Rabu, 20 Januari 2010

Negeri Sarang Penyamun


Ini cerita tentang sebuah negeri antah berantah. Negeri yang gemah ripah loh jinawi. Tanahnya subur. Kekayaan alamnya melimpah. Hutan-hutannya menghijau.

Pada suatu masa, merebaklah virus aneh di negeri itu. Virus yang tidak terlihat bentuknya tetapi nyata akibatnya. Menyerang dan berkembang secara cepat terutama pada orang-orang yang sedang menjadi pemimpin, mempunyai jabatan, wewenang, dan kekuasaan. Sayang seribu sayang, akibat virus itu mereka berubah. Bukan menjadi baik tetapi justru malah menyebabkan menjamurnya aneka kejahatan. Hutan-hutan ditebangi, sawah-sawah diubah menjadi pabrik-pabrik. Pembangunan terus digalakkan demi majunya negeri meskipun harus mengorbankan rakyat. Mereka menjadi congkak dan sombong karena merasa paling berjasa. Mereka juga makin rakus menumpuk kekayaan. Sabet sana sabet sini dan terus memperbanyak korupsi, tanpa pernah sungkan… tanpa takut karena hukum sudah menggelepar tak berdaya di genggaman mereka.

Rakyat kebanyakan hanya bisa terperangah. Melongo. Mereka protes. Tapi apa daya, telinga orang-orang itu sudah sangat tuli. Mata mereka buta dan nurani juga sudah lama mati.

Namun, Tuhan tidak tidur. Ia mendatangkan berbagai bencana menimpa negeri. Banjir, tanah lonsor, tsunami, gunung meletus hingga gempa bumi. Sesaat semua seakan sadar akan hakikat sebuah negeri. Maka, mengalirlah berbagai bantuan. Sayang… bantuan kadang tidak sampai. Bantuan juga tega dikorupsi. Di sisi lain, orang-orang memberi bantuan karena mereka ingin nampang di tivi. Menjadi terkenal dan disebut dermawan. Seolah hanya merekalah yang paling peduli.

Suatu pagi pada hari, bulan dan tahun yang tidak dicatat, terjadilah kegemparan di rumah orang-orang yang sedang menjadi pemimpin, mempunyai jabatan, wewenang dan kekuasaan. Mereka terkesiap ketika berdiri di depan cermin saat terbangun di pagi hari. Tubuh mereka telah berubah menjadi tubuh seekor tikus dengan telinga lebar, bulu-bulu panjang dan mulut yang tak henti-hentinya mengeluarkan liur.

Sontak mereka menjerit. Tangis pun pecah. Namun semua tak lagi berarti. Sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya. Mereka akhirnya hanya bisa berlari. Terus berlari karena mereka tidak ingin dibinasakan. Tujuan mereka hanya satu; ke tempat-tempat yang kotor, gelap, dan penuh dengan bau busuk.

17 komentar:

aan mengatakan...

persis di negeri tetangga, ternyata setelah sekian lama reformasipun kita baru sadar ternyata wajah kita masih "belepotan"penuh dengan lumpur2 itu,kita pun kaget lalu rame2 membersihkan cermin itu bahkan memecahkanya,padahal wajah dan tubuh kitalah yang masih "belepotan",,

god articel mas..

ichaelmago mengatakan...

maknanya dalem banget nih.
coba "mereka" yang dimaksud di postingan ini baca ya..

Clara mengatakan...

Tuhan pasti mendatangkan hukuman bagi orang yang tersesat untuk bisa sadar ya

Anonim mengatakan...

Good day, sun shines!
There have been times of troubles when I didn't know about opportunities of getting high yields on investments. I was a dump and downright stupid person.
I have never thought that there weren't any need in large starting capital.
Now, I feel good, I begin take up real money.
It's all about how to choose a correct companion who uses your money in a right way - that is incorporate it in real business, and shares the income with me.

You can ask, if there are such firms? I'm obliged to tell the truth, YES, there are. Please get to know about one of them:
http://theinvestblog.com [url=http://theinvestblog.com]Online Investment Blog[/url]

nuansa pena mengatakan...

wao..... semuanya ada dicerminku ya! Maafkan aku Ya Allah!

Kabasaran Soultan mengatakan...

Kalau ngak salah namanya negeri Belagu Bro...
Orangnya berbulu

wakakakaka

Piet Puu mengatakan...

Masya Allah.....
megerikan..... acam dewan petinggi negara tuh.. yang suka makan duit rakyat hohohoho
JUJUR amat aku ini....
>_<'

Laksamana Embun mengatakan...

Posting yang luar biasa kang.. Memberikan saya pelajran baru lagi..

Smoga saya bisa menjadi orang yang baik di hari Esok..

Thanks

Lina Marliana mengatakan...

setelah sekian lama jadi "tikus" yang menggerogoti uang rakyat, akhirnya jadi tikus sungguhan yah mas.. cocoklah fisik dengan tabiatnya !

KucingTengil mengatakan...

ah...sayangnya para koruptor kita ga berakhir kayak yg di cerita, berubah jadi tikus. Di sini para koruptor kita malah berakhir di penjara yg bagaikan hotel mewah. ckckckckc

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

kita memang harus peka, bahkan ketika alam sudah mengingatkan atas perintah-Nya..
jangan sampai Tuhan yang mengingatkan secara langsung pada kita, krn sungguh dapat dipastikan tidak akan pernah ada makhluk yg kan kuat menerimanya..

SeNjA mengatakan...

mas cahyadi selalu pandai merangkai kalimat menjadi sebuah bacaan yg enak bgt dibaca.

salut....

the others... mengatakan...

Sebuah negeri yang makin suram dari hari ke hari...
Mungkin butuh waktu lama utk membawanya kembali ke rel yang benar.. :(

catatan kecilku mengatakan...

Cerita tentang Negeri Sarang Penyamun benar-2 menyentil mas..
Semoga saja penduduk negeri sarang penyamun ikut membaca tulisan ini..

IWA MANIETS mengatakan...

SEMOGA DAPAT DI AMBIL HIKMAHNYA... TAPI TETAP PEKA TERHADAP SEKITAR.

7 taman langit mengatakan...

salam sejahtera
tulisan yang menarik yang sayang kalau dilewatkan
kita jadi mendapatkan pelajaran yang berharga

elyas mengatakan...

semoga mereka cepet sadar