Selasa, 18 Januari 2011

Pamer

Apakah Anda suka pamer? Jika pertanyaan semacam ini dilontarkan kepada Anda, apa yang Anda lakukan? Buru-buru menolak dan mengatakan berbagai alasan yang mendukung bahwa Anda bukanlah orang yang suka pamer atau... dengan tersipu-sipu Anda akan menggangguk dan mengiyakan pertanyaan itu? Apa pun jawaban atau reaksi yang Anda lakukan, percayalah bahwa sebenarnya, Anda dan saya sudah dari sononya dititahkan seperti itu.

Lho kok? Coba ingat-ingat lagi... apa yang Anda lakukan ketika memiliki barang atau sesuatu yang baru... pasti dorongan bawah sadar Anda akan mengajak Anda untuk segera menggunakan barang atau sesuatu yang baru tersebut dengan tujuan agar bisa dilihat orang lain. Kalau orang lain sudah melihat atau bahkan memberi komentar, tentu Anda akan merasa bangga. Hati Anda akan diliputi kegembiraan karena sudah berhasil menunjukkan hal yang baru itu kepada orang lain.

Maka, tidaklah mengherankan jika banyak orang terus berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan tinggi bagaimana pun caranya. Banyak orang bersaing untuk menumpuk kekayaan. Banyak pula di antara mereka yang dengan segala cara berusaha untuk memperoleh kekuasaan. Setelah semua itu didapatkan, mereka dengan segera ’unjuk diri’.

Tentu masih segar di ingatan kita cerita soal Gayus Tambunan. Pegawai pajak golongan III A yang memiliki kekayaan super mewah. Ketika terbukti bahwa kekayaan tersebut diperoleh dari hasil menggelapkan pajak berbagai perusahaan yang menjadi kliennya, Gayus tenang-tenang saja. Bahkan ia masih bisa tersenyum saat dijadikan tersangka dan kemudian ditahan. Akhirnya terbukti bahwa meski dipenjara, Gayus masih bisa melenggang keluar masuk dengan seenaknya. Gayus ingin pamer bahwa dengan uang yang dimilikinya bisa mengalahkan segalanya termasuk hukum.

Apakah pamer semacam ini yang akan kita lakukan? Pamer keburukan dan kejahatan? Pamer hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan cenderung merugikan orang lain? Tentu tidak. Semestinya kita bisa melakukan hal ini: pamer kasih sayang, pamer perhatian, dan pamer aneka kebaikan yang lain. Bukan karena supaya dipuji tetapi terutama agar semakin banyak orang yang tergerak untuk melakukannya. Dengan demikian, dunia yang kita tinggali ini akan semakin membawa kedamaian dan kebahagiaan untuk kita. Apakah Anda mau?

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Those who possession of to the recognized faiths allege that the say-so of their faith rests on leak, and that revelation is given in the pages of books and accounts of miracles and wonders whose complexion is supernatural. But those of us who force great discarded the credence in the mysterious quiet are in the self-possession of revelations which are the base of faith. We too entertain our revealed religion. We accept looked upon the fa‡ade of men and women that can be to us the symbols of that which is holy. We prepare heard words of venerable understanding and really oral in the possibly manlike voice. In of the universe there have meet up to us these experience which, when accepted, donate to us revelations, not of supernatural belief, but of a natural and fated certitude in the clerical powers that animated and live in the center of [a mortal physically's] being.

Yunna mengatakan...

selamat pagi.....

pada intinya pamer itu tidak baik, karena bisa membawa kita ke perbuatan buruk lainnya....

Megi mengatakan...

hmm.. gak bisa dipungkiri klo qt sering khilaf buat pamer meskipun gak terlalu nunjuk2in ke orang lain :P

dewi mengatakan...

sifat suka pamer sgt tidak baik .. apa kabar mas Gun.. dah lama nie gak berkunjung.. smoga sehat selalu

Yudi Darmawan mengatakan...

sedikit jujur:
saya tak lepas dari rasa pamer,
eksibisi berlebihan,
padahal yang ada pada saya,
hanya sangat kecil di hadapan Tuhan..

semoga dapat berubah,,

Inge / CyberDreamer mengatakan...

semua memang tergantung dengan niat, dan yang tau apa niat kita ya hanya kita... kadang ketika kita tidak ingin pamer hanya memberikan contoh yang baik terkadang masih dianggap orang lain sebagai pamer....

selain memperbaiki niat kita sendiri mungkin juga mulai berprasangka baik pada maksud orang lain, jika ia berbuat baik... maka lebih baik maksud baiknya saja... walau mungkin ada sedikit pamer disana :D