Kamis, 25 Maret 2010

Habis Manis Dibuang Saja...

Melihat dan mendengarkan acara Dialog Pagi di Metro TV beberapa hari lalu, membuat hati ini sangat miris. Perasaan seperti diaduk-aduk hingga air mata pun tak kuasa untuk ditahan. Bagaimana tidak? Saat itu dihadirkan 2 perempuan renta berumur 78 tahun yang terancam hukuman 2 tahun penjara. Bagaimana bisa? Mari kita simak berita yang dimuat di Media Indonesia, Kamis, 18 Maret 2010:

Ketika memasuki ruang persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Soetarti, 78, dan Roesmini, 78, tampak berjalan tergopoh-gopoh sambil dipapah. Ekspresi sedih dan cemas terlihat dari raut wajah dua janda pahlawan itu. Kehadiran dua perempuan renta itu untuk menjalani siding perdana, terkait dengan kasus rumah dinas yang harus mereka kosongkan di Jalan Cipinang Jaya II A RT 007/007, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur.

Perum (Perjan) Pegadaian memidanakan Soetarti, istri almarhum R. Soekarno, dan Roesmini, istri dari Ahmad Husaeni, dengan ancaman hukuman dua tahun penjara. Tuduhannya, mereka menyerobot tanah orang lain dan menempati rumah negara milik Perum Pegadaian seluas 236 m2. Mereka didakwa dengan Pasal 12 ayat (1) jo Pasal 36 ayat (4) UU No 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.

Menurut Jaksa Ibnu Suud, saat membacakan dakwaan pada sidang perdana, Perum Pegadaian telah memberi peringatan pada 2008 melalui surat peringatan nomor 235 untuk segera mengosongkan rumah dinas tersebut. Namun, mereka tidak mau pindah dan ingin membeli saja.

“Rumah dinas itu tidak berlaku lagi jika atas nama surat penempatan rumah sudah tidak bekerja atau meninggal dunia. Rumah itu atas nama suami bukan istri,” ungkap Ibnu.

Menurut Soetarti, sesuai PP No 40/1994, karyawan yang telah bekerja minimal 10 tahun diperbolehkan membeli rumah dinas. Namun ketika dia melaksanakan haknya, justru ditolak. Di sisi lain, banyak rumah dinas tetap dikuasai pegawai meski mereka tidak mendapat gelar pahlawan.


Habis manis dibuang saja. Itu yang mungkin bisa dikatakan. Para suami yang telah berjuang demi memerdekakan negeri ini hingga tetes darah terakhir ternyata istri-istri mereka malah mengalami perlakuan yang tidak sepatutnya. Lalu, dimana letak keadilan? Dimana hati nurani? Apakah demi sesuatu yang belum tentu terbukti kebenarannya, mereka harus menanggung semua itu. Padahal mereka hanyalah orang tua lanjut usia yang seharusnya mendapatkan perlindungan. Gaji mereka yang hanya Rp. 970.000,- pun belum tentu cukup untuk menopang kehidupan mereka saat ini.

“Dulu waktu suami saya masih hidup, kami dihormati, tapi sekarang kok malah diginikan. Saya sedih sekali,” ungkap Soetarti sambil meneteskan air mata.

Habis manis dibuang saja. Inikah yang memang banyak terjadi di negeri ini?

21 komentar:

megi mengatakan...

amankan pertamaxxx sob ??

megi mengatakan...

hore akhirnya dapat pertamaxxx ^^
mo baca dulu sob...

megi mengatakan...

saya ikut prihatin atas kejadian yg menimpa mereka, semoga almarhum tidak ikut sedih disana

Ello Aristhosiyoga mengatakan...

Emang miris. Pemerintah nggak kasihan sama para janda pahlawan.

Clara mengatakan...

iya nih saya juga miris liat kasus ini

nietha mengatakan...

tega banget mereka mempidanakan dua orang ibu yang tua renta.

merawat dan memperbaiki komputer mengatakan...

bagaimanapun,pemerintah harus memberi perhatian kepada seorang wanita,apalagi seorang janda.

lord green mengatakan...

kasian bgt...

berbagi wacana mengatakan...

gak ada wujud penghargaan kepada orang yang telah berjasa kepada indonesia..

ninneta mengatakan...

Iya nih... aku nonton acara itu sejak mereka masih dijemput dari rumahnya.... Astaga... mereka jalan aja udah susah... masih aja dibikin susah.... ckckckckck

Munir Ardi mengatakan...

memang menyedihkan sekali mas, lihat nasib kedua orang tua yang mestinya hidup tenang dan mempersiapkan diri menuju akhirat tetapi malah kena dakwaan sedih sekali

Yunna mengatakan...

kasih salam seusai ujian......

fai_cong mengatakan...

iya kang...
dimana kasih sayang pemerintah terhadap para pejuang kita???
sungguh tega

Rock mengatakan...

Selamat sore mas Goen...

Darin mengatakan...

turut prihatin pak :(
oya, tagnya dah rampung saya jawab :)

Lina Marliana mengatakan...

kok kayak makan tebu aja yah mas, habis manisnya, sepahnya dibuang.. Keterlaluan banget yah.. ga ada penghormatan blas sm orang2 yang pernah berjasa.. Apa rakyat harus selalu unjuk rasa dan berdemo ria yah agar pemerintah berubah ??

Seiri Hanako mengatakan...

duh memang miris banget

buwel mengatakan...

duh, moga esok cerahlah hari...

a-chen mengatakan...

kalo di singapore katanya ada parent bills yak...hihihiih.. nyambung ngggak ya... :-)

aan mengatakan...

dulu kita berjuang melawan penjajah,sekarang mari kita berjuang melawan ketidak adilan di negeri ini..

munir ardi mengatakan...

mari ke tempat saya mas ada award untuk anda