Sabtu, 07 November 2009

Hidup Untuk Melayani Sesama


“Umur saya sudah condong ke barat, Mas. Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain pasti akan saya lakukan dengan sungguh-sungguh, walaupun tidak dengan materi tetapi hanya dengan tenaga saja,” ungkap Martinus Sulaiman. Perkataan itu diwujudkannya dalam bentuk kegiatan pelayanan yang digelutinya selama ini. Salah satunya bergabung dalam tim pangruktiloyo bersama FW. Tirahtun, istrinya.

Ada cerita tersendiri mengapa ia bisa sampai terlibat dalam pelayanan ini. Waktu itu, mbah mertua sedang menanti ajal. Pada saat demikian, mbah mertua selalu memanggil-manggil namanya dan nama istrinya. Tak berapa lama, ia bersama istri dan ketiga anaknya segera datang untuk mendoakan mbah mertua bersama-sama. Di sela-sela doa itu, secara spontan istrinya memberi saran agar mbah mertua segera dibabtis. Ia merasa bimbang karena saat itu ia sendiri baru magang menjadi katolik. Namun teringat pesan Sugihartono, guru agamanya waktu itu, bahwa pada saat-saat darurat diperbolehkan seorang yang belum babtis untuk membabtis orang lain, ia pun merasa mantap. Setelah memberi ‘kepyuran’ air dan tanda salib… atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, tak berapa lama mbah mertua meninggal. Karena pada waktu itu kekurangan orang, ia dan istrinya ikut memangku dan memandikan jenasah mbah mertua.

Awalnya memang ada rasa takut tetapi lama kelamaan menjadi hal yang biasa. Apalagi mengingat bahwa apa yang dilakukannya adalah pelayanan. “Jangan memikirkan macam-macam, yang penting tetap melayani saja,” aku bapak yang saat ini bertempat tinggal di Jl. Tumpang I no. 72 ini.

Selama 15 tahun pelayanannya mengurus jenasah, banyak suka-duka yang ia alami. “Saya tetap bisa melayani meski dari kekurangan saya,” ucapnya. “Dukanya itu ya kalau pas dipanggil malam-malam, apalagi waktu itu saya belum punya kendaraan. Tapi untunglah, ada tim yang membantu,” lanjutnya.

Tim pangruktiloyo di lingkungannya, yaitu lingkungan Karangkumpul II, terdiri dari 5 orang untuk tim inti, baik laki-laki maupun perempuan. Biasanya sudah ada pembagian tugas untuk tim ini. Jadi ketika ada orang yang meninggal, tim langsung bergerak. Hal pokok yang dilakukan adalah; memandikan jenasah, ‘ndandani’ atau merias jenasah, dan menghias peti. Kadang tim ini juga melayani lingkungan lain yang membutuhkan, yang tidak memiliki tim pangruktiloyo sendiri.

“Kondisi saat ini sudah lebih baik dibandingkan dulu. Sekarang sudah banyak lingkungan yang memiliki tim pangruktiloyo,” tuturnya. “Apalagi pelayanan ini sangat didukung oleh gereja karena di gereja Sampangan sendiri juga ada tim pangruktiloyo yaitu Cinta Kasih,” tambahnya. Setiap terjadi pengantian pengurus gereja selalu diadakan penyegaran dengan memberikan kursus-kursus soal merawat jenasah.

Ada satu prinsip yang selalu dipegangnya ketika mengurus jenasah. Ia selalu beranggapan bahwa yang dilayaninya masih dalam keadaan hidup sehingga pelayanan harus diberikan sebaik mungkin dan tetap dihormati. “Jangan mentang-mentang sudah meninggal lalu bisa diperlakukan seenaknya sendiri,” tegasnya. Prinsip ini dilandasi oleh satu keyakinan bahwa pada saatnya nanti, ia juga akan mengalami hal yang sama. Jadi bila saat ini ia merawat dengan baik harapannya pada saat meninggal, ia juga memperoleh perlakuan yang sama.

Selain aktif dalam tim pangruktiloyo, sejak tahun 1999, ia juga menjadi prodiakon lingkungan. Di lingkungan tempat tinggalnya saat ini, ia diserahi tanggung jawab sebagai ketua RT. Sedangkan istrinya aktif dalam posyandu dan pelayanan KB.

Meski ada banyak kegiatan disamping pekerjaan utamanya sebagai karyawan di PT Gelora Pacar Farma, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang farmasi, ia selalu berusaha menyisihkan waktu untuk keluarganya. “Dalam keluarga harus tetap saling mendukung. Selalu menjaga komunikasi dan memelihara keterbukaan satu sama lain,” katanya mengungkap resep yang hampir 40 tahun ini selalu dilakukannya. Berkat pendampingan itu, ketiga anaknya sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang yang tertinggi dan juga sudah mentas. Bahkan saat ini ia dari anak-anaknya, ia memperoleh tambahan 4 cucu.

“Saya merasa bahwa Tuhan sudah banyak mengaruniakan berkat untuk keluarga saya. Oleh karena itu saya selalu ingin membalas kebaikan-Nya dengan melayani sesama. Tidak dengan materi tetapi dengan ‘raga’ dan tenaga yang saya miliki,” pungkasnya.

(tulisan ini adalah hasil wawancara langsung dengan yang bersangkutan)

19 komentar:

KANDANGTips mengatakan...

Tokoh yang patut diteladani... Jadilah orng yang berbuba, bukan jadi SAMPAH!!

KANDANGTips mengatakan...

Tokoh yang patut diteladani... Jadilah orng yang berbuba, bukan jadi SAMPAH!!

Lina Marliana mengatakan...

Duh... rajin banget.. tiap hari posting,.. kok ada aja inspirasinya yah..

Nice posting mas..

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi sesamanya dan lingkungan sekelilingnya.

Munir Ardi mengatakan...

Jadilah anugerah untuk orang lain kita berikhtiar agar selalu dicari jika tidak ada karena orang lain itu memerlukan kita

reni mengatakan...

Manusia yang tak berguna bagi orang lain... maka dia telah menjalani hidup dalam kesia-siaan.

Laksamana Embun mengatakan...

Manusia itu makhluk sosial yang saling membutuh kan satu sama lain baik itu harta,tenaga,ilmu dll..

anazkia mengatakan...

Duh, mohon maaf mas Goen, selalu lambat datang kemari :(

Semoga kita selalu mampu untuk melayani sesamanya.

KucingTengil mengatakan...

salah satu peran manusia itu adalah sbg makhluk sosial, yg saling membutuhkan satu sama lain. kita ga bisa hidup tanpa orang lain. Agar kita dibantu ama orang lain, terlebih dahulu kitapun harus berguna bagi orang lain.

Fanda mengatakan...

Salut buat orang2 yg berani menekuni tugas yg tidak 'populer' seperti pemandi jenazah dll. Apalagi kalo itu semua dilakukan karena kasih!

Clara mengatakan...

melayani sesama kalau bukan karena panggilan hati, sulit banget.
btw, rasanya di gereja saya nda ada yg namanya tim pelayanan untuk mandiin jenazah deh *inget-inget lagi*

Andie Gokil mengatakan...

kunjungan perdana nih.
hhehhe
salam kenal yaaa..

orang2 kayak gini nih mas, yang bener2 'Hero'..

ada yang baru d blogku, mampirrr yaaaa. :)

Agus Siswoyo mengatakan...

Melayani bagi sesama adalah semangat yang bagus dalam menjaga keharmonisan hubungan. Apalagi seorang pemimpin bagi anak buahnya.
Nice posting.

Seri Bahasa mengatakan...

melakukan kerja amal tanpa meminta timbal balik adalah sifat yang terpuji. jarang ada orang yang bisa melakukannya.

dewi mengatakan...

orang yang patut jadi contoh apalgi untuk generasi muda skrang. nice posting mas

eNeS mengatakan...

Nice posting. Penuh pelajaran yg bisa diambil.
Memang dalam keluarga sangat diperlukan untuk saling dukung satu dengan yang lainnya agar bahtera hidup bisa berjalan lancar meski ada badai yang menghadang

namaku wendy mengatakan...

mulia sekali hidupnya, hidup untuk melayani sesama. semoga kisahnya bisa menjadi inspirasi kita semua, selalu bermanfaat dan berguna bagi sesama:)

Newsoul mengatakan...

Hidup untuk melayani sesama, quotation mantap. Nice post sobat.

JOLA76 mengatakan...

Berkat Tuhan akan melimpah bagi siapa saja yang mau melayani sesama tanpa pamrih