Kamis, 20 Agustus 2009

Della

Pagi itu, Anto sedang di belakang rumah. Ia memberi makan Della, kucingnya yang putih berbelang hitam. Telah dua bulan ini, kucing itu mendiami rumahnya. Anto sangat menyayangi kucing itu bahkan sudah dianggapnya sebagai bagian dari anggota keluarga. Maklumlah, Anto adalah anak semata wayang.

“Ayo Della, ini makanan kesukaanmu…,” ucap Anto sambil mengusap kepala kucingnya lembut. Ia teringat bagaimana dulu waktu menemukan Della.

Ketika itu, Anto baru pulang dari sekolah. Ia berjalan kaki sendirian. Jarak rumah dengan sekolahnya memang tidak terlalu jauh, hanya 1 km saja. Pada suatu kelokan, ia melihat sebentuk tubuh mungil. Putih ditingkah warna hitam. Betapa gembiranya Anto saat mengetahui bahwa tubuh mungil itu adalah seekor kucing yang cantik. Diambilnya kucing itu dan dibawanya pulang ke rumah.

“Anto, ayo berangkat sekolah, nanti terlambat kamu!” teriak ibunya memanggil dari dalam rumah.

“Ah, ibu ini, sebentar dong…” balas Anto sambil tak henti-hentinya tertawa melihat ulah Della.

“Sudah hampir jam setengah tujuh, Nak!” Ibunya mengingatkan.

Anto bergegas berdiri, meninggalkan Della yang masih begitu lahap menyantap makanannya. Sebenarnya, ia enggan meninggalkan Della. Ia masih ingin bermain-main dengan kucing kesayangannya itu. Kehadiran kucing itu sudah menjadi penawar rindu bagi dirinya. Rindu akan ayah yang sedang bertugas di Padang.

***

Hari itu, terjadi peristiwa yang tidak terduga. Della menghilang. Sejak pagi, Anto bersama dengan ibunya berusaha mencari kucing itu tapi belum ketemu juga.

“Jangan cemas, Nak,” ujar ibunya. “Della pasti kembali. Kau harus cepat berangkat sekolah.”

“Tapi, Bu, Anto tidak mau sekolah jika belum menemukan Della!” Anto mulai terisak.

“Kamu tidak boleh begitu, Nak. Ibu pasti akan bantu kamu… Dela pasti ketemu… Ibu janji!”

Akhirnya dengan berat hati, Anto berangkat ke sekolah.

Dan siang itu, Anto tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Sudah beberapa kali, ia ditegur gurunya karena melamun.

“Anto, kau melamun lagi ya!” bentak gurunya. “Sekali lagi kau begitu, aku keluarkan kau nanti!” serunya lagi sambil memandang Anto tanpa kedip.

“Ti…ti…ti…dak, Bu…” Anto tergagap.

Saat bel tanda pulang berdentang dua belas kali, Anto melonjak kegirangan. Ia segera menghambur dari kelas. Ia ingin segera sampai di rumah untuk mengetahui kabar tentang Della. Tak dihiraukannya teman-temannya yang coba memanggil.

Anto terus berlari. Tak terasa ia sudah jauh meninggalkan sekolah. Karena kelelahan, Anto kemudian beristirahat. Disandarkannya tubuhnya pada sebatang pohon. Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Sesuatu yang berlumuran darah, tergeletak di seberang pohon itu.

Perlahan, Anto berjalan mendekati ‘sesuatu’ yang mencurigakan itu. Beberapa saat kemudian, Anto terkejut. Matanya terbelalak. Tangisnya pecah. “Hah…. Della!!” serunya tak percaya. Segera digendongnya tubuh yang berlumuran darah itu. Dengan langkah kesetanan, ia berlari ke rumah.

“Ibu…ibu…!” seru Anto membahana. Ia bagaikan orang kalap. Pintu depan diterjangnya.

Ibunya yang tengah memasak di dapur kaget mendengar teriakan Anto. Segera ia berlari menjumpai anaknya.

“Bu… Della… Della sudah mati…!” teriak Anto di sela-sela suara tangisnya.

“Apa, Nak, astaga!” Ibu Anto melihat kucing itu. Hatinya trenyuh melihat keadaan Della yang mengenaskan.

Tangis Anto semakin menjadi-jadi.

“Sudahlah, Nak. Kau tidak perlu terus menangis. Della sudah mati. Ini semua sudah menjadi kehendak-Nya. Kau harus dapat menerimanya dengan ikhlas,” hibur ibunya.

“Tapi, Bu, Anto sangat menyayangi Della. Anto tidak mau kehilangan Della?”

“Nak, memang sungguh berat meninggalkan sesuatu yang sudah kita cintai. Namun kau harus ingat, hidup itu tidak kekal. Meski kau terus menangis, itu tidak akan membuat Della hidup lagi.”

Anto ingin membantah. Namun dalam hati kecilnya, ia membenarkan kata-kata ibunya barusan. Della dulu sudah diberikan Tuhan kepadanya. Dan dua bulan lebih ia merasakan kebahagiaan bersama Della. Kini, Tuhan telah mengambil Della kembali. Bukankah itu sesuatu yang adil? Bukankah harusnya ia bersyukur?

Untuk kesekian kalinya, Anto memandangi tubuh Della. Tubuh itu kini kaku dan darahnya pun sudah mulai membeku. Sejurus kemudian, ia menyusut air matanya. Anto mencoba tersenyum. Diletakkannya tubuh itu dan dipandangnya ibunya.

“Ibu….!” seru Anto. Mereka saling berpelukan, erat sekali.

16 komentar:

Rakhmat mengatakan...

Cerita yang mengharukan... memang hidup ini tidak kekal semua yang hidup akan mati... ikhlas dan bersyukur selalu atas nikmat yang sudah diberikan akan membuat kita selalu bisa bahagia. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kita.

Kabasaran Soultan mengatakan...

Hmmmmm ...memang tak ada yang abadi kawan....
Itulah fananya dunia.
selamat memasuki bulan suci ramadhan...

terjaga mengatakan...

kira-kira kucingnya mati kenapa ya..

eha mengatakan...

Senada dengan komen teman kita 'terjaga', aku berpendapat akan lebih enak bila kita tahu sebab kematian si kucing tersayang.

simahir mengatakan...

wahh..kukira Della terlalu bagus utk nama seekor kucing..

Fanda mengatakan...

Mas Goen, kayaknya mas ada bakat juga nih bikin cerpen inspirasi. Della, apapun penyebab kematiannya, mengingatkan pada kita semua untuk selalu mensyukuri waktu & kesempatan hidup yg diberikan Tuhan. Tak ada yg tahu sampai kapan kita atau orang yg kita sayangi akan hidup. Yg kita bisa lakukan adalah memanfaatkan setiap detik yang kita miliki dgn sebaik mungkin. Kalau kita mencintai seseorang, tunjukkanlah! Kalau kita prihatin pada kondisi seseorang, berbuatlah sesuatu untuk menolongnya. Kalau kita menyesal, mintalah maaf. Jangan tunggu sampai semuanya terlambat.

Inspiring story!!

Mas Doyok mengatakan...

mengharukan mas, gak ada yg abadikan mas.... siiip, kasih kabar lo ada yg baru

lina@happy family mengatakan...

Tiada yang abadi, semua pasti mati. Yang berat memang yang ditinggalkan; berduka itu wajar asalkan tidak berkepanjangan...

NURA mengatakan...

salam sobat
begitu sayangnya sama kucing ya,,sampai diberi nama yang cantik "DELLA"

selamat berpuasa sobat

ateh75 mengatakan...

Sungguh anto diberi hati yg mulia ..menyayangi binatang sebegitu dahsyatnya...teladan yg baik pak ..

reni mengatakan...

Aku jadi teringat saat Shasa menangis gara-2 binatang peliharaannya mati..

Yudie mengatakan...

Tidak ada yang abadi di dunia ini... Cerita yang menginspirasi Mas....

Juliawan mengatakan...

hmm ceritanya bagus hoho,lam kenal ya ^^

Nadja Tirta mengatakan...

Wah..wah.. terimaksih ya pak sudah mengingatkan.. bahwa semua di dunia ini hanya titipan..

pengumpul blog mengatakan...

sungguh mengharukan. Tiada yang kekal di dunia ini

fanny mengatakan...

sedih nih ceritanya.