Selasa, 03 November 2009

Seperti Gema

Sore begitu cerah. Di langit, awan berarak, berkejaran dengan matahari yang perlahan turun di ufuk barat. Tapi, semua itu tidak mampu menghapus gundah di hati Rudi. Beban itu malah dirasakannya semakin berat. Tarikan nafasnya terus memburu seiring dengan teriakannya yang bertambah keras, “Aku membencimu… aku tidak mau berteman denganmu… kamu jahat…!!!”

Namun, suara itu terus mengikutinya… masih sama dan juga bertambah semakin keras…”Aku membencimu… aku tidak mau berteman denganmu… kamu jahat!!!”

Ah… mengapa? Mengapa suara itu terus mengikuti apa yang dikatakannya? Betulkah ini ‘sesuatu’ seperti yang pernah dikatakan oleh Dani, kakak sepupunya, dua hari lalu, saat menjumpai dirinya dalam keadaan ‘sangat’ marah.

“Tidak ada gunanya engkau marah-marah seperti ini, Rud. Cobalah teliti lagi mengapa teman-temanmu bersikap demikian kepadamu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan karena belum tentu semua itu benar,” ucap Dani berusaha menenangkannya. “Tenangkan dirimu. Ambilah cuti barang satu dua hari dan pergilah ke gunung, ke tempat yang memungkinkan engkau melepaskan semua kekesalan dan kemarahan yang selama ini kau pendam dalam hati. Aku jamin, setelah melakukannya… engkau pasti akan mengalami kelegaan… juga sebuah pelajaran tentang hidup yang akan membuatmu semakin bijaksana,” lanjutnya.

“Kelegaan, benarkah itu yang dirasakannya kini? Lalu, mengapa beban itu malah bertambah berat? Apakah kakak sepupunya sudah berbohong kepadanya?” Beragam tanya itu tiba-tiba saja menyergap pikirannya.

Lalu suasana hening. Angin berhembus perlahan. Menerbangkan dedaunan kering di sela-sela pepohonan dan membawanya jatuh ke bumi.

Di saat seperti itu, Rudi teringat kembali dengan pesan mendiang ayahnya, beberapa saat sebelum meninggal. “Nak, hidup itu seperti gema. Kita akan menerima kembali apa yang telah kita berikan. Kalau engkau memberikan kebaikan maka engkau pun akan menerima kebaikan. Sebaliknya, jika engkau melakukan kejahatan maka kejahatanlah yang akan engkau terima. Ketika engkau mencintai maka kau akan dicintai. Pun kalau membenci, engkau juga akan dibenci.”

“Ayah… maafkan aku… ternyata selama ini aku sudah berlaku salah terhadap teman-temanku. Aku sombong dan acuh terhadap mereka. Aku kurang peduli dengan kesusahan mereka. Aku juga selalu menuntut dan tidak pernah mau mengerti keadaan mereka!” jeritnya tiba-tiba.

Dan saat kesadaran itu merekah, perlahan namun pasti… beban di hatinya sedikit demi sedikit mulai terangkat.

13 komentar:

Rossbaru mengatakan...

Begitulah kehidupan, apa yang kita peroleh adalah hasil dari apa yang kita perbuat, jadi berusahalah untuk berbuat kebaikan.

Munir Ardi mengatakan...

upps akhirna bisa komen juga nih

Munir Ardi mengatakan...

postingan yang menggugah untuk berbuat baik mas

belajar blog mengatakan...

wah ceritanya bener2 inspiring banget mas
apa yang kita ucapkan itu semua akan masuk kembali ke telinga kita

Action Figure Toy mengatakan...

kalo udah punya perasaan dendam tapi tidak ingin memaafkan justru akan menjadi beban hidup kita.
karena akan ada perasaan yang terganjal

Laksamana Embun mengatakan...

Itulah Hidup... walaupun sebesar biji zarah kebaikan/kejahatan yang kita buat pasti datang buat kita kembali,,,

Postingan yang sangat bagus menurut saya.. Thanks atas Pencerahan nya kang

Lina Marliana mengatakan...

Ada pepatahnya khan ? gimana tuh bunyinya ? (lupa.. :D) pokoknya intinya, siapa yg menuai kebaikan, akan mendapatkan kebaikan, begitu juga sebaliknya... Ntar ahh, aku pikir dulu bunyi pepatahnya, siapa tau inget..hehehehe..

SeNjA mengatakan...

banyak bgt kisah kehidupan yg membawa kekayaan bathin di rmh mas cahyadi ini..

terus berbagi ya mas....

Ambar mengatakan...

yah benar sekali komentar dr sobat2 blogger, semua yang kita lakukan akan kembali pada kita lagi.. hukum karma itu pasti ada.. semoga kita tidak melakukan hal2 yg buruk.. aminnn..

Kabasaran Soultan mengatakan...

sebuah petuah bijak di siang yang beranjak petang.

nice sharing bro

eNeS mengatakan...

Sungguh sebuah kata-kata yang bijak saudaraku. Benar, segala sesuatu akan kembali kepada diri kita sendiri. An eyes for an eyes, begitulah pepatah bule.

Cerpen yang menarik dan penuh hikmah sobat...

reni mengatakan...

Mas, postingannya telah kembali mengingatkan aku nih. Terima kasih banyak.... Jangan bosan utk terus berbagi ya...
Nice post..!

setiakasih mengatakan...

aku jua mau jadi gema... memberi dan menerima balas apa yang diperbuat.

harap aku mampu bertahan jadi baik..