tiba ia merasakan dadanya begitu sakit. Beberapa kali ia mencoba berteriak untuk meminta pertolongan tapi suaranya hilang ditelan angin. Akhirnya, karena sudah tidak kuat lagi, Pak Tomo ambruk. Mati.
Rabu, 09 Maret 2011
Disiplin
Mungkin sudah ribuan kali aku mendengar kata yang satu ini. Pun sudah ratusan kali aku mencoba melakukannya. Ada yang berhasil tapi lebih banyak yang gagal. Gagal karena aku kurang konsisten. Aku terlalu mudah tergoda oleh bujuk rayu dan kesenangan yang sifatnya hanya sesaat.
Aku masih ingat, dulu, pas masa-masanya duduk di bangku sekolah, aku cukup berhasil dengan disiplin yang aku terapkan. Waktu itu aku bikin jadwal, kapan harus belajar, kapan harus maen, kapan harus bantu orang tua, dan lain sebagainya. Dan karena aku punya target tertentu biar dapet rangking dan bisa lulus ujian dengan nilai yang baik, aku selalu berusaha memenuhi jadwal-jadwal tersebut. Walau kadang memang terasa sulit.
Target yang jelas. Aneka kesulitan. Kurang konsisten dan begitu mudahnya tenggelam dalam godaan. Ah... aku harus mengatasi semua itu. Aku harus menajamkan niatku untuk sungguh mendisiplinkan diri. Disiplin dalam banyak hal. Untuk kebaikanku. Juga untuk orang lain. Semoga.
Aku masih ingat, dulu, pas masa-masanya duduk di bangku sekolah, aku cukup berhasil dengan disiplin yang aku terapkan. Waktu itu aku bikin jadwal, kapan harus belajar, kapan harus maen, kapan harus bantu orang tua, dan lain sebagainya. Dan karena aku punya target tertentu biar dapet rangking dan bisa lulus ujian dengan nilai yang baik, aku selalu berusaha memenuhi jadwal-jadwal tersebut. Walau kadang memang terasa sulit.
Target yang jelas. Aneka kesulitan. Kurang konsisten dan begitu mudahnya tenggelam dalam godaan. Ah... aku harus mengatasi semua itu. Aku harus menajamkan niatku untuk sungguh mendisiplinkan diri. Disiplin dalam banyak hal. Untuk kebaikanku. Juga untuk orang lain. Semoga.
Selasa, 08 Maret 2011
Sedulur
Dalam bahasa Indonesia kata sedulur artinya sama dengan saudara. Ketika kata ini diberi tambahan satu kata lagi, maka muncullah dwikata: saudara kandung, saudara sepupu, saudara jauh. Semuanya merujuk adanya suatu hubungan. Suatu keterikatan yang terjadi karena sebab-sebab tertentu. Pertanyaan yang kemudian muncul: bagaimana dengan orang lain yang tidak memiliki ikatan tertentu dengan kita, masihkah mereka itu kita sebut sebagai sedulur?
Sejatinya, kita semua adalah sedulur. Tanpa memandang apakah kita memiliki ikatan atau tidak. Mengapa? Karena kita berasal dari zat yang sama dan diciptakan oleh Tuhan yang sama. Lalu, mengapa kenyataan yang terpapar di hadapan kita justru sebaliknya? Perselisihan, pertentangan, pertengkaran, hingga saling bunuh, seolah menjadi menu wajib yang terjadi setiap hari. Semua ini ada karena kita tidak lagi saling menghargai. Kita cenderung mengganggap orang lain sebagai saingan. Sebagai pihak yang harus selalu dikalahkan.
Maka, marilah kita kembali kepada hakikat kita. Sebagai sedulur yang diciptakan Tuhan dengan sama baiknya. Tidak lagi saling bermusuhan. Tidak ada lagi keinginan untuk saling menciderai dan mencelakakan satu sama lain. Karena kita adalah sedulur.
Sejatinya, kita semua adalah sedulur. Tanpa memandang apakah kita memiliki ikatan atau tidak. Mengapa? Karena kita berasal dari zat yang sama dan diciptakan oleh Tuhan yang sama. Lalu, mengapa kenyataan yang terpapar di hadapan kita justru sebaliknya? Perselisihan, pertentangan, pertengkaran, hingga saling bunuh, seolah menjadi menu wajib yang terjadi setiap hari. Semua ini ada karena kita tidak lagi saling menghargai. Kita cenderung mengganggap orang lain sebagai saingan. Sebagai pihak yang harus selalu dikalahkan.
Maka, marilah kita kembali kepada hakikat kita. Sebagai sedulur yang diciptakan Tuhan dengan sama baiknya. Tidak lagi saling bermusuhan. Tidak ada lagi keinginan untuk saling menciderai dan mencelakakan satu sama lain. Karena kita adalah sedulur.
Langganan:
Postingan (Atom)