Senin, 08 Juni 2009

Memberi Contoh

Pagi ini, dalam perjalanan ke kantor, saat berhenti di sebuah lampu merah, tiba-tiba ada pengendara motor yang nyelonong dan berhenti di depanku. Ia tidak begitu peduli kalau motornya berhenti jauh di batas garis marka. Mungkin kalau ada polisi yang kebetulan sedang jaga, pengendara itu sudah kena semprit. Tapi mungkin juga polisinya nggak berani karena kalau dilihat dari perawakan dan senjata laras panjang yang tersandang di bahunya, pengendara itu juga seorang aparat, mungkin tentara. Aku hanya bisa membatin dalam hati, “Kok aparat kayak gitu, malah memberi contoh yang nggak baik, harusnya kan…”

Mental seperti ini kadang tanpa disadari begitu akrab dengan keseharian kita. Di rumah, kita sering menyuruh anak-anak kita untuk belajar ketika waktu belajar telah tiba. Kadang karena bandel, kita harus bersuara dengan keras. Namun di sisi lain, kita (mungkin) jarang memberi contoh yang baik. Anak disuruh belajar, eh… kita malah enak-enakan nonton acara tv, volume suaranya dikerasin lagi. Nah, gimana anak mau belajar dengan baik kalau situasinya aja nggak mendukung? Mungkin juga kita sering menganjurkan anak untuk berbuat ini dan itu semisal buang sampah di tempat sampah, tidak bertengkar dengan saudara, tapi ironisnya apa yang kita lakukan justru seringkali berkebalikan dengan hal tersebut.

Jadi, anjuran, peringatan atau apapun namanya jangan hanya sebatas berhenti pada kata-kata. Nggak boleh berbuat ini, nggak boleh ngelakuin itu. Hal ini harus diwujudkan juga dalam tindakan nyata. Ketika kita menyuruh melakukan atau tidak melakukan sesuatu, kita pun harus konsekwen untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan hal tersebut. Satu hal lagi, kita perlu membuang jauh sikap ‘mentang-mentang’. Mentang-mentang aku aparat, aku boleh melanggar peraturan. Mentang-mentang aku jadi orangtua maka aku boleh menyuruh anak untuk melakukan sesuatu yang tidak (pernah) aku lakukan. Mentang-mentang aku punya banyak uang dan kekuasaan, aku boleh berbuat seenaknya. Nah???

7 komentar:

dewi mengatakan...

ya mas aq juga bete klo ada orang yang mentang2...biasa aja napa ya gak mas? hehheh aq setuju banget ma mas, kadang qta lupa memberi contoh yang baik pada adik, misalkan.. q juag jujur juga pernah nasehatin adk aq .. tapi dia malah membalik omongan aq..q jadi malu soalnya kadang aq juga suka gto hehe... makasih mas mau baca coretan aq.. yang bikin pusink tuh hehe...

eha mengatakan...

jadiii ... jurus jitu nyuruh anak kecil tidur j 8 or 9 malem: ajak dia tidur sama2, abis dia pules ... jinjit2 keluar, ssstt jangan sampe bersuara ... (sambil tsenyum bandel)

eSTe mengatakan...

Bener..kadang menyuruh itu lebih mudah daripada menjalani..kalo dalam bahasa jawa ada istilah "jarkoni" iso ngujar ora iso nglakoni alias bisa ngomong tapi gak bisa menjalani... jadi akan lebih baik kalo kita memberi contoh terlebih dulu sebelum menyuruh orang lain melakukannya..hehhe..salam kenal

Irfan Melodic Menulis Tentang Ahmadinejad mengatakan...

Ya, begitulah Bang sisi buruk negara yang namanya indonesia ini... Hal-hal kayak gitu suangat banyak ditemuin... Hampir di tiap kota ato daerah pasti ada... Apalagi ulah para PNS-PNS di Pemda itu yang beberapa sangat jaim dan ga pernah senyum ketika ngelayanin publik...

uki melihat batam melalui blog mengatakan...

great artikel mas
happy blogging aja

reni mengatakan...

Memang seharusnya kita bisa menjadi contoh bagi lingkungan kita... Tapi seringkali lupa... hehehe...

G mengatakan...

Jadi ingat seorang kawan yg adalah seorang anggota polisi di Singapura sangat tidak berani melakukan pelanggaran lalu lintas, sebab kata dia apabila seorang aparat melakukan pelanggaran maka hukumannya jauh lebih berat daripada masyarakat awam, sebab dia paham hukum jadi ketika melanggar maka konsekuensi yg diterimanya sangat berat.

Mungkin ini yg ga berlaku di Indonesia. Kalaupun dalam teorinya berlaku tapi tidak dilaksanakan secara konsekuen, jadi ga efektif sama sekali.