
Namaku Gintung tapi orang-orang sering memanggilku Situ Gintung. Aku adalah sebuah waduk yang dibikin pada masa penjajahan kolonial Belanda. Jadi hingga saat ini umurku sudah hampir delapan puluh tahun.
Saat itu, adalah masa-masa terindah dalam kehidupanku. Orang-orang kolonial itu selalu memperhatikan gerak hidupku. Memantau, mencatat dan merawat aku dengan penuh kasih. Dan aku pun dengan senang hati memberi manfaat bagi mereka.
Setelah mereka pergi, kehidupanku sedikit demi sedikit mulai berubah. Lahanku yang dahulu begitu luas, lama kelamaan mulai menyempit. Tergerus oleh berbagai kepentingan dari orang-orang negeriku. Aku mulai tidak diperhatikan lagi. Aku mulai ditinggalkan. Orang-orang negeriku hanya menganggap aku sebagai sapi perahan yang hanya bisa diambil manfaatnya tanpa pernah mau untuk menjaga apalagi merawat. Hingga akhirnya aku pun semakin merana. Terkapar dalam luka yang semakin dalam.

Kini, hatiku pedih bagai tersayat-sayat sembilu. Aku melihat anak-anak kehilangan bapa dan ibu mereka. Suami yang ditinggal mati istri, anak dan saudara-saudaranya. Istri yang menjerit pilu karena mendapati anak satu-satunya telah tiada. Jerit tangis pria dan wanita ketika mendapati sahabat terkasihnya telah pergi. Ohhh…. betapa mereka tenggelam dalam kesedihan yang tiada berujung.

Ah,… selalu saja kesadaran di negeriku ini datangnya terlambat. Ketika semua sudah terjadi, tatkala sudah jatuh banyak nyawa, kepedulian itu mulai muncul. Entah… sampai kapan hal ini terus saja berlangsung…. Apakah…. negeriku ini memang hanya ditakdirkan sebagai negeri yang hanya pandai menikmati… entahlah….
Namaku Gintung dan orang-orang lebih sering memanggilku Situ Gintung. Tapi Itu dulu… karena sekarang, aku hanyalah dataran luas berlumpur yang perlahan-lahan mulai mengering…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar