Minggu, 26 Juli 2009

Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan (lagi)

Beberapa hari yang lalu, aku menonton sebuah film yang berjudul COLLATERAL DAMAGE. Film ini bertutur tentang pembalasan dendam yang dilakukan oleh Gordon (diperankan oleh Arnold Schwarzenegger), seorang petugas pemadam kebakaran yang istri dan anaknya tewas akibat serangan bom yang dilakukan oleh teroris. Gordon tidak puas dengan kerja aparat penegak hukum yang terkesan lambat dalam membekuk gembong teroris sehingga ia memutuskan untuk ikut terlibat menangkap hidup mati para teroris yang sudah membunuh orang-orang yang teramat disayanginya.

Barangkali cerita ini hampir mirip dengan kejadian Jumat pagi (17/7) di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Masing-masing, sebuah bom yang disinyalir sebagai bom bunuh diri telah meluluhlantakkan restoran yang berada di kedua hotel tersebut. Puluhan orang terluka bahkan 9 orang diantaranya tewas secara mengenaskan. Salah satu dari korban tewas itu adalah Evert Mucodompis, karyawan restoran di hotel JW Marriot. Satu hal yang membuat hati ini semakin teriris, sehari setelah kejadian itu, istri Evert melahirkan buah cinta mereka yang kedua.

Pemakaman Evert Mucodompis di TPU Tanah Kusir, Jakarta, dihadiri ribuan pelayat. Juga oleh para wartawan yang ingin mengabadikan kejadian tersebut. Victor Mucodompis, ayah Evert saat ditanya salah satu wartawan hanya berujar, “Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan. Kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Jangan simpan amarahmu sampai terbenamnya matahari.”

Mengejutkan! Itu barangkali reaksi kita atas apa yang dikatakan Victor Mucodompis. Selain tidak lazim, kalimat tersebut juga bertentangan dengan logika umum. Bagaimana bisa, ayah yang telah kehilangan anak akibat bom jahanam yang diledakkan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab bisa berkata seperti itu? Bukankah semestinya ia mengutuk keras aksi tersebut?

Memang, logika umum yang (biasanya) berlaku dalam keseharian kita adalah seperti ini: kalau dalam film COLLATERAL DAMAGE diceritakan bagaimana Gordon harus memporak-porandakan sebuah stasiun tv hanya gara-gara ada wawancara yang meyinggung-nyinggung soal kematian istri dan anaknya, maka kita pun (juga) terbiasa dengan pembalasan dendam. Memukul ketika terlebih dahulu dipukul, balik memfitnah ketika difitnah dan dicemarkan nama baiknya, sakit hati karena omongan yang tidak mengenakkan hati kemudian membunuh dengan sadis. Ibarat kata: mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa diganti nyawa.

Coba kita simak sejenak kisah berikut: Syahdan pada jaman dahulu, ada dua desa yang letaknya berdampingan. Penduduk di kedua desa itu hidup dengan damai. Saling tolong-menolong dan menghargai satu sama lain. Suatu ketika datanglah seorang pengusaha kaya dari kota. Pak Banu namanya. Di desa A, sebut saja demikian, pak Banu membeli sebidang tanah yang luas. Di tanah tersebut selain membangun rumah untuk keluarganya, ia juga mendirikan tempat usaha yang banyak menyerap tenaga kerja dari penduduk desa setempat terutama para pemudanya.

Suatu malam, Bejo, anak semata wayang pak Banu yang beranjak remaja, ‘ngapel’ Fitri, cewek yang baru beberapa minggu ini dipacarinya. Kebetulan Fitri adalah penduduk desa B yang berstatus sebagai kembang desa. Karena terlalu asyik, Bejo lupa akan waktu. Ia melebihi jam malam yang berlaku di desa tersebut. Para pemuda desa setempat yang ‘kebetulan’ belum mengenal Bejo semula berusaha memperingatkan dengan halus, menyuruh Bejo untuk segera pulang. Namun karena Bejo tidak peduli, mereka mulai berlaku kasar. Beberapa bahkan sempat memukuli Bejo hingga wajahnya memar-memar.

Ketika sampai di rumah, pak Banu terkejut melihat keadaan Bejo. Segera ia mendesak Bejo untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Selesai mendengar penuturan anaknya, pak Banu marah. Ia tidak terima dengan perlakuan beberapa pemuda desa B.

Keesokan harinya, pak Banu menyuruh beberapa pemuda desa A untuk mencari pemuda-pemuda desa B yang sudah mencelakai anaknya. Beberapa pemuda yang berhasil ditemui tidak ada yang mau mengaku hingga terjadilah percekcokan yang berakhir dengan perkelahian. Karena kalah dalam jumlah, orang-orang suruhan pak Banu akhirnya lari menyelamatkan diri.

Rupanya peristiwa ini menjadi penyebab peristiwa yang lebih besar. Dan tawuran antar pemuda kedua desa pun tidak terelakkan. Suasana yang semula damai berubah menjadi kacau. Rumah-rumah terbakar. Orang-orang yang tidak berdosa menjadi korban. Banyak yang terluka bahkan beberapa di antaranya tewas secara mengenaskan.

Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan pada akhirnya akan terus menyuburkan kejahatan. Kejahatan menjadi tanpa akhir. Ia justru akan semakin menyebabkan orang-orang tidak berdosa menjadi korban.

Maka menjadi benar apa yang dikatakan Victor Mucodompis bahwa kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Semangat membalas dendam harus diganti dengan semangat mengampuni dan semangat mengasihi. Jika hal ini bisa dilakukan, bukan mustahil aneka kekerasan akan lenyap di muka bumi ini. Sebaliknya, jika kita tidak mau mengusahakannya, jangan pernah berharap kedamaian bisa muncul. Setuju?

(note: tambahan lagi karena ada tulisan dengan judul yang sama, dapat dilihat di sini)

22 komentar:

asrizal wahdan wilsa mengatakan...

saya setuju dengan posting ini, seperti yang daiajrkan oleh nabi, bahwa suatu tindakan kejahatan harus dibalas dengan kebaikan, karena sesuatu yang dilandasi dengan hati nurani yang tulus dan penuh kearifan, Allah akan memberi sesuatu yang setimpal, dan banyak diantara kita yang tobat karena diluruskan dengan jalan kebaikan

arkasala mengatakan...

pertamaxxxx dulu
banyak yang saya dengar dan alami kalu karena masalah sepele terpancing keributan antar desa. Saya pernah mengalaminya. Namun kadang kita sulit mencegah keributan.
Secara perlahan-lahan mungkin termasuk melalui media internet kita kampanyekan untuk selalu menjunjung tinggi kedamaian dan saling toleransi atas segala perbedaan. Walaupun sulit tapi saya penganut paham tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. termasuk sangat mungkin untuk mengkampanyekan segala bentuk kedamaian dus berfikir logis.
Salam.

Ansgarius mengatakan...

stuju bang....Kejahatan dibalas kejahatan terus kapan selesainya.. bila kamu ditampar pipi kirimu serahkan pipi kananmu..

waluyo mengatakan...

Jika kita memiliki jiwa dakwah, kejahatan yang dilakukan oleh orang lain memang tidak semestinya dibalas dengan kejahatan pula sehingga dendam tumbuh di dalamnya. Namun, hal itu sebenarnya juga sangat manusiawi. Sebenarnya jika direnungkan secara mendalam kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap diri kita ini sedang melatih diri kita bagaimana caranya mensikapi hal itu dengan sebaik dan sebenarnya. apakah kita akan membalasnya dengan kejahatan pula atau kita ikuti kejahatan itu dengan kebaikan.

Nadja Tirta mengatakan...

Setuju mas.. Selalu dengan semangat berbagi kasih nggih... Walaupun kita harus tegas "berperang" orang-orang yang suka ngebom sembarangan itu..

Seharusnya kita pasang slogan baru "Dilarang ngebom kecuali di WC sendiri atau di WC Umum!"

Lho kok jadi ngaco mas ? Hehe..

Fanda mengatakan...

Setuju mas! Seperti wejangan Dumbledore dalam Harry Potter, hanya cinta yg bisa mengalahkan kejahatan yg paling tinggi sekalipun. Bukan senjata atau mantra sakti mandraguna.
Ah..klo saja para teroris itu membaca juga posting ini ya, mas!

Btw, mas Goen, ada award buat mas di blogku. Ambil ya!

Newsoul mengatakan...

Tulisan yang mantap dan bermanfaat. Terimakasih sudah membaginya disini.

princess mengatakan...

iya, setujuuuu..kejahatan dibalas dengan kebaikan. Tapi butuh hati yang besar untuk bisa melakukannya.

buwel mengatakan...

wooooowwwww salutttttttt

dilarang melarang mengatakan...

ya ..namanya hidup memang begitu ..
ada yg baik ada yg jahat....
http://nagapasha.blogspot.com

patahati mengatakan...

wah suka nonton juga neh sobat, salut deh bisa mengambil pesan yg disampaikan oleh sebuah karya film, salam kenal.

Ponco Susanto mengatakan...

Gimana nih rekan rekan mau tak kasih dollar mingguan ga? untuk daftar klik disini Untuk keterangan selengkapnya <klik Disini>

Fauzi Blog mengatakan...

memang seharusnya ini yang harus dibudayakan agar api2 permusuhan dinegeri ini tidak semakin panas... sip sob

yanuar catur rastafara mengatakan...

kejahatan memang nggak selalu kita harus membalas dengan kejahatan pula
biarlah yang Disan ntar membalasnya
oke kawan

Desti mengatakan...

Haiii... numpang lewat lagi mas...

Bagus nih ceritanya, saya setuju...

Happy blogging! See u on my blog.
-Desti Hamster Land-

eha mengatakan...

Sayang sekali yang ngebom ikut meninggal. Kalau masih hidup, mereka harus baca tulisan ini.

Juliawan mengatakan...

wao dari judulnya juga uda menarik hehhe,slm kenal sob :) tapi gua setuju dengan judul u

Reni mengatakan...

Emang sih, kalau kejahatan dibalas dengan kejahatan pula maka tak akan pernah ada habisnya..
Namun diperlukan kebesaran hati utk membalasa kejahatan dengan kebaikan.
Salut utk orang-2 hebat yg telah mampu menyingkirkan rasa dendam di dada dan menggantinya dengan samudra maaf...
Kita masih harus banyak belajar... Nice post, mas !!

NURA mengatakan...

salam sobat,,setuju,,dengan judulnya di artikelini,,sobat ,,untuk menciptakan perdamaian dan kenyamanan hidup di dunia semoga baik untuk di ahkeratnya juga.

budiawanhutasoit mengatakan...

setuju dan salut dengan apa yang dikatakan oleh Victor Mucodompis, ayah Evert. walaupun berat dan pasti dia masih berduka..tapi dia tetap berpikiran bahwa kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan. GBU Victor Mucodompis..

Sudino Dinoe mengatakan...

Sebuah cerita yang penuh makna.

Irfan mengatakan...

Saya setuju... Kejahatan harus dibalas dengan kebaikan.. walaus ebenarnya sulit...