Selasa, 26 Mei 2009

Tanda

Dunia dimana manusia hidup, selalu dipenuhi dengan tanda. Ayam jantan berkokok disusul dengan terbitnya matahari di ufuk timur, menandakan pagi sudah tiba, saatnya bangun dari tidur dan mulai bersiap-siap melakukan aktifitas. Perut yang keroncongan menjadi tanda datangnya rasa lapar. Mata yang berat dan lelah menyuruh kita untuk segera pergi tidur. Sakit yang tiba-tiba mendera tubuh menjadi tanda bagi kita untuk menghentikan segala aktifitas dan mulai beristirahat. Semua itu adalah beberapa contoh tanda yang diberikan oleh Tuhan.

Selain tanda dari Tuhan, kita juga mengenal banyak tanda yang dibuat oleh manusia. Lampu lalu lintas di perempatan atau pertigaan jalan berwarna merah, hijau dan kuning yang digunakan untuk mengatur arus lalu lintas. Tanda S atau P dicoret miring yang berarti dilarang Stop atau Parkir. Garis-garis melintang yang berderet-deret di dekat lampu merah sebagai tanda tempat untuk menyeberang. Pagar di sekeliling rumah yang menandai batas tanah dan hak milik. Rumah yang tampak kusam dan berdebu menjadi tanda untuk segera dibersihkan dan diperbaharui catnya agar terlihat bersih. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kurang lebih seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 20 Mei, dunia penerbangan kita dikejutkan oleh jatuhnya pesawat Hercules C-130 milik TNI AU di Desa Geplak , Kecamatan Krakas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang menelan korban 101 nyawa. Satu pertanyaan yang kemudian muncul; tanda apakah ini? Bagi pemerintah dan TNI AU, hal ini menjadi ‘warning’ bahwa mereka perlu melakukan perbaikan sarana dan prasarana penerbangan dengan mengalokasikan jumlah dana yang mencukupi. Bagi para korban dan keluarganya, hal ini menjadi awal duka yang mendalam. Istri kehilangan suami. Suami kehilangan istri dan anak. Anak-anak sebatang kara karena kehilangan ayah dan ibunya. Sepasang kekasih yang tidak jadi menikah karena pasangannya meninggal. Semua menanggung beban yang teramat berat. Lalu bagi kita, apakah hal ini memberi arti?

Setiap tanda apapun bentuknya dan darimanapun asalnya memang selalu memiliki maknanya sendiri. Menjadi tugas kita sebagai manusia untuk selalu mawas diri, merenung, menjaga sikap dan menjauhkan diri dari niat ‘menerabas’ terhadap segala tanda yang hadir dalam kehidupan kita.

6 komentar:

si kumb@ng mengatakan...

belajar dari manusia..
belahjar dari alam..
dan belajar dari tanda-tanda..
termasuk tanda2 dari-NYA..
nice share mas...

eha mengatakan...

Aku tu ngeri dengan keadaan di negeri kita. Alarm dah berdering dari dulu2, sirine dah bergaung sampe kuping nyaris tuli, tapi kok ya masih begitu2 lagi.
Padahal yang perlu dilakukan sederhana saja, tiap orang mperhatikan tanda n bertindak sesuai tanggjwbnya. Gitu wae kok susah tho ya

ammadis mengatakan...

Tapi klo negeri ini sudah berkali kali di beri tanda...Para petinggi nya koq yaaa nggak sadar2 juga yak...?!

Sadar mungkin klo dah terkena diri nya sendiri tanda itu....

Awal Sholeh mengatakan...

bener neh... semua ada tanda2.... sukses selalu mas.

Gadget and Technology mengatakan...

innalillahi wainna ilaihi rajiun
semoga meereka yang meninggal termasuk golongan syuhada dan mereka yang ditinggal senantiasa diberikan ketabahan yang kuat, amiiin

sungguh perenungan yang luar biasa pak. kita jadi tersadar untuk instropeksi.

salam kenal . ditunggu silaturahmi balik dan komentarnya. terutama dalam tulisan manjakan mata.

edylaw mengatakan...

Ada karena Percaya......
Sejak dahulu orang timur selalu mengaitkan suatu tanda dengan mitos, karna kepercayaan yang kuat akhirnya menjadi kenyataan

Coba kek orang barat masa bodo dah hehehe