Rabu, 25 Maret 2009

Sakit

Tiba-tiba saja aku terbangun. Perutku sakit sekali. Seperti ada yang meremas-remasnya kencang sekali. Kupikir penderitaan ini hanya terjadi sebentar saja tetapi ternyata perkiraaku salah. Perutku malah semakin terasa melilit-lilit. Apa tadi malam aku salah makan ya? Begitu pikirku. Segera aku ke belakang untuk buang air besar. Wuih… ternyata cuma air yang keluar… tapi lumayan… sakit di perutku sudah agak berkurang. Baru beberapa saat kembali ke kamar… eee… la kok… sakit perut itu kembali lagi. Karena enggak kuat… aku segera membangunkan istriku.

Pagi-pagi buta, aku dan istriku bergegas pergi ke sebuah apotik 24 jam untuk membeli Imodium. Obat yang kata istriku, dapat meredakan sakit di perutku. Aku hanya mengiyakan saja dan berharap agar rasa sakit itu segera menghilang.

Dan rupanya, obat itu memang manjur. Tak berapa lama setelah meminumnya, sakit di perutku segera lenyap. Tapi tetap saja aku merasa enggak fit dan akhirnya, hari ini aku memutuskan tidak masuk kerja.

Setelah mengantar istriku ke kantornya. Aku segera pulang ke rumah untuk beristirahat.

Satu jam tiduran di kamar, bukannya bertambah segar malahan sekarang badanku jadi panas tidak karuan. Saat istriku ngebel untuk nanyain keadaanku, segera aku melaporkan situasi terkini. Atas bantuan ibu mertuaku, aku dibelikan obat untuk penurun panas dan antibiotik agar aku segera sembuh.

Ternyata, sakitku malah menjadi-jadi. Dan kalo sudah begitu, biasanya aku jadi enggak doyan makan. Mencium bau-bau yang menyengat atau sekadar gosok gigi saat mandi (cuci muka) bisa membuat aku muntah. Dan saat muntah ini…. uh… aku begitu menderita.

Betapa sakit itu tidak enak dan sehat begitu berharga. Ini yang sudah aku pahami sejak bertahun-tahun lalu. Tetapi tetap saja aku teledor. Saat sehat, aku enggak pernah pilih-pilih makanan. Yang pedes, setengah pedes atau enggak pedes… pasti aku lalap habis. Yang kata orang bisa bikin kolesterol atau sayur-sayuran pasti juga aku embat. Yang penting enak dan bisa bikin kenyang.

Pas sehat, aku juga bekerja dengan giat. Siang kerja di kantor. Trus malem harinya pergi ke gereja. Ikut rapat-rapat atau kegiatan pelayanan ini dan itu. Begitu tiap hari. Kadang-kadang aku suka memforsir diri kalo pas ada kegiatan pelayanan yang enggak bisa aku tinggalkan.

Betapa sakit itu tidak enak. Dan rupanya sakit ini kembali menyadarkan aku… Aku enggak boleh makan sembarang makanan. Aku enggak boleh nyampur-nyampur makanan. Aku harus bisa jaga kondisiku dan enggak boleh memforsir diriku. Karena ketika sakit… aku sendiri yang kemudian rugi… pekerjaan kantor jadi terbengkalai dan pelayananku juga enggak jalan…

Tuhan, terima kasih karena telah engkau kirimkan sakit ini…

Tidak ada komentar: