Minggu, 03 Juli 2011

Mulai (lagi)

Hari ini adalah hari ketiga aku memulai lagi kebiasaanku. Kebiasaan yang beberapa bulan ini aku tinggalkan. Aku ingin belajar lagi. Aku ingin menulis lagi. Menulis secara rutin. Setiap hari.

Tantangan yang paling berat bagiku adalah kemalasan. Malas untuk mencari ide. Malas menyisihkan waktu secara khusus untuk menulis. Dan ketika jari jemari mulai menari-nari di atas keyboard, saat kata-kata mulai teruntai, tiba-tiba timbul keraguan.. apakah aku bisa menyelesaikannya? Apakah aku punya kemauan untuk melanjutkan tulisan itu ketika berbagai kesibukan yang lain ganti menyerangku?

Ahh, lagi-lagi semuanya kembali kepada niat. Motivasi yang menjadi latar belakang aku melakukan kebiasaan ini. Sungguh, hal itu masih tertanam erat di dalam hati dan mengendap di pikiranku. Namun, sekedar tertanam dan mengendap tanpa adanya kesungguhan dalam berusaha dan keberanian untuk mengatasi segala tantangan yang muncul, tidak ada gunanya. Dan itu sudah terbukti selama ini.

Apakah aku akan terus dikalahkan kemalasan? Apakah aku harus tunduk pada ketidakdisiplinanku? Tidak! Aku harus berusaha lagi. Aku harus kalahkan segala rintangan, apa pun itu! Aku bisa! Aku pasti bisa! Dan di atas segalanya, aku ingin memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Aku percaya, rencanaNya adalah yang terbaik untuk hidupku.

Sabtu, 02 Juli 2011

Ia Mengasihiku

Peristiwa ini aku alami kemarin. Sebuah kejadian biasa, sederhana, tetapi menjadi bukti bahwa Ia mengasihiku. Ia selalu menjaga keselamatanku.

Pagi itu seperti biasanya, setelah mengantarkan istriku ke tempat kerjanya, aku menuju ke kantor tempatku bekerja. Jalanan yang mulai ramai dan bising, aku susuri memakai kendaraan roda dua dengan kecepatan sedang. Ketika hendak sampai di kantor, aku merasakan ada yang tidak beres dengan sepeda motorku. Dan, sesaat setelah tiba di kantor, aku menyempatkan diri untuk memeriksanya. Ternyata, ban belakang sepeda motorku bocor lagi. Aku harus buru-buru membawanya ke tukang tembal ban sebelum istirahat siang, begitu pikirku.

Karena berbagai kesibukan, aku baru sempat merealisasikan niatku itu bersamaan dengan waktu istirahat siang. Syukurlah, tempat tukang tambal ban, tidak begitu jauh dari kantorku sehingga aku tidak berlama-lama menuntun sepeda motorku yang sedang ’sakit’.

Setelah dicek bapak tukang tambal ban, terbukti bahwa ban dalam sepeda motorku sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Selain karena banyak tambalannya, di beberapa bagian juga sudah kelihatan aus. ”Ini harus diganti dengan yang baru mas,” kata bapak tukang tambal ban itu. Aku hanya menggangguk karena merasa keputusan ini adalah yang terbaik.

Sembari menunggu bapak tukang tambal ban itu bekerja, ada sebuah kesadaran yang hinggap di benakku. Sebuah kesadaran yang menuntunku untuk mendaraskan syukur kepada Tuhan. Ternyata, lewat peristiwa kecil ini, Tuhan ingin menyapaku. Tangan kasihNya terulur menyelamatkan aku dari peristiwa lain yang mungkin saja terjadi dan berakibat fatal bagi diriku. Terlebih esok hari, bersama istriku, aku berencana pergi ke luar kota mengendarai sepeda motor untuk ’nyumbang’ ponakan yang akan dikhitan.

Tuhan,
aku bersyukur atas pemeliharaanmu hari ini
aku bersyukur karena Engkau senantiasa menyelamatkan aku
dan menjaga hidupku dari hal-hal yang buruk
aku sungguh bersyukur karena kasihMu selalu tercurah untukku

Tuhan,
jadikan aku lebih peka pada berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupku
jadikan aku lebih sabar dan semakin rendah hati
untuk mengetahui teguranMu, memahami kehendakMu,
dan menerima segala rencanaMu dengan penuh syukur

Jumat, 01 Juli 2011

10

Dalam deretan sepuluh angka pertama, 10 adalah angka yang paling besar. Pun bagi anak-anak yang masih duduk di bangku SD, SMP, maupun SMA, 10 adalah angka yang paling sempurna karena jika meraih angka tersebut, bisa dipastikan anak yang bersangkutan termasuk kategori ‘pintar’, yang mampu menyelesaikan soal ujian tanpa kesalahan sedikit pun.

Dan hari ini, 10 juga menjadi penanda hubungan kasih di antara kami. Aku dan istriku. Berbagai peristiwa kembali berkelebat di dalam benak. Saat kami saling mengucapkan janji sehidup semati, dalam untung dan malang, dalam susah dan senang, di depan altar suci, di hadapan Tuhan. Ketika kami dengan berurai air mata ‘sungkem’ pada orangtua yang telah membesarkan kami. Saat kami dengan senyum bahagia mendapatkan ucapan selamat dari sanak-saudara, handai taulan, sahabat, serta teman-teman. Dan ketika kami mulai mengarungi kehidupan baru sebagai suami istri dengan beragam persoalan dan peristiwa. Ahhh… semuanya berlalu begitu cepat…

Apa yang sudah kami dapatkan/terima dalam rentang waktu 10 tahun itu? Dipandang dari segi materi, kami masih biasa-biasa saja. Hanya keluarga yang sederhana. Saat ini pun, kami masih tinggal bersama dengan mertua (dari istri). Kami juga belum dikaruniai ‘momongan’. Namun di balik semua itu, kami sungguh merasakan kasih Tuhan senantiasa tercurah kepada kami. Ia memberi begitu banyak berkat dalam kehidupan kami.

Dengan belum adanya momongan, Tuhan memberi kami kesempatan untuk aktif berkegiatan di gereja. Menjadi pendamping bagi anak-anak dalam kegiatan Sekolah Minggu (PIA), mengelola majalah dan perpustakaan paroki dan ikut terlibat dalam mempersiapkan liturgi khususnya teks misa. Meski belum ada tangis bayi dalam rumah tangga kami, Tuhan juga telah memberikan orang-orang yang bisa kami cintai sepenuh hati. Keponakan-keponakan entah yang berasal dari kakak dan adik kami atau mereka yang dipertemukan dengan kami dalam kegiatan di gereja, adik-adik, dan banyak sahabat yang selalu menemani perjalanan kami. Sungguh, semua itu menjadi karunia yang terus kami syukuri.

Hari ini, tepat saat usia pernikahan kami yang ke-10, kami bersyukur karena Ia yang dahulu telah mempertemukan kami, selalu memelihara hubungan kami, menyuburkan kasih di antara kami sehingga dari hari ke hari, kasih itu semakin tumbuh dan berkembang menghasilkan buah-buah kebaikan. Dan kami selalu percaya, rencanaNya adalah yang terbaik dan terindah untuk kami.


nb: foto bersama 2 keponakan tersayang yang dipertemukan oleh Tuhan

Rabu, 15 Juni 2011

Ironis!

Sungguh ironis! Negeriku yang dulu gemah ripah loh jinawi, kini tak ubahnya bagaikan sarang penyamun. Para koruptor terus tertawa terbahak-bahak, lenggang kangkung seenaknya tanpa sedikitpun rasa bersalah. Sementara segala jenis mafia dan calo berkeliaran di segala tempat tanpa rasa malu. Kejujuran telah menjadi hiasan dinding yang semakin kusam dan berdebu. Juga cinta kasih kepada sesama serta semangat gotong royong hanyalah nilai-nilai usang yang sudah lama dibuang di tempat sampah.

Ketidakadilan ada di mana-mana. Kekerasan semakin merajalela di semua tingkat kehidupan masyarakat. Yang kaya bertambah kaya. Yang miskin semakin terjepit dan tak punya daya apa-apa. Mereka terus menjerit tetapi siapa yang mau mendengarkan? Para pemegang kekuasaan dan kebijakan itu malah sibuk saling sikut dan saling cakar untuk mempertahankan 'periuk' masing-masing.

Lalu, apa yang mesti kita lakukan? Pertama, terus berdoa. Memohon kepada Tuhan agar negeri ini dijauhkan dari segala angkara dan bagi orang-orang yang selama ini telah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain segera diberi kesadaran karena toh segala hal yang ada di dunia ini fana belaka. Semuanya tidak akan berarti ketika kita dipanggil olehNya.

Kedua, introspeksi diri. Meneliti segala hal yang sudah kita katakan dan lakukan selama ini. Apakah yang aku katakan sudah sesuai dengan yang aku lakukan? Apakah aku juga tidak melakukan korupsi dan segala tindakan yang merugikan orang lain? Apakah aku lebih mengutamakan cinta kasih daripada kekerasan? Apakah aku mau bekerjasama dengan orang lain? Apakah hatiku terketuk dan segera mengulurkan tangan ketika orang lain membutuhkan bantuan?

Semoga kita mampu memilih yang terbaik. Demi hidup kita dan sesama yang ada di sekitar kita. Demi kebaikan negeri ini.

Selasa, 14 Juni 2011

Gua Maria Kristus Raja


Barangkali kita tidak akan pernah menyangka, di lingkungan pemukiman yang cukup padat, di tengah kota Semarang yang terus menggeliat dengan aneka bangunan untuk kepentingan bisnis, terdapat sebuah tempat yang indah. Sebuah Gua Maria yang terus menebarkan pesona. Gua Maria Kristus Raja itulah namanya atau orang-orang lebih mengenalnya sebagai Gua Maria Tegalsari karena lokasi dimana gua ini berada ada di Jl. Tegalsari Timur Gg. VIII – IX, Semarang. Masuk dalam wilayah Paroki Atmodirono.

Menurut Yong, salah seorang umat yang punya kepedulian lebih, awalnya hanya ada kapel yang rusak berat. Atas ide Handoyo, Ketua Wilayah setempat, kapel itu kemudian direnovasi sekaligus membersihkan tempat pembuangan sampah yang ada di sebelahnya.

Suatu sore kira-kira pukul 5, Sarjono, sesepuh yang sering dipanggil kakek, sangat terkejut saat melihat penampakan seorang wanita yang sedang memetik bunga mawar. Ia mempercayai bahwa wanita itu adalah Bunda Maria. Sejak saat itu, renovasi kapel dihentikan untuk sementara dan fokus membangun Gua Maria di tempat penampakan itu.

Berkat kerja keras dan semangat ’urunan’ dari umat, Gua Maria akhirnya terwujud dan diberkati oleh Uskup Purwokerto, Mgr. Julianus Sunarka SJ, 7 Januari 2011. Di depan Gua Maria terdapat sebuah kolam berukuran kecil yang airnya sangat jernih. Banyak orang yang sudah mengalami mukjijat setelah berdoa di tempat ini dan mendapat sentuhan air kolam. Mereka disembuhkan dari penyakit stroke, kangker, kista, dan masih banyak lagi. Ada juga yang berhasil memperoleh momongan setelah bertahun-tahun menunggu.

”Jangan mendewa-dewakan air ini karena hal itu salah. Air ini hanya sebagai sarana. Semua bisa terjadi karena iman kita. Dan iman tidak hanya dimiliki oleh orang Katolik saja tetapi orang Islam dan Kristen juga memilikinya. Oleh karena itu, tempat ini terbuka untuk siapa saja, apa pun agamanya. Tidak harus berdoa cara Katolik tetapi sesuai dengan keyakinan masing-masing,” jelas Yong.

Setiap hari jumlah peziarah yang mengunjungi tempat yang dibuka 24 jam ini mencapai ratusan orang sedangkan pada bulan Mei dan Oktober bisa mencapai ribuan orang. Ada pun untuk kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah misa tiap Kamis ke-4 dan malam Jumat Kliwon pukul 19.00. Awalnya diadakan di pelataran gua tetapi mengingat cuaca yang sering berubah-ubah, saat ini misa diselenggarakan di dalam kapel.

Demi kenyamanan para peziarah, saat ini sedang dibangun gazebo yang nantinya dapat digunakan sebagai tempat beristirahat. Di samping kapel juga akan dibangun sebuah taman lagi yang nantinya bisa digunakan sebagai tempat bersantai sembari mengobrol.

”Semoga ke depan, kami juga bisa memperlebar akses jalan masuk dan keluar sehingga bisa dilewati 2 mobil agar semakin banyak umat yang mendapat kemudahan saat berkunjung ke tempat ini,” tambah Yong yang bertempat tinggal di Jl. Kawi III/3 Semarang ini, mantap.