Jumat, 23 Januari 2009

Tertib Itu…?

Tertib itu paham akan waktu. Kapan waktu untuk makan. Kapan waktu untuk tidur. Kapan waktu untuk bekerja. Kapan waktu untuk bermain. Kapan waktu untuk pelayanan. Jadi… kalo pas waktunya kerja ya… jangan digunain untuk leyeh-leyeh atau malas-malasan (sambil baca koran). Waktunya belajar dipake nonton sinetron sampe tengah malem. Waktu tidur… eh… malah begadang semalam suntuk karena kerjaan yang belum kelar. Ato waktu untuk Tuhan malah sibuk kirim dan terima SMS. Kacau khan!

Tertib itu juga berarti tau peraturan. Warna merah tandanya harus berhenti. Ijo baru boleh jalan. Jangan terus dibalik-balik. Ijo jalan… lha kalo pas merah, ya tetep aja jalan… Gimana tuch! (mungkin lagi sakit mata ya?) Trus juga sama rambu-rambu yang lain. Jangan hanya taat kalo pas ada petugas. Pas lagi ndak ada, balik lagi kaya kebiasaan semula. Parkir mobil ato motor pada tempatnya dan tau situasi. Jangan karena gara-gara kita parkir, malah bikin jalanan macet dan orang lain jadi terhambat. Trus, selalu pake helm kalo lagi naek motor. Jangan alasan tempatnya deket trus males pake helm. Gilirannya ketangkep aja… eh maunya malah 'ngelesss'.

Tertib itu juga nggak sembarangan. Naruh piring bekas makan di tempat tidur. Naruh sepatu di rak piring. Ato juga naruh baju yang habis dicuci di ember tempat cucian kotor. Intinya: kita kudu tau dan konsisten untuk meletakkan segala sesuatunya di tempat yang memang sudah semestinya. Juga, jangan sembarangan nyerobot antrian dengan alasan apa pun (kalo ndak ingin kepala jadi benjut.. jut..!). Harus sabar dan sabar. Toh kalo tiba gilirannya, kita pasti dilayani.

Apa lagi ya…? Barangkali para sahabat mo ikutan kasih definisi… silakan ya…

Rabu, 21 Januari 2009

Demam OBAMA

Hari-hari terakhir ini dunia sedang dilanda ‘demam OBAMA’. Gejalanya; panas dingin, mata berkunang-kunang, badan gemetaran, dan keinginan untuk berteriak ketika melihat dan mendengarkan apa saja yang berbau OBAMA. Apalagi ketika inagurasi pelantikannya sebagai presiden AS yang ke-44 disiarkan secara luas melalui media televisi. Kehebohan itu semakin menjadi-jadi. Dunia dilanda euphoria begitu dahsyat. Dan secara bersamaan demam OBAMA mewabah di mana-mana.

Lalu, setelah semua kehebohan itu berakhir apa yang kemudian tersisa? Biasa saja dan kemudian lupa bahwa kita pernah terkena demam OBAMA (lupa bahwa kita pernah ‘begitu gila’ hingga rela ‘bathuk’ atau ‘pipi’ kita dicoret-coret dengan kata OBAMA)? Atau barangkali akibat demam itu masih terasa hingga kini dan entah sampai kapan.

Jika opsi pertama yang kita pilih, rasanya sia-sia saja kemeriahan yang kemaren sudah berlangsung. Jadi? Ya, kita pilih yang kedua tentunya kalo masih ingin mendapat manfaat dari demam OBAMA ini (lho… demam kok bermanfaat?).

Coba kita resapi kata-kata yang diucapkan OBAMA sesudah pelantikannya sebagai presiden. “Semua sederajat, semua bebas dan memiliki kesempatan untuk mencapai kebahagiaan bersama.” “Kita berkumpul di sini karena kita telah memilih harapan di atas ketakutan, kesatuan tujuan di atas pertentangan dan perbedaan.”

Kata-kata yang begitu indah, apalagi jika hal tersebut dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai pribadi dalam keluarga, lingkungan, maupun sebagai warga sebangsa setanah air. Rasanya begitu indah jika ‘seperti pesan OBAMA’ perbedaan yang ada (suku, agama, ras, kepercayaan, tingkat ekonomi) tidak membuat kita saling menjatuhkan dan saling bertikai tetapi lewat perbedaan itu kita berusaha saling melengkapi dan bersama-sama bahu-membahu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Nah, apakah kita bisa?

Rencana Tuhan

Rencana Tuhan terasa begitu indah.

Awalnya, aku hanyalah seorang pria introvert yang rendah diri. Sering aku merasa takut jika harus bertemu atau sekadar berhadapan muka dengan orang lain. Takut nanti mau ngomong apa, menjawab apa jika mulai diajak ngobrol.

Semua mulai berubah, saat aku ditunjuk menjadi Ketua Mudika di lingkunganku. Entah bagaimana awalnya bapak Ketua Lingkungan, mempercayakan tugas ini kepadaku, barangkali memang tidak ada orang lain yang bersedia. Sungguh, semuanya berawal dari keterpaksaan. Aku tidak mengerti dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan berkat bantuan rekan-rekan serta para orang tua, perlahan-lahan aku mulai menemukan kepercayaan diri. Aku mulai menikmati tugasku sebagai Ketua Mudika. Dan berkat jabatan ini (kalau boleh dikatakan demikian) wawasanku semakin bertambah. Aku menjadi terbiasa berbicara di depan orang lain dan rasa takut pun sedikit demi sedikit menghilang. Ada begitu banyak kesempatan yang kemudian menghampiriku. Mengikuti pelatihan koor dan pemazmur. Menjadi dirigen. Menjadi pendamping dalam kegiatan sekolah minggu. Bergabung dengan kepengurusan Mudika wilayah hingga keterlibatanku dalam kegiatan kesenian di parokiku. Sungguh, semuanya sudah direncanakan Tuhan dengan begitu indah.

Berkat kegiatan kesenian ini pula aku menemukan gadis idamanku. Seorang gadis sederhana yang murah senyum dan cantik. Ini menjadi pengalaman pertama buatku, mengenal lebih dekat dan menjalin hubungan serius dengan seorang gadis. Aku bertekad ingin menjadikan hubungan ini sebagai yang pertama dan yang terakhir dalam perjalanan hidupku. Ternyata tidak mudah untuk mewujudkan hal ini. Banyak sekali godaan yang datang menghampiri. Bertemu dan berkenalan dengan gadis-gadis lain. Rasa suka yang kemudian timbul. Tapi entah mengapa selalu ada ‘warning’ yang mencegahku jika mulai ada perasaan berlebih terhadap gadis yang lain. “Aku sudah memiliki pacar!” tegas hatiku.

Setelah hampir sembilan tahun berpacaran, akhirnya kami menikah dalam pernikahan suci di depan altar gereja. Perasaan kami saat itu sungguh tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Hanya kebahagiaan yang demikian membuncah menyesaki dada.

Kini, sudah hampir delapan tahun kami mengarungi hidup bersama sebagai satu keluarga. Setiap hari tak henti-hentinya kami bersyukur atas rencana-Nya yang begitu indah. Namun, kami merasa sedih. Kami merasa masih ada yang kurang dalam kehidupan keluarga kami karena hingga saat ini kami belum dikaruniai keturunan. Kadang kami iri dengan keluarga-keluarga lain yang usia pernikahannya ada di bawah kami. Baru beberapa bulan menikah, kehamilan itu sudah datang. Sering kami bertanya di dalam doa-doa kami, “Tuhan, kapan Kau berikan keturunan untuk kami? Kapan kami bisa menimang bayi mungil buah cinta kami?”

Mulanya, kegelisahan ini begitu menggelayuti kami terutama untukku. Lebih-lebih ketika ada tetangga atau saudara yang bertanya, “Sudah punya anak, Mas? Anaknya berapa, Mas?” Aku jadi bertambah sedih dan kadang merasa malu. Namun perlahan-lahan, aku mulai bisa menerima situasi ini. Benar kata seorang adik kepadaku, “Mas, mungkin memang belum saatnya Tuhan memberikan keturunan. Percayalah, pasti akan tiba waktunya, sebab rencana-Nya selalu sempurna.” Ya, mungkin memang belum saatnya karena Tuhan masih memakai kami untuk bekerja di ladang-Nya (saat ini kebetulan kami aktif dalam pelayanan di gereja. Istriku sebagai Lektor/pembaca firman Tuhan dan pendamping sekolah minggu. Sedangkan aku menjadi bagian dari pengurus dewan paroki sebagai tim kerja KOMSOS yang menangani pewartaan kegiatan-kegiatan gereja).

Rencana Tuhan bagiku sungguh terasa begitu indah. Ketika Ia dengan secara tidak terduga mengenalkan aku dengan dunia ‘BLOG’. BLOG yang membuat aku ‘kembali’ ketagihan untuk menulis. Suatu kegemaran yang sudah sekian lama aku tinggalkan.

Syukur, ya Tuhan sebab semua yang kau lakukan kepadaku adalah rencana-Mu yang begitu indah.

Senin, 19 Januari 2009

Sambutan...

Sambutan adalah omong kosong yang dilembagakan. Demikian kata seorang Romo kepadaku. Pertama kali mendengar penyataan ini aku terkaget-kaget. Sesaat melintas sebuah ide di kepalaku untuk membuat tulisan tentang pernyataan ini. Dan inilah sedikit perenungan tentang hal itu.

Sambutan seperti yang biasa kita dengar, selalu menjadi salah satu bagian dalam perhelatan suatu acara. Entah itu acara resmi, semi resmi atau acara yang tidak resmi sekalipun. Semua pasti tidak lupa mencantumkan satu, dua, atau beberapa sambutan. Yang paling umum biasanya sambutan ketua panitia (penyelenggara acara), sambutan dari yang punya ‘kuasa’, yang berkaitan dengan acara tersebut, sambutan dari tamu undangan ‘penting’ dan beberapa sambutan yang lain. Kadang sambutan begitu enak didengarkan karena bisa dimengerti, lucu dan membuat orang terbangun dari rasa ‘kantuk’ namun tak jarang pula sambutan berubah menjadi sesuatu yang begitu membosankan.

Sebenarnya apakah setiap mengadakan suatu acara perlu selalu diberikan sambutan? Ya dan tidak. Ya jika sambutan itu memang sungguh-sungguh perlu dan penting untuk di’omong’kan (yang ndak penting ndak usah di’omong’kan!). Tidak jika sambutan berubah menjadi ungkapan ‘basa-basi’ yang kemudian malah membuat orang menggerutu dalam hati, “Ngomong soal apa tho ini, kok ngalor-ngidul ndak karuan?” Sehingga hal ini menjadikan kita lebih selektif dalam memilih sambutan. Mana yang perlu ditampilkan dan mana yang tidak. Jangan sampai acara yang sudah kita susun dengan baik, pada akhirnya hanya menjadi sebuah parade sambutan.

Jika kita kaitkan dengan hal yang lebih jauh (yang berhubungan dengan kehidupan kita), ada satu nilai yang bisa kita ambil dari sebuah sambutan. Bahwa berkata-kata di dalam seluruh hidup kita hendaknya selalu keluar dari hati yang terdalam dan dilandasi kesetiaan akan kebenaran. Sehingga perkataan kita sungguh menjadi sesuatu yang penting demi kebaikan hidup bersama. Bukan hanya sebagai kalimat ‘basa-basi’ yang bisa menjadi sumber pertikaian.

Ternyata…

Pagi ini aku mengalami suatu kejadian yang baru ‘pertamakalinya’ terjadi dalam kehidupanku. Ceritanya begini: Aku dan istriku sedang menikmati jalan kaki sehabis mengikuti misa pagi di gereja ketika ada sebuah mobil yang sedang parkir di perempatan jalan. Karena penasaran, sambil lalu aku menyempatkan diri untuk melihat siapa yang ada di balik mobil itu. Tiba-tiba yang empunya mobil keluar lalu berkata dengan nada tinggi, “Mas, kok matane melotot nopo!”

Aku yang tidak merasa dipanggil tetap melanjutkan langkahku. “Mas, mas, nopo kok mau melototi aku!!!” orang tersebut berteriak lebih keras. Aku baru ‘ngeehhh’ ternyata aku yang dimaksud. Sesaat aku berhenti. Istriku yang ada di depanku berkata, “Wis mas rak sah diladeni…” Aku kembali melanjutkan langkah. Namun ternyata orang itu masih mengejarku. Dan ketika sudah berhadap-hadapan, segera saja ia memegang tanganku sambil berkata, “Nopo kok mau mlototi aku mas. Aku dudu maling!”

“Lho, mas aku kan ora maksud koyo ngono kuwi? Aku mung biasa wae, kok.” jawabku penuh ketidakmengertian

“Ora! Aku luwih ngerti! Aku ki wis biasa nangkep maling!” ujarnya lagi. (kebetulan orang ini adalah tetangga istriku yang jadi polisi).

“Wis,wis, wis mas… ayo bali wae!” istriku menyeretku. Ada isak tertahan dalam perkataannya.

“Bojomu diajari mbak ben matane ojo jelalatan kaya ngono kuwi!” tegasnya sambil berlalu. Dan kemudian semuanya berakhir.

Sesampai di rumah aku hanya tercenung memikirkan kejadian yang baru saja kualami. Ternyata bersosialisasi itu kadang bisa menyebabkan kesalahpahaman. Apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan bisa membawa pengaruh bagi orang lain. Apa yang kadang dirasa baik oleh kita belum tentu baik juga bagi orang lain. Apa yang kita anggap wajar ternyata bagi orang lain bisa saja menjadi sesuatu yang tidak wajar dan menjadi sumber masalah. Maka di sini kita perlu bersikap; jika memang apa yang kita lakukan dan katakan sudah melukai orang lain (sengaja maupun tidak) kita harus berani meminta maaf dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Sebaliknya, jika kita yang benar, kita patut mempertahankan kebenaran itu dan tetap bersikap bersahabat tanpa pernah punya keinginan untuk menghakimi.

Satu hal lagi, ternyata enggak ada gunanya orang bersikap ‘mentang-mentang’. Mentang-mentang punya jabatan. Mentang-mentang punya kuasa. Mentang-mentang kaya dan punya mobil bagus. Mentang-mentang… segalanya… trus bisa berbuat seenaknya kepada orang lain. Oohhh, ternyata… sikap seperti ini memang sangat menjengkelkan!!!