Sabtu, 19 Februari 2011

Sedih


Sedih rasanya… jika ternyata teman yang selama ini ada di samping kita... ternyata malah menikam dari belakang... di depan tampak manis tapi ternyata di belakang berubah menjadi pribadi yang tidak punya hati…

Sedih rasanya… jika ternyata pelayanan yang selama ini dilakukan dengan sepenuh hati… malah dituduh yang macam-macam… dan dianggap mencari keuntungan untuk diri sendiri…

Sedih rasanya… jika di dalam satu tim kerja… tidak lagi terjalin komunikasi yang baik… yang satu hanya bisa menyalahkan dan mengganggap dirinya paling benar… sedangkan yang lain adalah pihak yang patut untuk selalu dipersalahkan…

Sedih rasanya…

Jumat, 11 Februari 2011

Allah Menjadikan Segalanya Indah

Itulah tema yang diangkat pada Misa Imlek 2562 yang diselenggarakan di Gereja Katedral, Kamis, 10 Februari. Misa dibawakan secara konselebrasi oleh Romo FX. Sukendar Wignyosumarta Pr, Romo Antonius Suparyono Pr, Romo FX. Sugiyana Pr, Frater Wicaksono, dan Romo Materius Kristiyanto Pr sebagai selebran utama.

Dominasi warna merah cukup menyemarakkan suasana misa. Mulai dari hiasan altar, lampion dan rumbai-rumbai yang tergantung di pintu-pintu gereja, seragam kelompok koor yang berasal dari Paroki Atmodirono, dan pakaian yang dikenakan oleh umat.

”Tahun Baru ini sungguh menjadi berkat untuk kita semua. Marilah kita juga mensyukuri segala berkat yang telah dilimpahkan Tuhan pada tahun yang telah berlalu dan bersyukur untuk tahun yang baru,” ucap Romo FX. Sugiyana Pr yang akrab dipanggil Romo Sugi saat mengawali homilinya. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa menurut penanggalan Cina, tahun ini termasuk tahun kelinci. Kelinci adalah turunan bulan maka orang yang lahir di tahun ini bisa dikatakan orang yang beruntung. Kelinci juga merupakan lambang keanggunan, kelemahlembutan, sopan santun, perbuatan yang baik, kepekaan akan segala sesuatu yang indah, dan cinta akan ketentraman. Maka diharapkan orang yang mempunyai shio ini dapat memberi pengaruh bagi lingkungan sekitar dan masyarakat.

Sejak awal mula, Allah telah menjadikan kita baik adanya, menurut gambar dan citraNya. Kita sama-sama telanjang, tanpa batas, dan tanpa perbedaan. Namun karena sifat egois, manusia kemudian menciptakan dan membatasi diri dengan sekat-sekat yang saling memisahkan, cenderung memandang orang lain dari sisi yang negatif dan tidak pernah mensyukuri apa yang sudah diterima, serta lebih menekankan perbedaan dan menjauhi kebersamaan. Dan akibat dosa, segala yang baik dan indah menjadi luntur. Terbukti dengan banyaknya kekerasan yang terjadi selama ini. Ini menjadi tanda bahwa kehidupan bersama tidak lagi dihargai.

Maka, kembali kepadaNya adalah jalan yang terbaik karena sebenarnya kita miskin di hadapan Allah. Miskin dalam arti kita tidak mempunyai kemampuan apa-apa tanpa campur tangan Allah. Bersikap lemah lembut satu dengan yang lain, murah hati dengan berbagi apa yang kita punya, dan selalu membawa damai, untuk siapa pun, di mana pun dan dalam keadaan apa pun. ”Semoga tahun baru ini menjadi pijakan untuk kembali sebagai citra dan gambar Allah agar kehidupan kita menjadi baik dan indah kembali, hidup suci dan setia akan iman, serta mengusahakan agar segalanya juga menjadi baik dan indah. Dengan demikian kita akan memperoleh kebahagiaan. Semoga ini menjadi semangat kita bersama, ” tegas Romo Sugi.

Kemeriahan Misa Imlek semakin terasa saat tiba pembagian angpao. Anak-anak dengan rapi berbaris maju ke depan untuk menerima berkat dari romo dan angpao dari panitia. Setelah mendapat angpao, anak-anak dapat mengambil balon berwarna merah yang sudah dipersiapkan di pintu-pintu gereja.

Usai misa, umat bersama para romo menikmati perjamuan di Gedung Sukasari sambil mendengarkan iringan musik.






Minggu, 06 Februari 2011

Bersama Malaikat

Barangkali, Anda merasa aneh dengan kalimat di atas. Malaikat? Apakah ada malaikat di dunia ini? Bukankah malaikat itu tempatnya di surga? Yah, Anda mungkin benar tapi mungkin juga salah. Karena memang ada malaikat di dunia ini, tepatnya manusia berhati malaikat. Dan, saya sudah menemukannya.

Malaikat itu adalah seorang perempuan berparas cantik. Aku sering memanggilnya bu Ina. Tubuhnya tidak bisa dikatakan ideal bahkan cenderung kurus. Namun secara keseluruhan, sosoknya sangat anggun. Keanggunan yang dibalut dengan kesederhanaan. Tutur katanya lembut. Senyumnya tulus.

Dan, bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2562, 3 Februari, saya dengan beberapa rekan Pendamping PIA (Pendampingan Iman Anak) Gereja Katedral Semarang, berkesempatan berkunjung ke rumahnya. Kedatangan kami disambut dengan sukacita. "Sungguh, ini pengalaman yang luar biasa karena teman-teman mau berkunjung ke sini," begitu tuturnya saat menyalami kami satu per satu. Dan tak berapa lama, kami pun sudah bercengkerama, ngobrol ngalor-ngidul ketawa-ketiwi sambil ditemani kue-kue dan makanan khas Imlek.

Bu Ina yang malam itu ditemani suaminya kemudian mensharingkan kehidupannya. Tentang putri semata wayangnya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu saat genap berusia 9 tahun, 9 bulan, 18 hari, karena terjatuh saat naik kuda. Sebelumnya, Michell, nama putrinya, telah berpamitan kepada teman-teman sekelasnya bahwa ia akan pergi. Dan saat kematiannya pun ditandai dengan peristiwa yang aneh... turunnya hujan saat kemarau panjang. Tentu saja kematian Michell sempat membuat bu Ina dan suaminya terguncang tapi itu tidak lama karena mereka percaya bahwa ini adalah rencana Tuhan yang terbaik. Dan dukacita pun berubah menjadi sukacita.

Sukacita yang hampir sama juga menyelimuti kami malam itu. Sukacita di tengah kebersamaan yang indah. Bersama seorang perempuan berhati malaikat yang kami kagumi. Malaikat yang terus-menerus mengulurkan tangannya, membantu dengan tulus, ketika melihat kami ada dalam masalah. Malaikat yang begitu sederhana dan mau berbagi dengan siapa saja. Ah, semoga kami pun mampu meneladani segala tindakannya. Mampu menjadi malaikat di dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Andai semua itu terjadi, alangkah bahagia dan damainya hidup ini. Semoga.

Jumat, 04 Februari 2011

Malaikatku









Tuhan, aku bersyukur
tlah Kau hadirkan mereka dalam hidupku
meski tanpa pertalian darah
tapi entah mengapa
kasih itu terus mengalir

Aku menyayangi mereka
Aku ingin melihat mereka tumbuh dan bahagia

Tuhan,
lindungilah malaikat-malaikatku
sertailah dan bimbinglah mereka
dalam kehidupanNya
karena aku begitu menyayangi mereka

Rabu, 02 Februari 2011

Hobi Baru

Iya, bener. Sekarang aku punya hobi baru. Mengutak-utik kata dan menjadikannya sebuah kalimat yang indah dan bermakna (paling tidak untukku). Kalimat itu kemudian aku pergunakan untuk meng-update statusku di fb tiap hari (pagi). Awalnya sih sekedar iseng... tapi sesudah jalan beberapa hari aku malah jadi ketagihan. Ketagihan yang mengharuskan aku untuk banyak melihat, mendengar, merasakan, dan membaca segala sesuatu.

Beberapa kalimat yang udah aku share di fb ...

• Hidup itu terlalu singkat... apa yang sudah kita lakukan untuk mengisinya? menjadi terang bagi sesama atau justru malah hidup kita menjadi batu sandungan untuk orang lain?
• Jadilah seperti matahari... tepat waktu, setia dalam tugas dan pelayanan, tidak menjadi pemilih tetapi memberi untuk semua, tidak mengeluh ketika mendung dan hujan datang tetapi justru memberi keindahan dengan hadirnya pelangi...
• Mengapa harus mengeluh? Lihatlah sekeliling dan sadarilah… masih banyak mereka yang kekurangan, yang tidak memiliki papan, yang tidak memiliki penghasilan, yang hanya bisa mengharapkan belas kasih orang lain… maka, BERSYUKURLAH… untuk apa pun keadaanmu saat ini…
• Mengapa menyimpan dendam? Mengapa harus menyemai kebencian? Pun, mengapa terus menerus mengakrabi kemarahan? Tawarkan semua itu dengan hati yang berlimpah kasih. Kasih yang memahami. Kasih yang memaafkan dan mengampuni. Juga, kasih yang mau menerima perbedaan...
• Berbeda itu indah. Berbeda itu memberi kehidupan.
Seperti halnya tubuh kita yang tersusun dari banyak perbedaan.
Otak untuk berpikir. Mata untuk melihat. Telinga untuk mendengar. Mulut untuk berbicara. Dan masih banyak lagi… Ketika semua itu bersatu dan saling bergandeng mesra… kita pun mampu menggapai kebahagiaan…
• Setiap orang mencari kebahagiaan tetapi tidak semua mampu meraihnya.
Sebab kebahagiaan menuntut KEIKHLASAN dalam memberi dan menerima
• Mengapa harus menyombongkan diri? Karena kelebihan fisik, aneka talenta, kepandaian, kekayaan, jabatan, kekuasaan... Semua itu adalah anugerah dariNya... maka RENDAH HATILAH senantiasa...