Selasa, 20 Oktober 2009

Menunggu Telepon Berdering

Pak Ridwan gelisah. Berkali-kali ia mondar-mandir di ruang tengah rumahnya yang luas. Berkali-kali pula ia melihat telepon yang tergeletak di meja pojok dekat televisi. Sedari pagi dering telepon yang ditunggu-tunggunya tidak kunjung tiba. Dering telepon yang diyakininya akan menjadi kesempatan untuk meningkatkan martabatnya, harga dirinya dan tentu saja kekayaannya. Dering telepon itu adalah panggilan dari sang Presiden yang akan menjadikannya calon menteri di kabinet pemerintahan yang baru.

Sebenarnya, menjadi menteri bukanlah pengalaman baru bagi Pak Ridwan sebab pada periode pemerintahan yang lalu, ia sudah berkesempatan menjadi salah satu pembantu presiden. Saat itu ia dipercaya menangani urusan ekonomi agar membuat rakyat sejahtera atau disingkat MENKO MERAJAH. Menurut perasaannya, hasil kerjanya saat itu cukup memuaskan karena ia berhasil mengendalikan harga-harga supaya tidak terus naik, mendatangkan beras impor untuk menanggulangi kekurangan pangan di beberapa daerah serta memberikan program bantuan untuk rakyat miskin. Pak Ridwan tidak peduli jika ada suara-suara sumbang yang mempertanyakan berbagai kebijakannya yang dinilai menguntungkan pihak-pihak tertentu. Ia juga menyangkal bila dikait-kaitkan dengan kasus penyelewengan dana bantuan untuk rakyat miskin yang sedang diselidiki oleh polisi.

“Kring…..” tiba-tiba telepon itu berdering. Suaranya nyaring sekali hingga membuat Pak Ridwan terlonjak kegirangan. Bergegas setengah berlari, ia mengangkat gagang telepon, “Halo selamat siang, dengan Pak Ridwan di sini… ada yang bisa saya bantu?”

“Pak, ini aku lagi di mal MEGAHNYA. Ada berlian bagus yang hendak kubeli tapi ternyata uang di credit cardku tidak cukup. Tolong segera transfer 10 juta ya pak… “ suara di seberang sana memerintah, setengah memaksa. Rupanya telepon itu dari Bu Ridwan, istrinya yang memang gemar sekali berbelanja.

“Ah… ibu selalu saja begitu. Sudah tahu uangnya kurang masih saja membeli barang yang mahal-mahal,” gerutu Pak Ridwan. “Tunggu sebentar, nanti segera aku transfer…” lanjutnya sembari menutup telepon.

Satu jam berlalu ketika telepon itu berdering lagi.

“Halo, selamat siang, dengan Bapak Ridwan?” suara di seberang terdengar di telepon.

“Ya, saya sendiri. Ini dengan siapa?”

“Saya Ninda dari Paguyuban Mahasiswa Peduli Rakyat Miskin. Saya mau menanyakan tindak lanjut proposal yang sudah saya kirim ke rumah bapak tiga hari lalu. Apakah Bapak bersedia membantu kami?” terang suara di seberang.

Pak Ridwan terdiam. Ia ingat, beberapa hari lalu memang ada orang yang menyerahkan sebuah proposal kepadanya. “Maaf mbak, saat ini saya tidak bisa membantu. Saya lagi butuh banyak uang untuk keperluan keluarga saya. Mungkin lain kali…” jawab Pak Ridwan.

“Kalau memang begitu, saya minta maaf pak. Besok pagi saya akan datang ke rumah untuk mengambil proposal. Selamat siang,” suara di seberang mengakhiri pembicaraan.

“Uh… selalu saja begitu. Proposal, pemintaan sumbangan ini-itu. Memangnya cari uang itu gampang. Okelah… kalau itu uang dari kantor, kalau duwit pribadi ya nanti-nanti dulu… Mumpung lagi punya jabatan, punya wewenang… sebaiknya menumpuk harta untuk kebutuhan keluarga. La…giliran udah banyak lha kok malah disumbangkan… enaknya!!!,” batin Pak Ridwan.

Waktu terus merambat. Tak terasa sore mulai menjelang. Pak Ridwan kelihatan semakin gusar karena apa yang ditunggu-tunggunya tidak kunjung tiba. Sepi. Istrinya belum datang. Pun juga Nando, anak semata wayangnya yang kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri.

Memikirkan Nando, selalu membuat Pak Ridwan jengkel. Bagaimana tidak? Anak itu selalu saja minta uang tapi kalau ditanya untuk apa, tidak pernah menjawab jujur. Jika tidak dituruti Nando selalu mengancam tidak mau kuliah lagi. Duhhhh… pusing….

Tiba-tiba telepon berdering kembali.

“Selamat sore, bisa bicara dengan Bapak Ridwan?” sebuah suara bernada berat terdengar.

“Ya, saya sendiri. Ada yang bisa saya Bantu?” jawab Pak Ridwan.

“Saya Dr. Hendri dari rumah sakit PUNYA KITA. Ini tentang anak bapak…”

“Ada apa dengan anak saya???”

“Tenang… tenang pak… Saya harap bapak terus memohonkan yang terbaik. Beberapa menit lalu beberapa orang membawa anak bapak ke tempat kami. Ia ditemukan overdosis dan saat ini kondisinya sedang kritis…”

Dueennnnng… Palu yang besar seakan menghantam kepala Pak Ridwan. Telepon yang digenggamnya terjatuh. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Keringat dingin segera menetes dengan deras. Kemudian semuanya menjadi gelap. Sepi. Hanya semilir angin sore yang menerbangkan dedaunan kering. Jatuh ke bumi.

8 komentar:

khusnul mengatakan...

ehmmmm....
dengan telpon rumah, dengan HP,
komunikasi sangat lancar.
Jika melihat ceritanya, yang jelas...
yang kaya makin kaya, yang miskin semakin tercekik.
yang sudah kaya relasinya para atasan.
yang miskin relasinya cenderung pada preman...hik

NURA mengatakan...

MALAM SOBAT
kasihan pak RIDWAN,, menerima telepon hanya untuk dimintain dana ya,,,
cuma yang istri dananya hanya untuk pribadi,,yang satunya untuk sosial bantuan umum.

Rossbaru mengatakan...

hari-hari yang mendebarkan bagi orang2 yang masuk nominasi menteri dh berlalu, ada yang senang dapet panggilan ada yang sedih nggak dapet telepon yang ditunggu2.........

Lina Marliana mengatakan...

wah..cerita yg bagus nih.. bnyk org berharap jd mentri cm untuk menambah kekayaan yah.. ?

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

kacian banget ama Pak Ridwan,...
lain yang ditunggu,....ternyata yang datang adalah yang tidak diharapkan.

Arfi mengatakan...

waduhhhh, kasihan banget dah pak ridwan... punay anak istri gak bisa ngedukung dia... malah diperas.. malah OD lagi anaknya... moga aku bukan anak yang durhaka dah...:-D

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ironis sekali ya..

Yunna mengatakan...

ironis.pak ridwan belum bisa membuka matanya...