Kamis, 23 April 2009

Pelangi


Sore ini ketika sedang asyik memotong-motong kertas yang akan aku pergunakan untuk menandai bendelan majalah paroki edisi terbaru, istriku berteriak dari ruang tamu, ”Mas, ada pelangi lho... enggak difoto?”

Mendengar teriakan istriku, aku segera mengambil kamera digital dari dalam lemari. Kemudian bergegas naik ke lantai dua. Wuih... benar saja, di langit sana terpampang goresan warna-warni yang begitu indah. Tanpa menunggu terlalu lama, aku segera mengabadikan momen itu... takut kalau kelamaan, pelangi itu akan segera menghilang.

Sebenarnya, mengapa ada pelangi? Kalau menurut pelajaran di sekolah yang aku terima beberapa puluh tahun yang lalu, pelangi selalu muncul beberapa saat setelah hujan mereda. Sisa titik-titik air di udara yang terkena pancaran sinar matahari akan membias, menghasilkan pendar-pendar cahaya yang terpantul ke langit dan jadilah pelangi.

Pelangi adalah peristiwa alam. Sama halnya dengan indahnya matahari terbit di ufuk timur atau tenggelam di ufuk barat. Juga dengan ulat buruk rupa yang kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Biji-biji di dalam tanah yang mati dan tumbuh, memunculkan daun-daun mungil, menghijau dan sangat ringkih. Atau seorang wanita yang tengah berjuang hidup dan mati melahirkan bayinya. Semua peristiwa itu ingin menggarisbawahi satu hal, betapa Mahakuasanya Sang Pencipta. Betapa Mahaagung dan Mahaindah apa yang sudah dikerjakan-Nya.

Sungguh, kita harus senantiasa bersyukur atas segala hal yang sudah kita terima dari pada-Nya. Kehidupan, kesehatan, keselamatan, juga pribadi-pribadi yang dengan penuh kesetiaan merawat, menjaga dan mendampingi perjalanan kita di dunia ini.

Tidak ada komentar: