Senin, 01 Maret 2010

Luar Biasa

“Selamat pagi,”, “Luar Biasa,”. Itulah yang mengawali kegiatan pelatihan hari kedua (26/02). Hari ini sessi pertama akan membahas tentang “Fungsi Karya Jurnalistik Dalam Gereja” dan “Media Alternatif & Media Group”. Disampaikan oleh Romo Y.I. Iswarahadi SJ dari Puskat Yogyakarta.

Karya Jurnalistik adalah karya yang berhubungan dengan surat kabar. Dalam konteks jaman sekarang, hal ini mempunyai arti yang lebih luas, yaitu meliputi berita lewat surat kabar/majalah, radio, televisi maupun internet.

Antara surat kabar dan majalah memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Perbedaan itu adalah:
•Surat kabar berita sangat aktual sedangkan majalah tidak (berita yang masih relevan untuk pembaca).
•Surat kabar sirkulasi luas, majalah terbatas.
•Surat kabar terbit setiap hari tetapi majalah tidak.
•Pada umumnya materi yang disajikan oleh majalah diolah lebih dalam (lebih fokus).

Untuk semakin memperdalam materi, Romo Is menampilkan sebuah slide berupa kumpulan lukisan hasil coretan tangan yang diberi narasi dan musik latar. Menampilkan dua buah cerita aktual yang berhubungan dengan hidup sehari-hari.

Dari kedua cerita itu, ada perbedaan mendasar tentang model komunikasi yang disampaikan. Komunikasi searah yaitu komunikasi yang hanya berasal dari intruksi satu orang saja dan komunikasi dua arah yang melibatkan banyak unsur dari kedua belah pihak. Satu hal yang perlu digarisbawahi, komunikasi terjadi jika informasi sampai ke tujuan dan memberi manfaat/dimengerti sehingga akan menimbulkan perubahan sikap (adanya tanggapan).

Pada sessi kedua, diberikan materi tentang KOBAR dan CERGAM oleh Mbak Berta. Kalau CERGAM adalah Cerita Bergambar alias komik, bagaimana dengan KOBAR? KOBAR singkatan dari Koran Selembar, yaitu media sederhana yang bisa dikembangkan oleh siapa saja. Hanya dibutuhkan selembar kertas HVS ukuran folio dan tulisan tangan.

KOBAR dibuat sebagai media alternatif untuk mengakses hal-hal yang tidak diliput oleh media lain (yang lebih besar) dan hanya dalam lingkup kecil (untuk kepentingan kelompok atau komunitas). Bisa terbit tiap hari atau mingguan, tergantung komitmen dari pengelolanya. KOBAR sebaiknya ditempel pada tempat-tempat yang setrategis tetapi bisa juga difotokopi dan dibagikan jika ada dana.

Tulisan yang ditampilkan di KOBAR harus aktual, riil terjadi, unik dan memiliki kedekatan serta nilai kemanusiaan yang tinggi. Beritanya juga harus memenuhi prinsip 5W1H (what=apa, when=kapan, where=dimana, who=siapa, why=alasan, how=bagaimana).

Secara umum, format KOBAR terdiri dari Nama KOBAR plus Logo, Alamat Redaksi, Rubrik (Tajuk Utama, Opini, Berita, Profil, dll). Sedangkan prinsip utamanya: berita/artikel penting harus ditulis terlebih dahulu daripada yang tidak penting.

Tentang CERGAM, hal yang paling utama adalah soal pembuatan naskah. Proses ini meliputi: penentuan tema (hasil riset, perpustakaan, dll), pembuatan sinopsis (ringkasan cerita), treatment (menentukan frame, tokoh, adegan, suasana), dan storyboard atau naskah untuk menentukan banyaknya frame, yang akan memudahkan illustrator memvisualisasikan alur cerita dalam bentuk gambar.

Setelah menerima cukup materi, kami dibagi dalam kelompok-kelompok untuk membuat KOBAR dan CERGAM. Masing-masing kelompok mengambil tempat sendiri-sendiri agar tidak saling mengganggu dan bisa lebih berkonsentrasi dalam melaksanakan tugas.

Aku tergabung bersama 2 orang teman dari Yogyakarta, 1 dari Wonogiri dan 1 dari Surakarta. Kami kemudian saling berdiskusi, melontarkan ide, dan membagi pekerjaan.


Hampir 4 jam kami berkutat untuk menyelesaikan tugas. Capek tapi juga sangat membahagiakan karena kami bisa bekerja sama dan saling memotivasi.


Sebelum evaluasi hasil kerja masing-masing kelompok, diadakan misa dipimpin oleh Romo Agoeng. Dalam homilinya, romo mengemukakan sebuah pertanyaan; sebenarnya untuk apa sich kita melakukan semua ini, mengurusi majalah paroki dan segala permasalahannya, padahal kita tidak digaji? Jawabannya adalah; karena kita sudah terlebih dahulu dicintai oleh Allah. Jadi untuk membalas semua itu, kita perlu melakukan upaya kebaikan (mengusahakan yang baik), yang salah satunya dengan mengembangkan majalah paroki.

Usai misa, kami melakukan santap malam guna memulihkan raga kami setelah seharian beraktivitas. Setelah itu diadakan evaluasi. Sebelumnya masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil karyanya baik KOBAR maupun CERGAM. Setelah semuanya selesai, Mbak Berta dan Ibu Widi kemudian memberikan evaluasi.

Dari evaluasi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
•Urutan caption (tempat untuk menuliskan keterangan) dan balon dialog (kotak untuk tempat dialog) dalam CERGAM tidak boleh sembarangan. Harus dari kiri ke kanan atau atas bawah.
•Kalau membuat gambar, harus dipikirkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
•Gambar dan alur cerita perlu diperhatikan agar tidak terjadi jumping.
•Judul bisa menyusul yang penting kerangka dan sinopsisnya sudah jelas.
•Tulisan tangan untuk KOBAR jangan terlalu kecil agar bisa dibaca.
•Soal kerapian harus diperhatikan.
•Sebaiknya diberi spasi di pinggir.

Akhirnya, pk. 23.00, seluruh proses pembelajaran hari kedua selesai. Aku segera masuk ke kamar. Lelah terasa begitu membelenggu raga. Tanpa menunggu lama, aku segera tertidur dengan perasaan puas karena hari ini terasa begitu luar biasa. Entah apalagi yang akan kudapatkan esok hari.

bersambung

22 komentar:

Popcorn's Teen mengatakan...

Pulang pelatihan jurnalistik, bawa segudang ilmu.

Clara mengatakan...

seru ya sepertinya
apalagi dot ilmu banyak

nuansa pena mengatakan...

Trims Pak telah berbagi pengalamannya dalam pelatihan!

elpa mengatakan...

pelatihan yg berguna trus di posting pengalamannya di bagikan buat pembaca moga berkah

AA Kunto A mengatakan...

Laporan yang bagus sekali Mas Goentoer. Lengkap! Semoga menginspirasi banyak orang untuk menulis.

Fanda mengatakan...

Aku baru tahu ada yg namanya Kobar. Apa memang biasanya ditulis tangan? Kan sekarang jaman digital? Atau itu hanya karena dalam pelatihan sehingga fasilitas komputer tidak ada?

kebookyut mengatakan...

kalo karya yang dimuat di blog namanya apa mas? hihihi...

T. Khairil Ahsyar mengatakan...

Semangat terus... hari ini lagi pengen berbagi kesenangan dengan kehadiaran website baruku di alamat http://www.tengkukhairil.net. Ditunggu jalan2nya ketempat aq !

BENY KADIR mengatakan...

Hebat ya,Mas.
Saya terkesan dgn kalimat ini:
untuk apa kita lakukan semua ini,padahal kita tidak digaji?
Karena kita terlebih dahulu dicintai Allah.

Terimakasih sudah berbagi pengalaman di sini.

Lilah mengatakan...

Selamat siang mas goen...luar biasa mas yg satu ini..hehehe..

-Gek- mengatakan...

wow... ck ck ck ck ck
sempat2nya masih nulis ya Mas.
Salute!

SeNjA mengatakan...

serunya kebersamaan meski sibuk dan lelah ya mas ^^

apakabar mas ? award darimu baru aku pajang di blogku....

bonk ava mengatakan...

jurnalistik gak ada mati - matinya! pasti aja ada yang seru dalam bertugas !

Lina Marliana mengatakan...

thanks mas udah berbagi pengalamannya selama pelatihan.. Btw, pas baca Kobar, aku kira singkatannya sm2 komik bergambar gitu, ehh..ternyata koran selembar yah ?! jauh banget..hehehehe

aan mengatakan...

wah ada reportase menarik dr mas goen nih,,

*saya sedang menyimak pak*
hehe

anyin mengatakan...

nunggu sambungannya ah

Willyo Alsyah P. Isman mengatakan...

untuk apa kita melakukan ini pdhl kita tdk di gaji...wah..kalimat yang menyiratkan penuh pengorbanan

Newsoul mengatakan...

Wow, aktivitasnya kelihatannya asyik mas. Selamat deh atas hari-hari yang luar biasa. Have a great and nice day.

Rock mengatakan...

Selamat pagi mas...

eka mengatakan...

waw....jadi pengen ikutan juga pelatihannya..... :D

next level mengatakan...

um um.... bagus nih...pelatihan yg berguna, dan postingnya jg keren, jadi bisa nambah pengetahuan.
Thanks for the share!

blobog do follow mengatakan...

wokley mas gowentower,salam kenal....

matur tengkiyu atas cerita dan pengalamanya,semoga sukses forever...