Minggu, November 29, 2009

Setelah Menerima Kini Saatnya Memberi

November akan segera berakhir, berganti dengan bulan yang baru. Itu berarti kurang satu bulan lagi tahun juga akan berganti. Ada banyak kenangan yang sudah terjadi sepanjang bulan ini. Entah suka, entah duka. Pun dengan persahabatan di dunia maya yang terus saja terjalin. Saling menyapa, saling berkunjung, saling memberi komentar dan saling memberi perhatian berupa award.

Bagi aku secara pribadi, November (kembali) menjadi bulan yang teramat membahagiakan. Di bulan ini aku menerima beberapa award dari sahabat-sahabat mayaku. Berawal dari mas Rizky, sahabat baru, yang memberiku award berbacklink. Award yang sama juga diberikan oleh adek Ichaelmago.


Selanjutnya mas Tomi, juga seorang sahabat baru, memberiku award yang sederhana namun penuh makna. Award yang sama diberikan pula oleh Gek, sahabat baru yang berasal dari Bali.


Award selanjutnya dari mbak Lina dengan blognya yang diberi nama Sharing Yuk…, mengajak kita untuk saling berbagi tentang banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan ini.


Mbak Fanda, sahabat lama yang berasal dari Surabaya, memberiku sebuah award yang manis. Award ini adalah kado atas usia blognya (Baca Buku Fanda), yang genap berumur 1 tahun. Selamat ya mbak, semoga blognya sungguh menjadi mata air yang terus memancar, menyegarkan dan memberi inspirasi bagi kami semua.


Kemudian mas Munir dengan blognya yang penuh dengan petuah-petuah nan bijak memberiku award yang indah. Award yang sama juga diberikan oleh adek Ichaelmago.


Dan di penghujung bulan, mbak Yunna, seorang siswi sekolah menengah atas yang hobi banget dengan urusan membuat film, memberikan award yang cantik. Award ini dibagikan sebagai penanda atas postingannya yang sudah mencapai 100 buah. Selamat ya mbak. Terus berkarya dan tetap semangat.


Nah, setelah menerima begitu banyak perhatian dari para sahabat, kini saatnya bagiku untuk memberikan perhatian yang sama lewat award. Sengaja award yang ingin kuberikan bukan award yang sudah aku terima karena dari hasil blogwalking, award-award itu sudah menyebar bagaikan virus kepada banyak sahabat yang lain. Untuk itu aku mencoba membuat sebuah award khusus yang aku namakan Award Kasih. Harapannya, semoga award ini dapat semakin mempererat persahabatan di antara kita, berlandaskan kasih, yang membuat hati kita senantiasa memancarkan kasih itu untuk lingkungan di mana kita berada.


Award ini akan aku berikan untuk para sahabatku yaitu: Rizky, Ichaelmago, Tomi, Gek, Lina, Fanda, Munir Ardi, Yunna, Clara, Laksamana Embun, Kabasaran Soultan, Itik Bali, Anindyarahadi, Ateh75, RanggaGoBlog, Setiakasih, Dinoe, Afdil, Seti@wan Dirgantar@, Aan, Eka Wijayanti, Sigit Purwanto, Trimatra, Ivan Kavalera, Sang Cerpenis Bercerita, SeNja, Rumah Ide dan Cerita, Ritma, Si Kumb@ng, KucingTengil, M. Ridwan Mahadi AT, Seri Bahasa, Lisna Lina, Becce_lawo dan Reni.

Jumat, November 27, 2009

Lilo

Lilo, seekor ulat muda termangu di dahan pohon waru. Matanya nanar menatap sekawanan kupu-kupu yang barusan terbang dan kini hinggap di pohon jambu yang sedang berbunga lebat. Kupu-kupu itu indah sekali. Sayapnya biru cerah dengan semburat hitam serta totol-totol putih yang terangkai dengan sangat sempurna.

Ketika seekor kupu-kupu dari kawanan itu tiba-tiba hinggap di pohon waru, Lilo bergegas menghampiri, “Kawan, darimanakah asalmu?” tanyanya ramah.

“Oh… kau ulat,” Kupu-kupu itu terkejut ketika melihat ada seekor ulat berada di dekatnya. “Aku berasal dari pohon-pohon di taman itu, tidak jauh dari tempat ini,” lanjutnya.

“Betapa indahnya dirimu, berbeda dengan keadaanku yang buruk rupa ini…,” ujar Lilo, memelas. “Dari apakah engkau diciptakan?” tanyanya kemudian.

Kupu-kupu itu tergelak. Ia keheranan dengan pertanyaan ulat itu. “Pertanyaanmu aneh. Bukankah engkau jika saatnya tiba, juga akan berubah seperti aku? Ketahuilah kawan, kita berasal dari hal yang sama. Dahulu aku juga seperti engkau, buruk dan ditinggalkan. Namun karena kemurahan Tuhan, aku diberi kesempatan berubah menjadi sangat indah,” terangnya panjang lebar.

Lilo semakin tidak mengerti. Berulangkali ia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh kupu-kupu itu. Ia juga akan berubah menjadi indah? Lalu, kapan saat itu tiba? Belum sempat ia bertanya lebih lanjut, kupu-kupu itu sudah terbang meninggalkannya.

Berhari-hari Lilo tidak bisa tidur. Aneka pertanyaan itu terus merasuki pikirannya. Dan semakin ia memikirkannya, ia tidak sabar untuk menantikan saat itu. Saat dirinya berubah menjadi indah. Ia sudah bosan terus-terusan terkurung dalam tubuh jeleknya yang penuh bulu. Apalagi ketika ia mendapati kenyataan, beberapa temannya telah terdiam dalam bungkusan berwarna coklat. Satu di antaranya bahkan telah memunculkan makhluk hidup baru yang sangat indah.

“Aku harus segera berubah!” jerit Lilo. Ia segera memikirkan beragam cara untuk mewujudkan keinginan tersebut. Setelah berpikir matang, akhirnya ia memilih satu cara yang dirasanya bakalan berhasil. Ia akan menggulung dirinya di dalam dedaunan. Dan segera ia melaksakan rencana tersebut. Pertama-tama dikumpulkannya potongan-potongan daun terbaik. Setelah itu ia menempatkan diri di atas dedaunan yang telah disusunnya sedemikian rupa. Gulung sana gulung sini dan huppp… akhirnya ia tidak kelihatan lagi, terbungkus di dalam daun. Namun karena tidak hati-hati dan pandangannya yang terhalang daun, Lilo jatuh ke tanah. Daun-daun yang membungkus dirinya kini terasa mencengkramnya. Nafasnya tersengal-sengal karena sesak. Ia berusaha keluar dari bungkusan tersebut tetapi usahanya sia-sia. Akhirnya, Lilo mati akibat ketidaksabaran dan kebodohannya sendiri.

Kamis, November 26, 2009

Teladan Pak Eko

"Sesibuk apapun diri kita jika itu untuk melayani Tuhan, waktu harus disediakan!" tegas pak Eko suatu malam saat berbincang denganku di teras rumahnya yang lumayan besar.

Sebenarnya tujuanku ke rumah beliau hanyalah untuk meminta tanda-tangan surat undangan panitia Natal yang hendak kuedarkan dua hari lagi. Maklum, untuk kepanitiaan tahun ini, pak Eko dipercaya menjadi ketua pelaksana sedangkan aku sebagai sekretaris.

Setelah urusan tanda-tangan dan segala hal yang berhubungan dengan kepanitiaan selesai, pak Eko mengajakku berbincang-bincang tentang banyak hal. Mulai dari kehidupan menggereja secara umum hingga cerita tentang pengalaman pelayanannya selama ini. Kebetulan untuk kepengurusan periode yang baru (2009-2012), pak Eko dipercaya menjadi Ketua Wilayah setelah pada 2 periode sebelumnya melaksanakan tanggung jawab sebagai Ketua Lingkungan.

Awalnya saat menjadi Ketua Lingkungan, pak Eko sungguh merasa berat. Pekerjaannya sebagai maintenance di sebuah perusahaan swasta yang cukup bonafide, menuntut keseriusan dan perhatian yang lebih. Apalagi ia juga sering ditugaskan ke luar kota. Namun pak Eko tetap berusaha menjalankan tanggung jawab pelayanan yang diberikan kepadanya dengan sungguh-sungguh. Ia tak ingin ada yang dikalahkan. Semua mendapat porsi secara seimbang. Dan ketika tugas-tugas pelayanan itu dilaksanakan dengan baik, pak Eko merasa bahwa rahmat Tuhan sungguh mengalir. BerkatNya terus melimpah dalam kehidupannya. Bila ada permasalahan yang timbul akibat kedua perannya itu, Tuhan selalu memberikan jalan yang terbaik.

Mendengar penuturan pak Eko, aku teringat sebuah firman Tuhan yang berbunyi demikian: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian. Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Tetapi carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:25-27.33).

Terima kasih pak Eko, engkau sudah memberi pencerahan bagiku. Lewat teladan yang engkau berikan, hatiku sungguh terketuk. Aku merasa malu karena aku yang justru belum menjadi apa-apa, kadang beralasan macam-macam ketika tugas-tugas pelayanan menghampiriku. Entah sibuk, tidak ada waktu, tidak mau mengerjakan, malas dan lain sebagainya. Sekali lagi terima kasih karena aku boleh berkenalan, berbincang-bincang dan akrab denganmu.

Note:
* Ketua Lingkungan bertugas mengkoordinir segala kegiatan yang berkaitan dengan umat (Katolik) di lingkungannya baik itu kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial. Cakupan wilayahnya hampir sama dengan Ketua RW.
* Ketua Wilayah bertugas mengkoordinir Ketua Lingkungan di wilayahnya. Biasanya dalam satu wilayah minimal ada 4 lingkungan dan maksimal 9 lingkungan.