Minggu, 25 Oktober 2009

Seandainya...

Setiap kali menyaksikan program reality show ‘MINTA TOLONG’ di sebuah stasiun televisi swasta nasional, selalu muncul keharuan yang tiba-tiba merayap di dalam hati. Saat orang yang meminta tolong akhirnya mendapatkan pertolongan (biasanya si penolong adalah orang tak berpunya yang hidupnya pas-pasan). Beberapa saat setelah si peminta tolong pergi, datang orang lain lagi yang pura-pura bertanya (membeli) sesuatu. Sesaat kemudian ia mengeluarkan segepok uang limapuluh atau seratus ribuan, “Ini ada uang untuk Ibu/Bapak… karena Ibu/Bapak telah berbuat baik…” katanya sambil terus melangkah pergi. Si penolong hanya terbengong-bengong ketika menerima uang (yang barangkali seumur-umur baru dilihatnya) itu. Lalu (biasanya), ia pun bersujud syukur, mengucap terima kasih dengan terbata-bata sambil menyusut air mata yang deras mengalir. Kemudian sambil berlari-lari, ia segera mengabarkan ‘sukacita’ ini kepada suami, istri atau anak-anak. Mereka pun saling berpelukan sambil menangis bahagia.

Kebahagiaan ini tentu adalah hal yang sangat wajar karena dengan segepok uang yang sudah diterima, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meneruskan hidup. Membayar biasa SPP anak-anak yang sudah telat selama 3 bulan. Memperbaiki rumah yang sudah sedemikian reyot dengan atap yang bocor di sana-sini. Membeli susu untuk si kecil. Atau untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

Segepok uang yang sama, bisa memiliki arti yang lain jika yang menerimanya adalah orang yang memiliki banyak uang (kaya). Barangkali ia hanya memandang sebelah mata dan menganggap hal itu biasa-biasa saja. Sebab bagi si kaya, segepok uang itu sama nilainya dengan jumlah uang yang sering dihabiskan untuk berbelanja di mal-mal, main ke diskotik, makan di restoran terkenal, pesiar ke tempat-tempat wisata hingga menginap di hotel bintang lima.

Mengapa harus ada orang miskin dan orang kaya? Mengapa masih ada orang-orang yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, sandang, pendidikan, dan papannya sementara ada orang lain lagi yang begitu mudah menghambur-hamburkan uang untuk menikmati semua hal itu? Apakah Tuhan telah bersikap tidak adil?

Tentu ada maksud di balik semua itu. Sebab kita harus selalu percaya bahwa Tuhan maha penyayang dan berlimpah kasih. Dan sebagai wujud syukur atas kasih yang sudah kita terima, kita diharapkan juga bisa berlaku sama terhadap sesama terutama untuk mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.

Ah... seandainya saja kita selalu bisa menaburkan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan (yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir) dengan penuh kesadaran dan ketulusan, betapa menjadi indah dunia ini. Semoga.

2 komentar:

reni mengatakan...

Seandainya semua peduli dg sekitarnya, pasti tak akan ada lagi kemiskinan. Akankah hal spt itu dapat terwujud..??

Rossbaru mengatakan...

barangkali karena semua diciptakan berpasang2, ada kaya ada miskin, ada yang berlebih ada yang kekurangan, tentu semua ada hikmahnya