Senin, 06 April 2009

Antara Kuantitas dan Kualitas

Intan tengah berbelanja di pasar. Suatu ketika, matanya melihat ke arah pedagang mangga. Di antara mangga-mangga yang terlihat ranum, ada sebuah tulisan yang cukup menggoda, ‘Mangga Arumanis… murah dan dijamin manis… 1 kg cuman Rp. 5.000,-… ayo buruan beli…. cuman hari ini saja!!! Seketika, karena terbius kata-kata itu, Intan melangkahkan kaki ke arah pedagang mangga tersebut. Setelah berbasa-basi sebentar, ia kemudian memborong mangga-mangga itu sebanyak 5 kg. Beberapa saat setelah sampai di rumah, Intan segera mengambil mangga yang barusan dibelinya, mengupasnya lalu mencicipi mangga tersebut. Ternyata… oh ternyata…. mangga itu enggak manis…. bahkan rasanya agak asam… “Wah, aku udah kena tipu nih…!” jerit batin Intan.

Cerita di atas memang hanya sebuah cerita rekaan tapi kiranya apa yang dilakukan oleh Intan merupakan cerminan dari kehidupan kita. Tanpa sadar, kita seringkali terjebak pada keinginan untuk mendapat ‘sesuatu’ dalam jumlah (kuantitas) yang banyak tanpa mempertimbangkan kualitas dari ‘sesuatu’ tersebut.

Tiga minggu yang barusan lewat, hidup keseharian kita dihiasi oleh hingar-bingar kampanye. Poster-poster, spanduk dan baliho-baliho para caleg bertebaran di jalan-jalan dan kampung-kampung. Lewat media televisi dan media cetak, para pimpinan partai juga ramai-ramai obral janji, pendidikan gratis-lah, membuka kesempatan kerja-lah, bagi-bagi uang untuk desa-desa-lah dan banyak lah-lah yang lain. Disusul dengan model kampanye terbuka dari berbagai parpol. Dan seperti yang sudah-sudah, model kampanye terbuka ini menjadi ajang pengerahan massa. Semakin banyak massa yang terlibat dan berbaur bersama di lapangan atau ikut konvoi di jalanan, menandakan bahwa partai tertentu sudah berhasil menarik simpati massa. Apa benar? Pastinya tidak, karena sebagian besar massa itu sudah mendapat imbalan untuk keterlibatan mereka. Ditambah lagi mereka mau hadir karena ingin menikmati hiburan gratis dari band-band dan penyanyi papan atas yang biasanya ikut dilibatkan dalam kampanye.

Rupanya, keinginan seperti ini juga menulari hidupku. Dulu, waktu pertama kali membuat blog dan mulai mengisinya dengan rutin, aku berharap akan ada banyak pengunjung yang mau singgah dan memberikan komentar. Keinginan ini semakin menggebu-gebu ketika berkali-kali browsing dan mendapati blog-blog milik orang lain yang sudah mendapatkan banyak tamu dan juga komentar. Beberapa waktu berlalu tetapi harapanku enggak terwujud. Kemudian aku mencoba ikutan gabung dalam komunitas blog. Beberapa kali kirim artikel dengan harapan sama, banyak yang mau baca dan kemudian kasih komentar. Tapi rupanya sama saja hingga akhirnya membuat aku jadi ‘males’. Nah, karena ‘males’ inilah aku jadi sempat vakum dan enggak ngapa-ngapain. Rupanya ini adalah tindakan yang salah. Kenapa harus selalu memikirkan jumlah? Seharusnya aku lebih memperhatikan kualitas tulisanku! Dan dengan keyakinan ini aku kembali bersemangat. Terus dan terus menulis, walau mungkin hanya sedikit yang mau baca. Yang terpenting adalah ini: dengan tulisanku aku mau memberitakan kebenaran dan kebaikan untuk semua orang.

Jadi, antara kuantitas dan kualitas, kualitaslah yang terutama.

2 komentar:

iik mengatakan...

Aku baca lhooooooooooooooo....

he he he jangan gampang patah semangat dan putus asa mas...

Dulu waktu pertama2 ikutan Komunitas blog, silahkan dilihat di sini http://www.sabdaspace.org/blog/iik_j

pengunjungku paling mentok cuma laku 100 sekian, tiap kali nulis. Ga kayak yang laen yang lakunya sampe ribuaaann.. hallah...

Tapi cuek aja... terus wae.. banyak yang baca ya ga untung, sedikit yang baca juga ga rugi kan?

Saya belajar tata bahasa yang lebih baik, peng'ekspresian' diri, jujur, dan terbuka! (Ga ada hubungannya kaleee)

He he he, yang penting pengen nulis ya nulis aja. Gitu deh...

Jangan menyerah to mas...
Ayo semangat!!!

ebed_adonai mengatakan...

Mas Cahyadi,

Dua kali saya sekolah, dua kali pula saya selalu kebingungan mau menulis apa...

Mungkin menulis di blog dan di dunia sekolah tidak sama persis, namun menurut hemat saya ada kemiripannya juga mas, yaitu bagaimana mengompromikan antara selera pribadi dan keinginan pasar.

Bailah ini pandangan pribadi saya saja mas, tapi di sekolah-sekolah juga seperti itu. Sering kita tergoda untuk membuat karya tulis yang bikin heboh (kalau perlu seperti tulisannya om Ioanes Rakhmat itu).

Saya sendiri tidak munafik, kalau saya juga punya keinginan seperti itu (siapa yang tidak?), karena toh itu bukanlah sesuatu yang jahat (mas Cahyadi setuju?).

Namun yang jadi masalah adalah kalau orang jadi terlalu memaksakan diri menulis sesuatu yang bukan dirinya. Hal ini lebih diperparah, kalau ternyata dia tidak punya kompetensi untuk itu. Sudahlah bukan keinginannya pribadi, hasilnya pun kacau pula.

Saya tidak tahu bagaimana halnya untuk tulisan-tulisan yang murni bersifat komersil.

Dan kalau saya cermati, semua tulisan para penulis SS ini memiliki kekuatannya sendiri-sendiri, termasuk tulisane mas Cahyadi dan mbak Iik juga. Jujur saya akui, saya banyak belajar juga dari tulisan-tulisannya mas Chyadi, mbak iik, dan bloggers SS lainnya.

Hehe, maaf komennya kepanjangan mas. Saya tidak bermaksud menggurui lho mas, hanya sekedar sharing saja...^_^

Shalom!

(..shema'an qoli, adonai..!)