Kamis, 22 Oktober 2009

Melihat Masa Lalu

Ini cerita tentang seseorang bernama Rio. Beberapa tahun yang lalu, Rio adalah rekan kerja di kantor. Orangnya sedikit pendiam, ramah dan murah senyum. Meski satu kantor, tidak setiap hari aku bisa bertemu dengannya. Maklum, kantor kami memang memiliki dua jenis usaha yang berjalan bersama. Satu bergerak di bidang penjualan produk-produk pertanian dan lainnya di bidang jasa penanggulangan rayap (termite control). Aku di melayani di toko sedangkan Rio adalah petugas lapangan jasa rayap.

Suatu ketika pada jam istirahat siang, aku melihat Rio tengah duduk diam di gudang belakang. Saat kudekati ternyata ia tengah membaca sesuatu.

“Lagi sibuk apa, mas?” sapaku sambil terus duduk di sebelahnya.

“Eh.. mas Roni. Enggg… ini mas lagi belajar…” jawabnya sedikit kaget.

Kuamati buku yang sedang dipegangnya dengan rasa penasaran. “Mas Rio kuliah lagi ya? Kuliah di mana? Ngambil jurusan apa?” berondongku ingin tahu.

Rio agak kikuk mendengar pertanyaan-pertanyaanku yang saling bersahutan. Sejenak ia menutup buku yang dipegangnya sebelum menjawab, “Iya mas… aku kuliah di Universitas Tri Darma ngambil jurusan ekonomi…”

“Wah, hebat mas…” ujarku dengan penuh kekaguman.

Dua bulan setelah percakapan itu, Rio mengundurkan diri dari pekerjaannya. Saat kutanya apa alasannya, ia berujar,”Biar bisa konsentrasi mas karena sebentar lagi ada praktek kerja lapangan yang mesti dijalani.”

Waktu kembali berjalan seperti biasanya. Aku pun tenggelam dengan kesibukan di kantor yang dari hari ke hari semakin bertambah. Kabar tentang Rio bak hilang ditelan bumi.

Namun, semua itu berubah sejak sebulan yang lalu. Seperti biasanya siang itu aku sedang sibuk melayani pembeli yang tak henti-hentinya bertanya ini dan itu ketika kulihat sebuah sepeda motor berhenti di depan kantor. Beberapa saat kemudian, pengendara sepeda motor itu masuk sambil menggandeng seorang gadis kecil berparas ayu. Dari jauh kulihat ia tersenyum kepadaku. Sesaat aku agak pangling, siapa orang ini? Namun kebingungan itu seketika berubah menjadi suatu kegembiraan. Ternyata ia adalah Rio.

Dari kesan yang kudapat setelah sekian lama berpisah, Rio tak banyak berubah. Ia tetaplah pribadi yang ramah dan hangat. Kini, Rio sudah berkeluarga dan memiliki satu bidadari kecil bernama Enes yang berumur 4 tahun. Dari informasi seorang teman kantor kuketahui ternyata Rio sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses.

Sejak saat itu, Rio semakin sering datang ke kantor. Kadang ia sengaja datang untuk membeli barang tertentu tapi sering pula ia hanya ngobrol-ngobrol di gudang belakang dengan orang-orang yang dulu pernah menjadi rekannya. Katanya, ia ingin menjaga tali silaturahmi agar persahabatan yang dulu pernah terjalin tidak putus begitu saja.

Ah, Rio, aku semakin kagum denganmu. Meski sudah sukses (dan kaya) engkau tidak pernah melupakan kami. Engkau tetap mengingat kami sebagai bagian dari kehidupanmu.

5 komentar:

Seri Bahasa mengatakan...

masa lalu adalah masa yang indah. kadang teman yang tepisah lama bisa ketemu juga. jodoh dan pertemuan itu Yang Maha Esa yang tentukan.

Yunna mengatakan...

kisah yang indah...
Rio tak pernah lupa pada masa lalunya...

Henny Y.Caprestya mengatakan...

Indahnya bila memiliki sahabat seperti itu. tidak pernah merasa tinggi hati meskipun takdir telah merubah nasibnya

eha mengatakan...

pribadi yg jarang ada. Moga2 kita jg bisa sperti rio ya

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, rio rendah hati sekali ya. memang seharusnya begitu. kalo sukses gak lupa sama teman lama.