Jumat, 27 Februari 2009

Godaan

“Tit tit tit tit tit… tit tit tit tit tit… tit tit tit tit tit… “ dering alarm HP memecah kesunyian pagi. Aku tergeragap bangun. Sambil mengucak-ucak mata dan mulut menguap panjang, aku melirik jam di dinding kamar, “Ah… masih jam 4 pagi. Mending aku tidur lagi sebentar…” Segera aku menyetel alarm HP agar berbunyi lagi pukul 04.30. Dan aku pun kembali tidur. Tak berapa lama alarm itu pun berbunyi. Namun lagi-lagi bisikan itu muncul dan mendorong aku untuk melakukan tindakan yang sama. Alarm HP kusetel lagi pukul 04.45. Namun kali ini perkiraanku meleset. Alarm memang tetap berbunyi pada jam tersebut tapi alih-alih bangun, aku malah asyik masyuk memeluk bantal guling. Saat aku benar-benar terbangun, jarum jam di dinding sana sudah menunjuk ke angka 06.00. “Wah, telat! Hari ini aku nggak bisa ikut misa pagi lagi… !” ucapku dengan nada menyesal.

Hari yang lain saat aku tengah mengetik di depan komputer. Tiba-tiba keinginan itu muncul lagi. “Ayolah, tidak apa-apa… toh hanya satu kali lagi,” bisik keinginan itu. Semakin aku menahannya, keinginan itu semakin menyerangku. “Ayolah cepat… enak lho!” perintah keinginan itu semakin kuat. Dan akhirnya pertahananku goyah. Aku kembali jatuh pada kebiasaan itu. Kebiasaan yang aku tahu adalah kebiasaan buruk yang sungguh tidak berguna.

Godaan, yah godaan. Ia akan selalu datang selama manusia hidup. Mulai dari pagi hari saat mata mulai membuka melihat indahnya pagi hingga malam hari saat mata mulai terkatup rapat karena rasa kantuk. Dari godaan yang paling ringan hingga godaan yang super berat. Godaan tidak suka pilih-pilih. Semua diterjangnya tanpa mempertimbangkan suku, agama, ras, jenis kelamin, tingkat ekonomi hingga perbedaan budaya. Yang kaya diberi godaan untuk menggunakan kekayaannya secara serampangan. Main cewek, minum-minuman keras, nyabu hingga kebiasaan dolan ke night club setiap malam. Yang punya jabatan digoda untuk menggunakan jabatan seenak udelnya. Mumpung lagi punya wewenang trus bisa ambil uang sana sini, korupsi dengan seenak-enaknya. Yang lagi punya kekuasaan digoda untuk terus melanggengkan kekuasaannya meski dengan cara-cara yang tidak baik. Kasak kusuk sana sini trus sebar intel untuk memata-matai siapa saja yang enggak suka. Bila ada yang berani komentar miring langsung ditangkap tanpa pandang dulu. Juga sering bikin janji-janji surga yang entah bisa dilaksanakan atau tidak. Yang sudah punya istri atau suami digoda untuk memiliki WIL atau PIL ketika melihat gadis cantik atau lelaki yang lebih ganteng bila dibandingkan dengan istri atau suami saat ini. Yang lagi tidak punya uang dan terjerat hutang, digoda untuk mencuri, menjambret hingga menghilangkan nyawa orang lain hanya karena keinginan untuk memiliki harta benda. Yang lagi pacaran digoda untuk cepat-cepat melakukan hubungan suami istri mumpung ada kesempatan. Yang lagi jadi artis digoda untuk selalu menebar sensasi. Bikin keributan sesama artis, jual berita keretakan rumah tangga, isu kawin cerai hingga menyebar kebohongan di sana sini. Yang dikaruniai kepandaian digoda untuk bersikap sombong dan menggunakan kepandaiannya untuk ‘minteri’ orang-orang yang tidak tahu.

Lalu, jika godaan itu begitu banyak, apa yang musti dilakukan? Dalam berbagai agama tentu sudah ditulis panjang lebar tentang hal ini. Pasrah kepada Tuhan. Intim denganNya dengan banyak mendaraskan doa. Membaca firman-firmanNya dan setia mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Dan juga diperlukan satu kesadaran dalam diri. Sadar dan sungguh-sungguh memahami bahwa setiap godaan tidak ada gunanya untuk dituruti. Ia justru akan membuat kita jatuh dalam dosa sehingga jauh dari Tuhan. Namun ketika kita benar-benar jatuh dalam godaan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mohon ampun kepada-Nya dan mohon bimbingannya agar bisa bangkit kembali untuk mengalahkan segala godaan yang akan datang. Nah, selamat menghadapi dan mengalahkan godaan!

Tidak ada komentar: