Sabtu, 17 Oktober 2009

Sebuah Kesadaran

Malam baru saja beranjak. Di sebuah rumah makan siap saji, tampak beberapa orang sedang bergerombol. Sambil mengobrol sana-sini, kadang diselingi tawa renyah seolah tanpa beban, mereka menikmati makan malam dengan penuh kegembiraan. Beberapa menit kemudian, setelah membersihkan tangan, mereka melangkah pergi, meninggalkan sisa-sisa makanan yang tergeletak di atas meja.

Saat pagi masih malu-malu menyapa, seorang lelaki datang. Ia mengayuh sebuah sepeda butut yang di salah satu sisinya terpasang sebuah ember besar. Setelah memarkirkan sepedanya, lelaki itu segera mengambil ember besar yang dibawanya dan melangkah masuk ke bagian belakang rumah makan siap saji itu. Beberapa karyawan yang masih jaga, yang kebetulan bertemu dengannya menyapanya ramah. Rupanya, kedatangan lelaki itu sudah menjadi hal yang biasa. Beberapa saat kemudian, seorang karyawan membawa bungkusan plastik besar. Sambil berbasa-basi sejenak, karyawan itu kemudian memasukkan bungkusan plastik besar itu ke dalam ember yang dibawa lelaki itu.

Suasana beralih ke sebuah perkampungan kumuh. Dari kejauhan, tampak seorang lelaki mengayuh sepeda bututnya. Ketika sampai di batas kampung, tiba-tiba serombongan anak kecil yang kusut, kurus dan kumal mengerubutinya. Lelaki itu berhenti. Sambil bernyanyi ia mengambil ember yang dibawanya, membuka bungkusan plastik di dalam ember itu dan segera membagi-bagikan isinya kepada anak-anak kecil yang mengerubutinya. Mereka tampak senang bahkan beberapa ada yang saling berebut. Maklum, anak-anak kecil itu tengah kelaparan. Mereka tidak lagi peduli bahwa apa yang mereka makan adalah sisa makanan dari sebuah rumah makan yang sudah dibuang orang.

Kisah di atas adalah sebuah film pendek yang kebetulan diputar dalam pameran Hari Pangan Nasional yang digelar di gerejaku kemarin. Menyaksikan film itu berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu. Jijik, haru, sedih sekaligus ada yang seakan menampar kepalaku. Aku seakan ditohok oleh sebuah kesadaran, bukankah aku juga sama dengan orang-orang di rumah makan itu? Bukankah aku selama ini juga sering menyisakan makanan hanya karena alasan tidak suka atau merasa sudah kenyang? Sering juga aku mengeluh karena makanan yang tidak enak, yang membuatku tidak lagi berselera padahal makanan itu sudah dipersiapkan dengan susah payah oleh ibuku? Bukankah itu berarti aku tidak tahu mengucap syukur? Bersyukur karena aku masih bisa makan tiga kali sehari dengan nasi serta lauk pauk yang komplit sementara di luar sana masih banyak orang yang kelaparan.

Ah… semoga kesadaran ini membawa perubahan bagiku. Berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin peka dengan sesama.

6 komentar:

yanuar catur rastafara mengatakan...

ya ampun,, kisah yg begitu haru
semoga kedepan, banyak warga kita tidak kekurangan pangann
amiennn

Seri Bahasa mengatakan...

kesadaran itu harus di pikul oleh masyarakat sekeliling terutama pihak pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

Rossbaru mengatakan...

Kesadaran untuk lebih peka terhadap linkungan, ternyata masih banyak diantara kita yang hidup dalam kesusahan, kekurangan, dan kemiskinan

Jimox mengatakan...

bener banget mas, dulu aku juga sering mengeluh karena makanannya kurang cocok, padahal di lain tempat, masih banyak orang yang kelaparan. kita kurang bersyukur selama ini. tetapi untung sekarang saya juga sudah sadar mas :)

Newsoul mengatakan...

Postingan mantap kawan. Begitulah kontradiksi di negeri tercinta ini. Semoga film tsb bisa sedikit menggugah kita. Kwan, ada award untukmu di blog saya, harap diterima ya.

reni mengatakan...

Artikelnya membuatku malu mas...
Sebuah 'cubitan' manis buatku nih.
Makasih udah mengingatkan...