Senin, 16 November 2009

Pahlawan Yang Dilupakan

Pagi begitu dingin. Di sekitar, kegelapan masih terasa menutupi pandangan. Bu Muji bergegas meninggalkan rumah. Tak ketinggalan dibawanya karung untuk bekerja. Barusan ia melihat jam di dinding rumahnya menunjukkan pukul 04.30, saatnya untuk segera berangkat. Ia harus cepat karena jika tidak, ia pasti ketinggalan bis dan akibatnya, ia harus berjalan kaki ke pangkalan untuk mencari daihatsu.

Dari angkutan yang membawanya, Bu Muji kemudian turun di Mesjid Petompon dan selanjutnya masuk ke Gisiksari. Jika di tempat ini ia mendapat banyak maka akan dititipkannya dan selanjutnya menuju ke Asrama Polisi Kalisari untuk melanjutkan pekerjaannya.

Bu Muji adalah seorang pemulung. Pekerjaannya hanyalah mencari sisa-sisa barang yang masih berguna yang sudah dibuang ke tempat sampah oleh pemiliknya. Kadang sebagai pemulung, ia dianggap telah mencuri, mengambil barang-barang yang masih berguna. Tetapi Bu Muji berprinsip, ia tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain apalagi mencuri, karena Tuhan maha tahu. Ia akan selalu bertanya atau ‘nembung’ kepada pemilik rumah apakah barang ini atau barang itu memang sudah tidak berguna dan sudah dibuang. Jika memang demikian, ia akan segera meminta ijin untuk mengambil. Kadang ada juga pemilik rumah yang memang sengaja mengumpulkan barang-barang tidak terpakai yang masih laku untuk dijual dan diberikan kepada Bu Muji. Ia akan selalu bersyukur dengan pemberian ini karena akan menambah penghasilannya.

Dari hari ke hari, Bu Muji selalu menempuh rute yang sama. Baginya jika harus berpindah ke tempat yang baru, ia tidak berani karena pasti akan dicurigai karena belum dikenal. Selain itu, ia juga merasa betah di tempat lama karena di sana ia sudah banyak dikenal dan mengenal. Sehingga dengan demikian ia dapat lancar melakukan pekerjaannya. Meskipun hasilnya tidak seberapa, ia selalu berusaha bekerja dengan baik. Kadang ketika mendapat hasil yang banyak, langsung disetor ke penampung, dan bila hanya sedikit kemudian dititipkan untuk mencari lagi. Jika sudah merasa lelah, Bu Muji tidak pernah memaksakan diri, semuanya langsung disetor dan kemudian pulang. Kira-kira pukul satu siang ia tiba kembali di rumah.

Pernah suatu ketika saat hujan turun dan Bu Muji berteduh di sebuah rumah, ia membayangkan: “Wah udan-udan, nggoreng pohung, ning dhuwur kasur karo ndelok TV, Enak tenan. Aduh Gusti kono do nggoreng pohung, ndelok TV ning kasur aku kok turut sampah koyo ngene kapan aku isa koyo ngono?” Tapi ia juga menyadari dirinya tidak mempunyai keahlian apa-apa, hanya bisa bekerja sebagai pemulung. Dan pekerjaan ini sudah dilakukannya sejak tahun 1976, saat pertama kali ia mulai menikah. Dari hasil pernikahannya itu, Bu Muji dikaruniai 5 anak. Satu sudah meninggal dan kini tinggal empat, satu putra dan tiga putri. Yang sulung sudah menikah dan memberinya seorang cucu. Kini hanya tinggal si bungsu yang masih bersekolah di SMP 13 kelas III. Meski hasil dari memulung memang tidak seberapa, Bu Muji selalu bersyukur karena sering mendapat bantuan beasiswa sehingga dapat menyekolahkan anak-anaknya. Apalagi suaminya telah meninggal lima tahun yang lalu.

Dalam keseharian Bu Muji yang bernama lengkap Veronica Mujinah dan lahir pada tanggal 20 Oktober 1959 adalah seorang yang aktif. Di gereja, ia aktif dalam kegiatan Legio Maria dan Monica. Sebagai seorang Legioner, Bu Muji aktif dalam melakukan kunjungan-kunjungan baik ke rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, ke rumah-rumah bahkan sekali waktu ke rumah sakit jiwa. Baginya keinginan untuk melayani sesama adalah keinginan yang selalu diidam-idamkannya. Tapi dalam hal ini, Bu Muji menegaskan bahwa ia tidak mampu bila harus membantu dengan dana tetapi bila dengan seluruh tenaga, ia pasti siap. Oleh karena itu ia berharap agar selalu diberi kesehatan, karena dengan kesehatan, ia dapat melayani Tuhan dengan jalan melayani sesama yang membutuhkan.

Setelah hampir tiga tahun aktif di Legio Maria, ada hal positif yang dirasakan oleh Bu Muji. Ia yang dulu begitu fanatik dalam berdoa, inginnya selalu dikabulkan untuk setiap doa yang dilakukan, kini bisa lebih pasrah dalam berdoa. Ia ‘lilo legowo’ jika doanya kadang tidak terkabul. Baginya, Allah itu maha baik. Ia selalu memperhatikan umatnya. Tapi ada satu hal yang begitu dipegang oleh Bu Muji; doa saja tanpa melakukan perbuatan tidak ada gunanya. Baginya hidup adalah untuk bekerja selain berdoa. Keduanya harus selalu berjalan beriringan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, di kampung Deliksari RT. 02 RW VI rumah no. 75, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunung Pati, Kabupaten Semarang, Bu Muji dikenal sebagai orang yang ringan tangan dan suka membantu. Rumahnya, seringkali dijadikan ‘base camp’ untuk para frater yang ingin belajar menyelami kehidupan pemulung. Mereka dengan gembira berbaur dengan seluruh keluarga Bu Muji, berkumpul bersama, makan, minum dengan hanya menggelar tikar dan membagi giliran dalam berdoa. Meski mereka tinggal di daerah yang labil, jalan yang naik turun, dan sumber air yang sulit karena harus 2 kilo bila ingin mandi atau sekedar mengambil air, mereka tidak pernah mengeluh. Justru mereka selalu bersyukur karena telah diberi tempat bernaung.

Selain itu, Bu Muji adalah orang yang dipercaya untuk memandikan jenasah. Baik laki-laki atau perempuan, tua muda, meninggal karena sakit parah atau biasa, selalu dikerjakannya dengan sepenuh hati. Baginya itu adalah bagian dari pelayanan walau kadang ia menerima omongan yang tidak-tidak dari tetangga sekitar.

Bu Muji memang hanyalah seorang pemulung. Tetapi ia adalah pejuang yang sangat gigih bagi kehidupannya. Ia adalah pahlawan yang justru sering kita lupakan. Karena pekerjaannya, lingkungan kita menjadi bersih, bebas dari sampah yang tidak berguna. Bagi keluarganya, ia adalah ibu yang penuh tanggung jawab, selalu berusaha mencukupi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya walau hanya bekerja sebagai pemulung. Bagi lingkungan sekitar, ia adalah sosok yang sangat dibutuhkan. Dan bagi gereja, ia adalah salah satu pelayan Tuhan, yang siap pergi kemanapun untuk melayani sesama. Bu Muji benar-benar seorang pahlawan kehidupan.

14 komentar:

SeNjA mengatakan...

pertamaxx dulu ahh baru baca...

becce_lawo mengatakan...

setiap orang adalah pahlawan bagi dirinya dan orang-orang yang dicintainya

cinta menhadirkan semangat untuk berkorban...menjadi pahlawan.

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

setuju ma becce.. hehe..
dan juga pahlawan bagi orang2 yg mencintainya.. :)

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Bu Muji adalah sosok pahlawan sejati yang cenderung termarginalkan....

sebuah kisah yang pantas menjadi bahan perenungan.

Kabasaran Soultan mengatakan...

Sebuah renungan yang mencerahkan.
Seringkali kita melupakan orang-orang yang berjasa disekitar kita.

nice sharing bro

-Gek- mengatakan...

Wah.. namanya keren lo Mas.. :: Veronica ::

Pahlawan tanpa tanda jasa juga sering diperlakukan demikian, dilupakan atau bahkan terlupakan.

Tapi, tidak di mata Tuhan, karena DIA tidak pernah tidur..

Nice sharing. :)

si kumb@ng mengatakan...

"God Bless Bu Muji"

makasih renungannya mas...

annie mengatakan...

banyak mbah Muji lain di dunia ini, bang, karena cinta mengantarkan kita pada predikat pahlawan.

kisah yang inspiratif ...

Sigit Purwanto mengatakan...

banyak sebuah kisah,cerita bahkan kehidupan nyata yang dapat kita ambil sari sebagai inspirasi, seperti kehidupan disekitar kita yang bisa menjadi sebuah renungan tapi tidak pernah kita sadari..

nice post bang..

bayunature mengatakan...

cerita menarik, senang bacanya..bagus..

Seri Bahasa mengatakan...

semoga bisa menjadi pelajaran kepada anak2 muda zaman sekarang.

reni judhanto mengatakan...

Menyentuh sekaligus memberikan pencerahan. Makasih postingannya yg bermanfaat ini.
Semoga saja orang-2 spt Bu Muji dapat meraih masa depan yg lebih baik.

Lina Marliana mengatakan...

menurutku, setiap orang yg berbuat kebaikan tuk membahagiakan orang lain bisa kita sebut pahlawan.. Banyak pahlawan disekeliling kita, tapi jarang banget kita sadari..