Kamis, 12 Agustus 2010

Peduli?

Terasa sangat (sangat) menyedihkan ketika melihat kenyataan ini: seorang ibu melakukan aksi bakar diri dengan mengajak kedua anaknya serta sehingga akhirnya dua anaknya tidak terselamatkan karena luka bakar yang mencapai 90%. Juga seorang ibu muda yang tega melindaskan anaknya di jalan raya. Semua karena satu alasan: kesulitan ekonomi, yang menjadikan mereka putus asa dan berani mengambil keputusan yang nekad dan di luar kewajaran.

Pertanyaan yang kemudian muncul: salah siapa jika semua itu akhirnya terjadi? Apakah semata-mata karena kesalahan sang ibu yang tidak mampu menanggung beban kehidupan keluarganya sehingga mencari jalan pintas? Bagaimana, jika sebenarnya ia sudah berusaha ke sana ke mari tetapi tidak ada yang mau peduli dengan kehidupannya? Bukankah sebenarnya kita juga turut andil (secara tidak langsung) terhadap peristiwa itu?

Peduli. Ya, peduli. Kata ini rasanya semakin lama semakin menghilang dalam kehidupan kita. Karena tuntutan zaman yang semakin tidak mau kompromi, menjadikan kita robot-robot bernyawa yang ditelan kesibukan setiap hari. Pelan namun pasti merubah diri kita menjadi makhluk yang egois, yang tidak lagi peduli terhadap kehidupan lain di sekitar kita.

Kadang, kita menjadi peduli karena ada pamrih-pamrih tertentu. Peduli karena ada keuntungan yang akan diperoleh. Entah itu berupa harta benda, nama yang semakin tenar, banjir pujian, dan entah apalagi. Tentu jenis peduli yang seperti ini adalah peduli yang menyesatkan.

Nah sekarang, semua tergantung kepada kita. Maukah kita kembali untuk peduli, bukan peduli yang menyesatkan tetapi peduli yang tulus, yang didasari oleh kerelaan dan rasa syukur karena sudah terlebih dahulu dicintai oleh Tuhan?

10 komentar:

inge / cyber dreamer mengatakan...

begitulah kehidupan jaman sekarang Om... tembok begitu tebal menutup kepedulian pada sesama... miris memang ya ^^

BENY KADIR mengatakan...

Benar, rasa kepedulian kian terkikis.
Tapi, bagi sang ibu dlm cerita ini tidak cukup dengan kepedulian orang sekitar.
Sejak awal, mestinya peduli terhadap diri sendiri dan keluarganya.
Menerima kenyataan hidup dan tidak lari dari persoalan hidup.

catatan kecilku mengatakan...

Memang saat ini rasanya makin banyak orang menjadi pribadi2 yg egois yang kurang memiliki kepedulian pada sekitar ya..?

the others... mengatakan...

Akhirnya... aku bisa hadir lagi disini setelah beberapa lama "dihilangkan" hehehe

om rame mengatakan...

tempok tebentang tinggi dan setebaL kemegahan bangunannya, seakan sudah tidak ada Lingkungan sosiaL yang saLing meLengkapi diantaranya. kepeduLian semakin terkikis karena tergiLas oLeh kebidupan modernisasi yang serba mementingkan kepentingan sendiri.

Winny Widyawati mengatakan...

Setuju, ketidak perdulian kepada sesama tetangga/saudara merupakan salah satu sumber terjadinya KDRT. Berapa banyak terutama anak-anak dan wanita yang traniaya di rumahnya sendiri, tetapi tetangga2nya tidak cepat tanggap.

-Gek- mengatakan...

begitulah Mas, saya pernah dapet ceramah, kalau mengakhiri hidup itu sangat.. mudah. SO EASY....!!
Namun bukan itu cara penyelesaian masalah.
Justru kita harus tetap hidup, menghargai hidup yang Tuhan berikan. Bukan memutuskannya secara sepihak.. dosanya bisa bertumpuk2, sampai neraka lapis 18! hiiihhhhhh....

Anonim mengatakan...

It agree, a remarkable phrase

Lina Marliana mengatakan...

Dibalik semua kepedulian itu,faktor keimanan dari pribadi masing2 juga mempengaruhi..
Meski dia hidup menderita, kalau imannya kuat dan sabar serta tawakal menjalani.. pasti kejadian2 nekat seperti itu tidak akan terjadi..

Itik Bali mengatakan...

Karena kita disibukkan oleh urusan masing2
urusan perut yang tak bisa ditunda esok..