Ckckckckck… orang Indonesia itu betul-betul kreatif banget. Apa-apa bisa dibuat reality show atau sinetron. Nggak percaya? Tengok aja ‘ontran-ontran’ yang terjadi beberapa hari ini. Entah yang satu ini mau dimasukkan kemana. Disebut sinetron bisa. Reality show juga bisa karena memang sejatinya ini adalah peristiwa yang dialami oleh si pelaku. Perkara bahwa itu hanya rekayasa itu soal lain. Tapi kalau disebut dagelan kayaknya juga cocok banget.
Judulnya Cicak Versus Buaya. Meski ngambil judul seperti ini, kita nggak bakalan tau mana yang Cicak dan mana yang Buaya sebab kadang si Cicak bisa berubah jadi Buaya, sebaliknya si Buaya juga bisa malih rupa jadi Cicak. Anehnya lagi, SitGel (kita sebut aja kayak gini ya… Sinetron Dagelan) ini juga nggak mengenal peran Antagonis dan Protagonis. Sebab seluruh pemainnya dituntut bisa melakoni kedua peran ini, ya jadi baik, ya jadi jahat. Pokoknya semua bisa diatur-atur tergantung mana yang lebih menguntungkan.
Karena nggak ada peran dan alur cerita yang pasti. SitGel ini bisa berubah-ubah layaknya komidi putar. Kalau penonton mulai enggak suka… alur dibuat sedemikian rupa supaya penonton jadi tertarik lagi. Kadang di beberapa bagian diselipi adegan tangisan, sumpah-sumpahan plus sakit-sakitan. Entah ini beneran atau rekayasa biar terkesan lebih dramatis, kayaknya penonton nggak boleh tau sebab ini rahasia sutradara.
Dua hari aja nonton SitGel ini… tiba-tiba aja kepala jadi pening, perut mual, dan pengen muntah. Lha gimana enggak? Alur ceritanya jadi makin ruwet kayak benang kusut. Seluruh pemainnya kepengen jadi yang paling bener, nggak ada yang mau ngaku salah. Semua pengen nyelametin dirinya sendiri. Pokoknya… dagelan banget dech… dagelan yang sama sekali enggak ada lucu-lucunya.
Blog ini adalah blog pribadi untuk menuliskan informasi, keluh kesah, pemikiran, cerita, harapan dan cita-cita. Semua boleh berpartisipasi baik komentar, kritik, maupun saran yang membangun demi kebaikan kita bersama
Jumat, 06 November 2009
Rabu, 04 November 2009
Ketika Uang Tak Lagi Berarti
Malam semakin larut. Suara orang yang tadi ramai mengobrol kini sudah tidak terdengar lagi. Berganti dengan suara dengkur yang saling susul-menyusul. Satu dua perawat yang kebetulan shift malam beberapa kali terlihat mondar-mandir, mengecek kondisi pasien di ruang perawatan yang menjadi kewenangannya.
Di ruang Melani kelas VVIP, Bu Rekso baru saja terlelap. Wajahnya tampak kuyu tanda kelelahan. Seharian ini ia sudah berjaga tanpa ada seorang pun yang datang menggantikannya. Sementara Pak Rekso, terbaring di ranjang, tak bergerak. Beberapa selang menancap di tubuhnya. Sudah hampir sebulan ini Pak Rekso mengalami koma akibat berbagai penyakit serius yang menggerogoti tubuhnya.
Meski koma sekian lama, pikiran dan perasaan Pak Rekso sebenarnya masih terus merespon dan merangkum segala hal yang terjadi di sekitarnya. Tentang istrinya yang mulai jenuh karena saban hari harus menjaga dan merawat dirinya yang hanya ‘diam tak bergerak’. Juga tentang Danu, Hendy dan Sawitri, ketiga anaknya yang mulai meributkan soal pembagian harta warisan.
Memikirkan ketiga anaknya itu selalu membuat batin Pak Rekso merasa tertekan. Bagaimana tidak? Setiap saat mereka selalu meminta jatah uang yang jumlahnya tidak sedikit. Kalau tidak diberi, pasti ada saja ‘tindakan’ yang akan mereka lakukan. Ngambek tidak mau sekolah, menjual barang-barang berharga di rumah, mencuri uang, adalah beberapa contoh yang kerap terjadi.
Sebenarnya kelakuan ketiga anaknya itu tidak jauh berbeda dengan apa yang sering dilakukan Pak Rekso waktu masih kecil. Bedanya dulu ia anak tunggal. Kedua orangtuanya adalah pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan. Rumahnya sangat besar dengan deretan mobil mewah yang tersimpan rapi di garasi serta para pembantu yang jumlahnya hampir satu lusin. Rekso kecil hidup bergelimang kemewahan. Sayangnya karena kedua orangtuanya sangat sibuk, ia kekurangan kasih sayang. Kehidupannya sehari-hari hanya dipenuhi dengan uang, uang dan uang saja. Uang bisa menyelesaikan semuanya, begitu selalu kata ayahnya. Dan memang, dengan uang berlimpah, Rekso selalu mendapatkan apa yang diinginkan oleh orangtuanya (dan diinginkannya). Sekolah favorit mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi meski harus lewat ‘jalan belakang’. Kerja di pemerintahan hasil koneksi. Pun saat ia memutuskan untuk menjadi anggota DPR. Uang berjumlah milyaran ia gelontorkan untuk tercapainya keinginan tersebut. Tanpa sungkan dan malu, ia membagi-bagikan uang kepada siapa saja yang mau mendukung dirinya.
Namun karena uang pula akhirnya ia terjerat kasus. Semua berawal ketika ada seorang pengusaha mendatanginya dan mengajukan ijin untuk mendirikan pabrik di daerah X. Karena rakyat di daerah X banyak yang tidak setuju, si pengusaha berusaha merayu Pak Rekso agar menggunakan kekuasaannya. Tentu saja Pak Rekso mengiyakan asal ada sejumlah uang sebagai balas jasa. Setelah pabrik berdiri dan uang puluhan milyar mengalir ke rekening Pak Rekso, timbul masalah baru. Ternyata sang pengusaha adalah tersangka kasus korupsi yang dicari-cari oleh polisi, yang diduga telah merugikan negara puluhan trilyun.
Sang pengusaha ditangkap polisi. Ketika diinterogasi, ia ‘bernyanyi’ tentang Pak Rekso. Berbekal informasi ini, Pak Rekso akhirnya juga ikut ditangkap. Setelah melalui persidangan yang berliku dengan beragam bukti, Pak Rekso dinyatakan bersalah dan harus mendekam di penjara selama 2 tahun.
Mendengar keputusan ini Pak Rekso langsung sesak napas. Tak berapa lama ia jatuh pingsan. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan intensif, ia dinyatakan mengidap berbagai penyakit yang tergolong serius. Diduga semua itu terjadi karena pola hidupnya yang tidak sehat.
Tiba-tiba, beberapa bayangan hitam mendekati Pak Rekso. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bayangan-bayangan itu memegang tangan dan kakinya lalu menyeretnya kuat-kuat, membawanya pergi entah kemana.
Di ruang Melani kelas VVIP, Bu Rekso baru saja terlelap. Wajahnya tampak kuyu tanda kelelahan. Seharian ini ia sudah berjaga tanpa ada seorang pun yang datang menggantikannya. Sementara Pak Rekso, terbaring di ranjang, tak bergerak. Beberapa selang menancap di tubuhnya. Sudah hampir sebulan ini Pak Rekso mengalami koma akibat berbagai penyakit serius yang menggerogoti tubuhnya.
Meski koma sekian lama, pikiran dan perasaan Pak Rekso sebenarnya masih terus merespon dan merangkum segala hal yang terjadi di sekitarnya. Tentang istrinya yang mulai jenuh karena saban hari harus menjaga dan merawat dirinya yang hanya ‘diam tak bergerak’. Juga tentang Danu, Hendy dan Sawitri, ketiga anaknya yang mulai meributkan soal pembagian harta warisan.
Memikirkan ketiga anaknya itu selalu membuat batin Pak Rekso merasa tertekan. Bagaimana tidak? Setiap saat mereka selalu meminta jatah uang yang jumlahnya tidak sedikit. Kalau tidak diberi, pasti ada saja ‘tindakan’ yang akan mereka lakukan. Ngambek tidak mau sekolah, menjual barang-barang berharga di rumah, mencuri uang, adalah beberapa contoh yang kerap terjadi.
Sebenarnya kelakuan ketiga anaknya itu tidak jauh berbeda dengan apa yang sering dilakukan Pak Rekso waktu masih kecil. Bedanya dulu ia anak tunggal. Kedua orangtuanya adalah pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan. Rumahnya sangat besar dengan deretan mobil mewah yang tersimpan rapi di garasi serta para pembantu yang jumlahnya hampir satu lusin. Rekso kecil hidup bergelimang kemewahan. Sayangnya karena kedua orangtuanya sangat sibuk, ia kekurangan kasih sayang. Kehidupannya sehari-hari hanya dipenuhi dengan uang, uang dan uang saja. Uang bisa menyelesaikan semuanya, begitu selalu kata ayahnya. Dan memang, dengan uang berlimpah, Rekso selalu mendapatkan apa yang diinginkan oleh orangtuanya (dan diinginkannya). Sekolah favorit mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi meski harus lewat ‘jalan belakang’. Kerja di pemerintahan hasil koneksi. Pun saat ia memutuskan untuk menjadi anggota DPR. Uang berjumlah milyaran ia gelontorkan untuk tercapainya keinginan tersebut. Tanpa sungkan dan malu, ia membagi-bagikan uang kepada siapa saja yang mau mendukung dirinya.
Namun karena uang pula akhirnya ia terjerat kasus. Semua berawal ketika ada seorang pengusaha mendatanginya dan mengajukan ijin untuk mendirikan pabrik di daerah X. Karena rakyat di daerah X banyak yang tidak setuju, si pengusaha berusaha merayu Pak Rekso agar menggunakan kekuasaannya. Tentu saja Pak Rekso mengiyakan asal ada sejumlah uang sebagai balas jasa. Setelah pabrik berdiri dan uang puluhan milyar mengalir ke rekening Pak Rekso, timbul masalah baru. Ternyata sang pengusaha adalah tersangka kasus korupsi yang dicari-cari oleh polisi, yang diduga telah merugikan negara puluhan trilyun.
Sang pengusaha ditangkap polisi. Ketika diinterogasi, ia ‘bernyanyi’ tentang Pak Rekso. Berbekal informasi ini, Pak Rekso akhirnya juga ikut ditangkap. Setelah melalui persidangan yang berliku dengan beragam bukti, Pak Rekso dinyatakan bersalah dan harus mendekam di penjara selama 2 tahun.
Mendengar keputusan ini Pak Rekso langsung sesak napas. Tak berapa lama ia jatuh pingsan. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan intensif, ia dinyatakan mengidap berbagai penyakit yang tergolong serius. Diduga semua itu terjadi karena pola hidupnya yang tidak sehat.
Tiba-tiba, beberapa bayangan hitam mendekati Pak Rekso. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bayangan-bayangan itu memegang tangan dan kakinya lalu menyeretnya kuat-kuat, membawanya pergi entah kemana.
Selasa, 03 November 2009
Seperti Gema
Sore begitu cerah. Di langit, awan berarak, berkejaran dengan matahari yang perlahan turun di ufuk barat. Tapi, semua itu tidak mampu menghapus gundah di hati Rudi. Beban itu malah dirasakannya semakin berat. Tarikan nafasnya terus memburu seiring dengan teriakannya yang bertambah keras, “Aku membencimu… aku tidak mau berteman denganmu… kamu jahat…!!!”
Namun, suara itu terus mengikutinya… masih sama dan juga bertambah semakin keras…”Aku membencimu… aku tidak mau berteman denganmu… kamu jahat!!!”
Ah… mengapa? Mengapa suara itu terus mengikuti apa yang dikatakannya? Betulkah ini ‘sesuatu’ seperti yang pernah dikatakan oleh Dani, kakak sepupunya, dua hari lalu, saat menjumpai dirinya dalam keadaan ‘sangat’ marah.
“Tidak ada gunanya engkau marah-marah seperti ini, Rud. Cobalah teliti lagi mengapa teman-temanmu bersikap demikian kepadamu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan karena belum tentu semua itu benar,” ucap Dani berusaha menenangkannya. “Tenangkan dirimu. Ambilah cuti barang satu dua hari dan pergilah ke gunung, ke tempat yang memungkinkan engkau melepaskan semua kekesalan dan kemarahan yang selama ini kau pendam dalam hati. Aku jamin, setelah melakukannya… engkau pasti akan mengalami kelegaan… juga sebuah pelajaran tentang hidup yang akan membuatmu semakin bijaksana,” lanjutnya.
“Kelegaan, benarkah itu yang dirasakannya kini? Lalu, mengapa beban itu malah bertambah berat? Apakah kakak sepupunya sudah berbohong kepadanya?” Beragam tanya itu tiba-tiba saja menyergap pikirannya.
Lalu suasana hening. Angin berhembus perlahan. Menerbangkan dedaunan kering di sela-sela pepohonan dan membawanya jatuh ke bumi.
Di saat seperti itu, Rudi teringat kembali dengan pesan mendiang ayahnya, beberapa saat sebelum meninggal. “Nak, hidup itu seperti gema. Kita akan menerima kembali apa yang telah kita berikan. Kalau engkau memberikan kebaikan maka engkau pun akan menerima kebaikan. Sebaliknya, jika engkau melakukan kejahatan maka kejahatanlah yang akan engkau terima. Ketika engkau mencintai maka kau akan dicintai. Pun kalau membenci, engkau juga akan dibenci.”
“Ayah… maafkan aku… ternyata selama ini aku sudah berlaku salah terhadap teman-temanku. Aku sombong dan acuh terhadap mereka. Aku kurang peduli dengan kesusahan mereka. Aku juga selalu menuntut dan tidak pernah mau mengerti keadaan mereka!” jeritnya tiba-tiba.
Dan saat kesadaran itu merekah, perlahan namun pasti… beban di hatinya sedikit demi sedikit mulai terangkat.
Namun, suara itu terus mengikutinya… masih sama dan juga bertambah semakin keras…”Aku membencimu… aku tidak mau berteman denganmu… kamu jahat!!!”
Ah… mengapa? Mengapa suara itu terus mengikuti apa yang dikatakannya? Betulkah ini ‘sesuatu’ seperti yang pernah dikatakan oleh Dani, kakak sepupunya, dua hari lalu, saat menjumpai dirinya dalam keadaan ‘sangat’ marah.
“Tidak ada gunanya engkau marah-marah seperti ini, Rud. Cobalah teliti lagi mengapa teman-temanmu bersikap demikian kepadamu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan karena belum tentu semua itu benar,” ucap Dani berusaha menenangkannya. “Tenangkan dirimu. Ambilah cuti barang satu dua hari dan pergilah ke gunung, ke tempat yang memungkinkan engkau melepaskan semua kekesalan dan kemarahan yang selama ini kau pendam dalam hati. Aku jamin, setelah melakukannya… engkau pasti akan mengalami kelegaan… juga sebuah pelajaran tentang hidup yang akan membuatmu semakin bijaksana,” lanjutnya.
“Kelegaan, benarkah itu yang dirasakannya kini? Lalu, mengapa beban itu malah bertambah berat? Apakah kakak sepupunya sudah berbohong kepadanya?” Beragam tanya itu tiba-tiba saja menyergap pikirannya.
Lalu suasana hening. Angin berhembus perlahan. Menerbangkan dedaunan kering di sela-sela pepohonan dan membawanya jatuh ke bumi.
Di saat seperti itu, Rudi teringat kembali dengan pesan mendiang ayahnya, beberapa saat sebelum meninggal. “Nak, hidup itu seperti gema. Kita akan menerima kembali apa yang telah kita berikan. Kalau engkau memberikan kebaikan maka engkau pun akan menerima kebaikan. Sebaliknya, jika engkau melakukan kejahatan maka kejahatanlah yang akan engkau terima. Ketika engkau mencintai maka kau akan dicintai. Pun kalau membenci, engkau juga akan dibenci.”
“Ayah… maafkan aku… ternyata selama ini aku sudah berlaku salah terhadap teman-temanku. Aku sombong dan acuh terhadap mereka. Aku kurang peduli dengan kesusahan mereka. Aku juga selalu menuntut dan tidak pernah mau mengerti keadaan mereka!” jeritnya tiba-tiba.
Dan saat kesadaran itu merekah, perlahan namun pasti… beban di hatinya sedikit demi sedikit mulai terangkat.
Senin, 02 November 2009
Perpustakaan Kami
“Ma… ini gambar apa ya?” teriak seorang gadis kecil sambil mengangsurkan buku yang lagi dipegangnya pada sang mama yang sedang asyik membaca koran. Di pojok, beberapa anak memilih-milih buku. Mereka tertawa-tawa dan saling berbicara satu dengan yang lain. Deretan buku yang semula tertata rapi menjadi berantakan akibat ulah mereka. Sementara di sudut lain, beberapa anak dengan usia yang lebih muda, asyik bermain bongkar pasang puzzle, ditemani orangtuanya.
Itulah yang terjadi hampir setiap minggu di perpustakaan kami. Minggu? Ya, benar, karena hanya pada hari itulah perpustakaan kami dibuka untuk umum, mulai pukul 08.00 – 12.00. Perpustakaan kami sebenarnya adalah perpustakaan milik gereja yang pengelolaannya diserahkan kepada kami, Tim Kerja Komunikasi Sosial (KOMSOS) Gereja. Perpustakaan ini menempati sebuah ruangan berukuran 6 m x 4 m.
Mengingat awal berdirinya perpustakaan ini adalah mengenang perjuangan yang tiada kenal lelah, semangat pantang mundur, kerjasama yang terjalin dengan baik, dukungan dari seluruh umat dan pendampingan sepenuh hati yang dilakukan oleh Romo.
Ide awal tentang perpustakaan sebenarnya bukan buah pemikiran kami tetapi merupakan program kerja Tim Kerja Kitab Suci. Mereka yang terlebih dahulu memesan sebuah ruangan dan memberi tanda ruang tersebut dengan tulisan PERPUSTAKAAN. Beberapa waktu berlalu tetapi belum juga ada aktivitas yang dilakukan. Melihat kenyataan ini, kami berinisiatif untuk mengambil alih program tersebut.
Setelah mengantongi ijin dari Romo Kepala Paroki, kami bergerak cepat. Tim khusus kami bentuk. Beberapa langkah juga segera kami lakukan. Membuat pengumuman di gereja bahwa akan dibuka perpustakaan dan untuk itu dimohon partisipasi umat untuk menyumbangkan buku-buku yang sudah tidak terpakai. Membuat proposal kepada beberapa penerbit untuk meminta bantuan buku. Juga membeli sendiri buku-buku baru dari sedikit dana yang kami miliki.
Pekerjaan yang menguras tenaga segera terpampang di depan mata. Mulai dari mendaftar buku secara rinci, mengklasifikasikan dan memberi kode pada buku, memberi sampul plastik untuk tiap buku agar tidak mudah rusak, serta membuat kartu inventaris dan katalog untuk buku.
Akhirnya, setelah 4 bulan lebih berkutat dengan berbagai aktivitas yang cukup melelahkan, tanggal 6 Mei 2007, perpustakaan kami diresmikan. Walau hanya upacara sederhana dengan ibadat singkat, pemberian berkat oleh Romo, potong pita dan santap jajan pasar, peristiwa ini sungguh sangat berkesan bagi kami. Perjuangan yang penuh dengan suka dan duka berakhir bahagia. Namun bukan berarti perjuangan akan berhenti sampai di sini saja karena ke depan masih banyak hal yang harus kami lakukan dan kami sempurnakan.
Kini, dua setengah tahun berlalu sejak peristiwa itu. Perpustakaan kami berkembang dengan baik. Dana dari gereja untuk pembelian buku baru sudah beberapa kali kami terima dan kami belanjakan. Pun umat masih saja ada yang terketuk hatinya untuk memberikan sumbangan buku. Hingga hari ini koleksi perpustakaan sudah mencapai hampir 2300an judul, terdiri dari buku (buku rohani, buku cerita, buku komik, buku pengetahuan), majalah (rohani dan pengetahuan), vcd (rohani dan umum), dan surat kabar. Untuk anggota perpustakaan sudah mencapai 233 orang. Sementara tiap minggu rata-rata 25 orang yang melakukan pengembalian dan peminjaman buku.
Memang jumlah itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan jumlah seluruh umat yang hampir mencapai 7000 orang. Namun, kami tidak perlu berkecil hati karena harus diakui minat baca di negara ini memang tergolong rendah. Yang paling utama sekarang adalah tetap memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sambil terus berharap semakin banyak umat yang tergerak untuk menjadi anggota perpustakaan. Semoga.
Minggu, 01 November 2009
Buaya Harus Mati!!!
Buaya makin jumawa
Buaya makin tinggi hati
taringnya yang setajam pisau belati
kekuatan dan kuasanya yang tidak terkendali
makin hari semakin mengoyak nurani
padahal bau busuk itu terus menguar
dari mulutnya yang bersimbah darah
Ayo…
mesti kita hanyalah cicak
apakah diam saja ketika harga diri terus diinjak?
apakah hanya menutup mata ketika rasa keadilan itu
terus dihancurkan dengan rekayasa keji?
Para cicak…
kita mesti bergerak dan bersatu
kita tunjukkan bahwa kebenaran itu masih ada
buaya harus mati!!!
agar ia tak lagi menjadi monster
yang hantui kita sepanjang waktu
(puisi dukunganku untuk KPK)
Buaya makin tinggi hati
taringnya yang setajam pisau belati
kekuatan dan kuasanya yang tidak terkendali
makin hari semakin mengoyak nurani
padahal bau busuk itu terus menguar
dari mulutnya yang bersimbah darah
Ayo…
mesti kita hanyalah cicak
apakah diam saja ketika harga diri terus diinjak?
apakah hanya menutup mata ketika rasa keadilan itu
terus dihancurkan dengan rekayasa keji?
Para cicak…
kita mesti bergerak dan bersatu
kita tunjukkan bahwa kebenaran itu masih ada
buaya harus mati!!!
agar ia tak lagi menjadi monster
yang hantui kita sepanjang waktu
(puisi dukunganku untuk KPK)
Langganan:
Postingan (Atom)


