Suatu ketika saat mampir di sebuah pompa bensin, ada sebuah tulisan yang begitu menarik perhatianku. Tulisan itu tertempel di sebuah tiang dekat alat pengisian bensin. Tulisan itu berbunyi: ’Dengan 3 S (Senyum, Salam, dan Sapa) mari kita berikan pelayanan yang terbaik untuk para pelanggan’.
Saat aku mensharekan tulisan ini di facebook dengan sedikit variasi, ada seorang friend yang memberikan usulan agar S nya bisa ditambah lagi dengan Sopan dan Santun. Dan ketika memikirkannya lebih lanjut, tercetus sebuah ide untuk sekali lagi menambahkan satu S yaitu Sederhana. Maka tersusunlah 6 S yang kemudian dibaca Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, dan Sederhana.
Meski terlihat sebagai rentetan kata yang sederhana, tapi bila dimaknai dan bisa dilakukan secara konsisten, kiranya sungguh akan memberi hasil yang menakjubkan. Senyum hangat penuh ketulusan. Salam dan sapa penuh keakraban serta persaudaraan untuk siapapun yang ditemui. Bersikap sopan dan santun di manapun berada. Menunjukkan kesederhanaan baik dalam tutur kata maupun sikap hidup sehari-hari. Tidak ’neko-neko’ dan ingin ’neko-neko’. Dan inti dari semua itu adalah sikap hormat dan menghargai orang lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Bila semua ini dapat diwujudkan, alangkah indah dan damainya hidup ini. Life is Beautiful. Semoga...
Blog ini adalah blog pribadi untuk menuliskan informasi, keluh kesah, pemikiran, cerita, harapan dan cita-cita. Semua boleh berpartisipasi baik komentar, kritik, maupun saran yang membangun demi kebaikan kita bersama
Selasa, 31 Maret 2009
Kamis, 26 Maret 2009
Orang Ketiga
Selalu saja, kehadiran orang ketiga menjadi kambing hitam. Sebenarnya, siapa sih orang ketiga itu? Orang ketiga itu… ada setelah orang pertama dan orang kedua. Orang pertama dan orang kedua adalah suami dan istri atau istri dan suami. Lalu orang ketiga itu siapa?!?!?!
Eh… jangan teriak-teriak dong kalo nanya? Enggak penting kok nanyain siapa orang ketiga itu. Karena ia bisa siapa aja. Ya adik ipar, temen di kantor, temen di pelayanan gereja, temen ketemu di jalan, tetangga dan masih banyak yang laen. Yang paling penting itu, mengapa orang ketiga bisa hadir dalam hidup perkawinan kita. Apa yang menjadi sebab dan alasannya.
Mungkin, beberapa dari kita menganut faham 'rumput di rumah tetangga itu (selalu) lebih bagus daripada rumput di rumah sendiri'. Apa yang kayak gini emang bener? Pastinya, kalau kita percaya, dijamin kita udah ketipu mentah-mentah. Kita hanya ‘terpesona’ pada permukaannya saja. Pas kita udah tahu lebih dalem… pasti deh, kita akan kecewa berat. Karena walau bagaimanapun, rumput atau apapun itu yang ada di rumah kita, kita sendirilah yang telah menciptakan dan membuatnya tumbuh berkembang. Mau baik atau jelek itu tanggung jawab kita. Jadi sekali lagi, enggak lucu banget kalau apa yang sudah kita bikin sendiri kita tinggalkan gara-gara ada yang ‘lebih’ bagus di luaran.
Dan dalam hidup berumah tangga, masalah pasti akan selalu muncul. Sebab dari awal, rumah tangga dibentuk dari dua pribadi yang dari ‘sononya’ memiliki banyak perbedaan. Dengan perbedaan ini tentunya akan melahirkan ketidakcocokan. Ketidakcocokan pastinya tidak akan dapat dirubah menjadi kecocokan sebab hidup berumah tangga bukan untuk mencari kecocokan tetapi bagaimana meramu dan menyatukan banyak ketidakcocokan itu menjadi sesuatu yang bisa saling mendukung dan melengkapi untuk kebahagiaan bersama.
Jadi, hadirnya orang ketiga, sebenarnya hanyalah menjadi pertanda keegoisan kita sebagai suami atau istri. Egois ketika pas lagi ada masalah, kita menganggap diri kita (apa yang kita lakukan) adalah yang paling benar dan istri (suami) kita menjadi pihak yang paling bersalah.
Untuk itu mestinya kita selalu ingat bahwa “APA YANG TELAH DIPERSATUKAN ALLAH TIDAK BOLEH DICERAIKAN OLEH MANUSIA”.
Eh… jangan teriak-teriak dong kalo nanya? Enggak penting kok nanyain siapa orang ketiga itu. Karena ia bisa siapa aja. Ya adik ipar, temen di kantor, temen di pelayanan gereja, temen ketemu di jalan, tetangga dan masih banyak yang laen. Yang paling penting itu, mengapa orang ketiga bisa hadir dalam hidup perkawinan kita. Apa yang menjadi sebab dan alasannya.
Mungkin, beberapa dari kita menganut faham 'rumput di rumah tetangga itu (selalu) lebih bagus daripada rumput di rumah sendiri'. Apa yang kayak gini emang bener? Pastinya, kalau kita percaya, dijamin kita udah ketipu mentah-mentah. Kita hanya ‘terpesona’ pada permukaannya saja. Pas kita udah tahu lebih dalem… pasti deh, kita akan kecewa berat. Karena walau bagaimanapun, rumput atau apapun itu yang ada di rumah kita, kita sendirilah yang telah menciptakan dan membuatnya tumbuh berkembang. Mau baik atau jelek itu tanggung jawab kita. Jadi sekali lagi, enggak lucu banget kalau apa yang sudah kita bikin sendiri kita tinggalkan gara-gara ada yang ‘lebih’ bagus di luaran.
Dan dalam hidup berumah tangga, masalah pasti akan selalu muncul. Sebab dari awal, rumah tangga dibentuk dari dua pribadi yang dari ‘sononya’ memiliki banyak perbedaan. Dengan perbedaan ini tentunya akan melahirkan ketidakcocokan. Ketidakcocokan pastinya tidak akan dapat dirubah menjadi kecocokan sebab hidup berumah tangga bukan untuk mencari kecocokan tetapi bagaimana meramu dan menyatukan banyak ketidakcocokan itu menjadi sesuatu yang bisa saling mendukung dan melengkapi untuk kebahagiaan bersama.
Jadi, hadirnya orang ketiga, sebenarnya hanyalah menjadi pertanda keegoisan kita sebagai suami atau istri. Egois ketika pas lagi ada masalah, kita menganggap diri kita (apa yang kita lakukan) adalah yang paling benar dan istri (suami) kita menjadi pihak yang paling bersalah.
Untuk itu mestinya kita selalu ingat bahwa “APA YANG TELAH DIPERSATUKAN ALLAH TIDAK BOLEH DICERAIKAN OLEH MANUSIA”.
Rabu, 25 Maret 2009
Sakit
Tiba-tiba saja aku terbangun. Perutku sakit sekali. Seperti ada yang meremas-remasnya kencang sekali. Kupikir penderitaan ini hanya terjadi sebentar saja tetapi ternyata perkiraaku salah. Perutku malah semakin terasa melilit-lilit. Apa tadi malam aku salah makan ya? Begitu pikirku. Segera aku ke belakang untuk buang air besar. Wuih… ternyata cuma air yang keluar… tapi lumayan… sakit di perutku sudah agak berkurang. Baru beberapa saat kembali ke kamar… eee… la kok… sakit perut itu kembali lagi. Karena enggak kuat… aku segera membangunkan istriku.
Pagi-pagi buta, aku dan istriku bergegas pergi ke sebuah apotik 24 jam untuk membeli Imodium. Obat yang kata istriku, dapat meredakan sakit di perutku. Aku hanya mengiyakan saja dan berharap agar rasa sakit itu segera menghilang.
Dan rupanya, obat itu memang manjur. Tak berapa lama setelah meminumnya, sakit di perutku segera lenyap. Tapi tetap saja aku merasa enggak fit dan akhirnya, hari ini aku memutuskan tidak masuk kerja.
Setelah mengantar istriku ke kantornya. Aku segera pulang ke rumah untuk beristirahat.
Satu jam tiduran di kamar, bukannya bertambah segar malahan sekarang badanku jadi panas tidak karuan. Saat istriku ngebel untuk nanyain keadaanku, segera aku melaporkan situasi terkini. Atas bantuan ibu mertuaku, aku dibelikan obat untuk penurun panas dan antibiotik agar aku segera sembuh.
Ternyata, sakitku malah menjadi-jadi. Dan kalo sudah begitu, biasanya aku jadi enggak doyan makan. Mencium bau-bau yang menyengat atau sekadar gosok gigi saat mandi (cuci muka) bisa membuat aku muntah. Dan saat muntah ini…. uh… aku begitu menderita.
Betapa sakit itu tidak enak dan sehat begitu berharga. Ini yang sudah aku pahami sejak bertahun-tahun lalu. Tetapi tetap saja aku teledor. Saat sehat, aku enggak pernah pilih-pilih makanan. Yang pedes, setengah pedes atau enggak pedes… pasti aku lalap habis. Yang kata orang bisa bikin kolesterol atau sayur-sayuran pasti juga aku embat. Yang penting enak dan bisa bikin kenyang.
Pas sehat, aku juga bekerja dengan giat. Siang kerja di kantor. Trus malem harinya pergi ke gereja. Ikut rapat-rapat atau kegiatan pelayanan ini dan itu. Begitu tiap hari. Kadang-kadang aku suka memforsir diri kalo pas ada kegiatan pelayanan yang enggak bisa aku tinggalkan.
Betapa sakit itu tidak enak. Dan rupanya sakit ini kembali menyadarkan aku… Aku enggak boleh makan sembarang makanan. Aku enggak boleh nyampur-nyampur makanan. Aku harus bisa jaga kondisiku dan enggak boleh memforsir diriku. Karena ketika sakit… aku sendiri yang kemudian rugi… pekerjaan kantor jadi terbengkalai dan pelayananku juga enggak jalan…
Tuhan, terima kasih karena telah engkau kirimkan sakit ini…
Pagi-pagi buta, aku dan istriku bergegas pergi ke sebuah apotik 24 jam untuk membeli Imodium. Obat yang kata istriku, dapat meredakan sakit di perutku. Aku hanya mengiyakan saja dan berharap agar rasa sakit itu segera menghilang.
Dan rupanya, obat itu memang manjur. Tak berapa lama setelah meminumnya, sakit di perutku segera lenyap. Tapi tetap saja aku merasa enggak fit dan akhirnya, hari ini aku memutuskan tidak masuk kerja.
Setelah mengantar istriku ke kantornya. Aku segera pulang ke rumah untuk beristirahat.
Satu jam tiduran di kamar, bukannya bertambah segar malahan sekarang badanku jadi panas tidak karuan. Saat istriku ngebel untuk nanyain keadaanku, segera aku melaporkan situasi terkini. Atas bantuan ibu mertuaku, aku dibelikan obat untuk penurun panas dan antibiotik agar aku segera sembuh.
Ternyata, sakitku malah menjadi-jadi. Dan kalo sudah begitu, biasanya aku jadi enggak doyan makan. Mencium bau-bau yang menyengat atau sekadar gosok gigi saat mandi (cuci muka) bisa membuat aku muntah. Dan saat muntah ini…. uh… aku begitu menderita.
Betapa sakit itu tidak enak dan sehat begitu berharga. Ini yang sudah aku pahami sejak bertahun-tahun lalu. Tetapi tetap saja aku teledor. Saat sehat, aku enggak pernah pilih-pilih makanan. Yang pedes, setengah pedes atau enggak pedes… pasti aku lalap habis. Yang kata orang bisa bikin kolesterol atau sayur-sayuran pasti juga aku embat. Yang penting enak dan bisa bikin kenyang.
Pas sehat, aku juga bekerja dengan giat. Siang kerja di kantor. Trus malem harinya pergi ke gereja. Ikut rapat-rapat atau kegiatan pelayanan ini dan itu. Begitu tiap hari. Kadang-kadang aku suka memforsir diri kalo pas ada kegiatan pelayanan yang enggak bisa aku tinggalkan.
Betapa sakit itu tidak enak. Dan rupanya sakit ini kembali menyadarkan aku… Aku enggak boleh makan sembarang makanan. Aku enggak boleh nyampur-nyampur makanan. Aku harus bisa jaga kondisiku dan enggak boleh memforsir diriku. Karena ketika sakit… aku sendiri yang kemudian rugi… pekerjaan kantor jadi terbengkalai dan pelayananku juga enggak jalan…
Tuhan, terima kasih karena telah engkau kirimkan sakit ini…
Senin, 23 Maret 2009
Dilayani dan Melayani
Pagi ini, saat tengah antre di kantor pos karena hendak mengirim majalah kepada seorang teman di Purwokerto, ada satu kejadian yang menarik perhatianku. Kejadian ini berawal ketika petugas pos menimbang sekotak barang yang hendak dikirimkan ke suatu tempat. Ketika petugas pos menyebutkan biaya yang harus dibayarkan, si empunya barang (yang kebetulan cewek) nyeletuk, “Kok, lebih mahalan di sini ya daripada kalau kirim lewat TIKI?” Si petugas yang sedang mempersiapkan nota sejenak terdiam dan memandang cewek itu, “Lha, gimana mbak?” tanyanya. Petugas lain yang berada di sebelahnya berkata, “Yo, wis mbak, kalo ndak jadi ya ndak pa pa. Lebih baik dikirim lewat TIKI saja!” Si cewek sepertinya kurang terima dengan perkataan petugas ini. “Loh mbak, saya kan sudah sampai di sini?” kata cewek itu. “Kalau memberi pelayanan itu mbok yang baik tho mbak, yang ramah, jangan seperti itu. Saya laporkan nanti!” lanjutnya. Si petugas hanya terdiam sambil terus melayani yang lainnya. Sebelum pergi, si cewek masih sempat berkata, “Lain kali pelayanannya jangan seperti itu, mbak! Nanti bisa saya laporkan… “ ujarnya sambil melangkah pergi. “Ya, silahkan… “ jawab si petugas itu dengan sikap acuh tak acuh.
Kejadian ini mengingatkanku akan pengalaman yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat itu aku dan istriku meluangkan waktu jalan-jalan ke sebuah mal yang tengah menggelar pameran komputer. “Wah kebetulan nih, aku lagi butuh box external untuk tempat hardiskku, “ begitu pikirku. Sesampai di salah satu counter aku segera menanyakan barang yang hendak kubeli. Petugas counter yang lagi sibuk mainan hp, segera menghampiriku, “Nggak ada mas, barangnya lagi kosong,” jawabnya dengan ogah-ogahan. Istriku yang berada di sampingku segera menarikku, “Nggak usah beli di sini mas, ditanya kok jawabnya seperti itu…” katanya memendam rasa jengkel.
Di kantorku, Toko Sarana Pertanian P, tiap hari selalu dikunjungi pembeli dari beragam latar belakang, tingkat ekonomi, budaya dan kebiasaan yang sungguh-sungguh berbeda. Ada yang dengan ramah dan sopan menanyakan ini dan itu. Namun tidak jarang pula ada pembeli yang begitu ‘cerewet’, selalu tidak sabaran bahkan ada pula yang selalu minta didahulukan meski sebenarnya ia datang paling belakangan. Tidak jarang pula, ada yang suka memotong pembicaraan ketika kami tengah menerangkan sesuatu kepada pembeli yang lain. Tentunya sebagai karyawan, kami dituntut untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik. Pembeli itu raja, kata pepatah. Namun tak jarang karena keterbatasan kami, kadang kami juga jengkel dengan tingkah polah pembeli yang seperti itu. Dan akibatnya pelayanan kami menjadi kurang (tidak) memuaskan.
Kiranya, mendapatkan pelayanan yang terbaik adalah hak semua orang. Namun karena tuntutan itu kadang kita kurang (tidak) mempedulikan orang yang memberikan pelayanan kepada kita. Bagaimana kondisinya, situasinya? Kita sering menganggap, karena kita adalah ‘raja’ maka kita bisa berbuat seenaknya, minta ini dan itu… Dan ketika tidak mendapatkan pelayanan yang baik maka kita boleh marah, jengkel, memaki-maki dll.
Semestinya, sebagai sesama manusia, kita dituntut untuk bisa saling menghargai. Bisa ‘tepo seliro’ dan saling nguwongke. Kalau toh kita sebagai orang yang dilayani, kita harus bisa bersikap sabar ketika situasi lagi ramai atau ada banyak orang lain yang punya keinginan sama dengan kita (minta dilayani). Sebaliknya, sebagai orang yang melayani, hendaknya selalu kita kembangkan sikap ramah, sopan dan kesungguhan hati dalam memberikan pelayanan.
Kejadian ini mengingatkanku akan pengalaman yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat itu aku dan istriku meluangkan waktu jalan-jalan ke sebuah mal yang tengah menggelar pameran komputer. “Wah kebetulan nih, aku lagi butuh box external untuk tempat hardiskku, “ begitu pikirku. Sesampai di salah satu counter aku segera menanyakan barang yang hendak kubeli. Petugas counter yang lagi sibuk mainan hp, segera menghampiriku, “Nggak ada mas, barangnya lagi kosong,” jawabnya dengan ogah-ogahan. Istriku yang berada di sampingku segera menarikku, “Nggak usah beli di sini mas, ditanya kok jawabnya seperti itu…” katanya memendam rasa jengkel.
Di kantorku, Toko Sarana Pertanian P, tiap hari selalu dikunjungi pembeli dari beragam latar belakang, tingkat ekonomi, budaya dan kebiasaan yang sungguh-sungguh berbeda. Ada yang dengan ramah dan sopan menanyakan ini dan itu. Namun tidak jarang pula ada pembeli yang begitu ‘cerewet’, selalu tidak sabaran bahkan ada pula yang selalu minta didahulukan meski sebenarnya ia datang paling belakangan. Tidak jarang pula, ada yang suka memotong pembicaraan ketika kami tengah menerangkan sesuatu kepada pembeli yang lain. Tentunya sebagai karyawan, kami dituntut untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik. Pembeli itu raja, kata pepatah. Namun tak jarang karena keterbatasan kami, kadang kami juga jengkel dengan tingkah polah pembeli yang seperti itu. Dan akibatnya pelayanan kami menjadi kurang (tidak) memuaskan.
Kiranya, mendapatkan pelayanan yang terbaik adalah hak semua orang. Namun karena tuntutan itu kadang kita kurang (tidak) mempedulikan orang yang memberikan pelayanan kepada kita. Bagaimana kondisinya, situasinya? Kita sering menganggap, karena kita adalah ‘raja’ maka kita bisa berbuat seenaknya, minta ini dan itu… Dan ketika tidak mendapatkan pelayanan yang baik maka kita boleh marah, jengkel, memaki-maki dll.
Semestinya, sebagai sesama manusia, kita dituntut untuk bisa saling menghargai. Bisa ‘tepo seliro’ dan saling nguwongke. Kalau toh kita sebagai orang yang dilayani, kita harus bisa bersikap sabar ketika situasi lagi ramai atau ada banyak orang lain yang punya keinginan sama dengan kita (minta dilayani). Sebaliknya, sebagai orang yang melayani, hendaknya selalu kita kembangkan sikap ramah, sopan dan kesungguhan hati dalam memberikan pelayanan.
Rabu, 18 Maret 2009
Beruntung?
Seorang teman yang aktif dalam pelayanan di gereja pernah mendapat hadiah mobil dari sebuah perusahaan telekomunikasi. Hadiah ini didapat karena pada saat acara pengundian doorprize hadiah utama yang diselenggarakan perusahaan tersebut, nama teman kamilah yang muncul. Waktu itu istriku bilang, “Wah betapa beruntungnya Mas Edi itu ya mas, udah punya mobil… eh.. tau-tau sekarang dapet hadiah mobil baru, gratis lagi…” Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya.
Beda dengan aku dan istriku. Dalam berbagai acara pengundian doorprize, kami selalu tidak pernah beruntung. Boro-boro dapat hadiah utama, hadiah hiburan yang paling minim pun jarang kami dapat. Entah kenapa, mungkin kami memang ndak punya hoki.
Acapkali, masalah beruntung dan tidak beruntung timbul karena pikiran manusia. Dan karena berasal dari pikiran manusia maka penilaian ini selalu berkaitan dengan sesuatu yang terlihat (nyata) dan yang bisa dirasakan. Seorang gadis dengan paras rupawan dan tubuh yang indah selalu dikatakan lebih beruntung bila dibandingkan dengan gadis gembrot atau kurus yang berwajah pas-pasan. Demikian pula dengan pria ganteng yang bertubuh atletis. Orang dengan jabatan tinggi, punya banyak mobil berharga ‘wah’ dan rumah mewah di banyak tempat juga dikatakan lebih beruntung bila dibandingkan dengan orang-orang miskin yang hanya tinggal di gubuk-gubuk reot.
Benarkah demikian? Mungkin ya kalau hanya sebatas secara lahiriah saja, yang hanya keliatan kulit luarnya. Tapi coba kalo ditengok lebih ke dalam lagi. Dalam kasus teman saya, mungkin kita nggak tau kesulitannya saat harus mengumpulkan uang (dalam waktu singkat) untuk membayar pajak undian. Trus juga uang yang nantinya harus dikeluarkan untuk BBM dan biaya perawatan mobil tersebut. Kemudian untuk yang punya wajah cantik dan ganteng, mungkin saja mereka enggak ngerasa beruntung. Sebab karena semua itu, hidupnya jadi lebih boros. Pikirannya jadi pingin macem-macem yang berujung pada tindakan negatif. Dan mungkin juga kebiasaan yang enggak baik justru lebih banyak dimiliki oleh mereka. Sikap sombong, meremehkan orang lain, suka berkata-kata kasar, demen gossip. Enggak enak di kuping kan kalo ada orang yang kemudian nyeletuk, “Ih… cantik-cantik kok ngomongnya kasar kayak gitu…” Wah… wah… wah…
Pun setali tiga uang dengan orang-orang yang punya jabatan tinggi n’ kekayaannya bejibun. Kalo yang dimilikinya itu dari hasil keringat sendiri sih bolehlah kalo kita sebut tu orang beruntung banget. Tapi coba kalo ternyata kekayaannya dari hasil koprupsi trus jabatan tinggi yang dimiliki digunain untuk hal-hal yang enggak baek. Ih… amit-amit!!! Boro-boro beruntung… bisa-bisa malah ditangkap ama KPK untuk dijeblosin ke dalam bui. Nah!
Makanya, gak usah ngeliat orang dari luarnya saja sebab yang terlihat baik belum tentu juga baik di dalamnya (begitu sebaliknya dengan yang keliatan enggak baek). Kayak kalo kita makan jambu air. Mungkin aja keliatannya mulus dan menggairahkan. Pas dibuka… ih… ternyata banyak ulet di dalamnya. Serem kan…!!!
Beda dengan aku dan istriku. Dalam berbagai acara pengundian doorprize, kami selalu tidak pernah beruntung. Boro-boro dapat hadiah utama, hadiah hiburan yang paling minim pun jarang kami dapat. Entah kenapa, mungkin kami memang ndak punya hoki.
Acapkali, masalah beruntung dan tidak beruntung timbul karena pikiran manusia. Dan karena berasal dari pikiran manusia maka penilaian ini selalu berkaitan dengan sesuatu yang terlihat (nyata) dan yang bisa dirasakan. Seorang gadis dengan paras rupawan dan tubuh yang indah selalu dikatakan lebih beruntung bila dibandingkan dengan gadis gembrot atau kurus yang berwajah pas-pasan. Demikian pula dengan pria ganteng yang bertubuh atletis. Orang dengan jabatan tinggi, punya banyak mobil berharga ‘wah’ dan rumah mewah di banyak tempat juga dikatakan lebih beruntung bila dibandingkan dengan orang-orang miskin yang hanya tinggal di gubuk-gubuk reot.
Benarkah demikian? Mungkin ya kalau hanya sebatas secara lahiriah saja, yang hanya keliatan kulit luarnya. Tapi coba kalo ditengok lebih ke dalam lagi. Dalam kasus teman saya, mungkin kita nggak tau kesulitannya saat harus mengumpulkan uang (dalam waktu singkat) untuk membayar pajak undian. Trus juga uang yang nantinya harus dikeluarkan untuk BBM dan biaya perawatan mobil tersebut. Kemudian untuk yang punya wajah cantik dan ganteng, mungkin saja mereka enggak ngerasa beruntung. Sebab karena semua itu, hidupnya jadi lebih boros. Pikirannya jadi pingin macem-macem yang berujung pada tindakan negatif. Dan mungkin juga kebiasaan yang enggak baik justru lebih banyak dimiliki oleh mereka. Sikap sombong, meremehkan orang lain, suka berkata-kata kasar, demen gossip. Enggak enak di kuping kan kalo ada orang yang kemudian nyeletuk, “Ih… cantik-cantik kok ngomongnya kasar kayak gitu…” Wah… wah… wah…
Pun setali tiga uang dengan orang-orang yang punya jabatan tinggi n’ kekayaannya bejibun. Kalo yang dimilikinya itu dari hasil keringat sendiri sih bolehlah kalo kita sebut tu orang beruntung banget. Tapi coba kalo ternyata kekayaannya dari hasil koprupsi trus jabatan tinggi yang dimiliki digunain untuk hal-hal yang enggak baek. Ih… amit-amit!!! Boro-boro beruntung… bisa-bisa malah ditangkap ama KPK untuk dijeblosin ke dalam bui. Nah!
Makanya, gak usah ngeliat orang dari luarnya saja sebab yang terlihat baik belum tentu juga baik di dalamnya (begitu sebaliknya dengan yang keliatan enggak baek). Kayak kalo kita makan jambu air. Mungkin aja keliatannya mulus dan menggairahkan. Pas dibuka… ih… ternyata banyak ulet di dalamnya. Serem kan…!!!
Langganan:
Postingan (Atom)