Jumat, 11 Maret 2011

Mengapa Tidak Bersyukur?

“Huh… bener-bener menjengkelkan… bisa-bisanya dari tadi pagi sampe siang ini sial terus?” gerutu Bayu sambil membolak-balikkan badannya di kasurnya yang mulai tampak lusuh. Sudah sedari tadi ia berusaha memejamkan mata tapi belum juga berhasil. Rupanya, kipas angin yang tidak berfungsi gara-gara listrik mati, membuatnya kegerahan.

Tiba-tiba, terbayang kembali berbagai kesialannya hari ini.

Pagi ini ia telat bangun. Gara-garanya karena semalam ia ikutan ’ngobrol ngalor ngidul’ sambil maen gaple dengan teman-teman kampungnya di pos ronda. Padahal ada kuliah pagi yang harus diikutinya. Pas buru-buru mau mandi, Bayu kaget bukan kepalang... air di bak mandi rumahnya tinggal dikit banget. Sialnya, sanyo di rumahnya juga lagi rusak dan baru siang ini akan diperbaiki oleh Pak Mamat, tetangga sebelah rumahnya. Alhasil, ia hanya cuci muka dan gosok gigi.

Sesudah ganti baju plus menyemprotkan parfum andalannya ke seluruh tubuh, Bayu bergegas ke meja makan. Tapi, wajahnya yang mulai sumringah kembali cemberut. Lagi-lagi, si bibi menghidangkan sayur lodeh yang tidak disukainya. ”Aduh, bi... kok sayur ini lagi sih... aku kan udah bilang kalo enggak suka!” protesnya. Akhirnya, dengan hanya berbekal seiris roti, ia berangkat ke kampus.

Di kampus, Bayu kuliah seperti biasanya. Namun ia jengkel dengan Pak Bram. Dosen ekonomi yang tidak disukainya ini tiba-tiba saja mengadakan tes dadakan. Tentu saja ia kelabakan karena selama ini, ia memang tidak pernah belajar.

Dan saat pulang dari kampus, kesialan kembali menimpanya. Ban sepeda motornya bocor karena terkena paku. Terpaksa, ia harus menuntun sepeda motornya puluhan meter untuk mencari tambal ban.

”Krinnngggggg...,” Bunyi telepon yang lumayan keras membuyarkan lamunan Bayu. Dengan berjingkat, ia segera mengangkat gagang telepon. ”Halo, dengan Bayu di sini,” sambarnya.

”Bayu, kamu sudah di rumah? Segera jemput mama di rumah sakit X ya,” ujar suara di seberang sana yang ternyata adalah mamanya.

”Siapa yang sakit, Ma?” tanya Bayu.

”Pakdemu tadi jam 10 masuk ICU. Buruan gih ke sini...,” suara di seberang mulai tidak sabar.

”Ya, Ma,” kata Bayu. Setelah meletakkan gagang telepon ke tempatnya, ia segera mengambil kunci motor yang tergeletak di kasur. Dan beberapa detik kemudian, sepeda motornya sudah melaju kencang di jalanan.

Tiba di rumah sakit, Bayu mencari ruangan yang ditunjukkan mamanya. Enggak begitu sulit karena ia sudah amat familiar dengan rumah sakit X. Dan, ia melihat mamanya sedang duduk terpekur. Wajahnya kelihatan sedih.

”Gimana keadaan Pakde, Ma?” tanya Bayu setelah duduk di samping mamanya.

”Masih kritis,” jawab mamanya tanpa ekspresi.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari mamanya, Bayu segera mengenakan baju yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk masuk ke ruang ICU. Bau yang amat khas menguar dan segera terhirup oleh hidungnya. Di tempat tidur paling ujung, ia mendapati pakdenya tergolek tak berdaya. Beberapa jarum tampak menancap di bagian tubuhnya. Sebuah selang juga terpasang di hidung pakde. Selang itu tersambung dengan tabung oksigen besar yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur.

Bayu tercekat. Dipegangnya tangan yang ada di depannya. Tangan itu terasa dingin. Tiba-tiba, air matanya jatuh satu demi satu. ”Apa yang sudah aku lakukan Tuhan? Mengapa aku hanya bisa mengeluh saja hari ini? Mengapa aku tidak bersyukur kepadaMu? Untuk kehidupan dan kesehatan yang masih bisa aku rasakan hingga saat ini?” jerit batinnya bertubi-tubi.

2 komentar:

Cyaam mengatakan...

saat ini saya sedang tidak mengerti apa bersyukur itu, nice share mas goen

*selamat siang

Megi Rahman mengatakan...

Syukuri apa yang ada, hidup adlh anugrah... *lho kok malah nyanyi :P