Rabu, 18 November 2009

Mau Berkembang

Namanya Bapak Djemono. Lengkapnya Ignatius Djemono. Beliau kelahiran Kulonprogo tanggal 3 Januari 1941. Bila melihat sosoknya, kita akan sangat terkesan dengan kesederhanaan dan ketulusan hatinya.

Karirnya dimulai pada tanggal 1 Januari 1961. Ketika itu, ia menjadi guru di SD Pangudi Luhur Boro, mengajar kelas VI. Setelah hampir dua setengah tahun mengajar di kelas VI dan setengah tahun kemudian di kelas IV, tahun 1964 ia dipindahtugaskan menjadi guru di SMP Pangudi Luhur Boro hingga tahun 1967.

Tahun 1968 Bpk. Djemono kembali dipindahtugaskan. Saat itu, bersamaan dengan kepindahannya ke Semarang dan ia ditempatkan di SMP Domenico Savio. Pengalaman menjadi guru di sekolah ini adalah pengalaman yang sangat berkesan. Di SMP Domenico Savio, ia pernah mengajar di semua kelas, baik kelas 1, kelas 2 maupun kelas 3. Dan karena karir yang terus menanjak, tahun 1996 Bpk. Djemono diangkat menjadi kepala sekolah.

SMP Domenico Savio adalah sekolah yang difavoritkan oleh banyak orang tua. Hal ini disebabkan karena selain sekolah ini sudah punya ‘nama’ juga ditunjang dengan sistem pendidikan yang sudah teratur, tingkat kedisiplinan yang baik hingga banyak sekali menghasilkan lulusan terbaik. Setiap tahunnya, sekolah ini menampung lebih kurang 400 siswa baru dari jumlah pendaftar 600-700 calon siswa. Dari total 400 siswa baru, 20-25 siswa diantaranya adalah anak dari keluarga tidak mampu.

Penerimaan siswa baru didasarkan atas kemampuan siswa yang dilihat dari nilai hasil tes masuk. Tetapi kadang memang ada orang tua yang ingin memasukkan anaknya lewat ‘jalan belakang’ walaupun dengan nilai yang tidak memenuhi standar. Bagi Bpk. Djemono, hal ini sangat dihindari sebab selain akan mengorbankan sang anak, karena tingkat kemampuan yang berbeda sehingga anak akan susah payah mengikuti pelajaran. Dan di sisi lain akan menurunkan citra sekolah karena akan berdampak pada hasil lulusannya.

Tahun 2000, Bpk. Djemono memasuki masa pensiun. Saat ini, ia tinggal di Jl. Bima II/37 A Semarang dengan seorang istri dan satu orang putri, hasil perkawinannya sejak tahun 1980. Bagi Bpk. Djemono, kesederhanaan dan kejujuran adalah dua hal yang paling utama. Hal ini dapat dilihat dari letak dan situasi rumahnya yang sederhana, yang justru tidak kelihatan karena berada di bagian paling ujung, ‘diapit’ oleh rumah-rumah yang lebih mewah.

Untuk bepergian, Bpk. Djemono lebih memilih jalan kaki atau naik angkutan umum. Bila ada orang yang menawari untuk bersama-sama naik mobil atau motor, tak jarang justru malah akan ditolak. “Lebih baik begini, bisa bebas dan tidak merepotkan orang lain,” ucapnya saat ditanyakan alasannya.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Bpk. Djemono bisa membaur dengan baik. Prinsip kejujuran dan mendukung hal-hal yang baik selalu ia pegang. Baginya semua agama adalah sama dan selalu mengajarkan kebaikan serta kerukunan. Ia sangat tidak setuju jika ada perselisihan dan pertengkaran yang dipicu karena perbedaan agama seperti kasus-kasus yang terjadi selama ini. Ia berharap semua pemuka agama dapat secara tulus hati saling terbuka, mau berdialog, hidup rukun satu sama lain dan menghindari konflik-konflik yang terjadi dengan lebih mempererat, memperbanyak dan memperdalam persamaan-persamaan yang ada serta mengurangi perbedaan yang timbul. “Perbedaan itu memang akan selalu ada tetapi cukuplah hal itu disimpan di lingkungan sendiri tanpa berusaha untuk membanding-bandingkan dengan lingkungan/kelompok lain,” tegasnya.

Ketika disinggung tentang kecenderungan orang-orang sekarang yang justru memiliki ‘pemahaman iman yang sempit’, Bpk. Djemono secara terbuka sangat tidak setuju dengan hal yang demikian. Baginya iman harus selalu berkembang. Iman dalam prakteknya harus dapat mengikuti perkembangan jaman. Dengan demikian, tiap orang dituntut untuk selalu terbuka, mau belajar dengan jalan banyak membaca dan melihat perkembangan yang terjadi. Ketika hal ini dilakukan niscaya orang akan menjadi lebih arif dan tidak asal memberikan penilaian negatif terhadap perubahan-perubahan yang dilakukan tanpa dasar yang jelas.

10 komentar:

Ivan Kavalera mengatakan...

Saya setuju dg bapak Djemono. Iman dalam prakteknya harus dapat mengikuti perkembangan jaman.
Nice post.

Clara mengatakan...

kalo saya, kalo ada yg ngasih tumpangan, malah dengan senang hati ngikut, hehehehhehe
salut sama Bapak Djemono

-Gek- mengatakan...

Hebat yaaa....Itu baru te-o-pe namanya..

Munir Ardi mengatakan...

Tokoh yang sulit dicari pak, hidup sederhana, visi luar biasa. Selamat malam mas gun

aan mengatakan...

bisa menjadi teladan Bapak Djemono,,

Laksamana Embun mengatakan...

Setuju kang...

COntoh yang harus di tiru sama generasi muda kita terutama saya pribadi

Lina Marliana mengatakan...

Figur seorang guru yang patut diteladani ya mas... Nice post

Materi Kuliah mengatakan...

mas, cek link sidebar saya ya... saya udh pasang di sidebar saya... tukeran link yuk... monggo dicek..
thx sebelumnya... (baru newbie)..

Sekalian join folowerku ya.. saya udh loch..

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Figur seperti pak Jemono sudah sulit dicari di jaman sekarang.
Manakala kesederhanaan dan kejujuran sudah bersemayam, maka sulit untuk digoyahkan..... Salut buat pa'Jemono.

Seri Bahasa mengatakan...

memiliki kehidupan sederhana itu lebih baik dari berlebih-lebih kerana akan menyulitkan diri sendiri maupun tetangga.