Senin, 14 Maret 2011

Litani Syukurku

Aku bersyukur telah dianugerahi kehidupan olehNya, yang memungkinkan aku berada di dunia ini lewat rahim seorang ibu yang amat mengasihiku. Ia telah mengandungku sembilan bulan lebih dan dengan seluruh jiwa raganya berjuang agar aku bisa melihat dunia.

Aku bersyukur dilahirkan ke dunia dengan kondisi yang sehat dan tubuh yang sempurna. Mata yang melihat. Telinga yang mendengar. Hidung yang mampu membaui dan menghirup kesegaran udara. Mulut yang berbicara. Tangan dan kaki yang bebas bergerak. Pikiran dan hati yang terus bertumbuh. Dan jiwa yang selalu dilindungiNya.

Aku bersyukur mempunyai ayah dan ibu yang penuh cinta. Mereka dari hari ke hari terus merawatku, menjagaku, memikirkanku, dan mengharapkan yang terbaik untukku. Kadang memang ayahku bertindak keras bahkan tidak segan-segan memukulku. Aku yakin, ini bukanlah kebencian tetapi semata-mata ungkapan cinta agar aku bisa belajar dari kesalahan dan menjadi anak yang bersikap lebih baik dan menurut pada orangtua.

Aku bersyukur hidup dalam keluarga yang sederhana. Walau pekerjaan ayahku di tempat yang basah, tapi ia tidak pernah tergoda melakukan hal-hal yang di luar kewajaran. Hal-hal yang akan merugikan orang lain. Kadang aku protes dalam hati, mengapa aku tidak punya ini dan itu? Mengapa kehidupan kami biasa saja? Ah... ternyata, ayahku justru mewariskan harta yang jauh lebih berharga yaitu kejujuran.

Aku bersyukur dikaruniai kakak dan adik. Kakak yang mengasihiku dan adik yang aku kasihi. Bersama-sama, kami tumbuh dalam kehangatan cinta.

Aku bersyukur atas pendidikan yang aku terima selama ini. Lewat bangku sekolah maupun lewat perjumpaan dengan sesama di dalam kehidupanku. Pendidikan yang membuat aku semakin sempurna sebagai manusia. Manusia yang mampu membedakan kebaikan dan kejahatan. Mampu merasakan, memberikan pertolongan, dan menghibur, ketika orang lain dalam kesusahan. Pun ikut tertawa gembira ketika mereka mendapat kebahagiaan.

Aku bersyukur mendapatkan pasangan hidup yang pengertian. Ia sungguh mengasihiku dan aku pun juga teramat mengasihinya. Sejak semula aku mengenalnya, aku sudah berharap bahwa dialah wanita pertama dan terakhir untukku. Wanita yang akan menemani hari-hariku. Hidup bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan.

Aku bersyukur meski hampir sepuluh tahun berkeluarga belum dikaruniai momongan, kami tidak pernah menjadikannya sebagai masalah yang serius, yang akan mengganggu keharmonisan hubungan kami. Justru ini menjadi kesempatan bagi kami untuk terus memberikan pelayanan kepada orang lain di dalam kegiatan menggereja.

Aku bersyukur mempunyai keponakan, ’adek-adek’, dan banyak sahabat di sekitarku. Kehadiran mereka sungguh membuat hidupku menjadi lebih berarti.

Aku bersyukur diberi kemampuan menulis. Lewat talenta ini aku bisa mengeluarkan unek-unek, sekedar sharing, atau menuliskan cerita untuk orang lain. Memang, aku baru belajar, baru memulai. Kadang aku merasa jenuh. Sering pula aku dibekap kemalasan sehingga jari-jemariku terasa kaku dan sulit digerakkan di atas keyboard. Tapi syukurlah, Ia senantiasa membangunkanku, memampukanku untuk berusaha kembali.

Aku bersyukur atas kesehatan yang aku terima hingga hari ini. Karenanya, aku mampu melakukan banyak aktivitas.

Aku bersyukur dan terus bersyukur karena Ia begitu mencintai aku. Walau aku sering jatuh di dalam dosa, ia tidak pernah lelah memanggilku kembali. Tangannya yang penuh kasih selalu merengkuhku dan mendekapku di dalam belantara cintaNya yang tiada batas.

NB: Kata `litani' berasal dari bahasa Latin `litania', `letania'. Artinya suatu bentuk doa tanggapan yang meliputi serangkaian seruan atau permohonan, mengenai suatu subyek utama atau suatu tema suci utama. (http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id427.htm)

7 komentar:

Megi Rahman mengatakan...

litani itu artinya apa mas ?
(maklum kosakata sedikit krn jarang baca buku :P)

btw met malam, belum tidur nih ?

Senja mengatakan...

ungkapan rasa syukur tulisan yg indah mas,...tapi litany itu apa ya ?

selamat malam mas goen...:)

cahya mengatakan...

memang sudah semestinya kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala anugerah-Nya..apalagi kita diberi keluarga yang bahagia..dan terkadang meski itu adalah sesuatu yang tidak mengenakkan kita tapi sebenarnya dibalik itu ada hikmah yang lebih besar.. terus berkarya mas..

Sukadi mengatakan...

Tak ada batasan curahan cinta-NYA, saat kita terjatuh, bahagia, sedih, DIA selalu mencurahkan kasih sayang-NYA. Bersyukur adalah wujud "balasan" atas anugerah yang telah dilimpahkan kepada kita...

Terimakasih Pak.. :)

eha mengatakan...

Ikut bersyukur atas kebahagiaan mas Goen. Hidup memang tak selamanya sempurna, tapi itu bukan halangan untuk bersyukur. Dua jempol.

Clara Canceriana mengatakan...

aku juga bersyukur bisa melirik dan kenal sama blog ini ^^

Yudi Darmawan mengatakan...

wah, salut banget mas,
saya yang lebih muda aja gak bisa apresiasi jasa orang tua yang udah korban sehabis mungkin buat saya, terhadap semua nikmat kecil yang terlupakan, dan nikmat besar yang melalaikan..