Rabu, 29 Juli 2009

Gagak, Beringin dan Ular

Seekor gagak terbang melintas. Di ujung sebuah dusun ia berhenti sejenak. Pandangannya tertuju pada sebuah pohon beringin yang sedang menangis. Karena penasaran, segera ia menuju pohon itu. “Wahai beringin, mengapa engkau menangis?” tanya gagak penuh perhatian.

Beringin itu tergeragap. Ia tidak menyangka ada yang sedang memperhatikannya. “Eh.. oh… kau gagak… “ jawabnya terbata-bata sambil buru-buru menyusut air matanya.

“Mengapa engkau menangis?” tanya gagak itu sekali lagi.

Beringin itu terdiam beberapa saat. Dihelanya napas sebelum menjawab, “Wahai gagak, aku menangis karena sakit yang kurasakan di sekujur tubuhku. Lihatlah, ranting dan dahanku banyak yang patah. Daun-daunku pun berguguran jatuh ke bumi. Tubuhku juga penuh guratan. Dicoret-moret oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Semua ini akibat ulah para penghuni dusun. Hampir setiap hari saat mereka melintas, mereka pasti menyempatkan diri untuk bermain-main di sekujur tubuhku. Memanjat, bergelantungan, mengukir nama mereka, juga memetiki daun-daunku untuk dibuat mainan. Mereka selalu tertawa-tawa dengan riang, terus bermain seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka tidak pernah mendengarkan jerit tangisku yang terus menghiba..” terang beringin sambil terisak.

Gagak sedih mendengar penuturan beringin. “Bolehkah aku menolongmu?” ujar gagak mencoba menawarkan bantuan.

Beringin terkejut. Ia tidak menyangka gagak yang baru saja ditemuinya mau menawarkan bantuan. “Gagak, jika engkau mau membantuku, aku akan sangat berterimakasih… tapi… bagaimana caranya?” Beringin masih tidak percaya dengan kata-kata gagak.

“Baiklah kalau begitu, aku akan segera menolongmu… mengenai bagaimana caranya, aku tidak akan mengatakannya, yang pasti aku jamin kesusahanmu akan segera berakhir,” ucap gagak seraya pergi meninggalkan beringin.

Satu jam berlalu. Beringin menanti kedatangan gagak dengan harap-harap cemas. Di hatinya masih tersimpan ketidakpercayaan dan kini, ketidakpercayaan itu semakin bertambah besar karena gagak belum juga kelihatan.

Tak lama berselang, di kejauhan, tampak sekumpulan gagak terbang sambil membawa sesuatu. Sesaat kemudian, gagak-gagak itu sampai di tempat beringin. Tiba-tiba saja bau bangkai yang sangat menusuk hidung memenuhi udara.

"Gagak, apa yang kau bawa ini, baunya menyengat sekali?" tanya beringin sambil berkali-kali menutup hidungnya.

"Yang kubawa ini bangkai, sobat. Dan inilah yang akan menolongmu. Dengan ini, pasti tidak akan ada manusia yang berani mendekatimu," terang gagak sambil meletakkan bangkai-bangkai itu di sekitar tubuh beringin.

Beringin hanya bisa mengangguk-angguk tanda mengerti. Sebetulnya ia merasa berat. Apalagi bau bangkai-bangkai itu sangat menyengat. Tapi karena semua ini demi kebaikannya, ia menuruti apa yang dikatakan gagak.

Semenjak ada bangkai di pohon beringin itu, penduduk dusun yang biasanya mampir dan bermain-main menjadi enggan. Mereka tidak tahan dengan bau busuk yang sangat mengganggu penciuman mereka. Akhirnya, mereka mulai meninggalkan kebiasaan bermain di tempat itu.

Beringin tentu saja gembira. Kini, tidak ada lagi pengganggu yang membuatnya menangis. Untuk membalas kebaikan gagak, beringin mempersilakan gagak bersarang di atas tubuhnya. Tentu saja gagak sangat senang menerima tawaran beringin.

Beberapa bulan berlalu. Gagak yang bersarang di pohon beringin kini telah memiliki beberapa telur. Sebentar lagi telur-telur itu akan menetas menjadi bayi-bayi gagak yang cantik. Tentu saja hal ini membuat gagak amat bahagia. Tetapi dibalik kebahagiaan itu, gagak merasa cemas. Pangkal kecemasan ini bermula saat seekor ular besar mulai membuat rumah di bawah pohon beringin. Menurut cerita beringin, ular itu datang di tengah hujan lebat. Awalnya ular itu hanya menumpang untuk berteduh. Tapi entah mengapa, sampai sekarang, ular itu masih terus menetap.

Suatu hari, gagak berpamitan kepada beringin, “Beringin, tolong jaga telur-telurku ini, aku akan pergi sebentar untuk mencari makan,” kata gagak sesaat sebelum mengepakkan kedua sayapnya.

Rupanya saat seperti inilah yang dinantikan oleh sang ular. Ia tiba-tiba berkata kepada beringin, “Beringin kawanku, bolehkah aku memanjat tubuhmu dan melihat-lihat sarang gagak di atas sana?”

Tentu saja pertanyaan ular membuat beringin terperanjat. “Mau apa kau ular melihat sarang gagak sahabatku?” sambar beringin cepat.

“Terus terang, aku ingin menikmati telur-telur itu. Aku berjanji jika engkau mengijinkannya, aku akan setia menjaga keberadaanmu setiap hari dan memberimu kekuasaan,” kata ular berusaha membujuk.

“Tapi ular, gagak adalah sahabat yang dulu pernah menolongku. Lebih-lebih ia menyuruh aku untuk menjaga telur-telurnya. Jika aku mengijinkanmu memakan telur-telur itu bukankah aku akan dicap sebagai penghianat?” beringin mulai bimbang.

“Ayolah… apa yang pernah dilakukan beringin adalah masa lalu. Aku pasti akan menggantinya dengan hal yang lebih. Dan lagi, apa artinya cap penghianat jika engkau memiliki kekuasaan!” tegas ular.

Akhirnya, beringin pun kalah. Ia tergiur kekuasaan yang ditawarkan ular. Saat ular merayapi tubuhnya dan mulai menyantap telur-telur gagak, ia terdiam dan hanya membiarkan begitu saja.

Sore harinya, gagak pulang dari perjalanannya. Saat melihat sarang yang porak-poranda dan telur-telur yang sudah hilang, gagak menjerit histeris. Tangisnya pecah mengoyak telinga dan terdengar mengiris hati. Ia tidak menyangka beringin tega menghianatinya. Tanpa berkata apa-apa, ia segera pergi sambil membawa luka yang begitu dalam.

12 komentar:

si kumb@ng mengatakan...

kisah yang sangat memberi pelajaran bagi aku...
kesetiaan harusnya tak bisa tergantikan oleh apapun
makasih mas...

si kumb@ng mengatakan...

kisah yang sangat memberi pelajaran bagi aku...
kesetiaan harusnya tak bisa tergantikan oleh apapun
makasih mas...

si kumb@ng mengatakan...

sorry mas gara2 koneksi ancur komentnya ada dua ;))

irmasenjaque mengatakan...

ternyata di blog mas ini byk kisah yg memberi byk hikmah dan pelajaran yah..saluutt....

RE mengatakan...

mantabs artikelnya juragan..
terus berkarya ok

regrads
House tips

Kabasaran Soultan mengatakan...

Sebuah kisah penuh hikmah berbungkus kiasan alam nan elok.
Sungguh kasiannasibnya si burung gagak tetapi lebih kasian lagi nasibnya si beringin nan tamak.

Nadja Tirta mengatakan...

Teganya wahai kau beringin, air susu kau balas dengan air tuba..

Saya mungkin seperti beringin itu, mudah khilaf oleh godaan duniawi dan mudah melupakan kasih...

eha mengatakan...

Kesetiaan vs pengkhianatan, topik abadi yang selalu menarik untuk diperbincangkan.

princess mengatakan...

satu artikel pembelajaran untuk menghargai arti sebuah persahabatan. karena harga sebuah persahabatan ga bisa terganti dengan apapun. thank u buat artikel nya mas. :)

Fanda mengatakan...

Kenapa ya ular itu selalu identik dgn penghasut? Kisah itu sebagai pengingat kita agar tidak membuang persahabatan begitu saja saat kita lebih kaya atau berkuasa. Seperti biasa, very nice story, mas!
Btw, aku datang kali ini dari rumah baruku. Silakan mampir kapan2...

gothic_bless mengatakan...

kok se beringin gk dpt balesan seh??
kan harusnya dapet balesan dia....
dia menghianati org yg tlh menolongnya...

reni mengatakan...

Menjaga kesetiaan dan kepercayaan memang tidak mudah, tapi jika kita kehilangan rasa setia dan kepercayaan itu akan susah untuk kembali mendapatkannya..
Nice post..!