Senin, 15 Desember 2008

Proses

Kang Somad sedang sibuk di pekarangan rumahnya. Tangannya kotor belepotan tanah dan pupuk kandang. Pagi ini ia sedang asyik berkebun, hobi yang sudah agak lama ditinggalkannya. Dengan cekatan ia memindahkan bibit tanaman mangga yang masih kecil-kecil ke dalam polybag yang telah dipersiapkannya. Mula-mula dengan hati-hati, ia mengambil bibit itu, memasukkannya ke dalam polybag, menambahkan tanah, memadatkannya, lalu memberinya sedikit air dan setelah itu disusunnya polybag itu di pojok rumah dengan rapi.

“Wah, lagi ngapain Kang?” Bejo tiba-tiba nongol di belakang Kang Somad.

Kang Somad hanya diam. Ia masih asyik dengan pekerjaannya.

“Lagi pingin alih profesi ya Kang?” ulang Bejo dengan nada sedikit keras.

Kang Somad sejenak menghentikan pekerjaannya. “Eh, kamu Jo. Ada apa, kok tumben pagi-pagi udah ke sini?” katanya sembari mengaduk-aduk campuran tanah dan pupuk kandang yang hendak diisikannya ke dalam polybag.

“Ditanya kok malah nanya, Kang!” sergah Bejo seraya duduk di samping sobatnya.

Kang Somad hanya terkekeh. “Mumpung hari libur jadi aku bisa berkebun lagi kayak dulu.” terangnya kemudian, mengobati rasa penasaran Bejo. “Lagian sayang kalo bibit mangga hasil semaianku ini enggak dipindah. Kan itung-itung investasi untuk masa depan.” lanjut Kang Somad sembari tangannya asyik membersihkan tanah dari bibit mangga yang barusan dicabutnya dari tempat persemaian.

“Investasi gimana maksudnya, Kang?” tanya Bejo penasaran.

“Coba kamu hitung, masih berapa lama lagi bibit mangga ini bisa menjadi pohon mangga yang rimbun yang sarat dengan buah. Masih berapa tahun lagi hingga bisa dirasakan buahnya? Mungkin sekitar 10-15 tahun lagi, kan.” terang Kang Somad.

“Lho, kan ndak harus repot-repot nunggu selama itu Kang. Beli aja di pasar, beres. Masih bisa pilih-pilih lagi.” sanggah Bejo.

“Kayak gitu sih emang gampang. Tapi kan lebih nikmat rasanya kalo bisa menikmati hasil dari kebun sendiri, lebih-lebih jika kita yang menanamnya,” jelas Kang Somad.

“Iya kalo kita masih diberi umur panjang. Lha kalo keburu dipanggil sama yang Di Atas, gimana Kang?”

“Lah, kan masih ada anak cucu kita yang akan memetik hasilnya!” jawab Kang Somad. Kemudian ia menghentikan pekerjaannya dan memandang Bejo dengan mimik serius, “Kebanyakan manusia itu memang kayak kamu, maunya pingin yang serba cepet, serba instan, ndak mau menunggu apalagi menghayati proses. Trus karena alasan-alasan itu mereka jadi menggampangkan segalanya, menghalalkan berbagai cara yang tak jarang merugikan orang lain hanya untuk sekedar mencapai hasil yang instan. Contohnya; pelajar yang karena malas belajar trus membikin catatan-catatan kecil untuk nyontek saat ujian tiba. Kasus lain, maraknya penjualan ijazah palsu dengan gelar yang bisa dipilih sendiri. Dan berbagai kasus korupsi yang sudah merugikan negara trilyunan rupiah.” lanjutnya.

Bejo merasa tertohok. Ia teringat saat masih bersekolah di SMP dulu. Saat Ia harus tinggal kelas hanya karena ketahuan mencontek saat ujian akhir.

“Kalo manusia ndak mau mengikuti proses berarti manusia itu menolak kehendak Tuhan. Coba kamu lihat bukankah manusia itu hidup karena ada proses. Mulai dari pertemuan sel antara pria dan wanita. Bayi yang lahir, menangis, makan, minum, berguling, merangkak, dan kemudian mulai berjalan. Kemudian ia beranjak remaja, muda, tua dan kemudian mati. Juga tumbuhan yang kini rindang dengan daun yang lebat dan batang besar yang begitu kokoh, dahulu berasal dari sebutir biji yang kecil.” Kang Somad mencoba membuka wawasan Bejo sahabatnya. “Dengan mengikuti proses, setiap manusia akan dapat selalu mengucap syukur. Bersyukur atas anugerah hidup, bersyukur atas kesempatan dan bersyukur atas segala karunia yang sudah diberikanNya kepada kita.” pungkasnya.

Bejo hanya diam. Ia semakin mengagumi kearifan sahabatnya.

Tidak ada komentar: