Senin, 14 November 2011

Cerita Si Rumput

Aku adalah sebatang rumput. Aku tumbuh bergerombol dengan saudara-saudaraku di sebuah taman kota. Di sana tumbuh juga sahabat-sahabatku. Keluarga cemara, keluarga soka, keluarga bougenvill, keluarga palem, keluarga kamboja berbunga kuning, keluarga teh-tehan, dan masih banyak lagi. Selain itu, di tengah taman, ada sebuah kolam berbentuk lingkaran yang di salah satu sudutnya berdiri tatanan bebatuan yang tinggi menjulang. Benda itu adalah tugu peringatan yang didirikan untuk memperingati peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di kota. Di puncak tugu terdapat lampu-lampu yang terus menyala ketika malam tiba.

Dahulu, taman tempatku tinggal adalah sebuah taman yang sunyi. Jauh dari keramaian. Hanya ada satu dua orang yang berkunjung. Sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja atau menikmati udara malam sambil melihat lampu-lampu kendaraan yang tengah melintas memutari taman.

Tapi kesunyian itu perlahan sirna. Tepatnya semenjak deretan air mancur di kolam itu berfungsi kembali. Semburan airnya bahkan kini terlihat lebih tinggi. Menimbulkan suara gemuruh ketika tetes-tetes airnya kembali menyentuh permukaan kolam. Sering, hembusan angin menerbangkan butiran-butiran air hingga jatuh di atas tubuhku. Uhh… segarnyaa... Selain itu, di beberapa sudut taman juga ditambah dengan lampu-lampu yang cukup artistik. Juga didatangkan beberapa keluarga baru untuk menghuni taman. Ada yang berdaun merah, berbunga putih bersih, bunga-bunga aneka warna, dan kelompok paku-pakuan.

Orang-orang pun mulai berdatangan. Terus dan terus. Hingga tiap malam tamanku terasa sesak. Apalagi jika malam minggu tiba. Mereka ada yang datang bergerombol, berpasang-pasangan, atau hanya sendiri. Biasanya, mereka akan melakukan berbagai aktifitas. Ada yang asyik bercengkerama bersama keluarga, berkejar-kejaran tak tentu arah, berjalan memutari taman sambil ngobrol ngalor ngidul, bermain bola, bermain sepeda, tidur-tiduran, saling memoto dengan aneka gaya, dan memadu kasih.

Jujur, sebenarnya aku gembira tempat tinggalku menjadi ramai. Tapi di sisi lain aku sangat sedih. Ternyata mereka kurang peduli dengan keberadaan taman. Terlebih dengan aku dan saudara-saudaraku. Meski sudah disediakan tempat tersendiri dan papan peringatan: TIDAK BOLEH MENGINJAK RUMPUT, mereka tetap bandel. Mereka malah asyik menginjak-injak, meniduri, bahkan mengobrak-abrik kami dengan segala hal yang mereka lakukan. Mereka juga tak segan-segan mengotori badan kami dengan aneka sampah.

Menurut cerita yang pernah aku dengar dari sekawanan burung yang hinggap di keluarga cemara, kelakuan mereka itu memang sebagian besar seperti itu. TIDAK PEDULI. Mereka bisa seenaknya membuang sampah di sembarang tempat padahal sudah ada tempat khusus yang disediakan. Mereka tanpa malu-malu melanggar tanda-tanda peringatan dan peraturan lalu lintas tanpa memperhatikan keselamatan sesamanya. Mereka lebih peduli dengan kepentingannya sendiri bukan yang lain. Anehnya, mereka juga tak segan-segan memangsa sesamanya hanya demi kepuasan, melindungi kepentingannya, atau sekedar untuk berebut harta dan kekuasaan.

Ahh... sebenarnya mereka itu makhluk seperti apa?

Rabu, 09 November 2011

Saat Ini

Suatu ketika, seorang anak bertanya kepada ayahnya, ”Bisakah aku tidak melakukan kesalahan dalam waktu satu tahun, Yah?”

Sang ayah keheranan mendapat pertanyaan seperti itu. Dipandangnya wajah anaknya. Di sana terpancar sebuah kesungguhan. ”Satu tahun itu tidak sebentar, Nak. Ada 365 hari yang berjalan di dalamnya. Rasanya engkau tidak akan mungkin melakukannya,” jawab ayahnya.

”Bagaimana kalau satu bulan, Yah. Bisakah aku melakukannya?” Si anak mencoba menawar.

”Itu juga tidak mungkin, Nak. Satu bulan masih terlalu lama,” geleng sang ayah.

”Bagaimana kalau satu minggu?” kejar anaknya.

”Ada tujuh hari dalam satu minggu. Dalam waktu selama itu ada banyak hal yang bisa terjadi. Engkau tidak mungkin bisa melakukannya.”

”Bagaimana kalau satu hari. Apakah kali ini aku bisa melakukannya?” Si anak belum putus asa.

”Belum, Nak. Satu hari ada 24 jam. Segala hal juga bisa terjadi dalam rentang waktu selama itu.”

Sesaat sang anak terdiam. Ia mencoba berpikir keras. ”Bagaimana kalau satu jam, Yah. Apakah aku bisa melakukannya?” kejarnya lagi.

”Itu juga tidak mungkin, Nak.”

”Satu menit,Yah?”

Sang ayah kembali menggeleng.

”Kalau begitu, apakah aku bisa melakukannya dalam waktu satu detik saja?”

Kali ini sang ayah tersenyum. ”Kalau satu detik, mungkin kau bisa melakukannya, Nak!” tegasnya kemudian.

”Oke, Yah, mulai saat ini aku akan hidup dari detik ke detik,” pungkas anaknya dengan mimik serius.

Sering dalam kehidupan ini, kita berpikir jauh ke depan, tentang apa yang terjadi dan apa yang akan kita lakukan nanti. Padahal, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Kita tidak bisa memastikan apakah esok kita masih diberi kesehatan, masih bisa bekerja dengan baik, masih dapat bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, masih diberi kehidupan. Sungguh, kita tidak akan pernah tahu.

Hidup bukanlah nanti tapi saat ini, detik ini. Oleh karena itu, seperti sang anak, marilah kita hayati hidup dari detik ke detik dengan ucapan syukur. Bersyukur karena kita masih diberi kehidupan dan bisa menikmatinya dengan baik. Saat ini.

Minggu, 06 November 2011

Berbeda Itu...

Berbeda itu indah. Enggak percaya? Coba letakkan dua buah aquarium di atas meja yang berbeda. Isi kedua aquarium itu dengan air hingga hampir penuh. Pada aquarium pertama masukkan satu jenis ikan sedangkan pada aquarium kedua beberapa jenis ikan. Ada yang pipih panjang, bulat, oval, berwarna merah, kuning, hitam. Tambahkan pula dua genggam pasir berwarna putih serta tanaman air. Lalu setelah semuanya beres, pandangi kedua aquarium itu, mana yang lebih menarik? Tentu kita akan sepakat bahwa aquarium kedualah yang lebih indah.

Contoh lain, coba amati padang luas yang hanya ditumbuhi rumput. Bandingkan dengan taman yang berisi beraneka jenis tanaman. Ada yang berdaun merah, kuning, hijau pupus, hijau tua, mengeluarkan warna-warni bunga. Diantara tanaman-tanaman itu ada gemericik air yang keluar dari bebatuan beragam ukuran yang tertata dengan rapi. Lalu ditambah pula dengan lampu hias yang terpasang di sekeliling taman. Duhh... betapa taman itu terlihat lebih semarak dan menyegarkan mata, lebih berkesan, dan tentunya lebih indah bila dibandingkan dengan padang luas yang hanya terisi rumput.

Berbeda itu berani. Berani bersikap, bertindak, dan bertutur kata sesuai dengan hati nurani. Sejalan dengan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Ketika banyak orang melakukan korupsi dan aneka manipulasi di banyak tempat dan pekerjaan, orang yang berbeda memilih untuk teguh memperjuangkan kejujuran. Ketika beragam kekerasan cenderung semakin membudaya dalam kehidupan sehari-hari, orang yang berbeda tetap setia melakukan tindakan yang berlandaskan kasih. Ia terus memelihara kasih itu dan membagikannya kepada setiap orang tanpa memandang perbedaan. Saat teman-teman di kantor sibuk main game pada jam kerja, orang yang berbeda justru bekerja dengan tekun. Waktu banyak orang berlomba-lomba menerobos lampu merah, orang yang berbeda enggan melakukannya, ada atau tidak ada polisi yang sedang bertugas, karena hal itu sama artinya dengan melanggar hukum. Ketika banyak orang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan dan membuang sampah sembarangan, orang yang berbeda berani peduli terhadap sampah yang membuat lingkungannya menjadi kotor. Ia dengan sigap mengambil sampah-sampah itu dan membuangnya ke tempat yang seharusnya.

Pertanyaannya, apakah kita berani menjadi berbeda, atau justru lebih memilih ikut arus, hanyut, dan tenggelam di dalamnya? Semoga saja kita mampu memilih yang benar karena hidup ini terlalu singkat. Sia-sia saja jika kita hanya mengisinya dengan hal-hal yang jauh dari kebenaran.

Jumat, 16 September 2011

Menjadi Malaikat Yukk...

Barangkali Anda akan tertawa membaca kalimat di atas. Menjadi Malaikat? Malaikat seperti apa? Hehehe... mungkin di benak kita akan langsung terbayang sosok berwajah rupawan, berpakaian putih bersih, dan mempunyai sayap. Ia seringkali disebut dalam kitab suci, muncul dalam acara visualisasi natal atau paskah, dan dalam cerita-cerita rohani. Lalu, adakah malaikat di dunia ini?

Tentu saja ada. Tapi jangan dibayangkan malaikat yang ada di dunia ini seperti gambaran umum itu. Sebab ia adalah manusia biasa seperti kita. Manusia yang hatinya seperti malaikat. Bagaimana caranya?

Manusia berhati malaikat adalah manusia yang tidak egois. Ia lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Suka memberi pertolongan. Ramah pada siapa saja baik yang sudah dikenal maupun tidak. Ia memiliki kasih yang berlimpah. Ikhlas memberi maaf sekaligus mau meminta maaf jika melakukan kesalahan dan bersedia memperbaikinya..

Sulit? Ahh... mungkin iya tapi pastinya semua bisa dicoba dan dilakukan kalau mau sungguh-sungguh. Apalagi kalau hal itu dilandasi dengan sikap penuh syukur. Syukur atas kehidupan yang sudah kita terima. Syukur karena kita sudah dicintai terlebih dahulu. Bukan dari hal-hal besar tapi mulai dari hal-hal yang sederhana. Mengucapkan terima kasih saat orang lain memberi bantuan kepada kita, apa pun itu. Tersenyum ramah dan memberi sapaan pada orang-orang yang kita temui sehari-hari. Mendengarkan sepenuh hati saat kawan atau sahabat kita ’curhat’. Jujur dalam setiap kata maupun tindakan.

Nah, maukah Anda menjadi malaikat?

Selasa, 30 Agustus 2011

Lakukanlah Dengan Cinta

Kata-kata ini begitu saja muncul di dalam hatiku. Mengembara dalam relung jiwaku dan tidak mau hilang dalam ingatanku. Terus menggoda, terus bertumbuh, dan membuatku terus memikirkannya.

Barangkali, inilah yang aku butuhkan selama ini. Melakukan segala sesuatu dengan penuh cinta. Cinta yang tulus. Cinta yang memberi. Cinta yang mampu menghargai perbedaan. Cinta yang memahami. Cinta yang memberi kekuatan dalam setiap cobaan, hambatan, serta aral melintang yang menghadang. Cinta yang memberi kesadaran bahwa di atas segalanya, ada Dia sang Mahacinta yang sudah terlebih dahulu memberikan cintaNya untukku.

Lakukanlah dengan cinta. Bukan dengan keterpaksaan. Bukan karena kewajiban. Bukan karena ingin mendapatkan penghargaan atau pujian dari orang lain.

Jumat, 26 Agustus 2011

Setia

Untuk setia itu sangat tidak mudah. Akan ada banyak godaan dan rintangan saat kita hendak melakukannya. Setia kepada kebenaran. Setia untuk melakukan hal-hal yang baik. Setia kepada Tuhan.

Contohnya aku. Sejak akhir bulan lalu, aku telah menuliskan 5 hal yang ingin aku lakukan mulai bulan Agustus ini. Lima hal itu kemudian aku print dalam selembar kertas folio dan aku tempel di dinding kamar tidurku. Aku berharap, saat aku hendak tidur dan bangun tidur keesokan harinya, aku (selalu) diingatkan akan komitmen itu.

Beberapa hari aku memang mematuhinya. Tapi mulai hari kesekian, aku merasa berat. Seolah ada beban yang menghimpit pundakku dan memaksaku untuk berhenti. Kembali kepada kebiasaan lama dan tidak lagi setia pada komitmen itu.

Sungguh, aku sangat lemah. Aku begitu mudah jatuh di dalam godaan. Aku kalah oleh bujukan setan yang terus-menerus mengajakku untuk tidak setia. Namun, Ia selalu setia untukku. Ia tidak pernah memarahi aku ketika aku jatuh dan tidak setia. Malahan, kasihNya yang tanpa batas selalu tercurah kepadaku, merengkuhku, dan mengajakku kembali kepadaNya. Ia selalu memberi kesempatan, kesempatan, dan kesempatan. Ia tidak pernah lelah menungguku.

Ah... semua memang tidak akan pernah berlangsung secara instan. Selalu ada proses yang harus dijalani. Termasuk untuk setia. Dan dalam seluruh proses itu, tidak penting berapa kali kita terjatuh. Berapa kali kita kalah oleh godaan. Sebab yang lebih utama adalah saat-saat dimana kita bangkit dari hal tersebut. Saat-saat dimana kita kembali lagi kepadaNya dengan penuh kesadaran dan niat yang baru.

Untuk itu, hanya ucap syukur yang selalu aku lambungkan kepadaMu. Syukur atas segala anugerah. Syukur atas berbagai kesempatan. Syukur karena Engkau selalu setia menjagaku, manusia yang lemah ini.

Kamis, 25 Agustus 2011

Kursi Goyang

Kursi goyang itu masih ada di sana. Diam membisu di salah satu sudut ruang keluarga rumah orangtuaku. Jujur, aku selalu bergidik saat melihatnya. Ada rasa takut yang tiba-tiba menguar melihat sosoknya yang hitam kecoklatan.

Dan, peristiwa belasan tahun yang lalu kembali hadir di pelupuk mataku.

Petang itu, ayahku sedang duduk santai di atas kursi goyang. Kursi itu adalah tempat favoritnya saat berada di rumah setelah seharian bekerja. Di atas kursi itu, ayahku biasa mengutak-utik remote untuk mengganti-ganti chanel televisi, mencari berita yang menjadi acara kesukaannya. Sesekali, ia menyeruput teh hangat bikinan ibu dan mengambil pisang goreng yang menjadi penganan kesukaannya.

Tiba-tiba, ayahku mengerang kesakitan. Erangan yang membuat aku, ketiga adikku, dan ibuku, segera menghambur mendekatinya. Dan di sana, kami melihat ayah kami terkulai lemas. Kedua tangannya bersidekap di dada. Nafasnya tersengal-sengal. Lalu, beberapa menit kemudian tarikan nafasnya tidak terdengar lagi. Ayahku diam untuk selamanya.

Semilir angin membuyarkan lamunanku. Aku segera terjaga. Kulihat, kursi goyang itu masih ada di sana. Namun kali ini ada yang aneh. Kursi goyang itu bergerak perlahan. Entah... siapa yang menggerakkannya.

Ah... bulu kudukku tiba-tiba berdiri.

Senin, 11 Juli 2011

Kaya

“Menurutmu, aku ini sudah kaya apa belum, Pak?” tanya Bos Pujo pada Paino, salah satu karyawannya yang terkenal suka celelekan, suatu siang.

“Wah, ya pasti belum, Pak,” jawab Paino sambil lalu.

“Kok belum? Apa alasannya?” kejar Bos Pujo.

Paino hanya tersenyum simpul. “Bapak kan setiap hari mengisi bahan bakar mobil bapak dengan premium. Nah, bukankah itu menjadi bukti bapak belum kaya?” jelas Paino.

Bos Pujo hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan Paino.

Kaya dan tidak kaya. Mungkin, itulah yang selalu mengganggu kehidupan kita setiap hari. Apakah aku sudah kaya? Apakah aku sudah memiliki banyak uang, uang yang tidak akan habis kugunakan sampai tujuh turunan? Apakah aku sudah memiliki mobil yang bagus? Apakah rumahku sungguh besar dan bertingkat? Apakah, apakah, dan masih banyak apakah yang lainnya.

Sebenarnya, yang menjadi ukuran seseorang bisa dikatakan kaya itu seperti apa sih? Apakah dengan memiliki semua yang telah disebutkan tadi (punya banyak uang, punya mobil mewah, punya rumah megah, dll)?

Kalau itu yang menjadi ukuran, rasa-rasanya ada yang aneh. Aneh karena banyak orang yang merasa kaya enggan untuk berbagi. Mereka tidak mau jika harus memberikan sebagian hartanya untuk orang lain. Mereka takut apa yang menjadi miliknya akan berkurang. Nah, lucu bukan! Katanya kaya tapi kok tidak mau memberi? Berlimpah tapi ketika diminta untuk menyumbang segera menggelengkan kepala. Ahh... bukankah itu adalah tanda bahwa mereka masih miskin. Mereka masih berkekurangan.

Menjadi kaya memang tidak dilarang. Menjadi kaya pastinya juga bukan dosa. Hanya yang menjadi masalah, apakah setelah menjadi kaya kita mau berbagi? Mau membantu orang lain di sekeliling kita yang masih kekurangan? Justru ketika mau memberi, kita akan menerima. Ketika mau berbagi dengan penuh keikhlasan, kita akan mendapat banyak kebaikan.

Satu hal yang harus selalu diingat; segala hal yang kita miliki di dunia ini sifatnya hanya sementara. Semua dapat hilang dalam sekejap. Segalanya tidak akan kita bawa ketika kita dipanggil olehNya.

Sabtu, 09 Juli 2011

Gadis Kecilku


Elisabeth Valensia Rosemary. Itulah nama gadis kecil itu. Gadis berparas manis dengan rambut dipotong pendek dan tubuh yang tergolong kurus. Saat ini ia bersekolah di sebuah SMP swasta terkenal di kotaku. Kelas 2.

Sudah 2 tahun ini aku tergila-gila pada Valen, sapaan akrabnya. Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Entah sejak kapan perasaan ini muncul dan mengapa, aku benar-benar tidak mengerti. Semuanya terjadi begitu saja. Mengalir dan terus berkembang hingga hatiku benar-benar dikuasai olehnya.

Mungkin, semua berawal dari keisengan yang aku buat untuknya. Iseng? Ya benar, iseng. Waktu itu ia masih kelas 6 SD. Lewat teman akrabnya yang kebetulan juga aku kenal, aku berhasil mendapatkan nomer hapenya. Berbekal nomer hape, aku mulai ‘mengerjai’nya dengan berpura-pura menjadi orang lain yang ingin berkenalan dengannya. Padahal kami sudah saling mengenal meski tidak akrab karena tantenya adalah temanku satu paguyuban di Pendampingan Iman Anak (PIA).

Dan sms demi sms pun mengalir. Awalnya hanya saling menyapa dan bertukar kabar. Perkembangan selanjutnya, sms berubah menjadi dukungan untuknya karena saat itu ia sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir untuk kelulusannya.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Mengirim sms untuknya seolah-olah telah menjadi kebutuhan yang harus terus aku lakukan. Jika hal itu terlewat, terasa ada yang kurang dalam hidupku. Lewat sms-sms itu, aku menjadi lebih akrab dan semakin akrab dengannya. Dan tanpa kusadari, benih-benih cinta dalam hatiku tumbuh bak jamur di musim hujan.

Namun, kedok mesti dibuka. Tidak ada gunanya terus bermain ‘rahasia’. Dan saat semuanya terbuka, tidak ada kekagetan yang teramat sangat. Tidak ada histeria yang muncul. Semua berjalan biasa saja. Rupanya Valen sudah bisa menebak, siapa sebenarnya orang yang ada dibalik sms-sms yang terkirim di hapenya. Terus terang aku sedikit kecewa karena tidak berhasil memberikan surprise tapi segera hal itu terkubur oleh kebahagiaan karena sudah tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi lagi.

Sejak saat itu, bersama istriku, aku mulai sering berkunjung ke rumahnya. Ngobrol, menemaninya melakukan aktivitas entah belajar, membaca komik, bermain game, atau saat membuat kerajinan tangan. Kadang kami (aku, istriku, Valen, adik, dan tantenya) melakukan aktivitas di luar. Makan nasi kucing di warung yang tak jauh dari rumah. Menonton pameran. Juga berdoa bersama di Gua Maria Kerep Ambarawa.

Cintaku pun semakin mendalam. Aku semakin mengasihinya. Saat ada di dekatnya aku selalu ingin memeluknya erat, mengecup keningnya, dan berlama-lama memandang bening matanya yang begitu indah.

Mencintainya berarti mau menerima kelebihan dan kekurangannya. Mencintainya adalah keterbukaan dan kerelaan hati untuk melihatnya tumbuh bebas menggapai cita-citanya. Mencintainya menjadi kesempatan bagiku untuk terus membahagiakannya lewat aneka perbuatan dan untaian doa.

Aku bersyukur bertemu dengan gadis kecilku. Ini adalah rencana Tuhan yang begitu indah dalam hidupku. Meski tidak mempunyai hubungan darah tapi saat ini ia telah menjadi anak, keponakan, dan mutiara yang sangat berharga bagiku.

Kamis, 07 Juli 2011

(Ke)sederhana(an)

Rasa-rasanya, kata yang satu ini semakin hilang dalam kehidupan kita. Orang-orang jaman sekarang lebih suka sesuatu yang ‘wah’, spektakuler, rumit, penuh tipu daya dan kelicikan, serta berbagai macam keruwetan lainnya. Mereka lebih suka hidup di atas awan yang tinggi daripada memilih mendarat di bumi.

Namun, diantara sekian banyak orang yang dilanda virus ketidaksederhanaan itu, masih ada orang-orang yang dengan tekun memperjuangkan kesederhanaan.

Pertama adalah ayahku sendiri. Saat ini usianya sudah hampir memasuki 80 tahun. Tapi ia masih kelihatan segar dan awet muda. Ayahku adalah pensiunan pegawai negeri dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Ketika masih aktif bekerja, ia menjabat sebagai bendahara. Meski setiap hari bergelimang dengan uang, ayahku adalah orang yang sangat jujur. Ia tidak pernah menyalahgunakan jabatan atau menggunakan sepeser pun uang yang menjadi tanggung jawabnya. Ia juga kebal akan sogokan.

Buktinya adalah kehidupan kami yang tergolong sederhana. Sebuah keluarga dengan ayah, ibu, dan 4 orang anak, 3 putra dan 1 putri. Menempati sebuah rumah yang tidak begitu luas dengan dinding setengah tembok dan setengah papan. Sering ibu harus memutar otak untuk mencukup-cukupkan gaji yang diterimanya dari bapak guna memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan kami. Kadang pula mereka harus berutang ketika dirasa tidak ada jalan lain. Untunglah sejak kecil, kami berempat bersekolah di sekolah negeri sehingga biaya untuk pendidikan bisa lebih terjangkau (waktu itu). Dan akibat ketiadaan biaya pula, kami hanya bisa menikmati sekolah sampai tingkat SMA. Kakak dan adikku laki-laki lulus dari STM dan setelah itu langsung bekerja. Sedangkan aku setelah lulus SMA juga langsung bekerja. Pun dengan adikku yang perempuan.

Teladan kedua aku temukan dalam diri seorang ibu berparas ayu dengan perawakan yang sedikit kurus. Ketika memandang wajahnya, merasakan keramahannya dan melihat senyum yang mengembang di bibirnya, selalu ada kedamaian yang segera menguar. Luapan kasih sayang yang seakan terus mengalir.

Aku sering memanggilnya dengan sebutan bu Ina. Sudah puluhan tahun aku mengenalnya. Dahulu kami pernah tumbuh bersama dalam komunitas Pendamping Iman Anak di Paroki (yang waktu itu sering disebut dengan sekolah minggu). Beberapa tahun sempat tidak bertemu hingga akhirnya Tuhan kembali mempertemukan kami dalam kegiatan yang sama seperti dulu.

Ketika mendengar pergulatan hidupnya yang sering dituturkannya kepada kami (aku dan teman-teman dalam komunitas Pendamping Iman Anak), aku merasa bahwa hidup keluarganya sungguh diberkati oleh Tuhan. Meski ada berbagai cobaan (salah satunya saat harus kehilangan anak semata wayang yang diperolehnya dengan penuh perjuangan akibat terjatuh dari kuda ketika berumur 9 tahun) tapi ia tidak pernah menyerah. Ia justru menghadapi segala cobaan itu dengan tabah dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan.

Meski kaya ia tetap hidup sederhana. Kesederhanaan itu begitu tampak saat melihat rumahnya yang tergolong ’apa adanya’ bila dibandingkan dengan rumah-rumah lain di kanan-kirinya. Ketika masuk ke dalam, ruang tamunya hanya berukuran kurang lebih 2 x 3 meter. Semakin ke dalam, deretan lemari kayu tampak berjejer memenuhi ruangan. Lemari-lemari itu adalah tempat menyimpan berbagai berkas dan perabotan milik keluarga.

Bu Ina adalah pribadi yang ringan tangan, rendah hati, dan tulus. Ia begitu mudah tergerak untuk mengulurkan bantuan saat teman-temannya atau orang lain mengalami kesulitan, apa pun itu. Kalau toh ia tidak bisa menolong secara langsung, ia pasti akan berusaha mencarikan jalan keluar agar kesulitan itu dapat teratasi. Satu hal yang mengagumkan, ia tidak pernah ingin namanya dikenal. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa dialah yang menyumbang. ”Biarlah Tuhan yang membalas semuanya,” tuturnya penuh iman.

Karena semua hal yang dilakukannya, aku sering menyamakannya dengan malaikat. Manusia berhati malaikat, itu tepatnya.

Ternyata, kesederhanaan memang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Kesederhanaan justru akan makin bernilai ketika ia dihidupi dengan penuh iman. Darinya kita akan mendapatkan banyak mutiara kehidupan yang begitu berharga. Hidup bersamanya, kita akan semakin menyadari bahwa kehidupan yang kita terima ini adalah karunia dari Tuhan. Kehidupan yang harus dijalani sebaik mungkin untuk melakukan dan berbagi kebaikan. Menjadi pembawa damai dan berkat untuk orang lain.

Selasa, 05 Juli 2011

Jenuh Berbuat Baik?

“Kok bisa begitu ya, padahal dia itu kan panutan buat saya?” ujar mas Y geleng-geleng kepala saat mendengar cerita istriku tentang mbak V.

“Hehehe… itu kan mungkin saja.. barangkali dia memang lagi jenuh berbuat baik?” kata A, istrinya, menimpali. “Barangkali karena selama ini ia merasa tidak ada gunanya berbuat baik,” tambahnya.

“Berbuat baik kok pakai jenuh segala. Aneh?” ujarku saat mendengar percakapan itu.

Itulah salah satu obrolan ringan pagi ini saat aku dan istriku berkunjung ke rumah ‘adik’ sekaligus sahabat untuk suatu keperluan. Obrolan yang masih saja terngiang-ngiang di pikiranku hingga saat ini.

Mengapa jenuh berbuat baik? Apakah memang karena merasa tidak berguna berbuat kebaikan? Barangkali kata ‘jenuh’ memang tidak tepat karena yang lebih pas adalah ‘tidak’. Tidak (mau) berbuat baik karena lingkungan di mana seseorang hidup dan bergaul memang menghendaki demikian. Berbuat baik dipandang sebagai sebuah kesia-siaan belaka dan masuk kategori ‘konyol’ karena mayoritas lebih memilih berbuat sebaliknya.

Lalu, bagaimana dengan mbak V? Mengapa ia yang selama ini dikenal orang sebagai perempuan berwajah cantik yang dewasa dalam sikap dan kepribadian bisa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan orang lain?

Pertama, tidak ada yang kekal di dunia ini. Semua akan mengalami perubahan. Satu hal yang harus selalu disadari; ketika aku berubah, aku akan berubah ke arah mana? Menjadi lebih baik atau lebih buruk? Keputusan ada di tangan kita. Dan kita juga yang akan menanggung segala akibat dari pilihan kita.

Kedua, dalamnya laut dapat diduga tapi dalamnya hati siapa tahu. Apa yang tampak di permukaan kadang bisa menipu. Jadi, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Wajah yang cantik atau ganteng, dandanan yang modis dan mengikuti tren, serta pakaian gemerlap berharga jutaan, bukan jaminan bahwa seseorang itu bisa dikatakan baik. Sebab yang lebih bernilai adalah apa yang dikatakan dan dilakukannya.

Terlepas dari itu semua, marilah kita tidak jemu-jemu berbuat kebaikan. Jangan kalah oleh kejahatan tetapi kita kalahkan kejahatan dengan kebaikan yang kita lakukan. Jangan berkata jenuh atau pun tidak. Karena, bila Tuhan juga sudah jenuh dan tidak lagi mau memberi kebaikan kepada kita, apa jadinya kita? Bukankah hidup menjadi tidak berguna lagi?

Senin, 04 Juli 2011

RencanaNya Sungguh Indah

Keyakinan ini terus saja menancap di sanubariku. Merekah di pikiran dan memampukan aku untuk mendaraskan syukur kepadaNya. Meski terasa pahit, menyedihkan, dan menguras air mata, tapi, inilah yang terbaik, yang sudah dirancangkanNya.

Tak terkecuali dengan peristiwa yang menimpa suami dari adik sahabatku. Hari Minggu lalu ia kembali ke pangkuan Tuhan setelah setahun menahan penderitaan akibat ginjalnya tak lagi berfungsi hingga harus melakukan cuci darah secara rutin. Hal yang terasa menyayat, ia pergi meninggalkan istri dan dua anak perempuannya yang cantik-cantik. Yang sulung baru masuk SMP sedangkan si bungsu kelas 1 SD.

Ingatanku pun melayang pada kejadian hampir 15 tahun yang lalu. Saat aku ikut ’ndekor’ rumah sahabatku untuk acara pernikahan adiknya. Dan beberapa tahun kemudian, aku juga ikut merasakan pengalaman saat menggendong ponakannya yang terlihat lucu dan menggemaskan. Ahh... kenangan ini akan terus terpatri di dalam benakku.

Tapi, rencana Tuhan berkata lain. Ia memanggil suami adik sahabatku pada saat anak-anaknya sedang bertumbuh. Ia memberi dukacita pada keluarga ini. Namun, dibalik segala penderitaan yang dialami, kasihNya sungguh tercurah. Ia memberi kesempatan pada keluarga ini untuk menata hati dan melepas dengan ikhlas ketika saatnya tiba. Memang ada air mata yang mengalir. Namun, kesedihan segera berganti dengan sukacita karena Tuhan sudah memberikan yang terbaik. RencanaNya sungguh indah.

Selamat jalan, Mas Heri
Tuhan sudah melepas segala penderitaanmu
Kini, saatnya engkau menikmati kebahagiaan bersamaNya

Minggu, 03 Juli 2011

Mulai (lagi)

Hari ini adalah hari ketiga aku memulai lagi kebiasaanku. Kebiasaan yang beberapa bulan ini aku tinggalkan. Aku ingin belajar lagi. Aku ingin menulis lagi. Menulis secara rutin. Setiap hari.

Tantangan yang paling berat bagiku adalah kemalasan. Malas untuk mencari ide. Malas menyisihkan waktu secara khusus untuk menulis. Dan ketika jari jemari mulai menari-nari di atas keyboard, saat kata-kata mulai teruntai, tiba-tiba timbul keraguan.. apakah aku bisa menyelesaikannya? Apakah aku punya kemauan untuk melanjutkan tulisan itu ketika berbagai kesibukan yang lain ganti menyerangku?

Ahh, lagi-lagi semuanya kembali kepada niat. Motivasi yang menjadi latar belakang aku melakukan kebiasaan ini. Sungguh, hal itu masih tertanam erat di dalam hati dan mengendap di pikiranku. Namun, sekedar tertanam dan mengendap tanpa adanya kesungguhan dalam berusaha dan keberanian untuk mengatasi segala tantangan yang muncul, tidak ada gunanya. Dan itu sudah terbukti selama ini.

Apakah aku akan terus dikalahkan kemalasan? Apakah aku harus tunduk pada ketidakdisiplinanku? Tidak! Aku harus berusaha lagi. Aku harus kalahkan segala rintangan, apa pun itu! Aku bisa! Aku pasti bisa! Dan di atas segalanya, aku ingin memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Aku percaya, rencanaNya adalah yang terbaik untuk hidupku.

Sabtu, 02 Juli 2011

Ia Mengasihiku

Peristiwa ini aku alami kemarin. Sebuah kejadian biasa, sederhana, tetapi menjadi bukti bahwa Ia mengasihiku. Ia selalu menjaga keselamatanku.

Pagi itu seperti biasanya, setelah mengantarkan istriku ke tempat kerjanya, aku menuju ke kantor tempatku bekerja. Jalanan yang mulai ramai dan bising, aku susuri memakai kendaraan roda dua dengan kecepatan sedang. Ketika hendak sampai di kantor, aku merasakan ada yang tidak beres dengan sepeda motorku. Dan, sesaat setelah tiba di kantor, aku menyempatkan diri untuk memeriksanya. Ternyata, ban belakang sepeda motorku bocor lagi. Aku harus buru-buru membawanya ke tukang tembal ban sebelum istirahat siang, begitu pikirku.

Karena berbagai kesibukan, aku baru sempat merealisasikan niatku itu bersamaan dengan waktu istirahat siang. Syukurlah, tempat tukang tambal ban, tidak begitu jauh dari kantorku sehingga aku tidak berlama-lama menuntun sepeda motorku yang sedang ’sakit’.

Setelah dicek bapak tukang tambal ban, terbukti bahwa ban dalam sepeda motorku sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Selain karena banyak tambalannya, di beberapa bagian juga sudah kelihatan aus. ”Ini harus diganti dengan yang baru mas,” kata bapak tukang tambal ban itu. Aku hanya menggangguk karena merasa keputusan ini adalah yang terbaik.

Sembari menunggu bapak tukang tambal ban itu bekerja, ada sebuah kesadaran yang hinggap di benakku. Sebuah kesadaran yang menuntunku untuk mendaraskan syukur kepada Tuhan. Ternyata, lewat peristiwa kecil ini, Tuhan ingin menyapaku. Tangan kasihNya terulur menyelamatkan aku dari peristiwa lain yang mungkin saja terjadi dan berakibat fatal bagi diriku. Terlebih esok hari, bersama istriku, aku berencana pergi ke luar kota mengendarai sepeda motor untuk ’nyumbang’ ponakan yang akan dikhitan.

Tuhan,
aku bersyukur atas pemeliharaanmu hari ini
aku bersyukur karena Engkau senantiasa menyelamatkan aku
dan menjaga hidupku dari hal-hal yang buruk
aku sungguh bersyukur karena kasihMu selalu tercurah untukku

Tuhan,
jadikan aku lebih peka pada berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupku
jadikan aku lebih sabar dan semakin rendah hati
untuk mengetahui teguranMu, memahami kehendakMu,
dan menerima segala rencanaMu dengan penuh syukur

Jumat, 01 Juli 2011

10

Dalam deretan sepuluh angka pertama, 10 adalah angka yang paling besar. Pun bagi anak-anak yang masih duduk di bangku SD, SMP, maupun SMA, 10 adalah angka yang paling sempurna karena jika meraih angka tersebut, bisa dipastikan anak yang bersangkutan termasuk kategori ‘pintar’, yang mampu menyelesaikan soal ujian tanpa kesalahan sedikit pun.

Dan hari ini, 10 juga menjadi penanda hubungan kasih di antara kami. Aku dan istriku. Berbagai peristiwa kembali berkelebat di dalam benak. Saat kami saling mengucapkan janji sehidup semati, dalam untung dan malang, dalam susah dan senang, di depan altar suci, di hadapan Tuhan. Ketika kami dengan berurai air mata ‘sungkem’ pada orangtua yang telah membesarkan kami. Saat kami dengan senyum bahagia mendapatkan ucapan selamat dari sanak-saudara, handai taulan, sahabat, serta teman-teman. Dan ketika kami mulai mengarungi kehidupan baru sebagai suami istri dengan beragam persoalan dan peristiwa. Ahhh… semuanya berlalu begitu cepat…

Apa yang sudah kami dapatkan/terima dalam rentang waktu 10 tahun itu? Dipandang dari segi materi, kami masih biasa-biasa saja. Hanya keluarga yang sederhana. Saat ini pun, kami masih tinggal bersama dengan mertua (dari istri). Kami juga belum dikaruniai ‘momongan’. Namun di balik semua itu, kami sungguh merasakan kasih Tuhan senantiasa tercurah kepada kami. Ia memberi begitu banyak berkat dalam kehidupan kami.

Dengan belum adanya momongan, Tuhan memberi kami kesempatan untuk aktif berkegiatan di gereja. Menjadi pendamping bagi anak-anak dalam kegiatan Sekolah Minggu (PIA), mengelola majalah dan perpustakaan paroki dan ikut terlibat dalam mempersiapkan liturgi khususnya teks misa. Meski belum ada tangis bayi dalam rumah tangga kami, Tuhan juga telah memberikan orang-orang yang bisa kami cintai sepenuh hati. Keponakan-keponakan entah yang berasal dari kakak dan adik kami atau mereka yang dipertemukan dengan kami dalam kegiatan di gereja, adik-adik, dan banyak sahabat yang selalu menemani perjalanan kami. Sungguh, semua itu menjadi karunia yang terus kami syukuri.

Hari ini, tepat saat usia pernikahan kami yang ke-10, kami bersyukur karena Ia yang dahulu telah mempertemukan kami, selalu memelihara hubungan kami, menyuburkan kasih di antara kami sehingga dari hari ke hari, kasih itu semakin tumbuh dan berkembang menghasilkan buah-buah kebaikan. Dan kami selalu percaya, rencanaNya adalah yang terbaik dan terindah untuk kami.


nb: foto bersama 2 keponakan tersayang yang dipertemukan oleh Tuhan

Rabu, 15 Juni 2011

Ironis!

Sungguh ironis! Negeriku yang dulu gemah ripah loh jinawi, kini tak ubahnya bagaikan sarang penyamun. Para koruptor terus tertawa terbahak-bahak, lenggang kangkung seenaknya tanpa sedikitpun rasa bersalah. Sementara segala jenis mafia dan calo berkeliaran di segala tempat tanpa rasa malu. Kejujuran telah menjadi hiasan dinding yang semakin kusam dan berdebu. Juga cinta kasih kepada sesama serta semangat gotong royong hanyalah nilai-nilai usang yang sudah lama dibuang di tempat sampah.

Ketidakadilan ada di mana-mana. Kekerasan semakin merajalela di semua tingkat kehidupan masyarakat. Yang kaya bertambah kaya. Yang miskin semakin terjepit dan tak punya daya apa-apa. Mereka terus menjerit tetapi siapa yang mau mendengarkan? Para pemegang kekuasaan dan kebijakan itu malah sibuk saling sikut dan saling cakar untuk mempertahankan 'periuk' masing-masing.

Lalu, apa yang mesti kita lakukan? Pertama, terus berdoa. Memohon kepada Tuhan agar negeri ini dijauhkan dari segala angkara dan bagi orang-orang yang selama ini telah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain segera diberi kesadaran karena toh segala hal yang ada di dunia ini fana belaka. Semuanya tidak akan berarti ketika kita dipanggil olehNya.

Kedua, introspeksi diri. Meneliti segala hal yang sudah kita katakan dan lakukan selama ini. Apakah yang aku katakan sudah sesuai dengan yang aku lakukan? Apakah aku juga tidak melakukan korupsi dan segala tindakan yang merugikan orang lain? Apakah aku lebih mengutamakan cinta kasih daripada kekerasan? Apakah aku mau bekerjasama dengan orang lain? Apakah hatiku terketuk dan segera mengulurkan tangan ketika orang lain membutuhkan bantuan?

Semoga kita mampu memilih yang terbaik. Demi hidup kita dan sesama yang ada di sekitar kita. Demi kebaikan negeri ini.

Selasa, 14 Juni 2011

Gua Maria Kristus Raja


Barangkali kita tidak akan pernah menyangka, di lingkungan pemukiman yang cukup padat, di tengah kota Semarang yang terus menggeliat dengan aneka bangunan untuk kepentingan bisnis, terdapat sebuah tempat yang indah. Sebuah Gua Maria yang terus menebarkan pesona. Gua Maria Kristus Raja itulah namanya atau orang-orang lebih mengenalnya sebagai Gua Maria Tegalsari karena lokasi dimana gua ini berada ada di Jl. Tegalsari Timur Gg. VIII – IX, Semarang. Masuk dalam wilayah Paroki Atmodirono.

Menurut Yong, salah seorang umat yang punya kepedulian lebih, awalnya hanya ada kapel yang rusak berat. Atas ide Handoyo, Ketua Wilayah setempat, kapel itu kemudian direnovasi sekaligus membersihkan tempat pembuangan sampah yang ada di sebelahnya.

Suatu sore kira-kira pukul 5, Sarjono, sesepuh yang sering dipanggil kakek, sangat terkejut saat melihat penampakan seorang wanita yang sedang memetik bunga mawar. Ia mempercayai bahwa wanita itu adalah Bunda Maria. Sejak saat itu, renovasi kapel dihentikan untuk sementara dan fokus membangun Gua Maria di tempat penampakan itu.

Berkat kerja keras dan semangat ’urunan’ dari umat, Gua Maria akhirnya terwujud dan diberkati oleh Uskup Purwokerto, Mgr. Julianus Sunarka SJ, 7 Januari 2011. Di depan Gua Maria terdapat sebuah kolam berukuran kecil yang airnya sangat jernih. Banyak orang yang sudah mengalami mukjijat setelah berdoa di tempat ini dan mendapat sentuhan air kolam. Mereka disembuhkan dari penyakit stroke, kangker, kista, dan masih banyak lagi. Ada juga yang berhasil memperoleh momongan setelah bertahun-tahun menunggu.

”Jangan mendewa-dewakan air ini karena hal itu salah. Air ini hanya sebagai sarana. Semua bisa terjadi karena iman kita. Dan iman tidak hanya dimiliki oleh orang Katolik saja tetapi orang Islam dan Kristen juga memilikinya. Oleh karena itu, tempat ini terbuka untuk siapa saja, apa pun agamanya. Tidak harus berdoa cara Katolik tetapi sesuai dengan keyakinan masing-masing,” jelas Yong.

Setiap hari jumlah peziarah yang mengunjungi tempat yang dibuka 24 jam ini mencapai ratusan orang sedangkan pada bulan Mei dan Oktober bisa mencapai ribuan orang. Ada pun untuk kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah misa tiap Kamis ke-4 dan malam Jumat Kliwon pukul 19.00. Awalnya diadakan di pelataran gua tetapi mengingat cuaca yang sering berubah-ubah, saat ini misa diselenggarakan di dalam kapel.

Demi kenyamanan para peziarah, saat ini sedang dibangun gazebo yang nantinya dapat digunakan sebagai tempat beristirahat. Di samping kapel juga akan dibangun sebuah taman lagi yang nantinya bisa digunakan sebagai tempat bersantai sembari mengobrol.

”Semoga ke depan, kami juga bisa memperlebar akses jalan masuk dan keluar sehingga bisa dilewati 2 mobil agar semakin banyak umat yang mendapat kemudahan saat berkunjung ke tempat ini,” tambah Yong yang bertempat tinggal di Jl. Kawi III/3 Semarang ini, mantap.

Minggu, 01 Mei 2011

Semarang Carnival Night

Malam Minggu (30/04) yang cerah. Ratusan orang tampak menyemut di Jl. Pemuda, Semarang. Tua, muda, bahkan juga anak-anak. Mereka berjajar di sisi kiri dan kanan jalan dan meninggalkan jalur kosong di tengahnya. Banyak di antara mereka yang menenteng kamera. Rupanya, mereka tengah menanti Semarang Carnival Night yang beberapa saat lagi akan dilaksanakan. Banyak yang sudah tidak sabar. Pengen segera melihat gebyar acara yang baru pertama kali diadakan di kota Semarang ini.

Dan, setelah berbagai acara protokoler, Semarang Carnival Night pun dibuka secara resmi oleh H. Soemarmo, HS, selaku Walikota Semarang. Mulailah arak-arakan yang sungguh menyedot perhatian penonton. Diawali dengan Marching Band dan diikuti siswa-siswi dari SMP-SMA se-kota Semarang. Mereka mengenakan berbagai busana yang cenderung ’aneh’. Penuh warna dan terkesan futuristik. Sepanjang perjalanan (yang dimulai dari depan balai kota, Jl. Pemuda, Jl. Pandanaran hingga Lapangan Simpang Lima), mereka tak henti-hentinya menyunggingkan senyum ke arah penonton.














Kamis, 14 April 2011

Kok, Kena Lagi?

Ah, kalimat itu spontan keluar dari mulutku. Ya, benar... malam ini aku baru tau kalau fbku kena hack lagi. Entah bagaimana caranya... tiba-tiba aja... nama dan fotoku sudah berganti... parahnya, aku tidak bisa masuk menggunakan paswordku. Padahal selama ini aku selalu online menggunakan laptop pribadiku. Aneh bukan?

Gara-gara itu... aku jadi pusing bin bingung. Pusing karena banyak foto-foto kegiatan di sana plus sebagian tulisan yang aku copy paste dari blogku. Bingung sebab aku belum berhasil mengatasinya. Ada beberapa teman yang langsung turun tangan membantu tapi sia-sia saja. Fbku tetap enggak bisa dibuka dengan identitasku.

Akhirnya, aku hanya bisa berpikir positif. Moga-moga saja semua yang ada di fbku enggak disalahgunakan. Moga-moga saja, siapa pun dia tetap menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman mayaku.

Selasa, 12 April 2011

Terima Kasih Tuhan

Sahabat,
saat napas masih terus bergelora dalam raga kita
katakan: “TERIMA KASIH TUHAN”
sebab DIA yang telah memberi kehidupan,
DIA yang begitu mengasihi kita
walau kita sering meninggalkanNya

milikilah pikiran yang selalu terbuka,
milikilah hati yang tidak pernah membenci,
milikilah senyuman yang tidak pernah memudar,
milikilah kata yang tidak pernah menyakiti,
milikilah perbuatan yang senantiasa memberi berkat

hidup hanyalah sekali
maka, jadikan itu sungguh berarti
bagi Dia dan sesama
TERIMA KASIH TUHAN

Senin, 04 April 2011

Kesalahan

Engkaukah itu… yang membuat hatiku resah?
tercabik karena telah menyakiti
terluka saat membuat orang lain bersedih
sungguh... aku tak ingin tapi tak kuasa
apalagi saat goda dan kesempatan berpagut mesra

Andai waktu bisa diputar
andai saat itu bisa kembali
aku ingin hentikan kesalahan

Namun... ahh... yang sudah terjadi biarlah terjadi
kini, saatnya mengucap maaf
tulus tanpa kepura-puraan,
memberi pengampunan pada diri sendiri,
memperbaiki setiap kesalahan,
dan menerima dengan ikhlas apa pun yang akan terjadi

Minggu, 27 Maret 2011

Selamat Ulang Tahun





Adek,
telah satu tahun lebih aku akrab denganmu
kadang, aku heran, darimana rasa sayang ini muncul
rasa yang makin hari makin memerangkapku
rasa yang terus tumbuh dan menggurita dalam jiwaku
aku bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kita
walau kita bukan saudara karena pertalian darah
tapi apalah artinya itu saat ini

Dan, ketika mentari pagi ini menyembul indah
rona wajahmu nampak begitu ceria
senyum manismu menghangatkan jiwaku

Selamat Ulang Tahun, Adek
panjang umurmu dan makin rajin belajarmu,
makin besar sayangmu untuk papa tercinta,
untuk adek-adek dan mbak yang selama ini menjagamu,
untuk akung, emak, dan saudaramu yang lain,
makin dekat engkau dengan Tuhan,
makin cantik dan tambah dewasa,
dan moga berkatNya
senantiasa melimpah untukmu

Adek,
Selamat Ulang Tahun

pf: 27 Maret 1998 – 27 Maret 2011

Sabtu, 26 Maret 2011

Sebuah Awal


Ya, mungkin hanya itu yang bisa aku katakan. Awal yang baik. Baik dan sungguh indah karena akhirnya pertemuan ini sungguh terjadi hari kamis kemarin (24/03). Pertemuan untuk para pendamping PIA (Pendampingan Iman Anak) yang tidak dilaksanakan di gereja tetapi beralih di rumah para pendamping secara bergilir. Tujuannya selain untuk mengenal keluarga dan tempat tinggal masing-masing juga menjadi sarana untuk lebih saling mengakrabkan diri. Semakin teguh di dalam iman dan bersatu di dalam pelayanan.

Satu komitmen kami, pertemuan ini akan diadakan sebulan sekali dan diharapkan (harus) untuk yang ketempatan tidak meng’ada-adakan’ soal konsumsi. Cukup air minum saja. Untuk acara dibuat fleksibel. Bisa sharing, doa bersama, permainan, dan masih banyak lagi. Intinya agar masing-masing pribadi semakin dikuatkan dan semakin menyayangi satu sama lain sebagai saudara.

Semoga, ini sungguh menjadi awal dan selanjutnya mengalir sesuai kehendak Tuhan. Harapannya, ketika kami tidak lagi mendampingi karena sudah digantikan oleh para penerus kami, kegiatan ini tetap berlangsung, dan akan menjadi kenangan yang paling bermakna dalam kehidupan kami. Tuhan memberkati.

Jumat, 25 Maret 2011

Samsudin

Malam bertambah larut. Bunyi mesin kendaraan semakin berkurang dari jalanan. Hanya tersisa satu dua yang masih setia mendekap kegelapan. Sepi memagut. Angin berhembus perlahan. Membawa dingin yang membekukan tulang. Di sebuah emperan toko, Samsudin merapatkan sarung yang membungkus tubuhnya. Ia berusaha menutup mata. Namun entah mengapa, mata tuanya enggan terpejam. Sejenak dipandangnya Lastri, istrinya, yang tertidur tak jauh darinya. Di pelukan Lastri, Ningrum, putri semata wayangnya yang baru berumur 4 tahun juga nampak terlelap.

Samsudin bergerak perlahan mendekati istri dan anaknya. Beberapa detik kemudian, kecupan bibirnya sudah mendarat di dahi mereka. Tiba-tiba, butiran air bening menetes di kedua sudut matanya. ”Maafkan aku Lastri, selama ini aku belum bisa membahagiakanmu. Aku hanya membuat hidupmu sengsara,” gumannya sambil tak henti memandangi wajah istrinya.

Dan, peristiwa beberapa hari lalu, kembali menari-nari di hadapannya. Waktu itu, seperti biasanya, Samsudin sedang membantu istrinya berjualan di warung sederhana milik mereka. Saat sedang melayani pembeli, tiba-tiba terjadi keributan. Belasan orang berseragam coklat tanpa ba bi bu, berusaha merobohkan warung yang sekaligus menjadi tempat tinggal mereka.

Samsudin tercekat. Ia berusaha melawan. Istri dan anaknya pun menjerit-jerit. Namun apa daya, semuanya sia-sia. Segera saja tempat tinggal mereka roboh dan hanya menyisakan puing.

Samsudin hanya bisa termangu memandangi puing-puing di hadapannya. Apa yang ditakutkannya selama ini terjadi juga. Penggusuran yang seolah-olah menjadi hantu menakutkan, kini menimpa keluarganya. Ah, apakah memang harus begini nasib orang kecil yang tidak memiliki apa-apa?

”Jangan-jangan... jangan-jangan,” igauan Ningrum membuyarkan lamunannya.

”Sssst... sssst... sudah, Nak... sudah.” Samsudin berusaha menenangkan Ningrum. Dan tak berapa lama, putri semata wayangnya kembali terlelap.

Dan malam pun semakin larut. Jalanan kini benar-benar telah lengang. Yang tersisa hanyalah suara gelak tawa dari orang-orang yang sedang bercengkerama di sebuah rumah makan siap saji, beberapa meter dari toko itu.

Kamis, 24 Maret 2011

Mbak Ramah

Sungguh, aku terkesan dengan mbak yang ada di toko komputer itu. Aku belum tahu namanya tapi agar lebih mudah mengingatnya, aku akan menyebutnya mbak Ramah. Ya, karena ia memang benar-benar ramah. Dua kali aku ke sana, dua kali pula aku dilayani oleh orang yang sama.

“Ada yang bisa saya bantu pak?” demikian sapanya kepadaku. Dan aku pun segera menjelaskan keperluanku panjang lebar.

Pada kunjungan pertama, aku mencari sebuah alat perekam yang akan aku pergunakan untuk keperluan wawancara. Mbak Ramah dengan sigap menunjukkan beberapa pilihan kepadaku. Satu MP3 dan satunya lagi MP 4.

“Bisa dicoba mbak?” tanyaku segera.

“Bisa pak,” jawabnya. Lalu dengan cekatan ia mengutak-utik alat yang tadi ditunjukkannya. Pun dengan sabar, ia menjawab segala pertanyaanku.

Beberapa menit berlalu. Ternyata, alat-alat yang ditunjukkannya tidak ada yang memuaskan keinginanku. “Ehm… kayaknya tidak jadi mbak… alatnya nggak bisa dipake ngrekam jarak jauh dan waktunya ngrekamnya juga pendek,” ujarku kemudian.

“Tidak apa-apa pak,” sahutnya dengan senyum mengembang. Dan ia pun segera membereskan semuanya dan mengembalikan alat-alat itu ke tempat semula.

Saat berkunjung untuk kedua kalinya, aku sedang mencari charger baru untuk mengganti charger laptopku yang rusak. Mbak Ramah kembali melayaniku dengan ramah dan sabar. Ia mengambilkan barang yang kuminta dan mencobakannya pada laptopku. “Ada lagi pak?” tanyanya setelah charger baruku beres. Aku hanya menggeleng. Dan setelah membayar chargernya, aku segera meninggalkan toko komputer itu dengan hati yang diliputi kegembiraan.

Keramahan, kesabaran, dan senyum yang menghiasi wajah mbak Ramah sejenak membuatku termenung. Alangkah bahagianya bila kita dilayani dengan baik. Alangkah senangnya jika perkataan kita didengarkan dan lalu diberi tanggapan sebagaimana mestinya.

Sebaliknya, saat kita mendapatkan pelayanan yang kurang/tidak baik dan perkataan kita tidak mendapatkan respon atau hanya dianggap angin lalu, dengan serta merta kita akan marah. Dan sangat mungkin, kata-kata ‘ajaib’ akan segera berhamburan dari mulut kita.

Nah, agar hal tersebut tidak terjadi, marilah kita saling melayani dengan baik. Penuh keramahan, kesabaran, dan senyum yang tulus. Yang keluar dari hati. Tanpa kepura-puraan untuk tujuan tertentu. Semoga.

Rabu, 23 Maret 2011

Mati Untuk Berbuah

Cabi sedang gundah. Berkali-kali ia berusaha memejamkan mata tetapi belum juga berhasil. Terngiang kembali ucapan pak petani yang didengarnya beberapa saat lalu. “Ayo, Le… kita segera tidur malam ini. Besok kita harus bangun pagi-pagi untuk menyemai benih cabe yang masih kita simpan.” Menyemai? Ah… tiba-tiba bayangan kematian hadir di hadapan Cabi. “Bukankah itu berarti memasukkan tubuhku ke dalam tanah… lalu… lalu…. Tidak, aku tidak mau mati. Aku tidak mau seperti Loli, Luna, dan banyak sahabatku yang lain. Mereka dulu juga disemai oleh pak petani itu. Bagaimana nasib mereka sekarang? Mengapa tidak ada kabarnya? Bukankah itu berarti bahwa mereka sudah mati? Tidak.. pokoknya aku tidak ingin bernasib sama seperti mereka!” jeritnya dalam hati.

Morbi yang tidur tidak jauh dari Cabi terbangun. Dipandangnya sahabatnya itu beberapa saat. Dan, ia pun segera beringsut mendekati Cabi. “Ada apa Cabi?” tanyanya.

“Oh… Morbi, maaf, aku membuatmu terbangun,” tukas Cabi saat melihat Morbi yang sudah berada di hadapannya. “Pak petani akan menyemai kita besok. Dan itu membuatku takut…,” lanjutnya.

“Mengapa takut? Bukankah itu memang tugas mereka?” jawab Morbi dengan mimik keheranan.

“Aku takut… aku takut... kalo akhirnya aku harus ma... mati…,” jawab Cabi terbata-bata.

Morbi tersenyum. Dipegangnya tangan sahabatnya erat-erat. Bergegas ia melangkahkan kaki, menembus kegelapan malam. Dan tak berapa lama, mereka sudah sampai di ladang kepunyaan pak petani.

“Lihatlah ladang itu,” kata Morbi kepada sahabatnya.

Meski masih bingung, Cabi menuruti apa yang dikatakan Morbi. Dipandangnya ladang yang terhampar di hadapannya. Di sana, berjejer dengan rapi, tanaman cabe yang tumbuh dengan subur. Beberapa di antaranya nampak sedang mengeluarkan bunga. Indah sekali.

”Indah bukan?” tanya Morbi sambil melirik sahabatnya.

Cabi mengangguk perlahan. ”Ya... indah sekali. Tapi terus terang aku belum mengerti apa maksudmu membawaku ke sini,” balasnya.

”Di ladang itu ditanam teman-teman dan sahabat kita. Mereka telah berubah menjadi tanaman cabe yang tumbuh dengan subur. Sebentar lagi mereka akan berbunga dan setelah itu, buah-buah cabe yang segar, akan bermunculan di dahan-dahan mereka,” jelas Morbi.

”Benarkah?” tanya Cabi seolah tak percaya.

”Lihatlah ladang yang di sebelah sana itu,” ujar Morbi sambil tangannya menunjuk ke ladang lain yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Mata Cabi hanya bisa membelalak. Ia tertegun. Dilihatnya buah-buah cabe yang bergelantungan di dahan. Hijau dan ranum. Beberapa bahkan sudah memerah. Sedap dipandang.

”Hanya benih yang mati yang akan berubah seperti itu. Tumbuh menjadi tanaman. Berbunga, lalu berbuah. Dan buahnya pasti akan menjadi berkat,” terang Morbi. ”Jika kau masih tetap tidak mau mati, kau tidak akan menjadi apa-apa. Hanya membusuk dan akan dibuang karena sudah tidak berguna lagi.”

Sama seperti benih cabe yang mati. Kita hendaknya juga mematikan segala hal yang buruk, yang jahat dalam hati dan pikiran kita agar kita dapat bertumbuh dengan subur, berbunga lebat, dan akhirnya akan menghasilkan buah-buah kebaikan bagi sesama. Maukah kita seperti itu?

Senin, 21 Maret 2011

Si Kaki Ceria


Itulah julukan Mumble. Seekor pinguin yang tidak bisa menyanyi. Suaranya bahkan terdengar jelek sekali. Melengking tinggi. Sehingga saat ia memperdengarkannya justru akan merusak suasana di sekitarnya. Yang bisa dilakukannya hanyalah menari. Menggerak-gerakkan kedua kaki kecilnya di atas salju yang dingin.

Awalnya ia sedih. Ia merasa terasing dari kelompoknya. Mengapa ia dilahirkan berbeda? Namun perlahan, ia bisa menerima diri apa adanya. Ia kembali bersemangat menjalani hidupnya. Ceria dan tetap bergaul dengan pinguin-pinguin yang lain.

Sayangnya, tetua pinguin sudah kadung mengganggap Mumble sebagai biang masalah. Ia dituduh menyebarkan kelakuan yang tidak pantas. Ia dianggap sebagai sumber bencana yang menyebabkan ikan-ikan berkurang sehingga bangsa pinguin mengalami kelaparan.

Namun, Mumble tidak sependapat. Penyebab bencana bukanlah dirinya tetapi akibat hadirnya makhluk lain. Untuk membuktikan hal itu, Mumble rela diusir dari komunitasnya. Dan dengan bantuan dari para sahabatnya serta melalui perjuangan yang tidak kenal menyerah, Mumble berhasil menggugah kesadaran makhluk lain itu untuk lebih memperhatikan nasib bangsa pinguin.

Itulah ringkasan cerita dari film Happy Feet. Film animasi produksi tahun 2006 yang disutradari oleh George Miller ini memang sangat menarik. Kita serasa dibawa ke dalam kehidupan bangsa pinguin dengan segala kegembiraan dan kegelisahannya.

Dari film ini ada beberapa hal yang bisa kita petik sebagai hikmah. Pertama, tidak ada hal yang salah jika kita berbeda dari yang lain. Toh, apa yang kita miliki adalah karunia Tuhan yang sungguh indah yang harus selalu kita syukuri. Oleh karena itu, janganlah merasa tidak berguna karena perbedaan itu tetapi gunakanlah perbedaan itu untuk kebaikan. Baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Kedua, jangan serakah. Keserakahan hanya akan merugikan orang lain. Keserakahan hanya akan merusak tatanan yang sudah diatur oleh Tuhan. Dan itu berarti: kita sudah mengingkari kehendakNya.

Minggu, 20 Maret 2011

Membangun Komitmen


“Kukuruyuk… kukuruyuk… kukuruyuk… “ Dering alarm hp memecah kesunyian pagi. Aku segera terbangun. Kumatikan bunyi alarm itu. Ah… sudah jam 3 pagi. Aku beringsut dari kamar tidurku. Setelah cuci muka dan berdoa untuk bersyukur atas pemeliharaanNya semalam, bersyukur atas udara segar dan karunia kehidupan yang telah kembali dianugerahkanNya, aku mulai menyalakan laptop dan segera sesudah itu, jari-jemariku menari di atas keyboard.

Membangun komitmen. Ya, itulah yang akan aku lakukan mulai hari ini. Komitmen untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Mengapa harus pagi-pagi sekali? Ah... (mungkin) karena saat itulah yang kurasa cocok bagiku. Selain belum ada aktivitas lain yang aku lakukan, aku berharap kesegaran udara pagi juga akan membantu pikiranku untuk lebih fokus. Menolong jari-jemariku untuk terus bergerak. Menuliskan kata demi kata.

Barangkali ada yang bertanya, bukankah selama ini aku sudah sering menulis? Mengapa aku harus membangun komitmen itu? Jawabannya: karena aku belum bisa konsisten. Hari ini aku memang menulis tapi hari-hari selanjutnya aku blank dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lalu, mengapa baru hari ini aku membangun komitmen itu? Jujur, sebenarnya hal ini sudah ingin aku lakukan sejak lama namun belum pernah berhasil. Aku tidak bersungguh-sungguh sehingga selalu kalah oleh berbagai godaan.

Kali ini Aku pasti bisa!” seruku dalam hati. Aku harus terus berjuang untuk mengalahkan segala rintangan yang akan muncul. Berat memang tapi itu harus aku lakukan. Demi hasratku untuk menjadi penulis yang berhasil.

Gambar dari ahsinmuslim.wordpress.com

Jumat, 18 Maret 2011

Perasaan

”Mengapa Tuhan mengaruniakan perasaan kepada manusia?” Pertanyaan itu muncul begitu saja malam ini. Sebuah pertanyaan yang kemudian memicu timbulnya pertanyaan-pertanyaan yang lain. ”Apa maksudNya? Mengapa manusia justru menggunakan perasaan yang sudah dikaruniakan Tuhan untuk hal-hal yang tidak baik? Membenci sesamanya, menumbuhsuburkan dendam, tidak mau mengampuni dan memberi maaf?”

Seorang teman, sebut saja Dina, sekian lama berkawan akrab dengan Rani. Selain karena mereka berkegiatan di tempat dan lingkungan yang sama, rumah mereka juga saling berdekatan. Karena suatu kesalahpahaman, hubungan mereka menjadi retak. Memang mereka masih bertegur sapa ketika bertemu. Tapi rupanya hal itu hanya sebuah kepura-puraan. Di belakang mereka saling membenci. Saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab keretakan hubungan mereka. Mereka tidak pernah mau ’duduk bersama’ untuk mengurai benang kusut yang hadir dalam hubungan mereka. Mereka tidak mau saling memaafkan. Mereka saling menyimpan dendam.

Kebencian dan dendam yang terus dipelihara pada akhirnya hanya akan menimbulkan hal-hal yang semakin buruk. Caci maki, pertengkaran fisik, hingga semangat untuk saling meniadakan/membunuh.

Lalu, apakah ini benar yang dikehendaki Tuhan saat Ia memutuskan untuk memberi perasaan pada manusia?

Tentu tidak sama sekali. Justru Ia mempunyai tujuan yang amat mulia yaitu agar manusia dapat merasakan kehidupan yang sudah dikaruniakanNya dan terus bersyukur atas anugerah itu. Dengan perasaannya, manusia juga dimampukan untuk menyadari kehadiran orang lain. Sadar untuk kemudian saling memperhatikan, saling tolong-menolong, dan saling mengasihi.

Nah, marilah kita kembali memurnikan perasaan kita masing-masing. Menghapus segala kebencian, dendam, dan segala perasaan buruk yang meracuni kita. Marilah kita kembali menyemaikan kasih. Menyuburkan cinta. Dilandasi ketulusan dan keikhlasan.

Selasa, 15 Maret 2011

Ronny Si Pemungut

Ronny Waluya Jati. Itu nama yang tertera di Kartu Mahasiswanya. Ia berasal dari Pekanbaru dan saat ini sedang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang. Tubuhnya tinggi namun kurus. Berambut keriting dengan wajah yang tergolong tampan. Setiap hari ia ditemani sepeda motor bututnya yang setia mengantar kemana pun ia pergi.

Sejak 6 bulan yang lalu, Ronny mendapat julukan baru yaitu si pemungut. Ronny si pemungut. Julukan itu muncul karena di mana pun ia berada, ia tak segan-segan memunguti sampah yang berceceran di sembarang tempat untuk kemudian dibuangnya di tempat yang seharusnya. Awalnya, banyak orang yang merasa heran. Beberapa bahkan ada yang mencibir. ”Ah, sok pahlawan. Kurang kerjaan,” begitu komentar mereka. Namun, Ronny tidak pernah terpengaruh dengan suara-suara itu. Baginya, selama yang dilakukannya tidak mengganggu orang lain, itu sudah lebih dari cukup.

Apa yang menyebabkan Ronny melakukan hal itu? Semua berawal karena peristiwa di hari Minggu, 6 bulan yang lalu. Waktu itu, ibu kosnya minta tolong untuk diantar membeli bahan kue di toko Z yang berada di pasar S. Ketika sedang menunggu, ia menyempatkan diri melihat keadaan sekitar. Betapa terkejutnya ia saat melihat kali yang berada di tengah pasar itu. Memprihatinkan sekali. Air kali tampak kecoklatan, kotor, dan penuh dengan aneka sampah yang mengambang di atasnya. Ketinggiannya hampir menyentuh bibir kali yang berbatasan langsung dengan jalan. Ah... bagaimana jika hujan deras turun? Pasti air kali itu akan meluap ke jalan dan masuk ke tengah pasar.

Mengapa tidak ada orang yang peduli? Mengapa mereka justru terus memanfaatkan kali itu sebagai tempat sampah? Ah... pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menggelayut di benak Ronny ketika sampai di rumah. Pertanyaan yang akhirnya membuka kesadarannya. Bukankan selama ini ia juga melakukan hal serupa? Buang sampah sembarangan dan kurang peduli dengan lingkungan?

”Aku harus merubah sikapku!” tegas Ronny mantap. Dan sejak itu, ia mulai peduli dengan sampah. Ia juga rajin melihat keadaan lingkungan di mana ia berada. Kalau ada sampah yang tidak pada tempatnya, ia akan segera bertindak, memungut sampah itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Bagaimana dengan Anda?

Senin, 14 Maret 2011

Litani Syukurku

Aku bersyukur telah dianugerahi kehidupan olehNya, yang memungkinkan aku berada di dunia ini lewat rahim seorang ibu yang amat mengasihiku. Ia telah mengandungku sembilan bulan lebih dan dengan seluruh jiwa raganya berjuang agar aku bisa melihat dunia.

Aku bersyukur dilahirkan ke dunia dengan kondisi yang sehat dan tubuh yang sempurna. Mata yang melihat. Telinga yang mendengar. Hidung yang mampu membaui dan menghirup kesegaran udara. Mulut yang berbicara. Tangan dan kaki yang bebas bergerak. Pikiran dan hati yang terus bertumbuh. Dan jiwa yang selalu dilindungiNya.

Aku bersyukur mempunyai ayah dan ibu yang penuh cinta. Mereka dari hari ke hari terus merawatku, menjagaku, memikirkanku, dan mengharapkan yang terbaik untukku. Kadang memang ayahku bertindak keras bahkan tidak segan-segan memukulku. Aku yakin, ini bukanlah kebencian tetapi semata-mata ungkapan cinta agar aku bisa belajar dari kesalahan dan menjadi anak yang bersikap lebih baik dan menurut pada orangtua.

Aku bersyukur hidup dalam keluarga yang sederhana. Walau pekerjaan ayahku di tempat yang basah, tapi ia tidak pernah tergoda melakukan hal-hal yang di luar kewajaran. Hal-hal yang akan merugikan orang lain. Kadang aku protes dalam hati, mengapa aku tidak punya ini dan itu? Mengapa kehidupan kami biasa saja? Ah... ternyata, ayahku justru mewariskan harta yang jauh lebih berharga yaitu kejujuran.

Aku bersyukur dikaruniai kakak dan adik. Kakak yang mengasihiku dan adik yang aku kasihi. Bersama-sama, kami tumbuh dalam kehangatan cinta.

Aku bersyukur atas pendidikan yang aku terima selama ini. Lewat bangku sekolah maupun lewat perjumpaan dengan sesama di dalam kehidupanku. Pendidikan yang membuat aku semakin sempurna sebagai manusia. Manusia yang mampu membedakan kebaikan dan kejahatan. Mampu merasakan, memberikan pertolongan, dan menghibur, ketika orang lain dalam kesusahan. Pun ikut tertawa gembira ketika mereka mendapat kebahagiaan.

Aku bersyukur mendapatkan pasangan hidup yang pengertian. Ia sungguh mengasihiku dan aku pun juga teramat mengasihinya. Sejak semula aku mengenalnya, aku sudah berharap bahwa dialah wanita pertama dan terakhir untukku. Wanita yang akan menemani hari-hariku. Hidup bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan.

Aku bersyukur meski hampir sepuluh tahun berkeluarga belum dikaruniai momongan, kami tidak pernah menjadikannya sebagai masalah yang serius, yang akan mengganggu keharmonisan hubungan kami. Justru ini menjadi kesempatan bagi kami untuk terus memberikan pelayanan kepada orang lain di dalam kegiatan menggereja.

Aku bersyukur mempunyai keponakan, ’adek-adek’, dan banyak sahabat di sekitarku. Kehadiran mereka sungguh membuat hidupku menjadi lebih berarti.

Aku bersyukur diberi kemampuan menulis. Lewat talenta ini aku bisa mengeluarkan unek-unek, sekedar sharing, atau menuliskan cerita untuk orang lain. Memang, aku baru belajar, baru memulai. Kadang aku merasa jenuh. Sering pula aku dibekap kemalasan sehingga jari-jemariku terasa kaku dan sulit digerakkan di atas keyboard. Tapi syukurlah, Ia senantiasa membangunkanku, memampukanku untuk berusaha kembali.

Aku bersyukur atas kesehatan yang aku terima hingga hari ini. Karenanya, aku mampu melakukan banyak aktivitas.

Aku bersyukur dan terus bersyukur karena Ia begitu mencintai aku. Walau aku sering jatuh di dalam dosa, ia tidak pernah lelah memanggilku kembali. Tangannya yang penuh kasih selalu merengkuhku dan mendekapku di dalam belantara cintaNya yang tiada batas.

NB: Kata `litani' berasal dari bahasa Latin `litania', `letania'. Artinya suatu bentuk doa tanggapan yang meliputi serangkaian seruan atau permohonan, mengenai suatu subyek utama atau suatu tema suci utama. (http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id427.htm)

Sabtu, 12 Maret 2011

Hikmah Di Balik Bencana

Miris. Itulah yang terasa saat melihat rekaman video tsunami di Jepang. Tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 8,9 pada skala Richter ini begitu menakutkan. Dengan tanpa basa-basi, ia melabrak semua yang ada di hadapannya. Entah pepohonan, bangunan, mobil, hingga nyawa manusia. Dalam hitungan detik, semua menjadi tidak berguna lagi.

Meski Jepang terkenal sebagai negara maju dengan kemampuan teknologi yang mumpuni, mereka tetap tidak berkutik saat bencana itu datang. Yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisir jatuhnya korban jiwa dengan memberikan peringatan jauh hari sebelumnya.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Lagi-lagi, kita diingatkan untuk tidak jumawa. Untuk tidak menjadi sombong dengan apa yang sudah kita miliki. Karena kita hanyalah sebutir debu di hadapanNya. Jika Ia berkenan, apa yang ada di genggaman kita dapat lenyap dalam sekejap. Oleh karena itu, kita harus selalu tunduk dan memuliakan namaNya lebih dari apa pun juga.

Kita juga kembali disadarkan untuk lebih peduli dengan alam. Dengan bumi yang kita tinggali ini. Janganlah kita terus-menerus melakukan hal-hal yang membuat bumi ini menangis. Kekayaan alam yang dikeruk tanpa henti, penggundulan hutan tanpa diikuti penanaman kembali, penggunaan bahan-bahan kimia yang berlebihan, membuang sampah sembarangan, dan masih banyak lagi.

Hadirnya bencana juga mengajarkan kepada kita untuk memiliki empati kepada sesama. Tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi mau memberikan pertolongan ketika ada orang lain yang mengalami kesusahan.

Jumat, 11 Maret 2011

Mengapa Tidak Bersyukur?

“Huh… bener-bener menjengkelkan… bisa-bisanya dari tadi pagi sampe siang ini sial terus?” gerutu Bayu sambil membolak-balikkan badannya di kasurnya yang mulai tampak lusuh. Sudah sedari tadi ia berusaha memejamkan mata tapi belum juga berhasil. Rupanya, kipas angin yang tidak berfungsi gara-gara listrik mati, membuatnya kegerahan.

Tiba-tiba, terbayang kembali berbagai kesialannya hari ini.

Pagi ini ia telat bangun. Gara-garanya karena semalam ia ikutan ’ngobrol ngalor ngidul’ sambil maen gaple dengan teman-teman kampungnya di pos ronda. Padahal ada kuliah pagi yang harus diikutinya. Pas buru-buru mau mandi, Bayu kaget bukan kepalang... air di bak mandi rumahnya tinggal dikit banget. Sialnya, sanyo di rumahnya juga lagi rusak dan baru siang ini akan diperbaiki oleh Pak Mamat, tetangga sebelah rumahnya. Alhasil, ia hanya cuci muka dan gosok gigi.

Sesudah ganti baju plus menyemprotkan parfum andalannya ke seluruh tubuh, Bayu bergegas ke meja makan. Tapi, wajahnya yang mulai sumringah kembali cemberut. Lagi-lagi, si bibi menghidangkan sayur lodeh yang tidak disukainya. ”Aduh, bi... kok sayur ini lagi sih... aku kan udah bilang kalo enggak suka!” protesnya. Akhirnya, dengan hanya berbekal seiris roti, ia berangkat ke kampus.

Di kampus, Bayu kuliah seperti biasanya. Namun ia jengkel dengan Pak Bram. Dosen ekonomi yang tidak disukainya ini tiba-tiba saja mengadakan tes dadakan. Tentu saja ia kelabakan karena selama ini, ia memang tidak pernah belajar.

Dan saat pulang dari kampus, kesialan kembali menimpanya. Ban sepeda motornya bocor karena terkena paku. Terpaksa, ia harus menuntun sepeda motornya puluhan meter untuk mencari tambal ban.

”Krinnngggggg...,” Bunyi telepon yang lumayan keras membuyarkan lamunan Bayu. Dengan berjingkat, ia segera mengangkat gagang telepon. ”Halo, dengan Bayu di sini,” sambarnya.

”Bayu, kamu sudah di rumah? Segera jemput mama di rumah sakit X ya,” ujar suara di seberang sana yang ternyata adalah mamanya.

”Siapa yang sakit, Ma?” tanya Bayu.

”Pakdemu tadi jam 10 masuk ICU. Buruan gih ke sini...,” suara di seberang mulai tidak sabar.

”Ya, Ma,” kata Bayu. Setelah meletakkan gagang telepon ke tempatnya, ia segera mengambil kunci motor yang tergeletak di kasur. Dan beberapa detik kemudian, sepeda motornya sudah melaju kencang di jalanan.

Tiba di rumah sakit, Bayu mencari ruangan yang ditunjukkan mamanya. Enggak begitu sulit karena ia sudah amat familiar dengan rumah sakit X. Dan, ia melihat mamanya sedang duduk terpekur. Wajahnya kelihatan sedih.

”Gimana keadaan Pakde, Ma?” tanya Bayu setelah duduk di samping mamanya.

”Masih kritis,” jawab mamanya tanpa ekspresi.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari mamanya, Bayu segera mengenakan baju yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk masuk ke ruang ICU. Bau yang amat khas menguar dan segera terhirup oleh hidungnya. Di tempat tidur paling ujung, ia mendapati pakdenya tergolek tak berdaya. Beberapa jarum tampak menancap di bagian tubuhnya. Sebuah selang juga terpasang di hidung pakde. Selang itu tersambung dengan tabung oksigen besar yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur.

Bayu tercekat. Dipegangnya tangan yang ada di depannya. Tangan itu terasa dingin. Tiba-tiba, air matanya jatuh satu demi satu. ”Apa yang sudah aku lakukan Tuhan? Mengapa aku hanya bisa mengeluh saja hari ini? Mengapa aku tidak bersyukur kepadaMu? Untuk kehidupan dan kesehatan yang masih bisa aku rasakan hingga saat ini?” jerit batinnya bertubi-tubi.

Kamis, 10 Maret 2011

Tak Berguna

Utomo Rekso Nugroho. Itulah nama lengkapnya. Tapi kami lebih sering memanggilnya dengan Pak Tomo. Orangnya tinggi besar, berkulit sawo matang, agak botak, dan memiliki kumis yang lumayan lebat. Ia adalah orang paling kaya di kampung Gabahan. Rumahnya besar, bertingkat tiga dengan halaman yang luas. Di garasi rumahnya, tersimpan puluhan mobil mewah keluaran terbaru.

Meski kekayaannya berlimpah, Pak Tomo terkenal dengan sifatnya yang sangat pelit. Ia sulit sekali mengeluarkan uang untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan. Baginya, uang yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri, kerja kerasnya selama ini. Jadi, ia sangat tidak rela jika digunakan untuk membantu orang lain.

Satu lagi sifat yang dimiliki oleh Pak Tomo, ia tidak pernah merasa cukup. Kekayaan yang begitu banyak, tidak pernah membuatnya merasa puas. Ia masih ingin lagi dan lagi. Ia tidak peduli jika karena hal itu, ia melakukan pekerjaan yang merugikan orang lain. ”Yang penting hartaku bertambah,” begitu pikirnya.

Namun, takdir Tuhan berkata lain. Suatu pagi, saat Pak Tomo sedang bersantai di teras rumah, tiba-tiba ia merasakan dadanya begitu sakit. Beberapa kali ia mencoba berteriak untuk meminta pertolongan tapi suaranya hilang ditelan angin. Akhirnya, karena sudah tidak kuat lagi, Pak Tomo ambruk. Mati.

Rabu, 09 Maret 2011

Disiplin

Mungkin sudah ribuan kali aku mendengar kata yang satu ini. Pun sudah ratusan kali aku mencoba melakukannya. Ada yang berhasil tapi lebih banyak yang gagal. Gagal karena aku kurang konsisten. Aku terlalu mudah tergoda oleh bujuk rayu dan kesenangan yang sifatnya hanya sesaat.

Aku masih ingat, dulu, pas masa-masanya duduk di bangku sekolah, aku cukup berhasil dengan disiplin yang aku terapkan. Waktu itu aku bikin jadwal, kapan harus belajar, kapan harus maen, kapan harus bantu orang tua, dan lain sebagainya. Dan karena aku punya target tertentu biar dapet rangking dan bisa lulus ujian dengan nilai yang baik, aku selalu berusaha memenuhi jadwal-jadwal tersebut. Walau kadang memang terasa sulit.

Target yang jelas. Aneka kesulitan. Kurang konsisten dan begitu mudahnya tenggelam dalam godaan. Ah... aku harus mengatasi semua itu. Aku harus menajamkan niatku untuk sungguh mendisiplinkan diri. Disiplin dalam banyak hal. Untuk kebaikanku. Juga untuk orang lain. Semoga.

Selasa, 08 Maret 2011

Sedulur

Dalam bahasa Indonesia kata sedulur artinya sama dengan saudara. Ketika kata ini diberi tambahan satu kata lagi, maka muncullah dwikata: saudara kandung, saudara sepupu, saudara jauh. Semuanya merujuk adanya suatu hubungan. Suatu keterikatan yang terjadi karena sebab-sebab tertentu. Pertanyaan yang kemudian muncul: bagaimana dengan orang lain yang tidak memiliki ikatan tertentu dengan kita, masihkah mereka itu kita sebut sebagai sedulur?

Sejatinya, kita semua adalah sedulur. Tanpa memandang apakah kita memiliki ikatan atau tidak. Mengapa? Karena kita berasal dari zat yang sama dan diciptakan oleh Tuhan yang sama. Lalu, mengapa kenyataan yang terpapar di hadapan kita justru sebaliknya? Perselisihan, pertentangan, pertengkaran, hingga saling bunuh, seolah menjadi menu wajib yang terjadi setiap hari. Semua ini ada karena kita tidak lagi saling menghargai. Kita cenderung mengganggap orang lain sebagai saingan. Sebagai pihak yang harus selalu dikalahkan.

Maka, marilah kita kembali kepada hakikat kita. Sebagai sedulur yang diciptakan Tuhan dengan sama baiknya. Tidak lagi saling bermusuhan. Tidak ada lagi keinginan untuk saling menciderai dan mencelakakan satu sama lain. Karena kita adalah sedulur.

Senin, 28 Februari 2011

Indahnya Perbedaan

Itulah gambaran yang muncul saat pelaksanaan Karnaval Seni dan Budaya dan Pawai Ogoh-Ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933, Minggu, 27 Februari. Gemulainya para penari Jawa berpadu dengan tarian Dayak yang rancak. Barongsai dan Liong pun tak mau kalah unjuk gigi di antara atraksi Reog dan 3 Ogoh-Ogoh raksasa yang digotong oleh puluhan pemuda.

Gereja Katedral yang menjadi bagian dari masyarakat kota Semarang juga turut berperan serta. Lewat beberapa muda-mudi yang bernaung dalam wadah OMK (Orang Muda Katolik) Katedral, mereka ikut bergabung dengan mengusung Warak Ngendhog yang menjadi ciri khas kota Semarang. Selain itu, mereka juga menampilkan pribadi-pribadi seperti uskup, romo, bruder, dan suster, serta beberapa penari dan prajurit yang menjadi pengiring.

Karnaval ini dibuka secara resmi oleh Walikota Semarang, H. Sumarmo HS, dengan pemukulan gong, di halaman Balai Kota. Dan setelah itu, arak-arakan peserta karnaval mulai menyusuri jalan protokol di kota Semarang mulai dari Jl. Pemuda – Jl. Pandanaran – dan berakhir di lapangan Pancasila, Simpang Lima. Di sepanjang perjalanan, warga masyarakat tampak begitu antusias melihat jalannya karnaval. Banyak di antara mereka yang langsung mengabadikan momen tersebut dengan kamera yang sudah mereka persiapkan.
















Jumat, 25 Februari 2011

Cermin Yang (Sudah) Retak


Aku mempunyai sebuah cermin. Cermin itu lumayan besar, berbentuk persegi panjang dengan kayu berukir yang membatasi pinggir-pinggirnya. Cermin itu adalah hadiah yang diberikan oleh pacarku saat aku berulang tahun yang ke-25. Mengapa cermin? Ah, itu juga hal yang pernah aku tanyakan pada pacarku. “Hehehe… aneh ya kalau aku memberi hadiah sebuah cermin?” Pacarku balik bertanya. “Bagiku, cermin adalah lambang kejujuran karena apa pun yang dilakukan di depannya, pasti akan dipantulkan apa adanya. Aku berharap, kita juga bisa melandasi hubungan kita dengan sikap seperti itu, jujur, entah itu lewat kata-kata maupun perbuatan,” jelasnya lebih lanjut.

Ehm… alasan yang cukup masuk akal. Dan semenjak itu, aku menjadikan cermin pemberiannya sebagai barang kesayangan. Cermin itu aku letakkan di kamar tidurku. Setiap menjelang tidur dan bangun tidur aku pasti melihatnya. Dan setiap hendak bepergian, aku menyempatkan waktu beberapa menit untuk mematut diri di depan cermin itu. Merias wajah, memadupadankan pakaian yang akan aku kenakan, hingga menata rambutku agar terlihat lebih menarik.

Namun, sejak tiga hari lalu, aku memendam kekecewaan. Cermin kesayanganku retak di sana-sini. Retak karena kesalahanku sendiri. Waktu itu aku begitu tergesa-gesa karena bangun kesiangan padahal ada kuliah pagi yang harus kuikuti. Saat sedang berdandan... tiba-tiba, ada seekor cicak jatuh tepat di kepalaku. Tentu saja aku kaget bukan kepalang. Seketika aku menjerit dan tanpa sadar melemparkan botol parfum yang sedang aku pegang. ”Kraaakk!” Botol itu tak sengaja mengenai cerminku dan membuat kaca yang semula mulus menjadi retak bahkan hampir pecah. Aku terperangah. Aku terdiam tanpa kata. Tapi, apa mau dikata, semuanya sudah terjadi.

Sejak hari itu, aku berusaha mencari waktu untuk menjelaskan kejadian ini pada pacarku. Mungkin ini hanya hal sepele, tapi bagiku kejujuranlah yang terpenting seperti yang diajarkan oleh pacarku. Aku juga berusaha membenahi cerminku yang telah retak. Beberapa isolasi aku tambahkan untuk menutupi retakan-retakannya. Tapi, cermin yang sudah retak tidak akan pernah sama dengan sebelumnya saat ia belum retak. Dan, aku pun merasakannya saat berada di depannya. Ah, cermin kesayanganku... maafkan segala kebodohanku.

Hati manusia juga bisa diibaratkan seperti cermin. Ketika ia menjadi retak karena sesuatu, sulit untuk membuatnya pulih seperti semula. Sesuatu itu bisa berupa kata-kata yang menyakitkan atau perbuatan yang membuat orang jadi tersinggung dan marah. Hati yang telah retak akan bertambah retak bahkan hancur berkeping-keping jika karena sesuatu itu kemudian tumbuh kebencian dan dendam membara yang sulit dihapuskan. Oleh karena itu, marilah saling menjaga hati... menjaga sikap dan perbuatan... agar jangan sampai, kita, membuat hati orang lain menjadi retak hingga hancur berkeping-keping. Andai pun semua itu sudah terjadi... marilah kita saling memaafkan dengan tulus dan ikhlas.

Selasa, 22 Februari 2011

Ulat (Yang) Tidak Mau Menjadi Kupu-Kupu


Pagi baru saja meninggalkan peraduannya. Di langit, matahari bersinar terik, memancarkan cahayanya dengan riang ke seluruh muka bumi. Di daun pohon angsana di pinggir jalan itu, dua ekor ulat, Ri dan Ro, sedang bercengkerama sambil sesekali mengunyah dedaunan di mulut mereka.

“Betapa beruntungnya aku ini, setiap hari hanya makan dan tidur saja,” kata Ri dengan penuh sukacita.

“Iya, tapi kadang aku merasa sedih, akibat perbuatan kita, daun-daun itu jadi rusak, penuh lobang, dan tidak menarik lagi,” timpal Ro.

“Loh, bukankah itu sudah seharusnya. Daun-daun itu kan makanan kita, jadi kita punya hak untuk melakukan hal itu!” jawab Ri dengan nada tinggi.

“Hehehe… sobat… kita memang punya hak… tapi bukan berarti kita menjadi rakus dan melakukan hak kita dengan semena-mena. Coba, sekali-kali kau berhenti mengunyah dan diam barang sejenak, pasti akan kau dengar rintihan daun-daun itu,” kata Ro dengan sabar.

“Ah… peduli amat!” ujar Ri, ketus.

Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang melintas. Kupu-kupu itu terlihat sangat indah. Sayapnya kuning keemasan dengan totol-totol hitam di bagian bawah. Badannya terlihat gagah dengan kaki-kaki yang penuh tenaga. Kupu-kupu itu hinggap di sebuah dahan, tak jauh dari Ri dan Ro.

”Wahai kupu-kupu, darimana asalmu? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Ro sambil tak henti-hentinya mengagumi keindahan kupu-kupu itu.

”Eh.. oh... kau ulat. Aku berasal dari jauh. Aku ke sini karena mencari bunga-bunga yang sedang bermekaran. Aku hendak membantu penyerbukan bunga-bunga itu agar bisa menghasilkan buah dan biji untuk berkembang biak,” jawab kupu-kupu sambil menyeka keringat di dahinya.

”Ckckckckckck... rajin amat. Kenapa kau mau-maunya melakukan hal semacam itu? Bukankah itu pekerjaan yang bodoh!” kata Ri sambil tertawa.

”Bodoh katamu! Bagiku ini adalah pekerjaan yang mulia. Bukankah di dunia ini kita harus saling tolong-menolong,” jawab kupu-kupu itu.

”Ah... tetap saja bagiku itu sebuah kebodohan. Ngapain menyusahkan diri sendiri untuk kepentingan pihak lain. Mending kayak aku… makan.. tidur… makan… tidur… yang lain mah… EGP,” sambar Ri, tergelak.

”Ri, apa yang kau katakan itu? Menurutku apa yang dilakukannya memang mulia dan patut untuk dicontoh,” kata Ro sambil memandangi Ri. ”Kupu-kupu, aku ingin menjadi sepertimu, aku ingin bisa terbang dan membantu bunga-bunga itu,” lanjutnya.

”Sabarlah sobat, aku yakin, sebentar lagi engkau pasti juga akan menjadi seperti aku. Yang mesti kau lakukan hanyalah bermatiraga dan diam dalam keheningan. Sabar dan ikhlas sampai waktunya tiba,” jawab kupu-kupu sambil mengepakkan sayapnya. ”Selamat tinggal sobat,” sambung kupu-kupu itu.

”Hehehe... matiraga, diam, sabar, ikhlas... ah... semuanya hanya omong kosong. Pokoknya aku tidak mau menjadi kupu-kupu!” tegas Ri.

Dan hari demi hari terus berlalu. Ro yang mengikuti saran kupu-kupu terus bersabar di dalam keheningan. Sementara Ri semakin membabi buta dalam memuaskan nafsunya. Ia tak peduli dengan rengekan atau tangisan menyayat dari para daun. Akhirnya, karena terlalu rakus, Ri mati dengan perut terbelah dan segala yang dimakannya berceceran menebarkan bau busuk yang begitu menyengat.

***

Tetap menjadi ulat atau berubah menjadi kupu-kupu yang indah adalah pilihan hati nurani. Keduanya tentu membawa konsekwensi masing-masing yang harus dipertanggungjawabkan. Satu hal yang pasti... hidup ini terlalu singkat... hidup ini tidaklah abadi. Maka, membuat orang lain tersenyum bahagia kiranya akan lebih baik dan lebih indah daripada membuat orang lain bercucuran air mata karena luka yang sudah kita torehkan. Marilah... mulai saat ini... kita buang jauh-jauh segala keegoisan dalam diri kita... buang jauh-jauh segala pemikiran bahwa hanya diri kitalah yang terbaik, yang paling benar, yang paling berhak, yang paling bisa memutuskan... Kita tidaklah hidup sendiri di dunia ini... masih ada orang lain di sekitar kita... mereka juga perlu didengarkan, dipahami, dan dijaga perasaannya... Oleh karena itu, jadilah berkat satu sama lain.