Kamis, 30 Juli 2009

Sang Pelukis

Di sebuah kerajaan, hiduplah seorang pelukis yang sangat terkenal. Hasil lukisannya dikagumi rakyat seantero kerajaan. Baginda Raja pun sangat menyukai lukisan dari sang pelukis. Bahkan sebagian besar ornamen yang mempercantik dinding dalam istana adalah hasil kreasi sang pelukis.

Namun entah mengapa, sudah beberapa hari ini sang pelukis kelihatan selalu bersedih dan tidak bersemangat. Berkali-kali ia hanya termangu di serambi depan rumahnya tanpa berbuat apa-apa. Rupanya pangkal segala masalah yang menyebabkan sang pelukis menjadi murung adalah karena ide yang tidak kunjung datang. Ide yang akan membuat dirinya tergerak untuk segera melukis. Sudah berbagai usaha ia lakukan, mulai dari membaca, melihat kembali koleksi lukisaannya hingga mengamati pemandangan di sekeliling rumah. Tapi ternyata semua itu hanya sia-sia saja. Ide yang dinantikannya belum juga hadir.

Akhirnya karena bosan, sang pelukis memutuskan untuk pergi ke alun-alun kerajaan. Di tempat ini, sang pelukis duduk santai di bawah pohon besar yang tumbuh di pinggir alun-alun sambil mengamati orang-orang yang lalu lalang di hadapannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pengemis yang sedang asyik mengais-ngais barang di tempat sampah. “Aha… aku sudah mendapatkan ide itu sekarang!” teriak sang pelukis dalam hatinya. Dengan langkah tergesa, dihampirinya si pengemis.

Pengemis itu masih asyik dengan kesibukannya. Namun ketika dilihatnya ada orang asing yang datang mendekat, sejenak ia menghentikan pekerjaannya sambil berkata, “Ada apa tuan?”

“Kawan, maukah engkau menjadi model lukisanku?” tanya sang pelukis ramah, menjelaskan maksud kedatangannya.

Si pengemis kaget. Ia tidak menyangka akan ditanya seperti itu. Sejenak, ia terdiam sambil mencoba mengingat-ingat siapa sebenarnya orang asing yang berdiri di hadapannya.

“Ayolah kawan, aku sangat membutuhkan pertolonganmu. Maukah engkau menjadi model lukisanku?” ulang sang pelukis sambil menyodorkan sebuah kartu nama kepada pengemis itu.

Pengemis itu masih terdiam. Diamat-amatinya kartu nama yang barusan diterimanya. Di sana tertulis dengan tinta emas: ‘SANG PELUKIS, pelukis pribadi keluarga kerajaan’. “Hah… jadi engkau inikah sang pelukis yang terkenal itu!?” jerit si pengemis tak percaya.

“Ya, itulah aku,” jawab sang pelukis dengan tegas.

“Kalau begitu, aku pasti akan sangat senang menjadi model lukisanmu,” tambah pengemis itu dengan wajah berbinar.

“Kalau memang engkau sudah setuju, kutunggu 3 hari lagi di rumahku.” Kata sang pelukis. “Oke kawan… kita bertemu 3 hari lagi… jangan sampai lupa ya,” sambungnya sambil mengajak berjabat tangan sebelum melangkah pergi.

Tiga hari berlalu. Pagi-pagi benar, si pengemis sudah membongkar celengan ayamnya. Celengan itu adalah harta kekayaan satu-satunya yang pernah dimilikinya. Ia kemudian membeli baju dan celana baru. Juga parfum wangi dan semir rambut yang berharga mahal. Ia ingin penampilannya kelihatan wah di hadapan sang pelukis.

Setelah semuanya beres, segera si pengemis berangkat. Ketika sampai di rumah sang pelukis, dengan perasaan tak sabar, ia membunyikan sebuah benda yang terletak di depan pintu rumah sang pelukis. Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka.

“Bapak mencari siapa?” tanya sang pelukis sambil mengamati dengan seksama orang yang berdiri di hadapannya.

“Saya mencari tuan. Bukankah tuan sendiri yang menyuruh saya untuk datang ke sini?” jawab si pengemis keheranan.

Sang pelukis mencoba mengingat-ingat sesuatu. Tapi sosok di hadapannya tetap tidak dikenalnya.

“Saya adalah pengemis yang pernah tuan temui di alun-alun waktu itu. Hari ini saya datang untuk memenuhi undangan tuan,” terang pengemis itu mencoba mengingatkan sang pelukis.

Sang pelukis terbelalak. Ia tidak menyangka pengemis yang waktu itu ditemuinya kini seolah telah berubah menjadi pribadi yang lain.

“Maaf pak, pengemis yang waktu itu aku temui adalah pribadi yang apa adanya. Bukan seperti bapak yang penuh dengan polesan, kepalsuan dan kepura-puraan!” Sang pelukis menjawab tegas. “Silakan bapak pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan,” tambahnya sambil buru-buru menutup pintu.

Si pengemis mencoba membujuk, tapi semuanya sudah terlambat. Kini, impiannya musnah sudah.

12 komentar:

NURA mengatakan...

SALAM SOBAT,,,sungguh kagum dengan sang pelukis,,yang mempunyai pribadi yang apa adanya tanpa polesan kepalsuan,,makanya beliau juga menyukai pengemis yang saat bekepribadian apa adanya dulu.

Dinoe mengatakan...

Cerita yg penuh hikmah...salam persahabatan..

Nadja Tirta mengatakan...

Lebih baik kalo kita selalu jujur apa adanya, baik kepada diri sendiri maupun orang lain ya mas..

Kabasaran Soultan mengatakan...

Sebuah kisak bijak nan penuh hikmah dibingkai dalam satu kemasan nan rancak .
very nice sharing bro...

Desti mengatakan...

Kawan...
ada postingan baru d blogku...
ditunggu komentarnya..
Thank's
Happy blogging!
-Desti Hamster Land-

princess mengatakan...

jadi diri sendiri itu lebih baik yah. setidaknya ga membohongi diri sendiri. :)

Lisna Lina Simangunsong mengatakan...

Ternyata kepura2an gak ada artinya ya mas... cerita yg bagus mas.... GBU

si kumb@ng mengatakan...

menjadi diri sendiri...
cerita penuh makna mas..
makasih dah berbagi..

Fauzi Blog mengatakan...

cerita yang menggugah...jadi diri sendiri memang yang terbaik...

Desti mengatakan...

Hallo kawan...

waah, cerita yg bagus ...

happy blogging!See u on my blog.
-desti hamster land-

reni mengatakan...

So.., jadilah diri sendiri..!!
Nice post..!!

Fanda mengatakan...

Itulah yg terjadi pada banyak orang ya. Semuanya memakai topeng. Demi ambisi, demi kekuasaan, demi keserakahan. Tapi di mata Tuhan, hati kita akan terbuka jelas. Lalu untuk apa kita memberikan kesan pada orang lain, kalo toh tujuan hidup kita akhirnya adalah ke haribaanNya?
Renungan yang indah, mas Goen!

O ya, berhubung mas Goen sdh berkenan meramaikan blog baruku, datang ya untuk selamatan. Ada hadiah istimewa juga buat mas! Kutunggu loh